
Asyifa sedang menemani seorang wanita paruh baya yang dikenalkan Zidan sebagai ibunya, untuk mencari beberapa barang yang dibutuhkannya selama tinggal bersama Zidan.
Lilian sebenarnya sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Namun saat tiba di apertemen sang putra dan melihat keadaan disana masih sangat kosong, rasa ingin berbenah Lilian tiba-tiba muncul.
Dan Zidan, meskipun sangat merindukan Lilian, tapi tidak ingin dipusingkan dengan segala macam barang yang akan dibeli oleh ibunya.
Oleh karna itu Zidan menyuruh Asyifa dan Raka menjadi tumbal menggantikan dirinya, untuk menemani dan mengantar kemana pun Lilian pergi.
"Maaf yah Asyifa, sudah merepotkan kamu. Sebenarnya sahabatku sangat ingin pergi bersama, tapi batal karna dia punya urusan mendadak" ucap Lilian, membuka pembicaraan saat mereka telah berada dalam mobil yang dibawa oleh Raka.
"Tidak apa-apa bu. Aku juga merasa senang menemani ibu, karna setidaknya aku bisa menghirup udara luar."
"Apa benar putraku itu gila kerja? Kamu pasti merasa sangat kesulitan, bekerja sebagai sekretarisnya"
"Dibandingkan gila kerja, dari awal aku seperti merasa pak Zidan sengaja menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Entah apa tujuannya, tapi sekarang aku mulai sedikit mengerti"
"Apa__, kamu juga mengetahui perihal Kana di kehidupan Zidan?"
"Aku tidak sengaja mengetahuinya bu. Tapi ibu tidak perlu cemas, karna aku tidak punya niatan sedikit pun untuk menceritakannya pada orang lain"
"Aku percaya padamu, Asyifa. Dan juga, jangan panggil aku ibu, tapi panggil saja bunda. Sama seperti Zidan dan juga Raka memanggilku"
"Mana bisa aku berani seperti itu bu. Ibu kan orang tua bosku, jadi tidak sopan jika aku memanggil ibu dengan akrab seperti itu"
"Bagaimana kalau begini saja? Kamu bisa memanggilku ibu saat kita sedang berada di perusahaan Zidan, tapi saat di luar, kamu harus memanggilku bunda. Setuju?"
Mendengar permintaan Lilian, Asyifa tidak tahu harus menjawab apa. Ia merasa terharu karna masih ada wanita seumuran ibunya, yang memperlakukannya dengan sangat baik bahkan tidak keberatan dipanggil bunda oleh dirinya.
"Asyifa, apa kamu menangis? Astaga, apa permintaanku terlalu berat untukmu? Baiklah, kamu tidak usah melakukannya jika tidak ingin"
Asyifa menggelengkan kepalanya kuat, membuat Lilian dan juga Raka memandang ingin tahu.
"Aku mau banget memanggil ibu Lilian dengan panggilan bunda. Aku hanya sudah lama tidak pernah memanggil ibu pada wanita yang melahirkanku, itulah mengapa aku merasa sedikit sedih"
"Kemari, biar bunda memelukmu sayang. Anakku yang malang" ucap Lilian memeluk tubuh Asyifa erat.
"Kalau begitu, kamu bisa memanggil bunda sebanyak yang kamu inginkan. Karna asal kamu tahu, sebenarnya bunda juga sangat ingin mempunyai seorang anak perempuan" jelas Raka, mencoba menghibur Asyifa.
"Benar yang dikatakan Raka. Entah mengapa saat melihatmu, hati bunda seperti melihat anak perempuan yang tidak pernah bunda miliki"
Dan memang benar yang diucapkan oleh Lilian, ia memang merasa seperti telah lama akrab dengan sosok wanita muda di depannya itu. Pembawaan Asyifa yang tenang dan penuh senyum, juga membuat hati Lilian merasa tentram.
Lilian Seperti mendapat kembali energi positif yang telah lama hilang dalam dirinya. Lilian ingat, ia juga pernah merasakan perasaan seperti ini beberapa tahun lalu. Ketika dulu ia sering menghabiskan waktu, bersama seorang anak perempuan miskin dari tempat tinggalnya yang lama.
Sebenarnya Lilian enggan dekat dengan orang asing. Tapi karna sudah mendengar cerita dari Raka, perihal Zidan yang menyukai Asyifa, Ratih bertekad untuk mengakrabkan diri juga.
