
Hari terakhir liburan menjadi hari yang paling dinantikan oleh semua orang. Karna di hari ini mereka akan bermain permainan mencari harta karun. Harta karun itu telah disembunyikan di beberapa titik dari area hotel hingga pantai, yang dilakukan oleh beberapa staf hotel.
Kini para karyawan tampak sibuk melihat gambar rute yang dibagikan oleh Angel dan Mira. Tak sedikit juga dari mereka yang mulai asyik menebak dimana tempat harta karun yang telah disembunyikan berada.
"Apa semua tim sudah mendapatkan gambar rutenya?" tanya pembawa acara.
"Sudah"
"Bagus. Kalian pasti penasaran kan, dengan isi dari harta karun tersebut? Biar saya beri tahu sedikit. Kebanyakan isinya adalah uang tunai diatas satu juta. Ada juga yang isinya tiket liburan untuk satu tim, dan hadiah utama adalah amplop berisi tiket kunci mobil. Bagi siapa yang mendapatkan hadiah utama, berarti dia akan mendapatkan sebuah mobil dari pak Zidan!"
Mendengar itu, semua orang bersorak gembira. Mereka menjadi semakin antusias untuk segera memulai permainan.
"Ternyata kamu orangnya tidak pelit juga yah" ucap William yang berdiri di dekat Zidan sambil mengipas pria itu, layaknya seorang budak zaman dulu.
"Tentu saja aku tidak pelit! Coba tanya saja pada Asyifa, seberapa sering dan banyaknya dia mendapatkan gaji serta bonus dariku!"
"Iya banyak dan sering, tapi kerjaannya juga tidak kalah banyak dan seringnya juga. Aku sudah mirip orang yang kerja rodi tiap hari!" gerutu Asyifa kesal, mendengar ucapan Zidan yang menyombongkan dirinya sendiri.
"Apa ibu Asyifa dan ketiga temannya tidak akan ikut dalam permainan pak Zidan?" tanya pembawa acara tiba-tiba.
"Untuk apa mereka ikut. Lagipula, yang adalah karyawanku hanya tiga orang gadis itu saja, kalau yang ini cuman orang asing yang aku angkat menjadi pembantuku!"
"Tapi kami juga ingin mendapat hadiah pak. Masa tidak boleh? Iya kan Asyifa, kamu juga mau ikut main bukan?"
"Iya Mira, aku juga sangat ingin dapat liburan gratis atau dapat mobil"
"Aku juga!" ucap Angel sambil memeluk kedua sahabatnya itu.
Melihat tingkat ketiga gadis dihadapannya, seketika membuat Zidan menjadi sakit kepala. Ia pun hanya bisa menyetujui dengan memberikan isyarat melalui tangannya.
"Tapi tidak bisa kalau hanya mereka bertiga saja pak Zidan. Semua tim beranggotakan lima orang, jadi tim ibu Asyifa juga harus lima orang"
"Lalu aku harus bagaimana? Meskipun ditambah dengan pembantuku ini, tetap saja mereka masih kekurangan satu orang lagi!"
"Kan ada pak Zidan. Pak Zidan bisa ikut gabung dengan tim ibu Asyifa, agar jumlah anggota menjadi pas"
"Kamu ini bagaimana sih, kan semua hadiah dalam permainan ini asalnya dariku, masa aku juga ikut bermain. Sama saja aku mendapatkan hadiah dari kantongku sendiri"
"Kalau begitu, berikan saja kepada kami berempat pak!" usul Mira penuh semangat.
"Benar kata Mira. Ayolah pak, bantu kami" ucap Angel ikut membujuk Zidan.
Melihat Zidan yang masih tetap keras kepala untuk tidak ikut, membuat William gemas. Ia pun menyentuh pundak Zidan dengan gerakan lembut, membuat semua orang yang ada di sana menatapnya geli.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa menyentuh aku seperti itu, dasar gila!" teriak Zidan jijik sambil bangkit dari duduknya.
