The Ugly Wife

The Ugly Wife
Hasutan Kana


__ADS_3

"Asyifa, aku minta maaf sayang. Aku tahu, aku sudah melakukan kesalahan fatal, tapi tolong maafkan aku dan buka pintunya yah? Aku janji tidak akan seperti itu lagi"


William masih terus membujuk Asyifa dari balik pintu untuk memaafkan dirinya. Namun Asyifa sama sekali tidak bersuara lagi.


Dengan penasaran, William menempelkan telinganya disana untuk mendengar apa yang sedang dilakukan sang istri. Namun sedetik kemudian tubuhnya terlempar jatuh ke lantai begitu Asyifa membuka pintu.


Bruk...


Asyifa yang melihat William terjatuh dengan gaya lucu, langsung tertawa terbahak-bahak. Semua rasa marah dan kesal yang baru beberapa saat dirasakannya, hilang begitu saja.


"Senang yah liat aku jatuh, tertawa saja terus! Tidak tahu saja kamu, kalau tertawa diatas penderitaan orang itu adalah dosa!"


"Maaf sayang, aku tidak bermaksud membuat kamu jatuh. Lagian kamu kenapa juga harus menempel ke pintu segala!"


"Yah karna kamu ngambeklah! Aku jadinya harus terpaksa membujukmu dengan segala rayuan mautku"


"Oh, jadi yang barusan itu semuanya dilakukan olehmu karna terpaksa? Oke kalau begitu, tidur saja dikamar lain!" marah Asyifa sambil mendorong William keluar


"Jangan begitu jugalah, sayang. Yang tadi iklas kok, jadi jangan jahat-jahat sama aku. Aku janji tidak akan mengulangi semuanya lagi, oke?"


"Terserah!"


Asyifa pun berjalan naik ke atas tempat tidur dan segera berbaring, meninggalkan William begitu saja. Wajah wanita yang telah mengandung itu, kembali cemberut seperti sebelumnya.


"Sayang, jangan marah lagi dong. Oh iya, apa semua yang ada di dapur itu benaran? Aku akan jadi ayah, itu maksudnya sekarang kamu sedang mengandung anak kita?" tanya William dengan wajah penuh harap.


"Iya. Aku juga tidak sengaja tahu kalau aku hamil, jadi Mira membelikan aku alat tes kehamilan untuk membuktikan apa benar aku hamil atau tidak. Setelah tiga kali tes, ternyata benar aku hamil"


"Ya ampun, terima kasih sayang. Terima kasih banyak, akhirnya aku akan segera menjadi seorang ayah!" seru William sambil memeluk tubuh Asyifa erat.


"Jangan kuat-kuat yang, kasian anak kita. Nanti kalau kamu terlalu kuat meluk, takutnya dia sesak di dalam sana"


"Yang benar, sayang?"


"Tidak tahu juga, cuman aku takut saja. Lebih baik berjaga-jaga saja kan, dari pada nanti ada kejadian buruk padanya"


"Benar juga. Maafkan ayah yah sayang, kamu baik-baik disana" ucap William pada perut Asyifa yang masih nampak rata.


"Bagaimana perasaanmu, apa kamu senang mengetahui fakta bahwa tidak lama lagi, kamu akan menjadi seorang ayah?"


"Tentu saja aku senang, apalagi ini adalah anakku bersama dengan wanita yang paling aku cintai. Kita harus menjaganya dengan baik, supaya dia selalu sehat di dalam sana"


"Iya, kamu benar. Aku akan menjaganya sebaik mungkin, dan setelah dia lahir aku juga akan merawatnya dengan sepenuh hati"


"Tapi sayang, apa tidak beresiko kalau kamu bekerja dalam keadaan hamil seperti ini? Apa tidak sebaiknya kamu minta berhenti saja?"


"Aku juga sudah memikirkannya, dan berhenti bekerja adalah pilihan terbaik. Tapi aku tidak bisa langsung berhenti begitu saja, karna ada banyak kerjasama yang baru saja diterima oleh pak Zidan. Aku akan berhenti setelah selesai mengurus semua kerjasama itu"


"Memangnya berapa lama lagi kamu akan selesai mengurus semua kerjasama itu?"


"Entahlah sayang. Tapi aku janji, saat usia kandunganku genap tujuh bulan, aku akan berhenti bekerja saat itu juga"


"Baiklah, jika itu keputusanmu"


William yang mendengar jawaban Asyifa, nampak sedikit kecewa. Dirinya sudah sangat senang Asyifa mau berhenti bekerja demi anak mereka, karna itu berarti istrinya tidak akan bisa bertemu dengan bosnya itu.


Namun mungkin harus sedikit lebih bersabar lagi, hingga keinginannya itu tercapai. William tidak ingin memaksakan keinginannya itu pada Asyifa, ia takut istrinya itu akan kembali marah padanya.


