
Mobil milik Kinara yang dikendarai oleh Zidan, terlihat mulai memasuki halaman rumah yang adalah rumah milik Marcel dan Kinara selama ini tinggal.
Sebuah pemandangan dari garasi disebelah rumah yang sedang terbuka lebar, menarik perhatian Kinara. Mobil yang dikenali olehnya sebegai mobil milik sang suami, terparkir dengan baik disana.
Meski bukan sesuatu yang luar biasa bagi Kinara untuk mendapati pemandangan itu, tapi tetap saja ia merasa sedikit heran. Karna selama ini, Marcel selalu mengabarkan jika ingin pulang dari perjalanan bisnisnya.
"Loh, katamu ayahku sedang berada di luar negeri saat ini. Tapi kenapa mobilnya bisa ada di garasi rumah, bukannya setiap ayah pergi perjalanan bisnis mobil itu akan dibawa dan dipakai oleh supir pribadi ayah?" tanya Zidan, yang ternyata juga menyadari hal itu.
"Entahlah Zidan, aku juga tidak tahu kenapa mobilnya bisa ada di garasi sekarang. Sampai kemarin mobilnya terus berada di rumah sang supir, dan bukan disini"
"Atau jangan-jangan, ayah sudah pulang dari luar negeri dan sekarang berada di dalam rumah?" tebak Zidan asal.
"Sepertinya tidak mungkin ayah sudah pulang, karna biasanya jika ingin pulang dari sebuah perjalanan bisnis, dia pasti akan memberikan kabar terlebih dahulu padaku"
"Kalau begitu, mungkin saja supir ayah yang membawa mobilnya dan memarkirkannya di garasi rumah. Lebih baik kamu segera masuk saja, untuk memastikannya"
"Tapi aku agak takut Zidan. Karna kalau apa yang kamu katakan sebegai kemungkinan yang kedua, maka aku patut untuk waspada bukan? Pagi hari seperti ini, supir itu datang tanpa kabar, dan langsung memasuki rumah" jawab Kinara merasa was-was.
"Ada benarnya juga katamu. Untuk apa supir yang bukan anggota keluarga, memasuki runah bosnya tanpa ijin. Bisa saja dia malah punya niat jahat terhadapmu"
"Astaga, tolong jangan mengatakan hal-hal yang aneh seperti itu dong! Aku kan jadinya semakin takut untuk masuk rumah. Ka_kalau begitu, aku harus bagaimana sekarang?"
"Sudah, kamu tidak perlu takut berlebihan terhadapnya. Kan ada aku disini, biar aku yang akan menemanimu masuk ke dalam rumah dan mengecek keadaan disana. Oke?" jawab Zidan enteng.
"Yang benar Zidan? Kalau memang kamu akan menemaniku masuk, aku pastinya akan merasa sangat berterima kasih padamu"
"Iya benar. Anggap saja ini sebagai balas budi lanjutan dariku atas kebaikanmu semalam. Tapi apa bisa kamu keluar duluan, dan tunggu aku di depan pintu? Aku ingin memarkirkan mobil di garasi dulu sebelum masuk"
"Ah, baiklah"
Menuruti permintaan Zidan, Kinara pun bergegas turun untui membiarkan Zidan memarkirkan mobil miliknya di garasi rumah, tepat disebelah mobil Marcel.
Sementara Zidan memarkirkan mobil, Kinara berjalan ke depan pintu terlebih dulu dan berniat masuk ke dalam. Tapi baru saja akan memutar gagang pintu, ponselnya tiba-tiba saja bergetar.
Setelah dikeluarkan dari dalam tas, Kinara melihat ternyata Marcel lah yang sedang menghubunginya saat ini.
"Halo sayang, ada apa?"
"Dimana kamu?! Kenapa belum pulang saja ke rumah, semalam juga kata pembantu kita kamu tidak pulang dan entah bermalam dimana. Apa yang kamu lakukan selama aku tidak ada Kinara, jangan macam-macam!" jawab Marcel kasar, membalas sapaan penuh cinta dari sang istri.
"Ya ampun sayang, aku semalam tidur di rumah dan tidak pergi kemana-mana. Bahkan saat ini aku juga sedang berada di halaman rumah kita, pasti pembantu itu sudah salah menduga. Kalau kamu masih tidak percaya juga, aku bisa mengirimkan fotonya padamu"
"Benarkah? Kamu sungguh sedang berada di rumah kita, dan lebih tepatnya lagi di halaman rumah? Apa tidak bisa kalau aku melihatnya secara langsung saja dan tidak melalui foto yang akan dikirimkan olehmu?"