"Terima kasih bunda, Raka. Asyifa senang mengenal kalian hari ini"
"Sama-sama Asyifa. Nah, karna bunda sudah akrab dengan Asyifa, bagaimana kalau kita mulai pergi belanjanya?"
"Kita ke tempat perabotan besar saja dulu Raka. Bunda perlu membeli sebuah tempat tidur untuk langsung diantar ke apertemen"
"Jangan bilang kalau dua kamar lain yang ada di apertemennya, hanya sebagai panjangan dan tidak diisi apa pun?"
"Memang begitu adanya"
"Dasar pemalas, dia masih saja malas melakukan hal remeh seperti itu. Bunda sih, terlalu lembut padanya" gerutu Raka yang hanya dibalas tawa pelan oleh Lilian.
"Pantas saja waktu aku menginap, pak Zidan malah membaringkan ku di tempat tidur miliknya, dan bukan di kamar lain"
"APA?!" seru Lilian terkejut, bahkan Raka sampai rem mendadak.
"Kamu pernah menginap di tempat Zidan? Kok bisa, apa yang terjadi?"
"Tenang Asyifa, apa anak bunda memaksamu untuk menuruti keinginannya? Apa kamu di paksa menginap oleh Zidan? Tidak, kamu tidak perlu menjawab. Biar bunda tanyakan langsung saja pada Zidan, dasar kurang ajar anak itu!"
"Tapi bunda, pak Zidan tidak___"
"Jangan khawatir Asyifa. Zidan tidak akan berani melakukan apa pun padamu, karena kalau bunda sudah turun tangan, dia tidak bisa berkutik lagi!" tegas Raka memotong ucapan Asyifa.
Lilian mulai terlihat fokus menanti panggilan di ponselnya terhubung dengan sang putra. Dan saat sudah terhubung, Lilian mulai mengomeli anak satu-satunya itu dengan nada marah.
"Halo bunda, kenapa menghubungi Zidan? Apa bunda membutuhkan hal lain?"
__ADS_1
"Kamu, dasar anak kurang ajar! Bunda bisa maklumi jika kamu berubah menjadi pribadi yang dingin dan tak berprasaan, tapi kenapa kamu tega memperlakukan wanita seperti itu? Bunda kecewa sama kamu Zidan!"
"Wanita mana yang bunda maksud, dan apa yang Zidan lakukan padanya? Zidan tidak mengerti, bunda"
"Jangan pura-pura lupa! Wanita itu adalah Asyifa, yang pernah kamu paksa untuk nginap di apertememu"
Zidan yang mendengar omelan ibunya di ujung telepon hanya bisa memengangi dahi sambil memijatnya perlahan.
"Bunda, apa Asyifa sendiri yang mengatakan kalau aku yang memaksanya menginap di tempatku? Atau bunda sendiri lah yang menyimpulkan tanpa mendengar cerita lengkapnya?" tanya Zidan dengan nada sehalus mungkin.
"Apa sekarang kamu sedang menahan untuk tidak marah kepada bunda?"
"Tidak bunda"
"Jangan bohong! Suaramu selalu seperti itu dari dulu, jika sedang menahan untuk tidak marah"
"Baiklah, Zidan minta maaf pada bunda. Tapi coba tanyakan pada Asyifa, apa benar Zidan yang memaksanya?"
"Memangnya bukan yah, sayang?" tanya Ratih menatap Asyifa.
"Tidak bunda. Sebaliknya pak Zidan sedang menolongku saat itu, tapi aku sendiri yang ketiduran di apertemen pak Zidan"
"Oh, begitu. Ya sudah kalau tidak benar. Sudah dulu yah, Zidan" pamit Ratih tanpa rasa bersalah sedikit pun pada sang putra.
"Iya bunda. Tapi ngomong-ngomong, kenapa Asyifa memanggil bunda dengan panggilan bunda juga?"
"Bunda yang menyuruhnya. Memangnya kenapa? Rasanya bunda seperti punya anak perempuan"
"Bunda jangan meminta yang aneh-aneh pada Asyifa. Dia itu sudah punya suami bun"
"Terus dimana masalahnya, memangnya bunda merebut Asyifa dari suaminya? Asyifa saja tidak keberatan sama sekali, kenapa jadi kamu yang repot sih?"
"Baiklah, baiklah. Lakukan saja apa yang ingin bunda lakukan"
******
Kinara sedang sibuk melihat-lihat beberapa model tempat tidur sambil mendengarkan penjelasan dari staf yang ada, saat dirinya tidak sengaja melihat sosok yang familiar lewat di depannya.
