The Ugly Wife

The Ugly Wife
Surat dari Haykal


__ADS_3

Zenith, Kana serta Ratih tersenyum senang saat mendengar berita bahwa Asyifa telah mengetahui perselingkuhan William dengan Aliya, yang membuat wanita itu memutuskan untuk keluar dari rumah bahkan menyetujui keinginan sang suami untuk bercerai.


"Akhirnya, satu penghalang diantara aku dan juga William, bisa kita disingkirkan. Sekarang, waktunya untuk memulangkan kembali Aliya ke tempat dimana suaminya berada" ucap Zenith, sambil tertawa licik.


"Kamu benar sayang. Mommy tidak sabar lagi untuk melihat kamu resmi menjadi istri dari William, serta menjadi menantu mommy"


"Zenith juga sama tidak sabarnya dengan mommy. Selain itu, Zenith ingin berterima kasih atas bantuan mommy dan juga kak Kana selama ini"


"Sama-sama Zenith. Aku dan mommy hanya melakukan sebisa kami, tapi yang lebih banyak berperan adalah kamu sendiri. Bukan begitu, mom?"


"Benar kata Kana. Kamu sudah menunjukkan seberapa besar rasa cinta dan keinginanmu untuk bisa bersama William. Tapi, jangan lupa hal yang mommy pesan dari dulu"


"Apa itu, mom?" tanya Zenith penasaran.


"Cucu untuk mommy, sayang. Mulai sekarang, kamu harus sering menjaga tubuhmu dan banyak mengkonsumsi vitamin kesuburan. Biar setelah menikah, kamu bisa dengan cepat mendapatkan keturunan"


"Ah, iya mom. Zenith akan melakukan semua yang mommy katakan" jawab Zenith dengan senyuman yang dipaksa.


Melihat ekspresi Zenith yang aneh, membuat Ratih dan Kana menatap gadis itu dengan tatapan curiga. Karna ekspresi Zenith seolah mengatakan kalau dirinya tidak ingin memiliki seorang anak.


"Ada apa, Zenith? Kenapa ekspresimu kecut seperti itu, apa kamu tidak ingin memiliki anak setelah menikah dengan William?"


"Ti_tidak kok kak Kana. Bukan seperti itu, aku sangat ingin memiliki anak dengan William. Bahkan itu adalah impianku sejak dulu"


"Syukurlah. Mommy pikir kamu juga akan menunda kehamilan setelah menikah, seperti Kana. Oh iya, nanti mommy akan buatkan kamu jadwal untuk memeriksa kandungan, supaya kita bisa tahu seperti apa kondisi kandunganmu dan apa saja yang kamu butuhkan supaya cepat hamil" ucap Ratih panjang lebar, dengan antusiasnya.


"Terima kasih mommy"


"Sama-sama, sayang. Lalu, apa Aliya tidak memberitahumu, kapan Asyifa dan William akan bercerai?"


"Kata Aliya, mereka berdua akan segera mengurus perceraian dalam waktu dekat ini. Tapi mungkin prosesnya akan memakan waktu sedikit lebih lama, jadi kita harus bisa menunggu sebentar lagi untuk memulangkan Aliya kembali"


"Apa tidak bisa dipercepat saja perceraiannya, mommy sudah muak melihat muka Asyifa atau pun muka Aliya! Kedua wanita itu sangat mengganggu pemandangan!"


"Sabar mommy. Semuanya akan berjalan sesuai apa yang kita inginkan" bujuk Kana pada mertuanya.


"Lalu bagaimana dengan anak yang ada di dalam perut Asyifa? Apa William harus tetap bertanggung jawab dengan anak itu?"


"Kak Kana belum memberitahu mommy, kalau Asyifa sudah mengalami keguguran berkat obat yang kita berikan padanya?"


"Astaga, aku lupa. Maaf mommy, aku tidak sempat memberitahukannya kepada mommy semalam" ucap Kana merasa bersalah.


"Hahahaha, ya ampun kenapa nasib wanita itu sangat malang sekali?! Kasian sekali anaknya juga harus tertular nasib yang sama dari ibunya sendiri" ucap Ratih sambil tertawa senang.


Tak ada sedikit pun ekspresi sedih pada wajah wanita itu, setelah mengetahui calon cucunya telah meninggal. Ia bahkan makin tertawa kencang seperti orang kerasukan, karna saking gembiranya.


