The Ugly Wife

The Ugly Wife
Elina


__ADS_3

"Bangun! Hei, bangun! Eden!" teriak wanita itu, disamping ranjang tempat Eden kini terbaring tak sadarkan diri.


Ditangan pria itu terdapat sebuah infus yang menancap, untuk menyalurkan makanan bagi tubuhnya, karena wanita yang sudah berhasil menculiknya, membuat Eden tertidur selama berhari-hari dengan menggunakan obat bius dosis tinggi.


Setelah seharian tidak diberikan obat bius lagi, harusnya Eden sudah bisa kembali sadar seperti sedia kala. Namun nyatanya, pria itu hingga kini masih tak kunjung sadar.


"Ada apa sih, kenapa dai tidak bangun juga? Padahal seharusnya efek obat biusnya sudah habis sedari tadi! Apa harus dibangunkan secara paksa saja?" gumam wanita itu panik.


Disaat wanita itu berjalan tak karuan karna perasaan takut bahwa Eden mungkin saja bisa meninggal karna dirinya, tiba-tiba Eden memberikan gerakan kecil ditangannya.


Secara bertahap, kedua mata pria itu mulai perlahan terbuka lebar, dan dengan bingung mulai mengamati keadaan sekelilingnya.


"Akhirnya kamu sadar juga! Aku pikir kamu sudah tak bernyawa lagi tadi, hampir saja semua rencana yang telah aku susun rapi akan gagal karna ulahmu!"


"Ternyata benar itu kamu, Elina" ucap Eden, dengan suara kecil nyaris tak terdengar.


"Iya, ini aku! Akhirnya kamu bisa mengingat wajah dan siapa aku yang sebenarnya. Kamu juga pasti tahu kan, apa tujuanku sebenarnya menculikmu?"


"Aku memang sudah mengenalimu sejak awal pertemuan kita di depan panti milik Zidan. Awalnya aku ingin menyapamu seperti orang pada umumnya menyaa kenalan lama, tapi melihat wajahmu yang menegang, aku pun memutuskan untuk berpura-pura tidak mengenali dirimu. Dan soal alasanmu harus menculikku, mungkin aku bisa menebaknya di dalam hati saja"


"Kenapa? Kenapa kamu berpura-pura tidak mengenaliku, kenapa tidak kamu perkenalkan saja aku sebagai kaka dari anak kecil yang telah kamu dan ibumu bunuh itu?! Bukannya itu akan lebih mudah bagimu?" tanya Elina, terlihat sangat marah.


"Aku melakukan itu, karna ekspresi wajahmu menunjukkan, bahwa kamu tidak ingin aku sampai mengetahui identitasmu. Meski aku curiga akan dicelakai olehmu, tapi demi untuk menebus semua dosa dan kesalahanku, aku siap menerimanya"


"Huh! Sekarang saja baru kamu ingin bicara soal penebusan dosa dan sebagainya, kenapa tidak sedari dulu saja kamu melakukan suatu perbuatan agar dosamu itu terhapuskan?! Sebelum adikku menjadi korban terakhir dari kegilaanmu dan juga ibumu itu!"


"Aku tidak akan menyangkal atau berusaha untuk memberikan jawaban atas semua pertanyaanmu itu. Karna aku tahu, apa pun yang nanti akan aku ucapkan, semua hanya terdengar seperti alasan yang dibuat-buat saja bagimu" jawab Eden merasa bersalah.


"Kalau bukan dibuat-buat, memangnya kamu pikir aku akan percaya bahwa alasanmu itu nyata? Padahal aku menitipkan adikku pada kalian untuk dirawat sementara waktu sampai kehidupanku mapan, tapi yang aku temui kembali saat ekonomi hidupku sudah menjadi lebih baik, malah hanya tubuh adikku yang sudah berubah kaku tak lagi beryawa dengan keadaan yang mengenaskan!"


"Maaf Elina. Harusnya aku bisa melindungi adikmu, sama seperti aku dulu melindungi dirimu juga hingga bisa keluar dari panti asuhan terkutuk itu"


Yah, wanita dihadapan Eden itu adalah wanita yang pernah menghabiskan kehidupan masa kecilnya, dengan tinggal di dalam panti asuhan milik ibu kandung Eden.


