The Ugly Wife

The Ugly Wife
Perselingkuhan


__ADS_3

Jam yang tergantung di dinding kamar Asyifa menunjukkan pukul sepuluh malam, namun belum juga ada tanda William telah pulang. Bahkan bunyi mobil dari pria itu pun belum terdengar sama sekali.


Asyifa yang merasa sangat khawatir dengan suaminya, hanya bisa berjalan kesana kemari dengan gelisah. Sesekali ia terus mencoba untuk menghubungi ponsel William, namun tidak dijawab sama sekali.


"Dimana kamu William, kenapa belum pilanh juga sampai sekarang?!" tanya Asyifa pada dirinya sendiri.


Ia kembali menatap belasan pesan yang ia kirimkan namun tak satu pun dibaca, dan puluhan telepon yang tidak diangat dengan perasaan sedih serta cemas bercampur aduk.


Tiba-tiba sebuah panggilan dengan nama sang suami masuk ke ponsel Asyifa, dengan cepat wanita itu segera menjawabnya.


"Sayang? Kamu ada dimana, kenapa belum pulang juga? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Asyifa bertubi.


"Maaf Asyifa, aku lupa mengabarimu sedari tadi. Malam ini aku akan pulang larut, karna ada banyak pekerjaan yang harus di kerjakan, jadi sebaiknya kamu makan malam dan tidur lebih dulu"


"Jam berapa kamu akan pulang? Aku akan menunggumu saja, biar kita bisa makan bersama, bagaimana?"


"Tidak, Asyifa. Kamu makanlah lebih dulu jangan menungguku, apalagi kamu sedang hamil nanti kasian anak kita kelaparan dalam sana. Aku akan makan malam disini saja"


"Tapi aku sudah memasak makan malam untuk kita berdua, masa aku makan sendiri. Atau aku saja yang ke perusahaanmu untuk bawakan makanan?"


"Tidak, tidak sayang. Aku tidak mungkin bisa membiarkanmu jalan sendirian apalagi di malam hari seperti ini" tegas William dari ujung sana.


"Tapi bukannya tadi siang kamu membiarkan aku pulang seorang diri, kenapa sekarang malah melarang aku pergi? Dasar William aneh!"


"Asyifa? Kamu mendengarkanku atau tidak, kamu masih disana kan? Jawab aku jika kamu masih disana" panggil William karna tak ada jawaban lagi dari Asyifa.


"Iya, aku mengerti. Silakan lanjutkan saja dulu pekerjaanmu, aku juga ingin segera tidur"


"Kamu tidak makan? Kenapa langsung tidur, makan lah dulu sayang. Jangan marah padaku, aku kan kerja demi untuk dirimu dan juga anak kita"


"Iya aku tahu. Sudah dulu kalau begitu, pulang hati-hati nanti" jawab Asyifa, kemudian mematikan sambungan telepon sebelum William bisa menjawab.


Wanita itu langsung melemparkan ponselnya ke sembarang arah karna saking kesalnya. Ia memilih untuk menenangkan diri dengan memaksakan dirinya tertidur.


Setelah menutup matanya selama beberapa menit, Asyifa kembali membukanya. Ia merasa tidak bisa tertidur sama sekali meski sudah memaksakan diri. Pandangannya kembali tertuju pada ponsel yang kini berada diatas tumpukan pakaian kotor, berharap akan ada telepon masuk dari William.


"Ayolah telepon lagi. Pastinya dia tahu kan kalau aku sedang kesal pada dirinya, tidak mungkin dia tidak sadar" gumam Asyifa penuh harap.


Sejam telah berlalu, dua jam, tiga jam, hingga sudah pukul 2 malam William belum juga pulang atau menghubunginya lagi. Asyifa yang berniat untuk tetap menunggu William, memaksakan matanya untuk tetap terjaga.


Tiba-tiba sebuah suara bel yang berasal dari arah lantai satu, membuat Asyifa segera bangkit berdiri. Tanpa menunggu lagi, wanita itu segera berlari menuruni tangga satu persatu ke arah bawah, karna mengira William lah yang datang.


"William? Apa itu kamu sayang?" tanya Asyifa sambil membuka kan pintu.


Tapi nyatanya yang datang bukan lah William, melainkan sang kakak iparnya bersama istrinya. Haykal tersenyum ramah melihat sosok Asyifa.