"Terima kasih sayang. Bagaimana kalau sekarang kita pergi makan? Perutku sangat lapar sekali"


"Astaga, kenapa tidak bilang dari tadi? Kamu harus sering makan dan jangan menahan lapar Asyifa. Apalagi sekarang makanan itu akan berguna bukan hanya untukmu saja, tapi untuk anak kita juga"


"Aku tidak mau sering makan, William! Kalau terlalu banyak makan, bagaimana jika aku menjadi gendut?"


"Memangnya kenapa kalau kamu menjadi gendut? Bukannya bagus, itu tandanya semua yang dibutuhkan anak kita terpenuhi"


"Tidak seperti itu juga, sayang. Terpenuhinya kebutuhan gizi anak kita bukan dilihat dari gendut dan tidaknya badanku!"


"Ya sudah kalau bukan. Tapi aku tetap tidak masalah jika kamu menjadi gendut, dan aku yakin anak kita juga tidak akan keberatan punya bunda gendut"


"Aku yang masalah! Lihat saja tampilanku sekarang, dengan badan ideal saja aku masih terlihat jelek karna wajahku. Bayangkan jika aku gendut, apa yang akan dikatakan oleh semua orang? Sudah jelek, gendut lagi, apa yang bisa dibanggakan dariku!"


"Siapa bilang kamu jelek, kamu itu cantik Asyifa. Kalau tidak cantik, kenapa aku bisa jatuh cinta dan menikah denganmu?"


"Pokoknya aku tidak ingin menjadi gendut! Lebih baik aku tidur saja, aku tidak mau lagi makan dan tidak jadi lapar juga!"


Dengan kesal Asyifa berbalik membelakangi William dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


William yang melihat tingkah Asyifa yang tidak stabil emosinya, hanya bisa menghela nafas perlahan. Kini dirinya mengerti kenapa sang ayah, tidak ingin lagi bundanya hamil. Karna menghadapi wanita hamil jauh lebih susah dibandingkan mengerjakan pekerjaan lainnya.


"Sepertinya, hari-hariku ke depannya akan semakin sulit dari biasanya"

__ADS_1


"WILLIAM!"


"I_iya sayang, ada apa?"


"Kenapa kamu hanya diam saja melihat aku yang sedang kesal? Harusnya kamu inisiatif untuk membujukku dong!"


"Iya, ini baru aja mau dibujuk sayang. Ayo kita makan yah? Kamu kan tidak mungkin tega membiarkan si kecil dalam perutmu itu kelaparan"


"Aku mau makan, tapi pengennya makanan korea saja, tidak mau yang lain. Kamu mau kan membelikannya untukku?"


"Makanan korea? Bukannya kamu sudah menyiapkan makan malam untuk kita? Terus siapa nanti yang akan menghabiskan semua makanan itu?"


"Kan ada kamu, sayang"


"Aku sendiri mana bisa menghabiskan semua itu, sayang. Begini saja, malam ini kita makan dulu yang sudah kamu masak, besok baru aku belikan makanan korea untukmu"


"Aku lagi ngidam, William!"


Asyifa menatap William dengan tatapan kesal dan hampir ingin menangis. Bagaimana tidak, dia juga sangat ingin memakan masakannya sendiri tapi bayi dalam perutnya ingin makan yang lain. Dan lagi makanan itu harus dibeli sendiri oleh ayahnya.


"Baiklah, akan aku turuti. Tapi aku pesan lewat online saja yah, biar diantarkan langsung ke rumah kita. Aku cape sekali kalau harus keluar membelikannya"


"Terserah kamu saja" jawab Asyifa pasrah, tidak bisa meminta lebih karna mendengar ucapan William.


*****


"Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan informasi, tentang dimana wanita itu berada sekarang? Cepatlah sedikit, jangan membuat semua uang yang ku berikan kepada kamu menjadi percuma!" marah Kana, yang terlihat sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.


Tak jauh dari sana, terlihat Ratih yang sedang duduk dengan gerakan gelisah, di salah satu sofa dalam ruang tamu rumahnya.


Ekspresi wajah wanita itu tampak gusar sama seperti yang ditunjukkan oleh sang anak mantu. Keduanya seolah sedang dilanda oleh kecemasan akan sesuatu hal.


"Bagaimana? Apa katanya, Kana?" tanya Ratih ketika melihat Kana telah selesai berbicara di telpon.


"Mereka belum berhasil menemukan gadis itu, mommy"


"Apa saja yang mereka lakukan, kenapa bisa selama itu? Ini sebulan lebih kita membayar orang suruhanmu itu, masa belum ada satu pun informasi yang mereka dapat?"