"Sebentar yah mba, nanti aku ke sini lagi. Aku mau menemui kenalanku di sana"
Kinara mempercepat langkahnya untuk menyusul pria yang berjalan lumanyan jauh darinya.
"Raka!" panggil Kinara disela langkah kakinya.
Namun pria itu terus saja berjalan menuruni lantai satu menggunakan escalator, dan tidak mendengar panggilan Kinara.
Untungnya saat tiba dilantai satu, langkah Raka terhenti karna bertemu dengan Zidan. Melihat kehadiran Zidan, membuat senyum di wajah Kinara terbit seketika.
Keduanya sedang asyik bercerita saat menyadari seseorang sedang menuju ke arah keduanya dan itu adalah Kinara.
"Raka, Zidan. Tumben sekali kalian berdua ada di tempat belanja seperti ini. Aku pikir tadi sudah salah mengenali orang, ternyata benar kalian berdua"
"Kinara? Sedang apa kamu disini?"
"Aku sedang melihat-lihat beberapa model tempat tidur baru, untuk aku beli buat dipakai sama bunda, Raka"
"Apa maksudmu, kenapa kamu membelikan bundaku tempat tidur? Memangnya kamu pikir bundaku, akan tinggal di rumah yang di dalamnya ada kamu dan juga ayahku?"
"Kalau bukan di rumah utama, lalu bunda mau tinggal dimana lagi, Zidan? Tidak mungkin kan bunda akan tinggal di jalanan, secara bunda sudah tidak punya rumah lagi"
"Kinara!"
"Apa sih Raka, kenapa meneriakiku seperti itu? Memangnya ada yang salah dengan apa yang aku katakan barusan? Jangan egois Zidan, aku tahu kamu membenci ayahmu tapi apa kamu tega membiarkan bunda seperti gelandangan diluar sana?"
"Sejak kita bertemu di depan perusahaanku, aku sudah menduga kalau kamu akan dengan sengaja mengusik hidup bunda lagi. Apa kamu pikir aku yang adalah seorang pemilik perusahaan besar, tidak bisa memberikan ibuku sendiri tempat tinggal?"
"Aku tidak pernah berkata seperti itu, Zidan. Tapi bukannya kamu hanya memiliki sebuah apertemen kecil, tidak mungkin kamu akan mengajak bunda tinggal disana. Aku hanya benar-benar memikirkan keadaan bunda!"
"Astaga, aku bisa jadi gila kalau lebih lama berbicara denganmu, Kinara!"
"Biar aku saja yang bicara, Zidan. Dengar yah Kinara, kamu tidak perlu bersusah payah untuk mengurusi dimana bunda akan tinggal atau tidur dan segala macamnya. Karna kami bertiga sudah mengurusnya!"
"Bertiga, maksudmu bersama dengan Adam juga? Tapi tetap saja kalian bertiga itu adalah pria, pastinya bunda akan lebih nyaman jika ada seorang wanita bersamanya"
__ADS_1
"Siapa yang bilang tidak ada seorang wanita disampingku?" tanya sebuah suara dari arah belakang.
Kinara yang mengenali suara itu sebagai suara Lilian, segera berbalik dan memasang senyum terbaiknya.
Namun saat melihat sosok Asyifa yang sedang bergandengan tangan dengan akrab disamping Lilian, senyum Kinara hilang seketika.
"Halo bu Kinara, lama tidak bertemu" sapa Asyifa canggung.
"Asyifa? Apa yang kamu lakukan disini, dan lagi kenapa kamu bisa bersama dengan bunda?"
"Zidan sendiri yang menyuruh Asyifa untuk menemani bunda pergi membeli beberapa keperluan. Dan ternyata, bunda sangat menyukai Asyifa"
"Kenapa bunda tidak memberitahuku, dan mengajak aku? Tidak seharusnya bunda pergi bersama dengan Asyifa"
"Kenapa bunda tidak boleh pergi dengan Asyifa, dan harusnya pergi dengamu?"
"Masa kamu tidak tahu alasannya, Raka? Aku dan bunda kan satu keluarga, sedangkan Asyifa meskipun adalah sekretaris Zidan, tapi tetap saja dia orang luar. Sudah sewajarnya bukan, kalau bunda pergi bersamaku yang adalah keluarganya?"