"Kamu mau ikut bermain, atau aku yang akan membujukmu dengan kedua tanganku ini?" tanya William, kemudian mengejar Zidan yang mulai lari menjauh.
Melihat tingkah kedua pria itu yang sibuk kejar-kejaran, membuat semua orang tertawa terbahak-bahak tak terkecuali Asyifa.
"Berhenti! Baiklah, aku akan ikut!" teriak Zidan akhirnya menyerah.
Karna sudah mendapat tim yang cukup, permainan pun akhirnya dimulai. Asyifa pikir hari itu akan berjalan dengan menyenangkan, namun ternyata tidak, karna dia harus sibuk memisahkan Zidan dari William yang terus saja bertengkar hanya karna hal-hal sepele.
Sudah hampir satu jam berlalu, namun tidak ada satu pun harta karun yang mereka dapat. Hal itu membuat Angel dan Mira terduduk lemas karena putus asa.
"Kayaknya kita tidak akan mendapatkan apa pun, padahal aku ingin sekali pergi liburan" ucap Angel sedih.
"Ini semua pasti karna pak Zidan dan William, yang sedari tadi tidak mencari dan hanya sibuk bertengkar terus! Makanya kita jadi kalah begini!"
"Jangan saling menyalahkan satu sama lain. Masih ada waktu 15 menit lagi sebelum permainan berakhir, ayo berpencar dan cari lagi. Disekitar sini kayaknya belum di cari sama sekali oleh yang lain" tegur Asyifa pada Mira yang mulai marah-marah.
Tanpa memperdulikan keempat orang itu, Asyifa mulai sibuk mencari sendiri di taman hotel. Tiba-tiba ia melihat ada sebuah kertas yang tersembunyi di balik pot bunga.
"Dapat! Aku menemukan satu harta karun! Semuanya, lihat ini!" teriak Asyifa heboh menunjukkan amplop yang ada di tangannya.
"Apa isinya, Fa?" tanya Angel penasaran.
"Iya, apa isinya Fa? Cepatan buka!" pinta Mira tak kalah penasaran.
"Tiket liburan guys!" teriak Asyifa senang sambil berpelukan dengan Angel dan juga Mira.
William pun ikut bersorak gembira. Karna itu berarti, dirinya bisa memiliki waktu lebih banyak bersama Asyifa, tanpa perlu berusaha mencari alasan bertemu dengan gadis itu.
"Waktu permainan sudah selesai. Ayo kita berkumpul kembali dengan yang lainnya"
"Baik pak Zidan. Tapi bagaimana ini pak, aku merasa tidak enak karna harus pergi berlibur dan membiarkan pak Zidan bekerja keras seorang diri"
"Apa maksudnya, tentu saja aku juga akan ikut berlibur bersama kalian. Kita kan tim!"
__ADS_1
"Tapi bukannya, diawal tadi pak Zidan bilang akan memberikan semua hadiahnya pada kami bertempat saja?"
"Itu kalau hadiah yang kita temukan adalah uang, Mira. Kalau tiket liburan, yah tentu saja aku juga harus ikut dong! Memangnya kalau bukan aku, kalian akan memberikannya pada siapa?"
"Benar juga kata pak Zidan. Lebih baik kita berikan pada anggota tim sendiri, dari pada di kasihkan untuk orang lain"
"Tapi pastinya kalian bertiga akan merasa tidak nyaman kan, kalau pergi bersama atasan?" tanya William, berusaha mempengaruhi keputusan ketiga gadis itu.
"Tenang saja. Aku janji akan bersikap sebagai seorang Zidan yang adalah anggota tim kalian dan bukan sebagai Zidan yang adalah bos di tempat kalian bekerja. Jadi jangan khawatir, oke?"
"Terserah pak Zidan sajalah!" ucap Asyifa tak peduli karna masih kesenangan mendapat hadiah tiket liburan.
William yang membayangkan harus liburan bersama dengan Zidan hanya bisa pasrah dan berjalan menuju tempat berkumpul.
"Jangan bermimpi, aku akan membiarkan kamu pergi berlibur bersama Asyifa tanpa diriku! Lihat saja, aku akan menempel terus disamping Asyifa selama liburan" bisik Zidan pada William.