Kana dan Zenith juga akhirnya ikut tertawa bersama. Namun sedetik kemudian tawa ketiganya harus terpaksa berhenti begitu saja, setelah melihat sosok Haykal memasuki ruang tamu rumah Ratih.


"Ha_Haykal, sayang? Kenapa kamu jam segini sudah berada di rumah, dan bukannya di kantor? Apa kamu pulang lebih awal?" tanya Kana terlihat gugup.


"Tidak usah banyak bertanya Kana, langsung pergi siapkan makan siang untuk suamimu. Haykal pasti datang ke rumah mommy, untuk makan siang dengan makanan yang mommy masak" perintah Ratih pada Kana, untuk mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah, mommy"


Kana segera bangkit dari duduknya dan ingin berlalu dari sana, namun tangannya ditahan oleh Haykal. Wajah pria itu nampak sangat tak bersahabat, seolah telah bersiap memulai pertengkaran dengan semua orang.


"A_ada apa Haykal, kenapa kamu menahan tanganku sekuat ini? To_ tolong lepaskan, itu menyakitkan" mohon Kana sambil meringis menahan sakit.

__ADS_1


"Haykal, tolong lepaskan tangan istrimu nak. Jangan seperti itu, ada apa denganmu?"


Plak. Plak.


Tanpa menjawab perkataan Ratih dan Kana, serta tanpa berbicara sepatah kata pun juga, Haykal langsung melayangkan dua tamparan sekaligus ke atas pipi wanita cantik yang telah menjadi istrinya itu.


Kana yang mendapat serangan tiba-tiba dari Haykal, hanya bisa diam membeku karna terkejut. Sedang Ratih dan Zenith memekik kaget bersamaan.


"Kak_ kak Haykal, kenapa sekasar itu pada kak Kana? Ka_kalau, kalau kak Kana ada berbuat salah pada kakak, kenapa tidak membicarakannya dengan baik-baik saja?" ucap Zenith mencoba menasehati Haykal, dengan perasaan was-was.


"Diam kamu! Ini semua terjadi karna ulah dari dirimu, yang telah melibatkan Kana dalam rencana busukmu itu!"


"Rencana apa yang kamu maksudkan, kenapa menuduh Zenith dan Kana seperti itu? Apa mommu pernah mengajarkanmu untuk memperlakukan istrimu sejahat itu? Mommy sangat kecewa padamu, Haykal!"


"Haykal lebih kecewa pada mommy! Kenapa mommy bisa sejahat itu sebagai seorang wanita dan sebagai seorang ibu? Mommy bahkan tidak bersedih sama sekali dan malah tertawa bahagia saat mendengar berita cucu mommy telah tiada, apa mommy benar-benar adalah manusia?!"


"Ka_kamu, kamu_mendengar pembicaraan kami barusan?"


"Iya, aku mendengarnya. Bahkan semua pembicaraan kalian, telah aku dengar dengan kedua telingaku sendiri! Apa sekarang kamu sudah mengerti kenapa aku menanparmu barusan, Kana?"


"Ta_tapi Haykal, semua yang kami lakukan adalah demi untuk kebahagiaan William. Kami tidak melakukannya tanpa alasan, aku mohon percayalah"


"Apa William sendiri yang meminta kalian untuk melakukannya, tidak kan?! Kalian bahkan tega membuat Asyifa kehilangan calon anak yang sedang dikandungnya, demi memenuhi keinginan jahat kalian! Aku tidak menyangka selama ini aku telah mengambil seorang monster untuk menjadi istriku!"


"Haykal!"


"Kenapa, kamu tidak terima dengan ucapanku barusan? Bagaimana jika, aku memutuskan untuk menceraikan dirimu sama seperti William akan menceraikan Asyifa, apa kamu akan tetap merasa bahagia?"


"Ja_jangan bercanda, Haykal! Kamu tidak boleh melakukannya, aku tidak akan pernah mau bercerai darimu. Mommy, tolong suruh Haykal untuk menarik kembali ucapannya"


"Begini saja, apa yang harus aku lakukan untuk kak Haykal, supaya kakak mau berpihak kembali pada kami?" tany Zenith, mencoba bernegosiasi dengan Haykal.


"Aku tidak butuh uangmu, Zenith. Dan untuk kamu Kana, aku akan tetap menceraikan dirimu. Tunggu saja surat panggilan sidang dari pengadilan!"


"Haykal, jangan seperti ini! Jangan ceraikan aku, aku mohon!" ucap Kana sambil memeluk lengan suaminya.