"Melihat langsung? Apa maksudnya itu, kamu kan sedang berada di luar negeri sekarang, bagaimana bisa melihat langsung sayang? Ada-ada saja kamu ini" ucap Kinara, diselingi dengan tawa kecil.
"Kenapa tidak bisa, aku kan tinggal berganti posisi dimana aku berada. Yang tadinya ada di luar negeri, menjadi ada di rumah kita. Bukannya itu lebih mudah untuk melihatmu?"
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan sayang. Cobalah untuk menjelaskannya dengan sederhana biar aku bisa memahaminya"
"Mada begitu saja kamu tidak bisa mengerti sih sayanga? Itu kan sama artinya bahwa aku sedang berada dalam rumah kita sekarang" jawab Marcel dengan nada sedingin es.
Mendegar ucapan sang suami yang sedari tadi terus disangkalnya, tubuh Kinara pun seketika menjadi kaku dan tak dapat bergerak meski hanya sedikit saja.
Karna itu berarti, Marcel telah mengetahui dengan jelas bahwa dirinya kini tengah berbohong tentang semua hal yang sudah dikatakannya barusan.
Tubuh Kinara menjadi semakin berkeringat hebat dan dikelilingui dengan aura dingin yang teramat sangat, ketika sosok Marcel berjalan keluar dari dalam rumah.
Dengan tatapan dingin yang dipenuhi dengan api kemarahan, Mercel terlihat mulai meneliti tampilan Kinara dari atas kepala hingga ujung kaki wanita itu.
"Sa_sayang, ka_kamu ternyata sudah ada di rumah. A_apa kamu baru saja sampai dari perjalanan bisnisnya? Kamu pasti cape sekali bukan, biar aku bikinkan segelas kopi pahit kesukaanmu yah?" tawar Kinara berusaha melunakkan amarah Marcel.
"Jadi seperti ini kelakuanmu jika aku sedang tidak berada di rumah, dan sibuk bekerja? Apa kamu memiliki niat untuk mempermalukanku dengan tampilanmu yang seperti pelac*r ini?"
"Pelac*ur? Apa kamu sudah gila, bagaimana bisa kamu mengatakan penampilanku seperti seorang pelac*r? Aku ini istrimu, apa kamu tidak bisa mengatakan perkataan yang lebih baik lagi?" protes Kinara marah.
__ADS_1
"Apa ada yang salah dari ucapanku barusan? Bukannya memang benar kalau sekarang penampilanmu terlihat seperti pelac*ur, kalau tidak percaya, lihat langsung saja di depan cermin. Dasar istri hina!"
"Marcel! Sampai kapan kamu akan terus mencapku sebagai seorang istri yang hina, hanya kesalahanku di masa lalu? Apa tidak bisa kamu melupakannya, lagipula aku juga telah berulang kali meminta maaf!"
"Meminta maaf? Apa kamu pikir kesalahan yang kamu lakukan itu akan hilang hanya dengan sebuah permintaan maaf saja? Dasar perempuan gila, kamu itu sudah menggoda putra kandungku!" jawab Marcel menjadi semakin marah.
"Aku tahu saat itu sudah melakukan sebuah kesalahan fatal. Tapi setelah itu aku juga terus bersikap sesuai dengan keinginanmu dan tak lagi bertemu dengan Zidan meski hanya sedetik saja. Apa kamu tidak berpikir bahwa kemarahanmu terlalu berlebihan?!"
Plak!
Setelah mendengar jawaban yang keluar dari dalam mulut Kinara, bukannya membalasnya, Marcel justru melayangkan sebuah tamparan diatas salah satu pipi mulus istrinya.
Kinara yang kondisi tubuhnya sedang dalam keadaan lemas karna semalam tak cukup tidur, saat menerima tamparan keras yang tak terduga dari sang suami, langsung jatuh terduduk diatas tanah.
Untungnya, kejadian tersebut sempat dilihat oleh Zidan yang memang sedang berjalan ke arah pintu rumah. Segera saja Zidan datang menghampiri Kinara dan membantunya berdiri kembali.
"Zi_Zidan? Apa yang sedang kamu lakukan di rumah ayah sepagi ini, lalu dari mana kamu masuk tadi? Kenapa ayah tidak melihat ada mobilmu masuk ke dalam halaman rumah ini?" tanya Marcel terkejut.
"Ayah tidak perlu tahu tentang semua itu, karna ada hal yang lebih penting harus kita bicarakan. Sejak kapan ayah mulai bersikap sekasar itu terhadap Kinara?"