Ia kemudian berjalan menyusul Asyifa yang berjalan di depan, sambil merangkul bahu gadis itu dengan santai. Membuat William semakin terbakar panasnya api cemburu.
*****
"Astaga, badanku serasa mau hancur semua saking capenya! Sepertinya, aku tidak bisa ikut ke acara penutupan" keluh Asyifa sambil membaringkan tubuhnya diatas kasur.
"Aku juga ingin langsung tidur saja. Semua tenagaku sudah terkuras habis untuk mencari tiket liburan" ucap Mira ikutan berbaring di samping Asyifa.
"Kalau begitu, aku akan mandi duluan. Waktu kalian hanya sampai aku selesai mandi, tidak ada alasan untuk tidak bangun dan ikut pergi acara penutupan! Kita sudah membeli gaun mahal sampai menghabiskan banyak uang, hanya untuk acara ini. Bagaimana bisa kalian batal pergi?"
"Baik ibu Angel" jawab Asyifa dan Mira yang hanya bisa pasrah.
Setelah melawan segala rasa malas dan cape yang menyerang, akhirnya Asyifa dan Mira berhasil juga bersiap pergi ke pesta. Meskipun keduanya harus banyak dibantu serta di omeli oleh Angel.
"Ayo kita berfoto. Aku ingin mengunggahnya di media sosialku, dan akan menandai kalian berdua juga"
"Aku tidak punya tenaga lagi untuk tersenyum, Angel. Bahkan berdiri pun terasa sangat sulit"
"Beberapa foto saja Asyifa, ayolah. Masa sudah berpakaian cantik seperti ini, kalian tidak mau berfoto sama sekali!"
Tok... Tok...
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar, membuat Mira segera bergegas untuk membukanya. Ternyata Zidan yang mengetuk.
Zidan yang melihat sosok Asyifa dalam balutan gaun indah dan sedikit sapuan make up di wajahnya, menjadi terpesona. Asyifa sekarang menjadi lebih cantik dari biasanya dimata Zidan, dan tanpa sadar ia hanya bisa berdiri diam disana tanpa bisa berkata-kata.
"Kamu cantik sekali, Asyifa" ucap Zidan spontan.
Mendengar ucapan Zidan yang tiba-tiba, membuat Asyifa tersipu malu dan sedikit salah tingkah. Sedang Mira dan Angel saling melempar senyuman penuh arti.
"Apaan sih pak Zidan. Wajahku sama jeleknya seperti hari biasa"
"Siapa bilang? Hari biasa pun kamu tetap cantik, meskipun tanpa memakai gaun mahal serta make up. Cantikmu itu alami!" protes Zidan masih belum sadar akan apa yang diucapkannya.
"Terima kasih pak Zidan"
"Apa aku dan Angel bilang, kamu itu cantik Asyifa, hanya orang-orang buta saja yang tidak bisa melihatnya!"
"Betul sekali. Oh iya, tadi kami baru saja akan berfoto bersama saat pak Zidan datang. Apa pak Zidan ingin ikut berfoto juga?"
"Aku? Tidak usah, biar aku saja yang menjadi tukang foto kalian bertiga" tolak Zidan malu, seolah baru tersadar akan apa yang telah dilakukannya sedari tadi.
"Bagaimana kalau gantian saja? Pertama, aku dan Angel akan memfoto pak Zidan bersama Asyifa. Ayo segera ke samping Asyifa pak, dan bergaya di sana!"
Angel dan Mira segera mendorong kedua orang itu supaya saling berdekatan. Tak lupa Mira mengatur tangan Zidan untuk berada di pinggang Asyifa, karna gaya keduanya tampak sangat kaku dan salah tingkah.
Setelah beberapa kali ganti gaya, akhirnya Angel dan Mira merasa puas. Mereka pun baru mau membiarkan Zidan dan Asyifa berbuat semau mereka.
Asyifa dan Zidan kemudian bergantian memfoto Angel dan Mira, lalu mereka pun berfoto bersama.