"Aku curiga ini semua adalah ulah Haykal mommy. Sepertinya dia sengaja menjauhkan wanita itu, supaya tidak ditemukan oleh orang suruhanku"


"Apa maksudmu Kana? Tidak mungkin Haykal melakukan semua itu, dia kan berada di pihak kita berdua"


"Tidak, dia sekarang ada di pihak William dan Asyifa. Bukannya mommy juga menyadari hal itu, makanya mommy memintaku mencari orang lain untuk mencari wanita itu?"


"Aku tidak sengaja tahu dimana awal tempat wanita itu berada. Namun setelah orang suruhanku mendatangi tempat itu, dia dan keluarganya sudah pergi dari sana"


"Ke_keluarga? Maksudmu, dia sudah menikah dengan pria lain?" tanya Ratih yang tampak begitu terkejut.


"Betul mommy. Dia juga bahkan mempunyai seorang anak laki-laki yang masih bayi"


"Kalau dia sudah mempunyai keluarga, apa sebaiknya kita tidak melibatkannya dan hentikan saja rencana ini? Kita cari saja cara lain untuk menjauhkan Asyifa dan William, bagaimana?"


Setelah mendengar informasi lebih lanjut dari Kana, entah mengapa hati nurani Ratih seolah merasa tidak tega melakukan semua yang telah mereka rencanakan.


Ratih takut jika rencanany akan melukai keluarga wanita itu, terlebih pada anaknya yang masih bayi. Bagaimana pun, dia juga adalah seorang ibu.


"Apa yang mommy katakan, tentu saja kita tidak boleh membatalkannya. Apa mommy ingin William hidup selamanya bersama dengan Asyifa?"


"Tentu saja tidak. Tapi kita tidak mungkin memisahkan wanita itu dengan keluarganya, terlebih lagi dengan anaknya yang masih bayi Kana. Itu tidak manusiawi"


"Lalu, mana yang lebih manusiawi, menolong anak orang lain atau menolong anak mommy sendiri? Lagipula, bukannya lebih bagus jika wanita itu sudah berkeluarga?"


"Lebih bagus, maksudmu?"


"Iya lebih bagus, itu artinya dia juga tidak bisa bersama William. Setelah kita menyingkirkan Asyifa dari hidup William, kita akan segera memulangkan wanita itu pada suaminya. Bagaimana menurut mommy?"


"Mommy masih tidak yakin itu adalah rencana yang bagus, Kana"


"Kenapa begitu? Apa setelah menjalani pengobatan untuk penyakit gangguan mental, membuat mommy juga mulai bisa menerima Asyifa? Kalau begitu, Kana tidak mau membantu mommy lagi!"


Memang benar, sudah dua minggu ini Ratih mengikuti pengobatan yang telah didaftarkan suaminya, untuk menyembuhkan dirinya.


Setelah mengikuti pengobatan itu, Kana merasa mertuanya itu sedikit berubah dari yang biasanya. Ratih menjadi lebih terkendali emosinya, meskipun ada para pekerja yang melakukan kesalahan besar.


Ratih juga menjadi orang yang lebih ramah dan tidak sombong. Sebenarnya itu sedikit membuat Kana senang, tapi jika mendengar mertuanya itu ragu-ragu sekarang, ia merasa tidak senang sama sekali.


"Apa aku pengaruhi saja mommy, supaya berhenti mengikugi semua psngobatan sialan itu?" pikir Kana jahat.


"Tentu saja tidak! Mommy masih sangat ingin William untuk bisa lepas dari Asyifa, tolong bantu mommy Kana. Sekarang hanya kamu yang bisa mommy percaya"


"Kalau begitu, mommy harus mau untuk tetap menjalankan rencana awal yang telah kita siapkan dengan baik selama ini"

__ADS_1


"Baiklah. Mommy akan tetap melakukannya seperti rencana awal kita"


"Tapi ada satu lagi yang harus mommy lakukan supaya rencana kita ini bisa berhasil dengan sempurna"


"Apa itu?"


"Mommy harus berhenti mengikuti semua pengobatan mental yang telah daddy siapkan untuk mommy"


"Ber_berhenti? Ta_tapi kenapa?"


"Karna Kana merasa pengobatan itu tidak baik untuk mommy. Pengobatan itu mengubah mommy menjadi orang lain, menjadi pribadi yang diinginkan oleh daddy. Tapi Kana tahu persis, kalau mommy sangat tidak ingin menjadi seperti itu!"


"Tidak bisa! Mommy tidak bisa melakukannya Kana, daddy mu pasti akan mengetahuinya. Daddy sendiri yang biasa mengantar mommy dan memastikan pada dokter bahwa mommy menjalani semua pengobatan yang diberikan"


"Mommy tenang saja. Biar Kana yang akan mengurus hal itu, Kana sudah mempunyai rencana sendiri untuk itu" ucap Kana sambil tersenyum licik.


*****


Asyifa hampir saja terlambat datang bekerja karna harus mengalami rutinitas pagi yang biasa dialami oleh seorang ibu hamil, yaitu mual di pagi hari.