"Bukankah aku sudah memberimu peringatan untuk tidak melakukan hal jahat pada Asyifa? Inilah ganjaran yang telah aku siapkan untuk kamu Kana!"


*****


Tok... Tok...


Suara ketukan di pintu kamar Asyifa, seketika membuyarkan lamunan wanita itu. Dengan masih dalam posisi berbaring diatas kasur, ia berbalik untuk melihat siapa yang masuk.


Ternyata itu adalah Angel yang masuk sambil membawa sebuah karangan bunga yang di dalamnya terdapat bunga anyelir putih dan juga tulip putih.


Asyifa melihat karangan bunga itu dengan penuh rasa penasaran, tentang siapa yang mengirimkannya. Karna bunga anyelir putih mempunyai arti belasungkawa, sedangkan tulip putih sendiri mempunyai arti permintaan maaf.


"Maaf mengganggu waktu istirahatmu, Fa. Aku hanya ingin membawakan karangan bunga yang baru saja diantarkan oleh kurir untukmu"


"Tidak apa-apa, Ngel. Tapi, dari siapa yang mengirimkan bunganya? Sepertinya dia tahu betul kalau aku sedang dalam suasana berduka"


"Aku juga merasa begitu, saat melihat hanya dua macam bunga saja yang ada dalam karangan. Tapi maaf, aku tidak tahu siapa yang mengirimnya"


"Begitu. Apa boleh ku lihat?"


"Tentu saja. Oh iya, sepertinya ada kartunya juga tadi, mungkin saja nama pengirimnya ada disana" ucap Angel sambil menyerahkan karangan tersebut pada Asyifa.

__ADS_1


"Terima kasih, Ngel"


"Sama-sama. Sebaiknya, aku juga keluar sekarang, karna kamu pasti merasa tidak nyaman kan kalau aku ada disini?"


"Tidak juga. Aku malah berharap kamu mau menemaniku untuk membaca kartu yang dituliskan sang pengirim bunga, apa kamu bersedia?"


"Tentu saja, aku dengan senang hati mau melakukannya"


Angel tersenyum senang mendengar tawaran Asyifa. karena itu berarti Asyifa mulai kembali membuka dirinya, setelah berhari-hari hanya mengurung diri di dalam kamar, dan akan berinteraksi seperlunya saja.


Angel segera duduk disebelah Asyifa, dan mulai bersama membaca tulisan yang ada di dal kartu ucapan. Ternyata yang mengirimkan bunga itu adalah kakak William, yang tak lain adalah Haykal.


"Untuk adik iparku tersayang.


Hai Asyifa, maaf kalau aku dengan tidak tahu malunya, masih memanggil dirimu dengan sebutan adik ipar. Awalnya aku memang tidak menyukai dirimu, tapi semakin dikenal, kamu adalah pribadi yang hangat dan sangat sabar. Kamu bahkan bisa menghadapi semua kelakuan jahat dari Kana dan juga mommy, tanpa sedikit pun menaruh rasa dendam.


Aku tidak tahu harus menuliskan apa lagi disini, tapi sebisa mungkin aku juga ingin menyampaikan beribu permintaan maaf yang belum sempat terucapkan padamu. Yang pertama, maaf karna baru sekarang aku menyampaikan belasungkawaku untuk calon keponakanku yang telah tiada. Maaf karna baru mengetahui tentang perselingkuhan William dengan Aliya dibelakangmu. Maaf karna sampai akhir kamu menjadi menantu di keluarga kami, tak ada satu pun kebahagiaan yang kami berikan untukmu. Dan yang terakhir, maaf karna terlambat menerima dan pernah berlaku jahat pada dirimu. Sebenarnya masih banyak lagi permintaan maaf lainnya yang belum aku sampaikan. Tapi sungguh, aku benar-benar menyesal atas semuanya itu Asyifa. Aku tidak ingin mengatakan satu pun alasan untuk menjadi pelindung, karna aku tahu kamulah yang paling menderita saat ini. Aku sebagai seorang kakak, bahkan tidak bisa melakukan apa-apa untuk menebusnya, dan sampai akhir aku masih tetap menjadi seorang pengecut karna tidak bisa bertemu denganmu dan meminta maaf secara langsung. Aku hanya bisa berharap di masa depan nanti, saat kita bertemu lagi, setidaknya aku bisa menjadi sedikit lebih berguna untuk dirimu meskipun hanya sekali saja.


