
Setelah kepergian Asyifa, seorang pria yang sedari tadi setia mengikuti kemana Asyifa pergi, berjalan mendekat ke arah William.
Pria itu ternyata terus memperhatikan dengan saksama, apa yang terjadi diantara William dan Asyifa tidak jauh dari tempat keduanya duduk.
Pria itu adalah Zidan. Maju tanpa sepatah kata pun, dan langsung melayangkan sebuah pukulan ke arah William hingga membuatnya jatuh terduduk di lantai cafe.
"William!" teriak Zenith terkejut. Begitu pun dengan orang-orang yang sedang berada dalam cafe, semuanya ikut terkejut dan memandang dengan rasa ingin tahu.
"Akhirnya kamu menunjukkan dirimu juga. Aku sudah melihatmu yang mengikuti Asyifa sejak ia masuk ke dalam cafe" ucap William nampak tidak terkejut sama sekali dengan kehadiran Zidan. Ia malah dengan santai menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Bagus kalau kamu menyadarinya! Karna mulai sekarang, aku akan selalu mengikuti kemana pun Asyifa pergi, dan melindunginya dari orang-orang seperti mu!"
William bangkit kemudian tersenyum mengejek ke arah Zidan. Ia seolah segaja ingin memancing amarah pria itu.
"Ternyata kamu juga bisa bicara dengan gaya santai yah? Aku pikir kamu hanya bisa bicara dengan gaya bicara yang kaku. Tapi, apa Asyifa akan menyetujui keinginanmu itu?"
Mendengar ejekan William, Zidan yang menjadi semakin marah meraih kerah bajunya dan bersiap untuk memukul kembali namun dihentikan oleh Zenith.
"Cukup! Apa-apaan kamu, kenapa memukuli tunanganku seenaknya! Sekali lagi kamu memukulnya, aku akan melaporkanmu kepada polisi!"
"Kalau begitu laporkan saja, dan aku akan menghabisi tunanganmu sebelum polisi sampai ditempat ini!"
Sebuah pukulan kembali diberikan Zidan ke arah William, namun tidak dihindarinya sama sekali. Melihat hal itu, Zidan pun mengerti bahwa William memang sengaja ingin dipukul olehnya.
"Kenapa berhenti? Ayo pukul aku lagi, dengan begitu mungkin saja Asyifa akan berterima kasih padamu!"
"Dasar pengecut! Apa kamu pikir dengan menerima semua pukulan dariku, kesalahan yang kamu lakukan pada Asyifa akan hilang? Dasar menyedihkan!" ucap Zidan sambil berlalu dari sana.
Mendengar ucapan Zidan, William hanya bisa tersenyum kecut sambil mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
*****
Zidan berjalan mondar-mandir dekat mobilnya yang terparkir di parkiran kantor dengan tidak sabaran.
Sesekali pria tampan itu melirik jam yang ada ditangannya. Sudah hampir jam masuk kantor, tinggal 10 menit lagi.
Tiba-tiba sebuah mobil yang dinantikannya sedari tadi memasuki area parkiran, membuat Zidan segara berdiri tegap.
Ia berjalan mendekat, namun saat melihat gadis yang dicarinya tidak ada disana, iya menatap Angel dan Mira dengan tatapan ingin tahu.
"Kenapa hanya kalian berdua saja yang datang ke kantor, dimana Asyifa ?"
"Loh, bukannya Asyifa sudah ada dikantor dari sejam yang lalu pak? Dia berangkat lebih dulu dari kami" jawab Mira.
__ADS_1
"Berangkat lebih dulu? Memangnya ada apa, kenapa dia harus sepagi itu berangkat ke kantor?"
"Kan pak Zidan sendiri yang menyuruh dia datang lebih cepat dari biasanya. Hari ini kan ada pertemuan dengan klien penting" jawab Angel gemas.
"Sebentar, saya tidak pernah menyuruh Asyifa untuk datang lebih cepat. Dan kalian harus tahu, hari ini tidak ada agenda pertemuan dengan klien mana pun!"
"Masa sih pak? Terus kenapa Asyifa bilang seperti itu kepada kami berdua?"
Zidan tampak memikirkan sesuatu. Ia bimbang apakah harus menceritakan apa yang terjadi kemarin antara William dan juga Asyifa kepada kedua sahabatnya itu.
"Mungkin aku tau apa alasannya, tapi aku tidak yakin apakah harus menceritakannya kepada kalian berdua"
"Apakah sekarang bapak sedang menjadi Zidan tetangga kami dan bukan bos dari perusahaan tempat kami bekerja?" tanya Mira saat mendengar gaya bicara Zidan.
"Bisa dibilang seperti itu"
"Kalau begitu, katakan kepada aku dan juga Mira. Kami sahabatnya, kami berhak tahu apa yang terjadi pada Asyifa"
"Apa kalian tahu kalau kemarin setelah pulang kerja, Asyifa pergi menemui William?"
"APA?!" seru Angel dan Mira bersamaan.
