The Ugly Wife

The Ugly Wife
Ibu


__ADS_3

Asyifa terbangun dari tidurnya karna dering ponsel yang berbunyi terus-menerus.


Diraihnya ponsel itu namun saat melihat nama sang penelpon yang muncul di layar, ia segera meletakkannya kembali dengan perasaan tak bersemangat.


Asyifa lebih memilih berjalan keluar kamar untuk menyiapkan sarapan bagi dirinya dan juga kedua sahabatnya, dari pada menjawab telepon yang terus berbunyi.


Saat Asyifa sedang sibuk memasak, Angel dan Mira keluar dari kamar mereka masing-masing secara bersamaan.


"Sudah bangun, Fa? Masak apa hari ini?" tanya Angel menghampiri Asyifa untuk ikut membantunya.


"Aku bikin nasi goreng, makan yang simpel aja yah buat sarapan"


"Kayanya enak tuh, aku bantu cuci peralatan masak yang kotor yah"


"Makasih Ngel, aku siapin meja makannya dulu yah?"


"Oke"


Mira menonton kedua sahabatnya yang sedang bekerja itu, sambil tiduran di sofa ruang tamu. Namun sedetik kemudian, ia bangkit berdiri seolah teringat akan sesuatu.


"Aku harus telepon pria resek itu untuk minta ganti rugi!"


"Ya ampun Mira, kamu serius mau minta ganti rugi? Udahlah, lagian mobilku cuman lecet sedikit aja"


"Mau lecetnya sedikit atau banyak, tetap saja dia harus bertanggung jawab, Ngel! Pokoknya aku akan tetap menghubunginya untuk minta ganti rugi!"


"Memangnya ada apa sih? Mobil kamu lecet, Ngel? kenapa bisa?"


"Kemarin pas perjalanan pulang ke apartemen, mobilku di tabrak dari belakang sama mobil lain jadi agak lecet dikit, Fa"


"Ya ampun, tapi kalian tidak apa-apa kan?"


"Tidak kok Fa, kita berdua baik-baik aja"


"Syukur deh kalau gitu. Ayo kita sarapan, ini meja dan makanannya sudah siap"


Asyifa duduk di meja makan diikuti Angel, namun tidak dengan Mira. Gadis itu sedang sibuk mencari sesuatu di antara tumpukan pakaian kotor yang berada dalam keranjang, di samping kamar mandi luar.


"Cari apaan, Ra? Sibuk banget sih" tanya Angel yang mulai gemas melihat tingkah sahabatnya itu.


"Baju kemeja yang aku pakai kemarin di mana yah? Kok tidak ada di dalam sini?"


"Baju kemeja warna biru yah?"


"Iya, Fa! Kamu liat tidak?"


"Kayaknya ada di kamarku deh, di atas kursi. Kemarin aku cuman sempat ngambilin pakaian kotor di kamar kalian, tapi lupa masukan ke dalam keranjang pakaian kotor, malah ku bawa masuk ke kamar sendiri"


"Ya udah, aku masuk ambil sendiri yah, Fa"


Tanpa menunggu jawaban dari Asyifa, Mira tanpa ragu segera masuk ke dalam kamar dan mulai mencari-cari bajunya diantara baju yang ada di atas kursi.


Baru saja ia menemukan apa yang dicarinya dan akan keluar, namun langkahnya terhenti karna bunyi nyaring dari ponsel Asyifa yang ada diatas meja.


"Asyifa, ponsel kamu bunyi! Ada telepon dari ibumu, aku bantu angkat yah?"


"Iya, Ra" jawab Asyifa tanpa sadar, namun tiba-tiba ia menatap wajah Angel cemas.


"Ada apa, Fa? Kok muka kamu panik gitu?"


"Ngel, tadi Mira bilang siapa yang nelpon?"


"Ibu kamu" jawab Angel dengan wajah polos.

__ADS_1


Asyifa berlari cepat ke dalam kamar "MIRA, JANGAN DIANGKAT!"


Namun terlambat. Saat Asyifa masuk, Mira tampak sedang sibuk berbicara di telepon dengan seseorang.


"Iya bu, Asyifa ada kok di sini. Ibu mau bicara sama dia?"


"Iya Mira, boleh bantu ibu untuk bicara sama dia? Sudah mau dua bulan dia tidak pernah mau mengangkat telepon dari ibu, padahal ada hal penting yang harus ibu bicarakan dengannya. Tolong yah, Mira"


"ya bu, sabar yah"


Mira berbalik dan menemukan sosok Asyifa dengan wajah cemasnya sedang berdiri di depan pintu kamar, dan saat itu juga Mira menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan dengan menjawab telepon tersebut.


"Ah, bu, aku minta maaf tapi..."


Asyifa segera menguasai dirinya dan karna tidak tega melihat Mira yang kebingungan, Asyifa mengambil alih ponselnya dari tangan Mira.


"Halo bu, ada apa?"


"ASYIFA! KAMU SUDAH TIDAK WARAS YAH? JANGAN KURANG AJAR KAMU!" raung Laras dari seberang sana.


"Jangan teriak-teriak bu, bicara saja seperti biasa. Asyifa mendengarkan!"


"Kirimkan ibu uang tiga puluh juta, sekarang juga!"


"Apa? tiga puluh juta? Asyifa tidak punya uang sebanyak itu bu!"


"Ibu tidak mau tahu! Salah kamu sendiri yang tidak mengirimkan ibu uang selama dua bulan berturut-turun, ibu telepon juga tidak diangkat. Dasar anak durhaka!"