"Kak Haykal? Kak Kana?"


"Iya, Asyifa. Maaf kami datang sepagi ini, kalian pasti sudah tidur kan? Tapi aku tidak punya pilihan lain, karna ada dokumen penting yang harus aku ambil dari William"


"Dokumen penting? Tapi bukannya William malam ini lembur di perusahaan, makanya belum pulang sampai sekarang?" tanya Asyifa bingung


"Kerja lembur? William? Kenapa dia tidak memberitahukannya padaku, kalau begitu biar aku telepon saja dia"


"Masuklah saja dulu kak, biar teleponnya sambil duduk di dalam" tawar Asyifa dengan sopan mempersilahkan tamunya untuk masuk.


Haykal dan Kana pun masuk ke dalam rumah sesuai dengan tawaran Asyifa. Namun saat melewati Asyifa, Kana kembali melemparkan pandangan mengejek pada Wanita itu.


Perasaannya tiba-tiba menjadi sangat senang saat mengetahui William belum pulang, dan membuat Asyifa kebingungan dengan kedatangan mereka yang mencari William. Ia bisa menduga jika sekarang pria itu sedang menghabiskan waktunya berduaan dengan Aliya di suatu tempat.


"Halo William, dimana kamu? Aku sedang ada di rumahmu untuk mengambil dokumen yang daddy minta untuk aku lihat siang tadi" ucap Haykal terlihat mulai sibuk berbicara dengan William melalui telepon.


"Kakak sedang di rumahku?"


"Iya. Apa kamu sedang lembur di perusahaan, tumben sekali kamu lembur. Apa aku perlu mengambilnya kesana saja?"


"Ti_tidak! Tidak usah, biar aku yang pulang ke rumah sekarang. Kakak jangan mengatakan hal-hal aneh pada Asyifa!"

__ADS_1


"Baiklah" ucap Haykal kemudian mematikan sambungan telepon.


"Bagaimana sayang? Apa William benar sedang berada di perusahaan? Kok aku tidak yakin yah" sindir Kana.


"Apa maksud kak Kana? Memangnya William dimana lagi, kalau bukan di perusahaan? Dia saja berpamitan seperti itu padaku" balas Asyifa tak terima suaminya dituduh seperti itu.


"Yah mana aku tahu dia berada dimana selain perusahaan! Kan biasanya laki-laki seperti itu kan, pamitnya pergi kesini tapi malah pergi ke tempat lain"


"Diamlah Kana. Kamu tidak usah bicara yang bukan-bukan seperti itu pada Asyifa!"


Haykal memandangi istrinya dengan tatapan kesal. Ia menjadi agak curiga melihat tingkah Kana yang mencoba mengusik Asyifa dengan mengatakan William mungkin saja pergi menemui wanita lain, secara tidak langsung.


"Apa dia mempunyai rencana jahat lagi pada hubungan Asyifa dan juga William? Tidak mungkin, meskipun mereka punya rencana tapi William pasti tidak akan mungkin bisa meninggalkan Asyifa begitu saja"


"Aku tidak apa-apa kak. Mungkin kak Kana punya pengalaman seperti itu dengan pria di masa lalunya. Terima kasih atas informasinya kak Kana, akan aku ingat selalu" balas Asyifa tidak mau kalah.


"Apa maksudmu? Aku tidak pernah punya pengalaman seperti itu, kamu pikir aku sama jeleknya seperti dirimu? Semua pria yang pernah mendekatiku sangat tergila-gila padaku, jadi tidak mungkin mereka berbuat seperti itu!" jawab Kana mulai terlihat emosi.


"Astaga, aku pikir ucapan kak Kana barusan adalah tentang pengalaman kakak sendiri. Ternyata bukan yah?" tanya Asyifa pura-pura tidak tahu.


Kana yang kesal dan marah karna Asyifa berani menjawab setiap ucapannya, hanya bisa mendenguskan nafas berat. Sedangkan Haykal, malah tertawa tanpa suara melihat Kana yang kalah oleh Asyifa.


"Apa kamu tidak akan membuatkan kami yang adalah tamumu ini minuman? Cepat buatkan minuman sana, dasar pelit!" perintah Kana mulai mencari gara-gara lagi.


"Tidak usah Asyifa. Kami juga tidak akan mati hanya karna tidak mendapatkan segelas minuman darimu. Kamu sebaiknya istirahat saja, kan kamu sedang hamil"


"Tapi aku sangat haus, sayang!"