"Aku tidak sengaja melihatnya masuk ke sebuah cafe sendirian, jadi aku penasaran dan mengikutinya. Di dalam cafe itu sudah ada William yang sedang menunggunya"
Meski dengan berat hati, Zidan akhirnya menceritakan semua yang dilihat dan didengarnya saat mengikuti Asyifa kemarin.
Angel dan Mira yang mendengar cerita Zidan, menjadi sangat marah. Namun perasaan puas ikut terpancar di wajah keduanya, saat mendengar Zidan memberikan dua pukulan kepada William.
"Harusnya pak Zidan tidak perlu sampai memukulnya. Tapi saya tetap berterimakasih, karena sepertinya bapak melakukannya karna peduli terhadap saya" ucap Asyifa yang ternyata tanpa sengaja ikut mendengar cerita Zidan.
"Asyifa? Sejak kapan kamu ada disitu?" tanya Zidan kaget melihat sosok Asyifa yang berdiri tidak jauh dari ketiganya.
"Entahlah sejak kapan, mungkin sejak awal cerita bapak tentang masalah pribadi saya dengan mantan pacar saya?"
"Asyifa, kamu baik-baik saja kan? Kenapa tidak menceritakannya kepada aku dan juga Mira? Jangan menyimpan semuanya sendiri, Asyifa!"
"Memangnya kalau aku menceritakannya padamu atau pun kepada Mira, semuanya akan selesai begitu saja?"
"Setidaknya perasaanmu akan sedikit lebih lega jika mencurahkannya kepada orang terdekatmu, Asyifa!"
"Lupakan. Aku datang ke sini bukan untuk berdebat dengan kalian berdua, tapi aku mencari pak Zidan karna ada telepon dari klien yang ingin bicara dengan bapak"
"Ah, begitu. Ayo kita masuk ke perusahaan, Angel, Mira" ucap Zidan, sambil memberikan isyarat untuk tidak membahasnya sekarang dengan Asyifa.
__ADS_1
Melihat hal itu, Angel dan Mira pun menuruti Zidan dan berjalan masuk.
*****
Angel dan Mira memandangi Asyifa yang dengan santai menikmati makan siangnya, sambil membaca sebuah artikel gosip di layar ponselnya.
Tiba-tiba Mira yang kesal karena dicuekkan sedari tadi oleh Asyifa, merebut ponsel dari tangan Asyifa, membuat gadis itu menatapnya marah.
"Apa yang kamu lakukan? Cepat kembalikan ponselku, Mira!"
"Tidak akan ku kembalikan sampai kamu mau mengatakan alasanmu, kenapa tidak menceritakan apa yang terjadi kemarin kepada kami berdua!"
"Jangan melewati batas Mira, aku bukan anakmu yang bisa kamu atur sesuka hatimu. Cepat kembalikan ponselku!"
"Katakan dulu alasannya, baru akan ku kembalikan ponselmu!"
"Mira, kembalikan ponsel Asyifa" perintah Angel sebagai penengah diantara kedua sahabatnya itu.
Mira yang mendengar nada serius dari Angel hanya bisa memberikan ponsel itu kembali pada Asyifa.
"Mira sudah memberikan ponselmu, sekarang giliranmu"
"Astaga, kenapa kalian sangat ingin tahu tentang masalah orang lain? Apa kalian tidak punya kehidupan sendiri, sehingga harus mengurus hidupku?" tanya Asyifa kesal.
Suara Asyifa yang cukup keras, membuat para karyawan lain yang juga sedang menikmati makan siang di kantin kantor menatap ke arah ketiganya dengan rasa ingin tahu.
"Kami sahabatmu Asyifa, bukankah kami juga berhak tahu apa yang terjadi pada sahabat kami?" tanya Mira tidak kalah kerasnya.
"Lucu sekali! Dengar yah Mira, kalian memang sahabatku tapi bukan berarti kalian harus tahu akan segala hal yang terjadi dalam hidupku! Jadi berhenti mencampuri urusanku karna kalian bukan orang tuaku! Apa kalian mengerti?"
"Orang tua? Jadi kamu lebih menganggap orang tuamu lebih berhak atas hidupmu?"
"Cukup Mira. Kita bicara lagi setelah kamu tenang Asyifa" ucap Angel sambil menarik tangan Mira untuk pergi dari sana.
"Kenapa diam? Orang tuamu hanya menginginkan uang yang kamu hasilkan tiap bulan dengan susah payah, mereka tidak ingin tahu tentang kehidupanmu sama sekali Asyifa! Hanya aku dan Angel yang tulus peduli padamu. Apa kamu masih bisa menganggap orang tua seperti itu, berhak atas hidupmu? Menyedihkan!" ucap Mira melampiaskan segala amarahnya.
Plak...
Sebuah tamparan dari Asyifa mendarat di pipi Mira, membuat gadis itu dan semua orang yang ada disana terkejut.
"Jangan pernah berlagak sok paling tahu tentang hidupku, atau bukan hanya tamparan saja yang akan mendarat di pipimu!" ucap Asyifa memperingati, kemudian berlalu dari sana begitu saja.
Bersambung...
__ADS_1