"Apa maksudmu Zidan, ayah kan hanya baru menampar Kinara sekali saja, bagaimana bisa kamu bertanya sejak kapan ayah bersikap kasar. Apa salah kalau ayah melakukan hal itu jika Kinara berbuat suatu kesalahan yang memalukan?"
"Tidak usah berpura-pura bodoh ayah. Saat aku melihat sikap kasar ayah pada Kinara barusan, aku memjadi sadar bahwa ini bukan lah yang pertaman kalinya. Apa Kinara yang pergi ke rumah sakit dengan berada diatas kursi roda, itu juga ulah ayah? Selain itu, bekas lebam yang aku dan bunda lihat saat kita mengadakan makan malam bersama, juga pasti adalah ulah ayah bukan?"
"Ha, ha, ha. Apa sih yang sedang kamu bicarakan sekarang Zidan, ayah tidak bisa memahaminya sama sekali. Ayah sungguh tidak pernah melakukan kekerasan terhadap Kinara, selain yang barusan" jawab Marcel, sambil terseyum kecil.
"Benarkah? Tapi itu kan kata ayah saja, dan bukannya kata Kinara juga. Bagaimana kalau aku juga mendengarkan jawaban dari pihak Kinara supaya lebih jelas, ayah setuju kan?"
"Ja_jawaban Kinara? Te_tentu saja ayah tidak keberatan sama sekali, kamu boleh kok untuk bertanya juga padanya. Kinara coba katakan pada Zidan bahwa dugaannya barusan itu adalah sepenuhnya salah" pinta Mercel, yang mulai menunjukkan ekspresi cemas.
"Kenapa diam saja Kinara, ayo katakan saja padaku apa yang sebenarnya sudah terjadi padamu. Kamu tidak perlu takut sama sekali terhadap ayah, karna ada aku disini yang akan melindungimu"
Mendengar permintaan Zidan yang terlihat sangat yakin dan penuh harap bahwa apa yang telah menjadi dugaan pria itu barusan adalah yang sebenarnya, membuat Kinara memiliki sedikit keberanian untuk berbicara sejujurnya.
Namun melihat sosok yang juga berdiri di depannya dengan tatapan seolah siap untuk melakukan hukuman lain padanya, niat dalam diri Kinara pun menjadi hilang seketika.
"Maaf Zidan. Tapi apa yang kamu katakan barusan itu, semua sepenuhnya salah. Marcel tak pernah sekali pun melakukan suatu tindak kekerasan padaku dalam hubungan rumah tangga kami"
"Hah! Apa kamu benar-benad yakin dengan jawabanmu barusan Kinara, apa kamu tidak ingin terlepas darinya? Jika seorang pria yang tak pernah bermain tangan mulai melakukan hal tersebut, maka dia tidak akan berhenti dengan mudah Kinara. Sebaiknya kamu pikir kembali jawabanmu itu" pinta Zidan seolah tak ingin menyerah begitu saja.
"Maaf Zidan, tapi hubunganku benar baik-baik saja selama ini dengan ayahmu. Tadi juga aku rasa ayahmu sudah terlalu emosi karna tahu aku berani berbohong padanya, lalu ditambah dengan kecapaian karna baru saja pulang dari perjalanan bisnis, membuatnya tanpa sadar malah menamparku. Benar begitu kan?"
"Iya, benar sayang. Kamu ternyata sangat mengerti terhadap apa yang aku rasakan. Aku memang melakukannya dengan spontan tadi, dan sekarang aku merasa sangat menyesal"
"Tidak apa-apa. Yang harusnya meminta maaf dan merasa lebih bersalah itu adalah aku, karna aku lah yang sudah lebih dulu membuat masalah padamu. Maafkan aku"
"Aku sudah memaafkanmu sayang. Yang terpenting, kamu harus janji untuk tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi di hari lain yang akan datang. Oke?" pinta Marcel, sambil melingkarkan sebelah tangan miliknya dipundak Kinara.
"Oke, aku janji"
"Nah Zidan, apa sekarang kamu masih tidak ingin percaya juga kalau ayahmu ini tidak pernah melakukan kekerasan rumah tangga terhadap Kinara?"
"Baiklah kalau kamu mengatakannya seperti itu Kinara. Tapi satu yang harus kamu ingat, jika suatu saat nanti jamu berubah pikiran dan ingin menceritakan yang sejujurnya pada aku, maka jangan ragu untuk menghubungi. Kalau begitu aku pamit sekarang"
Setelah berkata seperti itu, Zidan pun mulai berjalan meninggalkan halaman rumah milik sang ayah tanpa menoleh sedikit pun.