Salam hangat, kakak iparmu, Haykal"


Setetes demi setetes air mata perlahan-lahan, mulai mengalir membasahi kedua pipi Asyifa setelah membaca surat yang ditulis oleh Haykal. Ia merasa sangat terharu, karna setidaknya masih ada seorang yang menerima dirinya dan bersedih untuknya di keluarga William.


Meskipun ia tidak mengenal dan dekat baik dengan Haykal, namun dari sepotong surat itu, Asyifa bisa merasakan adanya ketulusan yang terselipkan disana.


"Ternyata kak Haykal, sungguh menerima dirimu dengan tulus. Setidaknya di keluarga itu masih ada seorang yang menyayangimu, aku turut bersyukur" ucap Angel, mewakili perasaan Asyifa.


"Aku juga"


"Dan bukan hanya kak Haykal saja yang tulus menerima dan menyayangimu, Fa. Aku, Mira, Zidan dan bunda Lilian, juga akan selalu ada untuk dirimu"


"Tanpa perlu kamu beritahu, aku juga sudah menyadari betul akan hal itu. Maaf karna selama beberapa hari ini, aku mendiami dan tak ingin terlalu banyak berinteraksi dengan kalian. Aku hanya merasa melakukan apa pun, tidak akan membuat diriku membaik. Jadi aku putuskan untuk menghabiskan setiap waktu dengan merenung dan bersatu dengan duka yang aku rasakan"


"Aku mengerti, Fa. Kami semua juga tidak ingin memaksa dirimu untuk segera bersikap seperti biasa, tapi kami juga tidak ingin kamu terlalu lama tenggelam dalam semua itu"


"Sebelum menerima surat dari kak Haykal, aku merasa masih perlu berkabung lebih lama lagi. Tapi sekarang aku sadar, aku harus bisa melepaskan tali yang menghubungkan diriku dengan William, agar aku bisa turut membebaskan semua orang yang memiliki rasa bersalah padaku"


"Maksud kamu, kamu sudah siap untuk mengurus perceraianmu dengan William?" tanya Angel tak percaya.


"Iya, aku sudah siap. Meskipun sulit karna aku masih mencintainya sampai detik ini, tapi kebaikan diriku dan semua orang, aku akan berusaha menghadapinya"


Mendengar keputusan yang dibuat Asyifa, Angel merasa sangat terharu dan langsung berhambur memeluk wanita itu. Keduanya pun menangis tanpa bisa ditahan.


"Terima kasih Asyifa, terima kasih karna sudah mau menjadi berani untuk menghadapi semuanya. Kamu hebat, kamu kuat, dan kamu juga berhak untuk bahagia!"


"Terima kasih, Angel. Di saat seperti ini, aku sangat membutuhkan dukungan dari kalian semua, aku harap kalian mau berdiri untuk membela diriku"


"Pasti, Fa. Pasti akan kami lakukan" jawab Angel tegas.


Tanpa keduanya sadari, tiga pasang mata yang sedari tadi mengawasi dengan penuh perhatian, ikut tersenyum senang. Mereka ialah Mira, Zidan dan juga Lilian.


"Kalian berdua juga dengar kan, kata Asyifa barusan? Itu berarti, kita harus melakukan yang terbaik agar semua urusan perceraian berjalan dengan cepat. Bunda tidak ingin Asyifa harus menghabiskan banyak waktu untuk bertemu dengan pria itu"


"Aku juga, bunda. Bila bisa, sekalian William dan wanita itu diberikan hukuman yang setimpal dengan penderitaan yang dirasakan oleh Asyifa!"


"Kamu tidak usah khawatir, Mira. Bunda sudah menyuruh Zidan untuk mencarikan pengacara terbaik untuk mendampingi Asyifa di pengadilan nanti. Bunda sendiri yang akan pastikan, mereka menerima ganjarannya"


"Apa tidak sebaiknya, kita mendengar saja keputusan dari Asyifa? Bagaimana pun juga, ini adalah haknya" usul Zidan.

__ADS_1


Karna setahu Zidan, Asyifa pasti tidak akan suka dengan apa yang telah direncanakan oleh bundanya. Zidan sangat mengenal seperti apa sosok Asyifa, wanita itu bukanlah orang yang suka membalas kejahatan dengan kejahatan juga.


"Baiklah, kita dengarkan keputusan dari Asyifa sesuai dengan katamu" putus Lilian setuju.


__ADS_2