The Ugly Wife

The Ugly Wife
Penerimaan Haykal dan Rizal


__ADS_3

"Asyifa, kami berdua sangat merindukanmu. Apartemen kita terasa sangat sepi tanpa kehadiranmu"


"Aku juga sangat merindukan kalian berdua, Angel. Sejujurnya aku merasa sedikit bosan tinggal berdua saja dengan William di rumah sebesar itu. Kalau bisa, aku lebih ingin tinggal di apartemen sederhana"


"Kalau begitu, cepat hamil dan melahirkan banyak anak saja, supaya rumahmu bisa terasa ramai dan lebih hidup!"


"Apa kamu pikir memiliki anak segampang itu, apalagi jika ingin banyak?" tanya Asyifa sambil mencubit pipi Mira gemas.


"Bisa saja jika William kuat melakukannya setiap hari, benar kan Angel?"


"Mira, kita berdua datang ke sini untuk bertemu dan menghabiskan waktu seharian bersama Asyifa, untuk melepaskan rindu. Bukannya membahas urusan anak dengan Asyifa, itu adalah urusan Asyifa bersama William"


"Iya, iya, galak banget sih! Oh iya, bagaimana kabar keluarganya William, apa mereka benar-benar sudah menerimamu sebagai menantu?"


"Aku rasa belum, mereka hanya terpaksa seolah sudah menerima demi William. Tapi tenang saja, Aku dan William akan berusaha supaya mereka bisa membuka hati padaku"


"Aku harap apa yang kalian rencanakan berhasil. Tapi jika tidak, kamu jangan terlalu sedih, karna hati seseorang memang sulit untuk dirubah"


"Benar kata Angel! Dan satu hal lagi yang harus kamu ingat, jika ada apa-apa, kamu harus menceritakannya pada kami berdua. Pintu apartemen kita selalu terbuka untukmu, kapan pun kamu ingin datang"


"Astaga, aku hanya merubah statusku dari seorang gadis menjadi istri William. Kita juga masih tinggal di kota yang sama, bukannya aku pindah ke negeri antah berantah. Kalian tidak harus memberiku segala macam wejangan, seolah kita akan berpisah dan sulit untuk bertemu lagi, guys"


"Dengarkan saja apa yang kami katakan!" seru Angel dan Mira bersamaan, membuat Asyifa seketika terkejut.


"Baiklah, aku mengerti"


"Lalu, bagaimana perasaanmu setelah resmi menjadi istri William? Dia tidak menyakitimu atau menunjukkan tingkah yang aneh bukan?"


"Tidak ada yang seperti itu, Mira. Menurutku William adalah suami terbaik, karena selalu mau mengerti akan diriku. Setelah menjalani kehidupan rumah tangga dengannya selama beberapa hari ini, aku merasa kalau keputusan yang ku ambil waktu itu adalah keputusan yang tepat. Aku sungguh merasa bahagia" jelas Asyifa panjang lebar kepada kedua sahabatnya itu, sambil tersenyum bahagia.


"Syukurlah kalau begitu. Aku dan Mira selalu cemas, takut jika William melakukan kesalahan yang sama seperti dulu, lebih memihak keluarganya" ungkap Angel dengan tatapan sedih.


"Aku mengerti kecemasan kalian berdua, tapi bisa kah kalian sekali lagi percaya pada William? Aku menjamin, dia tidak akan mengecewakan kalian sama sekali!"


Demi melihat kebahagiaan Asyifa menjadi lengkap seutuhnya, Angel dan Mira pun terpaksa menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.


"Terima kasih, guys. Sekarang, bagaimana kalau kita memulai acara menyenangkan hari ini? Aku pengin melihat-lihat baju bayi, dan membayangkan kalau aku sedang hamil"


"Dasar pengantin baru! Ayo pergi" ajak Mira sambil menarik tangan Asyifa dan Angel untuk segera masuk ke dalam mall.


Saat ketiganya sedang asyik berbelanja sambil bersenda gurau, dari arah samping datanglah Kana bersama dengan Haykal yang tanpa sengaja menabrak Mira.


"Ya ampun, jalannya bisa tidak pakai mata? Nabrak orang seenaknya, minumanku kan jadi tumpah semua!" marah Kana sambil berusaha menghilangkan noda minuman yang terkena bajunya.


"He mbak, yang jalan sambil liat ponsel kan situ sendiri, kenapa malah menyalahkan orang lain? Dasar orang aneh!"