*****
"Masuk!"
"Tidak. Tolong jangan kurung aku di dalam ruangan itu lagi Marcel, aku merasa sangat ketakutan jika berada seorang diri disana. Aku siap menerima hukuman apa saja sebagai gantinya" mohon Kinara sambil terisak.
"Hukuman yang lain, apa kamu pikir aku akan melakukan pemukulan lagi diatas tubuhmu setelah tahu ada orang lain yang menaruh curiga? Dan lagi yang manaruh curiga adalah anakku sendiri!"
"Kan kamu bisa memukulku dibagian tubuh yang tidak akan terlihat oleh orang lain, aku jamin tidak akan ada lagi orang yang menaruh curiga padamu. Tapi tolong, jangan masukan aku ke dalam ruangan itu Marcel"
__ADS_1
"Kalau memang kamu sebegitu takutnya dengan ruangan itu, maka seharusnya kamu juga tidak usah berani melakukan perbuatan yang akan membuatmu dihukum nantinya!" jawab Marcel kesal.
"Aku tidak melakukannya dengan sengaja Marcel, aku berpakaian seperti ini karna semalam menghadiri pesta ulang tahun salah satu teman modelku di bar"
"Oh, jadi salah satu teman modelmu itu, juga adalah kenalan Zidan? Apa karna itu kalian berdua bisa muncul secara bersama-sama pagi tadi?"
"Tidak. Zidan memang tidak ikut perayaan ulang tahun temanku karna tidak mengenal satu sama lain. Tapi kebetulan bar yang kami datangi itu, juga di datangi oleh Zidan dan kedua sahabatnya. Kalau tidak percaya, kamu bisa menanyakannya langsung pada Adam dan juga Raka" jelas Kinara dengan penuh harap kalau Marcel mau mempercayainya.
"Wah, benar-benar suaty kebetulan yah! Apa kamu pikir aku akan percaya begitu saja seperti orang bodoh? Tidak Kinara, aku sudah sangat tahu seperti apa sifat licikmu itu!"
"Aku tidak berbohong Marcel. Kamu juga boleh menanyakannya pada teman-temanku, mereka pasti akan mengatakan hal yang sama dengan yang ku katakan barusan" ucap Kinara terus berusaha menyakinkan Marcel.
Untuk sesaat pria yang usianya terpaut cukup jauh dengan sang istrinya itu, tampak diam dan mulai memikirkan ucapan yang dikatakan Kinara dengan saksama.
Tapi meski hal seperti yang dikatakan Kinara mungkin saja bisa terjadi, tapi yang menjadi pertanyaan Marcel sekarang adalah, kenapa anak dan istri keduanya itu bisa pulang ke rumahnya secara bersamaan?.
Apa semalam mereka tidur disuatu tempat bersama? Marcel yang tiba-tiba saja otaknya dipenuhi dengan dugaan kotor, mulai menjadi semakin tak terkontrol.
Plak!
Sekali lagi Marcel kembalo melayangkan sebuah tamparan pada pipi Kinara. Tapi yang bedanya, tamparan itu tak hanya berhenti sampai disitu saja, karna Marcel mulai sekali lagi menapar pipi lain milik Kinara.
Menjambak rambut panjang wanita itu, dan mulai membenturkan kepala Kinara berulang kali pada dinding kayu yang terlihat sangat kokoh, hingga kepala Kinara mengeluarkan darah segar.
"Perempuan gila! Beraninya kamu berniat untuk membohongiku, kamu pasti sudah berhasil menggoda putraku Zidan dan telah membuatnya menginap bersamamu bukan? Apa kamu pikir perbuatan kotormu itu tidak akan diketahui olehku?!"
"A_aku benar-benar tidak melakukannya Marcel, semuanya ada alasannya. Aku berani bersumpah kalau aku tidak pernah berbuat seperti yang kamu tuduhkan" jawab Kinara dengan suara pelan nyaris tak terdengar.
"Diam! Alasan tidak masuk akal seperti apa lagi yang akan kamu keluarkan dari dalam mulut kotormu itu? Dengar Kinara, dulu aku memang sangat mencintai dan juga sangat menyukai dirimu, tapi aku bukanlah seorang yang mudah dibutakan oleh cinta. Setelah tahu kalau kamu masih memiliki perasaan terhadap Zidan, maka kamu lah yang harus menanggung akibatnya!"
"Kenapa sedari tadi kamu terus saja tidak mempercayai kata-kataku? Harus berapa kali lagi aku bilang kalau aku tidak melakukan semua itu dengan sengaja Marcel, dan apa yang kamu tuduhkan sejak awal, semuanya sama sekali tidak benar!"