"Pak Zidan, apa bapak bisa pergi duluan bersama Asyifa ke pesta? Aku dan Mira baru teringat, harus melakukan sesuatu sebelum pergi"
"Memangnya kalian ingin melakukan apa?" tanya Asyifa penasaran.
"Astaga, kamu ingin tahu saja! Nanti juga kamu akan tahu, sekarang pergi saja duluan dengan pak Zidan. Aku dan Angel akan segera menyusul"
Zidan kemudian dengan lembut memberikan lengannya untuk digandeng oleh Asyifa. Mereka berdua pun berjalan pergi.
Saat memasuki tempat pesta, semua mata terkejut memandang ke arah Zidan juga Asyifa. Semua orang seolah penasaran, ingin tahu tentang hubungan keduanya hingga bisa datang sebagai pasangan.
"Apa Zidan menyukai sekretarisnya itu?" tanya Marcel kepada Kinara saat melihat putranya berpasangan dengan Asyifa.
"Mana mungkin Zidan menyukai Asyifa sayang. Kamu kan juga tahu, kalau Zidan itu tampan, jadi pastinya akan mencari pacar yang jauh lebih cantik dibandingkan dengan Asyifa"
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau Zidan menyukai Asyifa? Menurutku Asyifa juga cantik. Tapi dari pada kecantikan yang dilihat, bukannya lebih bagus jika dia mempunyai kepribadian yang menyenangkan, yah?"
"Siapa kamu? Apa kamu juga salah satu karyawan anakku?"
"Bukan pak. Perkenalkan, namaku William. Aku adalah teman Zidan sekaligus mantan pacar Asyifa"
"Kamu mantannya Asyifa?"
"Iya betul. Sekarang aku sedang bersaing dengan anak bapak, untuk mendapatkan hati Asyifa. Oleh karna itu, aku sangat tidak setuju dengan ucapan wanita yang ada di samping bapak"
"Jadi benar, Zidan menyukai sekretarisnya itu? Ini adalah berita baik, karena akhirnya dia bisa move on juga darimu Kinara"
Kinara hanya bisa tersenyum kecut menanggapi perkataan suaminya yang nampak bahagia. Sedang William yang tidak mengetahui apa yang terjadi, hanya bisa menatap Marcel dengan bingung.
"Apa ayah pria kekanakan itu menggundang mantan pacar anaknya sendiri untuk menjadi pasangannya di pesta ini?" tanya William dalam hatinya.
Melihat kehadiran sang ayah, Zidan mau tidak mau harus mendatanginya untuk sekadar menyapa. Ia bersama Asyifa berjalan ke arah Marcel, yang langsung menyambut keduanya dengan senyuman lebar.
"Ternyata ayah juga datang"
"Tentu saja ayah dan Kinara harus datang ke acara penutupan. Sudah lama ayah tidak pergi ke pesta"
"Kalau begitu, selamat bsrsenang-senang ayah. Aku dan Asyifa mau bergabung dengan yang lain"
"Astaga, sabar dulu Zidan. Kenapa buru-buru sekali? Biarkan ayah dan Kinara menyapa calon menantu kami dengan benar"
"Calon menantu?" tanya Asyifa dan Zidan bersamaan.
"Iya, calon menantu. Kenapa kamu tidak cerita pada ayahmu ini, kalau kamu sedang jatuh cinta dengan seorang gadis? Dan lagi, itu adalah sekretarismu sendiri! Kalau tidak ada temanmu ini yang memberitahu ayah, mana mungkin ayah bisa tahu" ucap Marcel sambil merangkul pundak William akrab.
"William? Apa yang kamu lakukan di sini, kamu kan bukan bagian dari perusahaan pak Zidan" tanya Asyifa heran melihat kehadiran William.
"Ayo keluar sekarang juga!"
"Tunggu Zidan, biar aku jelaskan. Kamu sendiri yang bilang, kalau aku akan menjadi pembantumu selama seharian penuh, itu berarti mau tidak mau, aku juga harus berada di pesta ini. Itulah sebabnya aku ada di sini sekarang!" jelas William panjang lebar.