"Kak Kana, kak Haykal?" panggil Asyifa pelan saat merasa mengenali dua orang yang ada di depannya.


"Asyifa, sedang apa kamu di sini? Jangan bilang kalau cewek idiot ini, adalah salah satu temanmu?"


"Apa kamu bilang barusan, idiot? Mulutmu itu kayaknya tidak pernah di sekolahkan, atau di ajarkan untuk berbicara sopan pada orang lain yah?" tanya Mira kesal.


"Sudah, sudah Mira, lebih baik kita pergi saja dari sini. Maafkan sahabatku, karena sudah membuat minumanmu tumpah. Asyifa, kami tunggu di toko favorite kita yah?"


"Iya Ngel, aku segera menyusul"


"Buat apa sih, kamu meminta maaf segala sama cewek gila itu? Kita kan tidak salah, yang salah itu dia!" protes Mira yang berusaha dibawa pergi oleh Angel.


"Aku dan teman-temanku sedang berbelanja bersama, apa kak Kana dan kak Haykal juga sedang berbelanja di sini?"


"Bukan urusan kamu, dan jangan ajak aku bicara, bisa-bisa wajah jelekmu itu menular padaku! Ayo kita segera pergi dari sini sayang"


"Asyifa, kami pergi duluan yah. Kamu hati-hati jalannya, jangan pulang terlalu malam"


Karna merasa bersalah pada William dan juga Asyifa, Haykal berusaha sedikit demi sedikit untuk berbuat baik pada adik iparnya itu. Setidaknya hanya ini yang bisa dilakukannya untuk menebus kesalahannya.


"Baik kak Haykal"

__ADS_1


"Astaga, sejak kapan kamu jadi perhatian pada istri adikmu itu? Jangan bilang kalau kamu sudah menerimanya sebagai anggota keluarga kita, apa kamu ingin mommy syok saat tahu semua ini?"


"Diamlah Kana! Kenapa kamu selalu saja meributkan setiap hal kecil?" marah Haykal sambil berlalu dari sana meninggalkan Kana begitu saja.


"Apa yang sedang kamu lihat, senang melihat Haykal memarahiku karna dirimu? Ingat yah, selamanya kamu itu tidak akan diterima dalam keluarga kami, jadi jangan pernah bermimpi kamu!"


"Sejak awal bertemu dengan kak Kana, aku selalu bertanya-tanya, kenapa kakak sebenci itu padaku? Memangnya, aku sudah berbuat kesalahan apa pada kak Kana?"


"Bukankah sudah jelas alasannya? Karna kamu itu wanita buruk rupa, dan lagi kamu juga berasal dari keluarga miskin, yang membuatmu menjadi aib di keluarga kami! Lihat saja semua anggota keluarga besarku dan William, semuanya berparas cantik serta berasal dari keluarga terhormat!"


"Tapi dibandingkan semua itu, bukankah memilih wanita yang bisa membuat William bahagia, jauh lebih penting?"


"Keturunan jauh lebih penting, Asyifa. Akan jadi seperti apa, rupa dan otak anak William jika dikandung oleh wanita sepertimu? Aku bahkan tidak sanggup membayangkannya, sungguh malang adik iparku itu"


Mendengar penghinaan yang keluar dari mulut Kana, membuat Asyifa tidak bisa berkata apa-apa. Ia menjadi sangat sedih saat membayangkan, jika anak yang nanti akan dikandungnya harus lahir dengan mewarisi segala yang ada pada dirinya, dan mendapat penghinaan seperti yang ia alami.


"Kamu bahkan tidak bisa menyangkalnya. Biar aku beri sebuah saran, sebaiknya kamu juga berhenti berteman dengan wanita idiot itu. Kamu sekarang adalah bagian dari keluarga terhormat, jangan sampai membuat malu"


"Kana! Apa yang kamu bicarakan lagi dengan Asyifa? Aku menunggumu di mobil dari tadi, kenapa tidak datang juga?" marah Haykal yang telah berjalan kembali ke arah mereka.


"Aku hanya memberikannya beberapa saran saja, karna sekarang ia adalah bagian dari kita. Bukan begitu, Asyifa?"


"Ah, iya. Benar yang dikatakan kak Kana"


"Apa kamu pikir aku percaya, aku sangat tahu seperti apa sifatmu, Kana. Tidak usah dengarkan semua ucapannya padamu Asyifa. Nikmati saja hidupmu bersama William seperti biasanya"


"Astaga, aku menjadi sangat terharu sekali melihat sikap penuh perhatian yang kamu berikan pada adik iparmu itu. Memuakkan!" sindir Kana, kemudian berlalu dari sana dengan kesal.