Hingga akhirnya, hanya dia dan Eden yang bisa terus hidup untuk menikmati kehidupan hingga hari ini. Berbeda dengan anak panti lain yang yang seangkatan dengan mereka, yang harus berakhir menjadi korban kegilaan ibu Eden.


Tapi tentu hal ini tidak diketahui oleh siapa pun, dan hanya diketahui oleh Eden seorang dan juga ibunya. Anak-anak itu, sengaja dibawa oleh orang suruhan dengan alasan ingin diadopsi.


Namun pada nyatanya, di tengah jalan keluar dari desa, Eden da sang ibu telah menunggu untuk mengakhiri nyawa mereka semua dengan kejam.


"Melindungiku? Apa maksudmu? Jangan bilang kalau anak-anak yang pernah tinggal bersama dengan kita waktu itu, juga___" Elina tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Iya. Mereka semua bernasib sama seperti Elisa dan anak-anak yang ditemukan di lahan perkebunan belakang panti. Mereka tidak diadopsi, melainkan dibunuh secara brutal"


"Gila! Kamu dan ibumu benar-benar sudah gila Eden! Bagaimana bisa kalian bisa hidup dengan tenang selama ini, setelah melakukan banyak perbuatan jahat!"


"Aku tidak pernah hidup tenang Elina, tidak pernah bahkan sekali pun! Setiap kali aku berniat tertidur, atau saat kedua mataku akan tertutup rapat, aku akan selalu teringat pada wajah-wajah malang itu yang sedang teriak memohon pertolongan! Aku juga korban disini, Elina. Aku terpaksa harus mengikuti semua perintah ibu" jawab Eden, sambil berusaha menyembunyikan wajahnya dibalik sebelah tangannya.


"Bohong! Kamu bohong! Kamu pasti sengaja bicara seperti itu, karna kamu takut akan dimasukkan ke dalam penjara seperti ibumu! Kamu ingin hidup bebas sendiri bukan?"


Mendengar pertanyaan Elina, hati Eden mau tidak mau sedikit merasakan sakit. Mendapat tuduhan kejam atas kesalahan yang tidak pernah ingin dilakukannya, membuat Eden sedikit merasa tak adil.

__ADS_1


Harus berapa kali ia menjelaskan, bahwa ia tidak pernah ingin terlibat dengan semua kasus ibunya, atas kemauannya sendiri. Dia dipaksa! Bukan datang dengan sukarela untuk turut membantu.


Dalam hatinya, Eden sadar, bahwa meskipun ia menjelaskannya sampai ribuan kali pada semua orang, ia akan tetap dipandang oleh mereka sebagai seorang pelaku, dan bukan korban.


Padahal hidupnya juga hancur, sama seperti anak-anak yang dibunuh oleh ibunya. Masa depannya juga terhenti, saat ibunya pertama kali memaksanya untuk ikut membantu melakukan pembunuhan.


Tapi siapa yang ingin mengerti tentang itu semua? Tak ada! Eden yang sudah hancur, harus tetap hancur sampai akhir bersama sang ibu dengan terpaksa.


"Iya, aku bohong. Semua ucapanku barusan adalah sepenuhnya bohong. Sekarang, aku rela jika kamu ingin melakukan apa pun pada diriku. Sekali pun ingin dibunuh olehmu, aku siap menerimanya Elina"


"Segampang itu? Setelah melakukan banyak pembunuhan, kamu segampang itu juga mengakuinya dan meminta agar dirimu bisa diadili? Bahkan jika aku membunuhmu Eden, Elisa adikku tidak akan pernah bisa hidup kembali di dunia ini!"


"Lalu aku harus bagaimana? Aku harus apa supaya kalian bisa merasa puas?! Aku sudah rela dibunuh oleh ibuku sendiri, tapi pada akhirnya aku diselamatkan. Aku sudah rela untuk hidup selamanya dalam keadaan koma, tapi tuhan membuatku sadar kembali. Lalu aku harus apa, Elina?!"


"Aku ingin kamu menyesali, dan juga ikut menerima semua kesakitan serta penderitaan yang diterima oleh anak-anak malang itu. Bukannya langsung mati tanpa sedikit pun rasa sakit!"