Wanita itu semakin mempercepat langkah kakinya, saat melihat pintu lift di depannya hampir saja tertutup.


"Tunggu aku!" teriak Asyifa pada seseorang yang berada di dalam lift, yang ternyata adalah bosnya sendiri.


Zidan yang melihat Asyifa sedang berlari ke arahnya pun dengan sigap menekan tombol untuk menahan lift, agar wanita itu bisa turut serta dengannya.


"Jangan lari Asyifa, nanti kamu bisa jatuh! Jalan saja seperti biasa" pinta Zidan cemas.


"Akhirnya sampai, terima kasih pak Zidan. Dan maaf karna aku hampir terlambat pak, tapi hari ini pagiku tidak sebaik pagi-pagi sebelumnya"


"Tidak apa-apa. Tapi kenapa kamu harus lari tadi, apa kamu tidak takut terjatuh? Itu kan bisa membahayakan anak yang ada dalam kandunganmu"


"Pak Zidan sudah tahu kalau aku hamil? Apa bunda yang memberitahukannya?"


"Iya. Semalam bunda menceritakannya, serta memintaku untuk tidak memberikanmu terlalu banyak pekerjaan, karna takut kamu akan kelelahan"


"Astaga, bunda baik sekali. Oh iya, apa pak Zidan tidak ada niat untuk berhenti menjadi anak bunda? Kalau ada, katakan padaku yah, aku akan dengan senang hati menerima bunda sebagai ibuku"


"Enak saja. Apa kamu tega mengambil bunda yang adalah satu-satunya orang berharga di hidupku?"


"Apa pak Zidan tega tidak memberikan bunda padaku, yang tidak bisa berhubungan baik dengan kedua orang tuaku?"


"Yah sudah, kalau begitu bunda jadi bunda kita berdua saja!"


"Oke, deal!"


Asyifa dan Zidan tiba-tiba bertingkah seperti anak kecil, dengan berjabat tangan sebagai tanda setuju dengan keputusan yang dibuat oleh Zidan.


"Tapi Asyifa, apa tidak sebaiknya kamu berhenti bekerja saja?"


"Apa pak Zidan ingin memecatku?" tanya Asyifa kaget mendengar pertanyaan Zidan, saat keduanya sedang berjalan keluar dari lift.


"Bukan begitu. Aku hanya sudah memikirkan tentang kehamilanmu dari semalam, pasti akan susah jika terus bekerja dengan kondisi ssperti itu"


"Apa pak Zidan tidak masalah jika aku berhenti bekerja? Bukannya perusahaan kita baru saja menerima beberapa kerjasama penting dengan klien?"


"Tentu saja aku pasti akan bermasalah. Tapi tidak mungkin aku memaksa karyawanku yang sedang hamil muda untuk terus bekerja. Dan untuk kerjasamanya akan tetap aku urus sendiri, dan jika para klien tidak puas dengan hasil yang diberikan, mungkin akan aku biarkan untuk dibatalkan saja"


"Jangan begitu dong pak! Masa bapak rela membatalkannya begitu saja, kan bapak sudah bersusah payah untuk mendapatkan semua itu"


"Terus aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku bisa mencari sekretaris pengganti dalam waktu singkat"


"Bapak tidak perlu mencari sekretaris pengganti dalam waktu dekat ini, karna aku akan tetap bekerja seperti biasa"


"Tapi kehamilanmu?"


"Aku hanya akan bekerja sampai kehamilanku menginjak usia enam atau tujuh bulan. Bapak tidak masalahkan kalau seperti itu?"


"Tentu saja tidak! Justru aku akan sangat merasa bersyukur, tapi apa suamimu setuju dengan keputusanmu?"


"William sudah menyetujuinya. Jadi pak Zidan tidak perlu khawatir"


"Baguslah. Terima kasih banyak Asyifa"


"Sama-sama pak. Kalau begitu, aku permisi masuk duluan ke ruanganku"


Zidan menatap punggung Asyifa dengan tatapan sedih sekaligus bersyukur. Zidan sebenarnya merasa sangat sedih saat tahu akan kehamilan Asyifa dari sang bunda, karna itu berarti tidak akan ada harapan sama sekali untuknya bisa bersama dengan Asyifa.


Selain itu mungkin saja wanita itu akan segera berhenti bekerja, yang membuat Zidan tidak bisa lagi melihat wajahnya.


Tapi ternyata tuhan masih memberikannya waktu selama enam bulan, supaya bisa mengukir wajah Asyifa dengan jelas dalam ingatannya.

__ADS_1


"Setidaknya aku masih memiliki waktu enam bulan untuk bisa menghilangkan perasaan ini padamu, dan benar-benar merelakanmu pergi dari hidupku"


Bersambung...


__ADS_2