"Maaf kak, karna aku kalian jadi bertengkar"


"Bukan salahmu, Asyifa. Kana memang seperti itu sifatnya, tidak usah terlalu di pikirkan. Kebetulan kita hanya berdua, aku juga ingin meminta maaf padamu, atas perbuatan jahat yang aku dan keluargaku lakukan padamu"


"Aku sudah memaafkan kak Haykal dan yang lainnya kok kak, jadi tidak usah khawatir"


"Terima kasih, Asyifa. Ke depannya, mari kita menjalin hubungan keluarga yang baik. Jika kamu butuh bantuan atau ada masalah apa pun, jangan ragu untuk mengatakannya padaku"


"Baik kak, aku akan mengingatnya"


Haykal kemudian mengelus puncak kepala Asyifa untuk pertama kalinya, sebelum berlalu pergi dari sana.


*****


Asyifa baru saja selesai bebersih rumah, setelah pulang dari mall bersama Mira dan juga Angel. Ia kemudian menuju ke arah dapur, untuk memasak makan malam sebelum William pulang dari kantor.


Sambil bersenandung ria, Asyifa pun mulai sibuk dengan berbagai alat dan bahan yang ada di sana. Bahkan karna keasyikan, ia tak mendengar suara William yang baru saja pulang.


"Apa kamu sebahagia itu, diterima oleh kak Haykal? Sampai aku pulang saja tidak di hiraukan olehmu"


"Astaga, kamu membuatku terkejut William! biasakan untuk bersuara saat datang, apa kamu mau aku terkena serangan jantung?"


"Aku sudah memberikan salam berulang kali, dan juga memanggil namamu, istriku sayang. Tapi kamunya saja yang tidak mendengar, karna terlalu bahagia karena sudah diterima oleh kakak iparmu itu"


"Benar juga, apa kamu tahu seperti apa perasaanku saat ini? Rasanya aku seperti semakin dekat dengan keluargamu!" ucap Asyifa bersemangat.


Wanita itu segera menyelesaikan masakan terakhirnya dan duduk dihadapan William. Kemudian mulai bercerita tentang apa yang dialami olehnya sore tadi.


William yang meskipun sudah mendengar cerita Asyifa saat masih berada di kantor, dengan tenang tetap mendengarkannya lagi.


Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu rumah mereka, yang membuat cerita Asyifa terhenti seketika.


"Siapa yang datang, kamu mau ada tamu yah? Kok tidak bilang, mana penampilanku lusuh begini lagi"


"Aku tidak sedang menunggu siapa pun. Atau mungkin yang datang malah Angel dan Mira? Mungkin ada barangmu yang tidak sengaja tertinggal di mereka"


"Masa sih? Ya sudah, aku saja yang buka pintunya. Kamu makan saja duluan"


"Aku menunggumu saja. Kalau bisa, ajak juga mereka untuk sekalian makan malam bersama"

__ADS_1


"Ide bagus!"


Tapi saat Asyifa membuka pintu, ia menjadi terkejut saat mendapati tamu yang datang, adalah kedua orang tua William berserta Kana dan juga Haykal.


"Mommy, daddy, selamat datang. Kak Haykal dan kak Kana juga datang yah"


Ratih dan Kana yang melihat penampilan lusuh Asyifa, dengan terang-terangan mulai mencibirnya. Sedang Rizal dan Haykal hanya bisa diam saja.


"Pakaian apa yang kamu pakai di tubuhmu? Bisa-bisanya kamu menyambut mertua serta kakak iparmu, dengan penampilan seperti itu! Apa tidak bisa kamu merawat dirimu sendiri?"


"Maaf mommy, tadi Asyifa baru selesai membersihkan rumah dan memasak, jadi masih memakai pakaian ini. Asyifa juga tidak tahu kalau mommy dan yang lainnya akan datang hari ini"


"Jadi maksudmu, aku harus meminta izin terlebih dahulu sebelum mengunjungi rumah putraku sendiri?"


"Bukan begitu maksud Asyifa mommy. Maaf kalau ucapan Asyifa sudah membuat mommy tersinggung"


William yang mendengar adanya ribut-ribut dari arah depan, segera bergegas untuk menyusul istrinya. Saat melihat ibunya memarahi Asyifa, William menjadi sangat kesal.