"Kalau begitu lakukan. Lakukan seperti apa yang kamu inginkan Elina, toh aku juga tidak ingin berlama-lama hidup di dunia ini lagi" pinta Eden menyetujui.


"Ceritakan, ceritakan setiap adengan kejadian saat kamu dan ibumu melakukan aksi kalian membunuh anak-anak itu. Mulai dari kasus keterlibatanmu yang pertama kalinya!"


Permintaan Elina bagai bumerang di dalam hati Eden. Mengingat semua kenangan yang selama ini mati-matian ingin dilenyapkannya, jauh lebih sulit bagi Eden dibandingkan dengan harus mengakhiri hidupnya sendiri.


Frustrasi. Itulah yang kini Eden rasakan, saat tanpa bisa dicegah, suara-suara teriakan itu kembali muncul di dalam kepalanya, dan terdengar oleh telinganya.


Eden berusaha bangkit dan turun dari tempat tidur untuk menjauh dari suara-suara sana semakin jelas terdengar. Tubuhnya limbung jatuh ke atas lantai, dan meringkuk sambil meneriakan teriakan yang mengerikan.


Elina yang melihat kondisi Eden, mau tidak mau menjadi khawatir juga. Karna bagaimana pun juga, Eden pernah menjadi orang yang terdekat di dalam hidupnya.


"Usir mereka! Tolong aku Elina, tolong usir mereka semua pergi menjauh dariku! Aku mohon pergilah, pergilah dari dalam kepala dan telingaku!"


"Siapa? Siapa yang harus aku usir, aku tidak mengerti sama sekali maksud ucapanmu. Bicaralah lebih jelas Eden" pinta Elina, sambil mendekat ke arah Eden.


Namun Eden yang berada diluar kendali dirinya, tanpa sadar malah menepis keras tubuh Elina hingga wanita itu jatuh begitu saja ke samping.


Melihat Eden yang semakin menggila dengan membuang semua barang-barang yang ada di dalam ruangan tersebut ke segala arah, Elina terpaksa merangkak menjauh dari pria itu.


Suntikan obat bius yang masih terisi penuh, menarik perhatian Elina. Dengan cepat, diraihnya suntikan itu dan ditancapkan keatas tubuh Eden.


"Maafkan aku Eden. Aku terpaksa harus kembali membiusmu lagi, demi kebaikanmu sendiri" ucap Elina, memandang wajah Eden yang kini terbaring pingsan diatas lantai.


*****


Asyifa tengah sibuk mengerjakan setumpuk pekerjaan yang telah diabaikannya beberapa hari ini dengan serius, saat deringan telepon masuk ke ponsel miliknya.


Merasa tidak sedang menunggu telepon dari siapa pun, Asyifa segera meliriknya dengan penasaran. Tapi yang tertulis disana adalah sebuah nomor baru tanpa nama.


Seketika kening Asyifa mengerut bingung, karna ia sama sekai tidak mengenal nomor baru tersebut. Dengan santai, Asyifa memilih untuk mengabaikannya.


Namun semakin Asyifa mengabaikannya, dering ponsel itu pun semakin sering masuk ke dalam telinganya. Pada akhirnya, Asyifa pun terpaksa mengangkatnya.


"Halo, siapa ini?" sapa Asyifa menahan kesal.

__ADS_1


"Ha_halo? Apa ini benar dengan Asyifa, yang adalah teman Eden?"


Mendengar nama Eden disebut, tubuh Asyifa langsung tengak dan fokusnya kini teralih seluruhnya pada suara si penelpon yang ada diseberang sana.


"Iya, ini aku sendiri. Dari mana anda tahu nomorku, dan kenapa anda bisa sampai tahu nama Eden? Apa anda kenalannya? Atau, anda malah yanh menemukannya?" tanya Asyifa bertubi.


"Kamu tidak perlu tahu aku siapa dan yang lainnya, karna sekarang ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu mengenai diri Eden. Jadi tolong dengarkan baik-baik"


"Baiklah, aku akan mendengarkannya. Jadi apa yang ingin anda katakan?"