"Kalay begitu, kamu sendiri saja yang pergi memgambil minumannya. Jangan menyuruh Asyifa, kan dapurnya tepat berada di depan kita"


"Ya ampun, sudahlah! Aku tidak usah minum saja, kalau begitu!" putus Kana pada akhirnya lebih memilih untuk diam saja.


*****


William memandangi wajah Aliya yang jatuh tertidur di sofa dalam ruang tamu rumah wanita itu, dengan tatapan penuh cinta. Kalau bisa, rasanya William ingin tetap berada disini dari pada pulang menemui Asyifa.


"Emmmm. William? Kamu belum juga pulang, sudah berapa lama aku tertidur?"


"Kamu tertidur sejak pertengahan film yang kita tonton, menampilkan bagian terserunya. Kamu pasti merasa sangat menyesalkan sudah melewatkannya begitu saja?"


"Sedikit. Tapi kamu pasti mau kan menemani aku menontonya ulang?" mohon Aliya sambil menatap William dengan wajah memelas.


"Iya, baiklah. Apa sih yang tidak untuk dirimu, sayang. Tapi setelah ini aku harus segera pulang, karna kak Haykal ingin mengambil dokumen yang aku bawa dari perusahaan siang tadi"


"Baiklah, aku tidak masalah. Memang lebih baik kami pulang dan beristirahat di rumahmu supaya besok bisa kembali kerja dengan badan yang segar"


"Pasti akan tetap segar, kan sekarang aku akan sering melihat wajahmu yang cantik ini. Kamulah yang harus banyak istirahat karna aku rasa tubuhmu menjadi semaki mungil dari yang aku ingat"


"Dasar, iyakan saja! Apa sekarang, kamu sudah bisa menurunkan menurunkan aku?" tanya Aliya sambil berontak dalam gendongan William.


"Kenapa buru-buru? Aku kan masih ingin lebih lama menggendongmu seperti ini, sudah lama aku tidak melakukannya" jawab William tak ingin melepaskan Aliya.


Aliya yang kesal hanya bisa cemberut sambil memajukan bibir bagian bawahnya. Melihat tingkah Aliya, membuat William terdiam seketika dan menelan saliva dengan susah payah.


Pria itu merasa tergoda melihat bibir tipis Aliya yang merekah dengn warna kemerahan yang terlihat alami. Dengan perlahan, William semakin memperdalam tatapannya pada Aliya, dan mulai memajukan wajahnya semakin dekat dengan wajah wanita itu.


Ketika permukaan bibir keduanya hampir saja bersentuhan, dengan cepat Aliya segera memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari ciuman William.


"Maaf, aku belum bisa William"


"Ah, tidak masalah. Akulah yang salah, bukan kah ini terlalu cepat setelah sekian lama kita tidak bertemu lagi? Maafkan aku, Aliya" ucap William sambil menurunkan wanita itu.


"Iya, aku maafkan. Bagaimana kalau sekarang kamu pulang? Kasian kak Haykal nanti lama menunggi dirimu, lagian ini sudah mulai pagi hari. Kamu juga harus bersiap untuk kembali masuk kerja"


"Kamu benar. Kalau begitu, aku pulang saja sekarang yah? Kamu baik-baik sendirian di rumah, jangan lupa selalu kunci pintunya"


"Tenang saja, aku tidak mungkin akan lupa" jawab Aliya sambil mendorong tubuh William menuju pintu depan.

__ADS_1


"Aku pulang dulu" pamit William sambil memberikan kecupan singkat ke atas dahi Aliya dengan sayang.


"Hati-hati, jangan ngebut bawa mobilnya" balas Aliya, turut balas perlakuan William dengan memeluk tubuh pria itu.


Ini adalah kebiasaan lama yang sering Aliya dan William lakukan, jika keduanya akan berpisah dengan satu sama lain. Setelah memastikan William telah benar-benar pergi, Aliya dengan marah berusaha menghapus bekas ciuman dari William dengan sekuat tenaga.


Tubuh wanita itu perlahan mulai merosot jatuh terduduk di lantai dan mulai menangis dengan suara amat tersiksa. Ia merasa dirinya sangat hina, karna bisa dengan mudah bermesraan dengan pria lain disaat sudah memiliki seorang suami.