"Asyifa sibuk bu. Banyak masalah, pekerjaan dan musibah yang Asyifa lalui disini"


"Aduh, kamu jangan banyak alasan deh, Fa! Pokoknya kirimkan ibu uangnya hari ini juga, kalau tidak ibu akan cari alamatmu di situ dan mendatangi kamu! Mengerti?" ucap Laras tanpa rasa kasihan sedikitpun.


"Iya, Asyifa mengerti bu"


"Maaf, Fa" ucap Mira merasa bersalah.


"It's ok, Ra. Bagaimana pun juga, aku pasti harus menghadapi ibuku"


"Apa kamu akan mengirimkan uangnya? Kamu harus tegas Asyifa, kamu tidak bisa terus hidup dengan bayang-bayang ibumu yang tidak peduli sedikitpun sama kamu, dan hanya meminta uang padamu setiap saat!"


"Aku memang akan mengirimkan uang itu, tapi ini akan menjadi yang terakhir, Ngel. Seperti ucapanmu, aku tidak bisa terus hidup mengikuti permintaan ibuku"


"Tapi gimana caranya?" tanya Mira khawatir.


"Kalian berdua tenang saja, aku sudah punya rencana sendiri"


*****


"Aku mau pindah!"


"Pindah? Apa maksudmu, pindah?"


William memandang sekilas wajah gadis yang sudah menjadi kekasihnya itu dengan tatapan heran.


Sore ini mereka baru saja selesai kencan dan sedang berada di dalam mobil yang ia kendarai menuju ke apartemen Asyifa.


"Aku mau pindah dari apartemenku yang sekarang ke apartemen lain"


"Kenapa? Apa kamu bertengkar dengan Angel atau Mira?"


"Hubungan kami bertiga baik-baik saja, tapi hubunganku dengan ibuku yang tidak baik-baik saja"


"Ada masalah apa? Coba ceritakan padaku"

__ADS_1


"Seperti biasa, masalah ibu denganku hanya ada satu yaitu uang. Pagi ini ibu menelepon untuk memarahiku karna dua bulan tidak mengirimkannya uang dan ujung-ujungnya ia minta dikirimkan uang dengan jumlah lebih besar dari biasanya"


"Kali ini berapa banyak yang ibumu minta?"


"Tiga puluh juta. Mungkin bagimu itu angka yang tidak seberapa, tapi bagiku itu adalah angka yang besar!"


"Iya, aku mengerti sayang. Bagaimana kalau aku bantu kirimkan dengan uangku saja?"


Asyifa berbalik menatap wajah William kesal "Will, aku menceritakan hal ini padamu bukan supaya kamu mau mengeluarkan uangmu untuk ibuku!"


"Aku tau, Asyifa. Aku hanya ingin membantumu, itu saja"


"Tidak usah, aku sudah mengirimkan uangnya siang tadi menggunakan tabunganku"


"Apa saldo tabunganmu berkurang banyak? Mau aku transfer kan uang?"


"Hah...! Hentikan mobilnya, aku mau turun!" ucap Asyifa marah.


"Ada apa? Kamu mau turun disini sekarang, tapi apertemenmu masih jauh sayang"


"Aku bilang berhenti, William!"


Melihat Asyifa yang melepaskan sabuk pengamannya, William sadar kalau kekasihnya itu sedang marah.


"Oke, kita berhenti tapi bukan di sini. Aku akan hentikan mobilnya di taman itu" tunjuk William ke arah taman yang tidak jauh dari jalan raya yang sedang mereka lalui.


Asyifa hanya diam tak menanggapi William, hingga mobil kekasihnya sudah terparkir di dalam taman.


"Apa aku terlihat seperti cewek yang sangat mengharapkan uangmu?"


"Astaga Asyifa, aku sedikit pun tidak pernah melihat dirimu seperti itu!"


"Lalu kenapa kamu terus saja menawarkan uangmu padaku? Aku menceritakan ini semua padamu supaya kamu bisa bantu mencarikan apartemen baru untukku, bukan supaya kamu memberikanku uang!"


"Baiklah, baiklah sayang, aku mengerti. Tapi kenapa harus sampai pindah apartemen? Bukannya kamu bilang, sudah mengirimkan uang untuk ibumu?"


"Karna aku tidak ingin hidup mengikuti semua permintaan ibu lagi, dan uang itu adalah uang terakhir dariku untuk ibu!"


"Apa kamu yakin?"


"Aku sudah memikirkannya berulang kali, dan sekarang aku merasa sangat yakin! Aku bukannya ingin menjadi anak durhaka, tapi seumur hidupku, ibu selalu merampas semua hasil kerja kerasku tanpa peduli terhadap kondisiku yang adalah anak kandungnya. Aku cape hidup seperti ini terus, Will!" jelas Asyifa sambil terisak.


William memeluk tubuh Asyifa yang sedang menangis, berusaha untuk menghiburnya.


"Aku mengerti sayang. Lakukan jika memang itu yang kamu inginkan, aku akan selalu mendukungmu"


"Terima kasih Will"


"Sama-sama"


Asyifa melepaskan pelukan William dan menatapnya serius "Bantu aku menemukan apartemen baru sebelum bulan depan, karna aku harus segera pindah dari apartemenku yang sekarang. Aku takut jika ibu sampai mengikutiku ke kota ini"


"Baiklah, aku akan bantu carikan. Tapi dengan satu syarat, biarkan aku yang membayar uang sewanya. Setidaknya sampai keuanganmu stabil, oke?"


"Tapi William..."


"Aku mohon, biarkan aku sedikit membantu meringankan masalahmu" ucap William memotong ucapan Asyifa.


Asyifa yang melihat wajah memelas dan kesungguhan William, akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah.


"Terima kasih banyak, Will" ucap Asyifa terlihat hampir menangis lagi.


William menarik tubuh Asyifa ke dalam pelukannya "Sama-sama, sayang"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2