The Ugly Wife

The Ugly Wife
Kencan? Pacar?


__ADS_3

"Asyifa? itu baju kamu kenapa?"


William menatap heran ke arah kemeja putih yang dipakai Asyifa. Sedangkan Asyifa yang sedari tadi menundukkan wajahnya, hanya bisa menutupi hal itu dengan tas kerjanya.


"Ah, ini, ini noda kopi biasa kok bukan noda darah! Jadi kamu jangan salah paham!" ucap Asyifa gugup dan tanpa sadar malah mengangkat wajahnya untuk menatap William.


Seketika itu juga wajah William berubah cemas dan terkejut saat melihat leher gadis di depannya.


"Leher kamu kenapa?? Jangan bilang noda di baju kamu itu benaran darah?"


"Leher aku tidak kenapa-kenapa kok, cuman luka kecil aja. Dan seperti yang tadi aku bilang, kalau noda di bajuku ini cuman noda kopi biasa. Percaya deh!"


"Perusahaan kamu namanya Z Grup kan?" tanya William tiba-tiba.


"Iya, kok kamu bisa tau? Jangan bilang kamu mencari tau soal kehidupanku?"


"Bukan begitu, aku hanya tidak segaja mengetahuinya. Berarti kamu juga tau dong, soal kejadian menghebohkan yang terjadi di perusahaan itu hari ini?"


"Kejadian apa yah? Tidak ada kejadian apa-apa kok hari ini di perusahaan kami, semuanya berjalan seperti hari-hari biasa sebelumnya"


Asyifa berusaha menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Bagaimana bisa, William mengetahui kejadian yang menimpa dirinya?


Menurut kabar yang ia dapatkan dari Angel, Zidan sudah menghentikan kejadian yang terjadi pada pagi hari tadi untuk tidak sampai tersebar ke luar perusahaan mereka.


Semua itu dilakukan Zidan bukan hanya untuk memenuhi permintaan Asyifa yang tidak ingin semua orang mengetahui masalah pribadinya, namun juga untuk menjaga nama baik perusahaan.


"Kamu tidak perlu berbohong padaku, aku mengetahui semuanya. Meskipun bosmu bilang sudah menghentikan beritanya tersebar, tapi tetap saja akan ada satu atau dua orang yang menceritakannya ke luar perusahaan kalian"


"Dari mana kamu tau?"


"Bagaimana kalau kita pergi ke hotel tempat kamu akan menginap terlebih dulu? Aku akan mengantarkanmu ke sana"


"Hah?"


"Tunggu, jangan salah paham dulu, aku tidak punya niat buruk sama sekali dengan mengajakmu ke hotel. Aku hanya berpikir bahwa kamu sepertinya butuh untuk sekedar membersihkan diri. Tadi di telepon, kamu bilang ingin menginap di hotel dan tidak ingin kembali ke apartemenmu malam ini" jelas William panjang lebar saat melihat ekspresi heran pada wajah Asyifa.


"Ah, baiklah. Mohon bantuannya"


Asyifa terpaksa menyetujui saran William untuk menaiki mobilnya menuju hotel, karna sekarang tubuhnya sangat cape untuk dipaksa berjalan lagi. Selain itu, tubuhnya juga sangat butuh untuk terkena air agar bisa merasa segar kembali.


Seharian menggunakan pakaian yang sama apalagi dengan keringat dan noda darah melekat disana, membuat seluruh tubuh Asyifa terasa lengket dan sedikit gatal.


Ia juga perlu makan dan meminum obat yang diberikan pihak rumah sakit serta mengganti perban untuk lukanya, karna perban itu juga sudah ikut basah akibat keringat yang mengalir turun saat ia berjalan kaki selama berjam-jam tanpa arah.

__ADS_1


*****


"Aku akan menunggumu di sini, silakan pergi dan gunakan waktumu sepuas mungkin" ucap William saat mereka telah selesai memesan kamar.


"Terima kasih, aku akan berusaha secepat mungkin"


Asyifa segera menuju ke kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Namun ia lupa tidak membawa baju ganti sama sekali dan baru menyadari semua hal itu saat telah selesai mandi.


Ingin menggunakan baju sebelumnya juga tidak mungkin, baju itu sudah ia basahi dengan air karna berusaha menghilangkan noda darah namun tidak bisa hilang sama sekali.


Tok... Tok..


Saat Asyifa sedang berjalan ke sana kemari di dalam kamar dengan kebingungan, tiba-tiba terdengar ketukan dari luar.


"Siapa?" tanya Asyifa tidak berani membuka pintu, karna saat ini ia hanya menggunakan handuk hotel.