"Sampai kapan aku harus melakukan semua ini, bahkan hanya sehari saja aku merasa bagaikan di neraka! Aku sudah melakukan perselingkuhan dengan William, meskipun secara terpaksa!"


*****


"Ini dia adik iparku yang paling tampan tapi memiliki istri dengan wajah terjelek, sudah datang! Kenapa lama sekali William?"


William yang baru saja memasuki rumah, hanya memutar kedua bola matanya dengan malas. Ia sedang enggan untuk meladeni ucapan Kana.


"Sayang, kenapa kamu belum tidur juga? Apa kamu menungguku pulang sedari tadi?" tanya William sambil mengecup dahi Asyifa. Ia lebih memilih mengabaikan keberadaan Kana disana.


"Aku sudah tidur tadi, tapi terbangun karna mendengar kedatangan kak Haykal"


"Begitu. Bagaimana kalau kamu kembali tidur lagi saja, biar aku yang akan menemani kak Haykal disini"


"Tidak, aku akan menunggu kamu saja. Biar bisa tidur sama-sama"


"Ehem. Maaf mengganggu pembicaraan kalian berdua, tapi aku juga masih ada disini" ucap Haykal memotong pembicaraan pasangan suami istri itu.


"Hehehe, maaf kak. Maaf juga karna sudah membuat kakak harus menunggu lama, ini dokumennya"


Ia menyodorkan sebuah map coklat dengan tulisan perusahaan M di atasnya ke arah Haykal. Saat melihat tulisan tersebut, Haykal menjadi sangat terkejut.


"Perusahaan M? Apa ini benaran, Will? Kita akan bekerja sama dengan perusahaan M?" tanya Haykal tampak tak percaya.


"Iya, yang aku dengar dari daddy seperti itu. Memangnya kenapa dengan perusahaan itu kak, kenapa kakak terlihat sangat terkejut?"


"Astaga, apa kamu tidak tahu sama sekali tentang perusahaan M?"


"Tidak, memangnya ada apa?"


"Mereka adalah perusahaan terbesar di negara kita, dan masuk dalam daftar dua puluh perusahaan berpengaruh di seluruh dunia"


"Apa? Yang benar saja kak? Tapi kenapa mereka sampai bisa mau bekerjasama dengan perusahaan kita yang masih terbilang kecil?" tanya William heran.


"Itu semua karna daddy adalah teman baik dari pemilik perusahaan M. Mereka jugalah yang telah membantu kita saat kita hampir mengalami kebangkrutan"


William yang mendengar penjelasan Haykal hanya bisa mengangguk-angukkan kepala sebagai tanda mengerti.


Kana yang kesal karna diabaikan oleh ketiga orang dihadapannya, mencari cara untuk bisa mengusik mereka.


"Tapi William, bukannya tadi katamu kamu sedang lembur di perusahaan? Aku merasa sedikit aneh dengan wajahmu, seperti bukan wajah orang yang kelelahan sehabis bekerja lembur. Apa rahasianya?"


"Wa__wajahku? Me__memangnya, ada apa dengan wajahku?" tanya William terbata.


Entah mengapa tiba-tiba ia merasa sangat gugup dengan perkataan Kana. Dengan kikuk, pria itu bergerak mencari suatu kesibukan untuk menghilangkan gugupnya.


"Wajahmu hanya terlalu sangat cerah dan juga bahagia, seolah baru saja melakukan suatu hal yang menyenangkan. Benar kan Asyifa?"


"Benar juga ucapan kak Kana. Setelah aku perhatikan dengan jelas, ternyata wajahmu memang terlihat sangat cerah. Apa kamu sebegitu senangnya pulang ke rumah dan menemui diriku, sayang?"


"Te_tentu saja! Aku senang sekali" jawab William cepat.


"Ya ampun, kamu ini romantis sekali! Aku merasa sangat terharu mendengarnya"


"Dasar wanita bodoh!" cibir Kana pelan.


Namun Haykal yang melihat tingkah William, menjadi curiga juga pada pria itu. Memang benar kata Kana, wajah William terlihat tidak lelah sama sekali melainkan tampak bahagia.


Selain itu, Haykal juga curiga dengan tingkah gugup dan salah tingkah yang diperlihatkan oleh William setelah mendengar ucapan Kana. Seolah ia baru saja tertangkap telah melakukan suatu hal yang buruk.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2