"Mommy baru saja datang, kenapa langsung memarahi istri William?" tanya William berusaha menahan marah.


"William, mommy pikir kamu sedang berada dalam kamar, kenapa kamu keluar dari dapur? Apa kamu juga menyuruh William untuk membantumu mengerjakan pekerjaan dapur? Astaga, suamimu itu sudah lelah seharian bekerja di perusahaan!" lanjut Ratih masih tetap memarahi Asyifa.


Ia pun segera masuk ke dalam rumah sambil mendorong tubuh Asyifa dari depan pintu dengan kasar. Dan seperti seorang polisi, ia memeriksa setiap sudut lantai satu dengan saksama.


"Apa yang sedang mommy lakukan?" tanya Haykal ikut masuk ke dalam rumah diikuti yang lainnya.


"Rumah ini seperti baru dibersihkan. Siapa yang membersihkannya, apa kamu juga menyuruh William melakukan semua ini?"


"Mana mungkin Asyifa menyuruh suami Asyifa melakukan pekerjaan seorang ibu rumah tangga, mommy. Itu semua Asyifa yang kerjakan seorang diri"


"Mana mungkin kamu bisa menyelesaikannya secepat itu, kita saja baru bertemu beberapa jam yang lalu di mall. Iyakan sayang?"


"Apa benar yang dikatakan oleh Kana? Kamu pasti merasa sangat dicintai oleh William, makanya bisa membuat putraku menjadi seperti pembantumu kan?"


"Sudah cukup, jangan menuduh Asyifa lagi. Apa yang dikatakan oleh Asyifa adalah yang sebenarnya, William juga baru saja pulang. Kami tadi sedang ingin makan malam bersama saat kalian datang, makanya William keluar dari dapur"


Merasa tak percaya dengan ucapan anaknya, Ratih segera masuk ke dalam dapur. Benar saja, ia mendapati meja makan yang sudah terisi penuh oleh berbagai macam jenis masakan lezat. Sedang di salah satu kursi, terdapat tas kerja William.


Ratih yang merasa malu karena tuduhannya pada Asyifa salah, hanya bisa berdiri diam di dekat meja makan, tanpa tahu harus berbuat apa.


"Wah, kelihatannya enak masakanmu Asyifa. Kebetulan, daddy belum makan sejak pulang kerja, apa daddy boleh ikut makan malam bersama kalian?" tanya Rizal berusaha mencairkan suasana.


"Tentu saja daddy. Kebetulan juga, Asyifa masaknya banyak, jadi porsinya bisa untuk lebih dari dua orang yang makan"


"Kalau begitu, kita semua makan malam disini saja. Sudah lama juga, sejak terakhir kali kita makan bersama"


William dan Asyifa segera mengikuti Rizal duduk di meja makan, kemudian disusul Haykal. Hanya Kana dan Ratih yang nampak enggan.


"Enak sekali masakanmu Asyifa, tidak kalah dengan masakan mommy kalian. Astaga, apa yang kalian berdua lakukan, ayo duduk dan makan bersama!" pinta Rizal yang mulai menikmati masakan Asyifa.


"Bukannya kita mau makan di restoran mahal yah daddy, kenapa jadi makan disini? Kana kan sudah dandan cantik, mommy juga!"


"Makan di restorannya bisa lain kali, masakan Asyifa juga tidak kalah enaknya" jawab Haykal menarik tangan Kana untuk duduk.


Setelah melihat Kana duduk, Ratih yang merasa dikalahkan oleh Asyifa, pun ikut duduk dengan perasaan kesal. Namun pada akhirnya, ia juga sangat menyukai masakan Asyifa. Itu terbukti dari dua kali ia meminta tambahan lauk dipiringnya.


"Sepertinya mommy dan yang lain menyukai masakanmu, sayang" bisik William sambil tertawa pelan.


"Aku rasa begitu, tidak sia-sia aku memasak banyak. Semoga mereka akan sering makan bersama kita disini"


"Jangan dong. Kalau mereka sering makan disini, berarti aku akan susah meminta jatah setiap waktu padamu"


"Dasar mesum!" gerutu Asyifa sambil mencubit pinggang William. Membuat pria itu mengaduh kesakitan.


Haykal dan Rizal yang melihat William tampak bahagia bersama Asyifa, ikut tersenyum senang. Setidaknya, Rizal telah berhasil memberikan kebahagiaan untuk putranya itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2