Raka yang mendengar penjelasan Kinara hanya bisa menatap gadis itu dengan tatapan tak percaya.
Raka tidak menyangka gadis yang pernah menjadi sahabatnya itu, bisa berubah menjadi gadis tidak tahu malu dan berwajah tebal. Padahal dulu seingatnya, Kinara adalah gadis lemah lembut yang selalu mengutamakan orang lain dibandingkan dirinya sendiri.
Namun demi meraih kesuksesan sebagai seorang model terkenal, ia bahkan bisa membiarkan dirinya menjadi simpanan banyak pria tua yang lebih cocok dipanggil ayah olehnya.
Ayah dari kekasihnya sendiri pun tak luput dari keserakahannya. Dia bahkan tega melukai hati wanita seperti bunda Lilian yang tulus menerimanya sebagai kekasih Zidan.
"Kamu ikut aku pergi dari sini, sekarang juga!" pinta Raka yang sudah tidak bisa lagi menahan amarah, melihat tingkah Kinara.
"Apaan sih Raka, lepaskan tanganku! Aku tidak mau pergi, cepat lepaskan atau aku teriak!"
"Lepaskan tangannya Raka. Kamu tidak perlu sampai harus menguras tenangamu, hanya untuk menyingkirkan seekor serangga yang menganggu pandanganmu"
"Bunda! Kenapa bunda mengatakan Kinara seperti itu? Apa bunda masih saja membenci Kinara?"
Plak....
Sebuah tamparan dari Zidan mendarat di pipi wanita itu, yang membuatnya diam seketika. Zidan terlihat sudah muak mendengar segala omong kosong Kinara.
"Jangan pernah kamu meninggikan suaramu pada bundaku! Kamu bahkan tidak pantas menatap wajah bundaku!"
"Bu Kinara, ibu baik-baik saja kan?" tanya Asyifa, perlahan menghampiri Kinara yang mulai memengangi pipinya.
Kinara yang kesakitan mendapat tamparan dari Zidan, serta menahan malu karna banyaknya tatapan dari orang-orang sekitar yang melihatnya dengan penasaran, seketika menjadi kesal.
Dengan kasar dia mendorong tubuh Asyifa hingga wanita itu jatuh terduduk dan segera berlari pergi dari sana.
"Asyifa! Kamu baik-baik saja, sayang? Dasar wanita gila!" marah Lilian sambil membantu Asyifa bangkit berdiri.
"Aku baik-baik saja bunda. Tapi apa pak Zidan tidak keterlaluan sampai harus menampar bu Kinara seperti itu? Bagaimana juga dia wanita, dan pak Zidan adalah seorang pria, tidak seharusnya memukul wanita"
"Dia pantas mendapatkannya Asyifa. Itu bahkan tidak sebanding dengan apa yang telah dia lakukan pada bunda dan juga Zidan"
"Tidak Raka, apa yang dikatakan Asyifa ada benarnya. Tidak seharusnya Zidan menampar Kinara seperti itu. Kamu harus lebih bisa menahan amarahmu, sayang" ucap Lilian sambil memandang wajah putranya lembut.
"Maaf bunda. Zidan janji kejadian hari ini tidak akan terulang lagi"
"Bagus sayang. Kalau begitu, ayo kita pergi dari sini. Bunda dan Asyifa sudah selesai membeli semua barang yang bunda butuhkan dan mereka akan mengirimkannya langsung ke alamat apertemenmu"
Ketika mereka berempat sedang berjalan ke arah mobil, ponsel Lilian berbunyi dan nama Marcel muncul di layarnya, membuat Lilian menghembuskan nafas berat.
"Siapa yang menelpon bunda?"
"Ayahmu. Pasti wanita itu sudah melaporkan apa yang kamu lakukan padanya. Kenapa mereka berdua tidak bisa menikmati hidup bersama yang sangat mereka inginkan, dan masih saja menganggu kita?!"
"Tidak usah diangkat bunda. Biar nanti Zidan yang akan menelpon, dan menjelaskan semuanya pada ayah"
"Tidak perlu sayang. Biarkan saja mereka menjadi kesal sendiri, nanti juga pasti akan berhenti. Lebih baik kita pergi makan malam bersama, pasti Asyifa sudah lapar"
"Aku baik-baik saja kok bunda"
"Tidak boleh menolak. Hubungi suamimu dan katakan kalau kamu akan makan diluar bersama bunda, oke?"
"Baik bunda"
__ADS_1
Bersambung...