Zidan yang tidak bisa membantah ucapan William, hanya bisa menggertakkan giginya menahan kesal.
"Awas saja kalau kamu membuat kacau di pestaku, aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari hotel ini!"
"Tenang saja, aku tidak akan seperti itu. Tapi, bagaimana menurutmu penampilanku sekarang, apa aku terlihat tampan? Ini adalah pakaian yang baru saja aku beli, khusus untuk datang ke pestamu!"
"Kamu terlihat sangat jelek! Apa kamu puas?"
"Astaga, kenapa kamu kasar sekali Zidan? Maafkan ucapan Zidan yah, dulu dia tidak seperti ini" ucap Kinara meminta maaf pada William.
Zidan yang melihat Kinara bersikap seolah dekat dan mengetahui segala tentangnya, seketika menjadi muak.
"Oh iya, karna ayah sudah tahu seperti apa perasaanku pada Asyifa, jadi aku mohon untuk mendukung perasaanku ini"
"Tentu saja ayah akan mendukungmu! Asyifa, semoga kamu mau menerima anakku yang memiliki banyak kekurangan ini yah? Aku akan mendoakan semoga kalian berjodoh, supaya aku bisa segera memiliki cucu"
"Cucu? Aku dan pak Zidan? Astaga, anda pasti bercanda pak" ucap Asyifa terlihat salah tingkah. Namun dengan cepat, Zidan mencubit pelan pinggang gadis itu supaya mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh ayahnya.
"Ya ampun, lihat calon menantu kita Kinara, dia terlihat malu-malu. Pokoknya, ayah menunggu kabar baik dari kalian berdua. Dan untuk Asyifa, mulai sekarang kamu harus memanggilku ayah juga, sama seperti Zidan. Mengerti?"
"Ba, baik ayah" jawab Asyifa, hanya bisa menuruti ucapan Marcel.
"Untuk kamu William, sebaiknya kamu mencari gadis lain untuk dijadikan pacarmu. Sekarang, ayo ikut aku mengambil minuman, jangan mengganggu mereka berdua!" ucap Marcel sambil menyeret paksa William untuk menemani dirinya.
"Kenapa kamu tidak bilang padaku, kalau ternyata kamu menyukai Zidan, Asyifa?" tanya Kinara sinis ketika sosok suaminya sudah tak terlihat lagi.
"Untuk apa Asyifa mengatakannya padamu, memangnya kamu siapanya Asyifa?" balas Zidan tak kalah sinisnya.
"Bagaimana pun juga, aku adalah ibumu Zidan, sudah seharusnya aku mengetahui gadis mana yang sedang dekat denganmu"
"Apa benar itu alasannya? Atau karna kamu masih tidak rela melihatku bisa bahagia dengan gadis lain selain dirimu? Kamu terlihat sangat menyedihkan, menjual dirimu sendiri untuk menikah dengan pria kaya yang umurnya sama seperti ayahmu"
Plak...
Sebuah tamparan dari Kinara mendarat tepat di pipi kanan Zidan, membuat Asyifa yang melihatnya terkejut. Begitu pun dengan beberapa orang yang ada di dekat mereka, semuanya menjadi heboh.
"Jaga ucapanmu Zidan! Selama ini aku sudah cukup bersabar dengan semua kata-kata kasar, dan juga perlakuanmu terhadapku. Tapi kali ini kamu sudah sangat keterlaluan!"
"Kenapa kamu marah? Aku hanya berbicara sesuai dengan fakta yang ada. Tidak usah bertingkah seolah kamu adalah wanita berkelas Kinara, karna itu terlihat sangat tidak cocok untukmu!"
Setelah berkata seperti itu, Zidan dengan santainya memeluk pinggang Asyifa dan berjalan pergi dari sana. Kinara yang malu karena dilihat oleh banyak orang, hanya bisa pergi mencari keberadaan suaminya dengan berlinang air mata.
Bersambung....
__ADS_1