"Saya petugas hotel bu, ingin mengantarkan barang titipan dari pacar ibu"


Meskipun bingung mendengar ucapan sang petugas, namun Asyifa memilih untuk membuka pintu saat mengetahui itu adalah seorang wanita.


"Titipan apa yah? Dan dari siapa tadi?"


"Maaf, saya juga tidak tau apa isinya bu. Saya cuman di minta tolong untuk mengantarkannya ke sini sama pacar ibu, yang tadi datang bersama ibu ke sini"


"Ah, begitu. Saya terima yah, terima kasih banyak atas bantuannya"


Setelah menutup kembali pintu kamar, Asyifa segera memeriksa isi tas belanjaan besar yang dititipkan William untuknya.


Di dalamnya ada sepasang pakaian tidur, sepasang pakaian kantor, selembar gaun bermotif bunga yang terlihat sederhana namun imut dan juga sepasang sepatu.


Asyifa juga menemukan secarik kertas yang terselip di sana. Ia yakin diatasnya adalah tulisan tangan milik William.


Isinya: "Maaf kalau aku terlihat seperti sangat ingin ikut campur urusanmu. Tapi aku tidak melihatmu membawa pakaian untuk menginap, jadi aku membelikan beberapa pakaian, semoga ukurannya cocok. Apa kamu bisa memakai gaunnya untuk pergi makan malam denganku?"


Asyifa tersenyum saat membaca pesan itu, ia merasa bersyukur bisa bertemu dengan William malam ini.


Setelah selesai bersiap, Asyifa segera menghampiri William "Terima kasih untuk pakaiannya, aku akan mengganti biayanya. Silakan kirimkan nomor rekeningmu padaku"


Bukannya menjawab perkataan Asyifa, William malah menatap sosok Asyifa dengan tatapan terpesona.


"Kamu cantik sekali, bajunya cocok" puji William yang langsung membuat wajah Asyifa memerah.


"Te, terima kasih. Ayo pergi makan!"

__ADS_1


William tersenyum menahan tawa melihat tingkah gugup Asyifa karna pujian yang ia katakan.


"Sini, duduk dulu sebentar"


"Kenapa? Bukannya kita akan pergi makan, kenapa sekarang mengajakku duduk di sini?" protes Asyifa tapi tetap menuruti permintaan William dan duduk disamping pria itu.


"Bukannya perban di lukamu harus segera diganti yah? Kelihatannya sudah tidak nyaman untuk terus digunakan" ucap William sambil meletakkan kotak P3K yang diambilnya dari dalam mobil ke atas meja.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja sekalipun tidak mengganti perban. Saat mandi aku juga tidak membiarkannya terkena air, jadi masih bisa digunakan"


"Kalau bukan terkena air, berarti terkena keringat, lihat saja bekasnya. Ada kemerahan juga disekitarnya, apa kamu menggaruknya karna gatal? Biarkan aku bantu mengantikan yah?"


"Baiklah, maaf merepotkan"


Dengan sangat hati-hati William melepaskan perban di leher Asyifa "Sudah ku duga kalau itu adalah kamu, saat melihat perban ini di lehermu"


"Maksud kamu?"


"Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja aku melihat foto bosmu di internet dan dari situlah aku tau kalau kamu bekerja di perusahaan Z Grup. Hari ini, aku makan siang dengan temanku yang kebetulan bekerja sama dengan perusahaanmu"


"Lalu?"


"Lalu aku mendengar cerita tentang kejadian yang terjadi pagi ini di perusahaan Z Grup darinya, karna kebetulan ia berada disana untuk bertemu bosmu. Saat melihat luka di lehermu, seketika aku sadar kalau cerita itu adalah tentang dirimu"


"Hah... Sepertinya percuma saja jika aku menyangkalnya, benar kan?"


"Tentu saja! Dan aku sudah selesai mengganti perban untuk lukamu"


"Terima kasih banyak, William. Oh iya, kamu belum mengirimkan nomor rekeningmu"


"Aku tidak akan memberikannya, karna aku tidak menginginkan uang sebagai gantinya! "


"Lalu, apa yang kamu inginkan sebagai ganti biayanya? Apa aku juga harus membelikanmu pakaian seharga pemberianmu padaku?"


"Bukan begitu, Asyifa. Aku ingin kamu mengganti biayanya menggunakan waktumu, bagaimana?"


"Waktuku? Bagaimana caranya?"


"Berkencan lah denganku!"


"KENCAN?!" seru Asyifa terkejut.


"Iya, kencan! Aku mendekatimu dengan tujuan untuk bisa berpacaran denganmu, jadi aku mohon berkencan lah denganku"

__ADS_1


"PACAR?!" seru Asyifa kedua kalinya.


Bersambung....


__ADS_2