
"William, stop! Kamu kenapa tiba-tiba mukul pak Zidan? Mau ngajak pak Zidan ribut lagi kayak semalam?"
William menjadi semakin panas hatinya saat mendengar Asyifa lebih membela pria lain dibandingkan dirinya. William meluapkan amarahnya dengan mulai memarahi Asyifa dengan kata-kata kasar yang menyakiti hati gadis itu.
"Kamu yang kenapa? Berduaan di apartemen dengan pria lain selama berjam-jam, apa kamu wanita murahan yang membiarkan siapa pun menyentuh tubuhmu?"
Plak...
Sebuah tamparan keras dari Asyifa mendarat di wajah William tanpa bisa dicegah.
"Kamu berani menamparku, Asyifa?"
"Iya aku berani menamparmu, kenapa tidak? Kamu saja berani berkata kasar padaku, kenapa aku tidak bisa?"
"Apa kata-kataku ada yang salah? Memang benar kamu adalah wanita murahan! Kamu bahkan bermalam di apartemen bosmu itu, dan pagi ini kamu berada disana lagi bersamanya selama berjam-jam!"
"Tidak terjadi apa-apa diantara aku dan juga pak Zidan. Semalam pak Zidan murni hanya ingin menolongku, dan hari ini aku membantu pak Zidan mengobati lukanya sebagai ucapan terima kasih, tidak lebih!"
"Kamu mungkin berpikir tidak terjadi apa-apa, tapi apa kamu yakin itu juga berlaku untuk bosmu?"
"Maksud kamu?"
"Pria itu menyukaimu Asyifa! Kamu terlalu polos untuk menyadarinya, dan hal itu yang membuatku terpaksa harus menggunakan tinjuku padanya!"
Asyifa terkejut mendengar ucapan William, ia menatap wajah Zidan untuk mendapatkan jawaban pasti dari pria itu.
"Jangan bicara omong kosong. Saya hanya menganggap Asyifa sebagai sekretaris dan tetangga saya, tidak lebih"
"Kamu pikir aku percaya dengan ucapanmu? Kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya, terlalu pengecut yah?"
Zidan mengepalkan kedua tangannya untuk merendamkan amarahnya. Menyadari hal itu, William semakin ingin memancing amarah Zidan.
"Kenapa diam? Ternyata benar kamu pengecut, hanya tubuhmu saja yang terlihat laki tapi nyalimu seperti kerupuk!"
"Cukup William, ayo ikut aku!"
Asyifa menarik tangan William untuk segera pergi dari sana sebelum keributan lain kembali terjadi lagi.
Angel dan Mira hanya bisa terdiam melihat semua yang terjadi tanpa tahu harus berbuat apa. Keduanya terlalu kaget saat melihat perubahan sikap William yang berbeda sama sekali dari kepribadian yang biasa ditunjukkan pria itu.
"Pak Zidan, apa bapak baik-baik saja?" tanya Mira cemas melihat keadaan bosnya.
__ADS_1
"Itu luka bapak berdarah lagi. Apa mau saya bantu obati pak?" ucap Angel menimpali.
"Tidak perlu, biar saya sendiri saja yang obati. Kalian pasti terganggu dengan apa yang baru saja terjadi, padahal ini hari libur kalian. Saya minta maaf yah"
"Aku dan Mira tidak apa-apa kok pak. Masih banyak waktu libur yang bisa dipakai untuk bersantai, jadi bapak tidak usah sampai minta maaf seperti itu"
"Terima kasih atas pengertian kalian berdua. Kalau begitu, saya masuk dulu yah. Sampai jumpa lagi di hari senin"
"Yang barusan itu benaran pak Zidan kan, Ngel? Kok bisa sikapnya beda banget dari biasanya?" tanya Mira setelah sosok Zidan sudah tak terlihat lagi.
"Ternyata benar yah, apa yang kita lihat diluar belum tentu sepenuhnya yang kita tahu tentang orang itu!"
"Hah? Maksudnya apa sih?"
"Yah maksudnya seperti tadi. Kamu sendiri juga lihat kan, bagaimana bedanya sikap pak Zidan dan juga William dari yang kita berdua ketahui selama ini?"
"Iya, kok bisa yah William yang selama ini selalu menjadi seperti seorang malaikat tiba-tiba berubah sekasar itu? Dan pak Zidan yang biasanya kasar dan cuek, berubah jadi sangat perhatian?"
"Sepertinya, kita harus lebih memperhatikan William untuk mencari tahu bagaimana aslinya dia. Aku tidak mau terjadi hal buruk pada Asyifa kalau ternyata William adalah pria kasar!"
"Aku setuju sama kamu, Ngel!"
****
Dirinya belum berani bersuara lagi setelah menyeret William masuk ke dalam mobil pria itu untuk bicara dengannya.