"Benarkah? Kalau begitu, apa kamu bisa menjelaskan kenapa Zidan bisa ada di dalam bar, padahal putraku itu sama sekali tidak suka berada disana dan meminum minuman beralkohol?" tantang Marcel dingin.
"Tentu saja aku bisa menjelaskannya kenapa Zidan bisa sampai berada disana, itu semua adalah karna Asyifa!"
"Asyifa? Apa maksudmu Asyifa yang adalah sekretaris Zidan, dan sekaligus wanita yang disukai oleh putraku? Memangnya apa yang sudah dilakukan oleh Asyifa, sampai Zidan bisa bertingkah seperti itu?"
"Kamu pasti belun tahu juga kan, bahwa Asyifa dan Zidan sudah resmi bertunangan beberapa waktu yang lalu?"
"Bertunangan? Zidan dan Asyifa? Omong kosong apa lagi yang sedang kamu katakan untuk menutupi kesalahanmu Kinara, apa kamu pikir Zidan tidak akan memberitahuku kalau ingin bertunangan dengan seorang wanita?" tanya Marcel tak percaya.
"Memang kenyataannya kamu tidak diberi tahu oleh putramu, entah karna apa alasan yang dimiliki olehnya. Tapi yang pasti, apa yang aku katakan barusan adalah berita yang sebenarnya"
Melihat ekspresi Kinara yang terlihat serius dan tak terlihat ada kebohongan sama sekali dalam mata wanita itu, mau tak mau Marcel pun mulai menjadi percaya.
Tapi jika Zidan memag sudah resmi memiliki hubungan pertunangan dengan Asyifa yang adalah wanita yang dicintainya, kenapa pria itu malah berada di dalam bar dan beraninya mengantar Kinara pulang?
Bukannya itu adalah tindakan yang sangat tidak baik untuk dilakukan oleh Zidan. Karna meskipun sekaranh Kinara telah berstatus jadi ibu tirinya, tapi status mantan pacar akan tetap melekat pada diri Kinara yang pernah menjadi pacar Zidan.
"Kalau memang perkataanmu benar tentang Zidan dan Asyifa yang telah resmi tunangan, kenapa putraku malah berada dalam bar dan minum hingga bermalam bersamamu? Bukan kah itu adalah berita bahagia, dan seharusnya Zidan tidak melakukan semua itu bukan?" tanya Marcel, menyampaikan pertanyaan yang memenuhi otaknya.
"Itu karna mereka juga telah resmi berpisah tak lama setelah resmi bertunangan. Dan lagi, hubungan pertunangan itu diakhiri sendiri oleh Asyifa. Zidan yang sedih dan menjadi stres, pun menenggelamkan dirinya ke dalam minuman beralkohol untuk bisa melupakan sosok Asyifa. Apa sampai sini kamu bisa memahami penjelasanku?!"
"Berakhir? Secepat itu? Tapi kenapa, apa kurangnya Zidan hingga Asyifa mengakhiri hubungan mereka? Bahkan Zidan bersedia menerima dirinya yang adalah seorang janda dengan tangan terbuka. Bukannya merasa beruntung, dia malah menyia-yiakan kebaikan hati putraku, dasar wanita tak tahu diri!"
"Kenapa sekarang kamu malah marah-marah pada Asyifa yang mengakhiri hubungannya dengan Zidan? Asyifa kan pastinya memiliki alasannya tersendiri kenapa berbuat begitu" ucap Kinara, entah mengapa malah membela sosok Asyifa.
"Tidak usah banyak bicara kamu, kalian itu sama saja. Sama-sama tidak tahu merasa berterima kasihnya telah diberikan cinta oleh pria yang sangat sempurna sepertiku dan juga putraku! Sebaiknya kamu segera masuk ke dalam sana, sebelum aku membunuhmu karna saking kesalnya!"
Setalah berkata seperti itu, Marcel mulai kembali mendorong tubuh Kinara masuk ke dalam ruangan kosong sebagai hukuman untuk Kinara, seperti rencananya sejak awal.
Meskipun Kinara memberontak sekuat tenaga, tapi Marcel yang mempunyai tenaga lebih kuat dari wanita itu, tak sedikit pun berniat memberikannya kesempatan untuk meloloskan diri.
Hingga pintu tersebut tertutup rapat dan dikunci oleh Marcel, barulah hanya terdengar suara isak tangis pilu Kinara dari dalam ruangan.
__ADS_1
Bersambung...