"Eden sekarang ada bersama denganku, tapi dia tidak dalam keadaan yang baik-baik saja seperti terakhir kali kaliam temui. Bahkan mungkin, kondisinya jauh lebih parah"


"Bagaimana bisa? Apa kamu menemukannya di suatu tempat? Tidak, biarkan aku bicara langsung pada Eden. Tolong anda kasihkan ponselnya pada Eden"


"Aku rasa Eden tidak bisa bicara padamu sekarang, karna dia sedang dalam keadaan pingsan akibat obat bius yang diberikan pada dirinya" tolak orang diseberang.


"Dibius? Siapa yang membiusnya?"


"Aku juga tidak tahu siapa yang membiusnya, karna saat ditemukan dia sudah dalam keadaan seperti ini. Jadi aku harap, kamu bisa datang dan menjemputnya pulang"


Mendengar penjelasan penelpon yang terdengar tidak masuk akal, membuat Asyifa terdiam dan berpikir.


Penelpon itu bilang kalau Eden sedang dibius, tapi mengapa ia bisa tahu kalau pria yang ditemukannya itu bernama Eden? Dan lagi, ia juga sampai bisa menghubungi Asyifa untuk memberitahu hal tersebut.


Asyifa yang berpikir bahwa ada yang aneh, tiba-tiba saja terpikir suatu kemungkinan tentang siapa identitas dari orang yang kini sedang berbicara dengannya di telepon.


"Kamu bukan penipu kan? Karna aku sedikit merasa heran dengan semua penjelasanmu sedari tadi" tanya Asyifa hati-hati.


"Apa kamu bilang? Aku penipu? Wah, aku menjadi sedikit tersinggung. Aku sudah baik hati menghubungimu untuk memberitahukan keadaan temanmu, tapi kamu malah balas mengataiku penipu. Apa kamu tidak memiliki etika terima kasih, sama sekali?!"


"Aku bukannya mengataimu, tapi aku sedang bertanya secara baik-baik padamu. Tadi kamu bilang bahwa menemukan Eden dalam keadaan ia telah dibius oleh seseorang, dan tidak tahu oleh siapa. Tapi bagaimana bisa kamu mengetahui bahwa pria yang kamu temukan itu, bernama Eden? Lalu bagaimana caramu bisa sampai menghubungiku, yang adalah teman Eden?"


"Aku sudah bilang kan, kalau kamu tidak perlu tahu tentang hal itu! Yang perlu kamu tahu adalah Eden kini sedang berada bersamaku, dan kamu harus secepatnya menjemputnya pulang!" jawab suara itu, terdengar mulai kesal.


"Apa itu kamu? Apa itu kamu yang adalah perawat palsu, yang telah menculik Eden selama beberapa hari ini?" tanya Asyifa tepat sasaran.


Elina yang tidak menyangka bahwa identitas dirinya dapat semuda itu dibongkar oleh Asyifa, menjadi panik dan tidak tahu harus berkata apa selain terdiam.


Sedang Asyifa yang mendapati tidak ada jawaban lagi dari seberang sana, menjadi semakin yakin bahwa yang menelponnya itu adalah si perawat gadungan.


"Aku tidak tahu kamu siapa, dan apa yang menjadi alasanmu menculik Eden. Tapi yang pasti, aku ingin minta tolong supaya kamu tidak sampai melakukan sesuatu yang jahat padanya. Dia sudah cukup menderita selama ini karna ibunya, jadi tolong jangan tambah penderitaannya lagi"


"Tahu apa kamu tentang Eden?! Dia tidak menderita karna ibunya, karna dia adalah satu dengan wanita gila itu! Bahkan berada di dalam penjara atau mati sekali pun, tidak bisa menebus semua perbuatan jahat yang telah mereka lakukan!" balasnya marah.


"Bukan, Eden bukanlah satu dengan ibunya. Dia juga korban, karna dipaksa oleh ibunya dengan ancaman akan dibunuh jika tidak mau menuruti perintah wanita itu untuk membantu pembunuhan"


"Diam! Kamu tidak tahu apa-apa, adikku sampai menjadi salah satu korban wanita itu, adalah kesalahan Eden. Jadi ia sama saja dengan ibunya! Aku juga ingin membatalkan untuk mengembalikannya pada kalian, dan akan kuberikan hukuman yang pantas sesuai dengan penilaianku sendiri!"


Setelah berkata seperti itu, Elina pun segera memutuskan sambungan telepon begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari Asyifa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2