Sudah hampir setengah jam berlalu. Namun Asyifa perhatikan William masih tetap dipenuhi dengan amarah, dan itu terlihat jelas dari wajah serta hembusan nafasnya yang masih tak beraturan.
"Kamu masih marah padaku?" tanya Asyifa, mencoba membuka pembicaraan.
William hanya melirik tajam ke arah Asyifa mendengar pertanyaan gadis itu "Jawab aku dengan jujur, apa kamu memyukainya Asyifa?"
"Menyukai siapa maksudmu? Menyukai pak Zidan? Tentu saja tidak mungkin!"
"Lalu kenapa kamu menjadi begitu dekat dengan pria itu, bahkan sampai bermalam dan berada di apartemennya selama berjam-jam!"
"Aku sudah bilang semua itu terjadi tanpa sengaja William! Pak Zidan murni hanya ingin menolongku yang tidak ingin kembali ke apartemenku karena mengalami hari buruk saat bertemu keluargamu!"
"Mengapa itu harus menjadi hari buruk untukmu? Kamu hanya mendapat beberapa kata yang tidak sesuai dengan harapanmu saja, Asyifa! Jangan bereaksi berlebihan!"
"Apa katamu? Oh iya, aku lupa kalau dirimu tidak tau seperti apa wajah asli anggota keluargamu, jadi wajar saja jika kamu berkata seperti itu"
__ADS_1
"Apa maksudmu, Asyifa? Apa kamu mencoba untuk mengatakan bahwa apa yang ditunjukkan keluargaku dihadapkanmu kemarin, semuanya adalah palsu?"
"Lalu, apa kamu pikir keluarga seperti keluargamu bersedia menerima gadis seperti diriku menjadi bagian dari kalian? Itu semua tidak mungkin, William!"
"Kenapa tidak mungkin? Jelas-jelas kemarin, mommy dan kakakku menerima dirimu dengan tangan terbuka!"
"Benarkah? Kamu yakin itu semua bukan hanya sandiwara mereka saja? Karna aku mendengar semuanya dengan jelas kalau mereka semua tidak ada yang menerimaku"
Karna marah terus disudutkan, akhirnya Asyifa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kemarin kepada William. Gadis itu berharap, William akan percaya dan minta maaf karena telah salah paham padanya, namun yang terjadi adalah sebaliknya.
"Jangan mencoba untuk menjelekkan keluargaku, Asyifa! Jika kamu ingin bersama dengan bosmu itu, jangan jadikan keluargaku sebagai alasanmu untuk berpisah denganku!"
"Sepertinya sandiwara mereka berhasil, karna kamu menjadi sangat percaya dan malah menganggap aku lah yang berbohong"
"Tentu saja aku percaya pada keluargaku. Mereka tidak mungkin menghalangi langkahku untuk bisa berbahagia bersama dengan gadis yang aku cintai!"
Asyifa menatap wajah William tak percaya, pria yang selama ini selalu mempercayai setiap ucapannya berubah hanya karena perasaan cemburu.
Hari ini, Asyifa melihat kepribadian lain dari kekasihnya itu yang membuatnya terkejut. Karna hal itu, Asyifa membuat keputusan untuk menilai kembali seperti apa kepribadian William yang sesungguhnya.
"Keluargamu ternyata sangat baik yah? Tapi sayangnya aku tidak berbohong sama sekali untuk setiap kata yang ku ucapkan tentang keluargamu!"
"Keluargaku tidak seperti yang kamu tuduhkan Asyifa!"
"Terserah apa katamu, sekarang semua keputusan ada pada dirimu sendiri untuk mau percaya pada siapa. Sampai keputusan itu kamu dapatkan, sebaiknya jangan temui diriku dulu untuk sementara waktu"
Asyifa turun dari mobil dan berjalan memasuki gedung apartemen dengan perasaan kecewa. Meskipun William beberapa kali meneriaki namanya, ia tetap tidak berhenti.
Asyifa merasa sangat lelah dengan berbagai macam kejadian dan masalah yang datang bertubi pada dirinya, ia ingin untuk sementara waktu menjauh dari semua itu.
"Asyifa, kamu baik-baik saja?" tanya Angel saat melihat Asyifa masuk ke dalam apartemen mereka.
"Aku baik-baik saja Angel, tapi aku butuh waktu untuk sendiri. Aku juga minta maaf karena membuat kalian berdua harus terlibat dalam masalahku"
"Aku dan Angel tidak keberatan sama sekali Asyifa, karna kamu adalah sahabat kami yang berharga"
"Terima kasih Mira, terima kasih Angel"
"Sama-sama. Masuk dan istirahatkan dirimu, kalau kamu butuh tempat untuk berbagi, kami ada disini"
Asyifa mengangguk tersenyum mendengar ucapan Angel, kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Bersambung...