The Ugly Wife

The Ugly Wife
Asyifa dan Zidan


__ADS_3

Kini Zidan tahu alasannya mengapa Asyifa bersikeras untuk tidak menaiki bianglala, itu semua adalah karna dalam wahana tersebut dipenuhi oleh puluhan pasang kekasih yang sedanh dimabuk asmara.


Pemandangan di depan Zidan selalu penuh dengan adengan sensitif yang seketika dapat mengguncang jiwa kelelakiannya. Dengan malu, Zidan hanya bisa mengutuki dirinya sendiri dalam hati tanpa henti.


Sedangkan Asyifa yang duduk berhadapan dengan pria itu, dan sudah bisa menebak kalau situasinya akan seperti ini, hanya bisa menundukkan kepala dengan wajah semerah tomat masak.


"Bagaimana? Apa sekarang kamu baru bisa paham maksud dark laranganku tadi?" tanya Asyifa masih dalam posisi menunduk.


"Yah, sepertinya aku menyesal karna tidak mengikuti perkataanmu dan malah memaksa naik ke atas sini"


"Sedari awal kamu mengajakku mencoba wahana ini, aku sudah bisa menebak kalau ini adalah tempat strategis untuk para pasangan yang sedang dimabuk asmara. Makanya aku langsung menolak"


"Kenapa kamu tidak mengatakan alasannya sedari awal saja?"


"Mana mungkin aku melakukannya, aku kan juga punya rasa malu! Harusnya kamu yang adalah seorang pria, bisa peka dong kenapa aku bertingkah seperti itu"


"Aku kan bukan dukun, Asyifa. Mana mungkin aku langsung bisa mengerti tentang apa yang sedang kamu pikirkan, kalau bukan kamu sendiri yang mengatakannya"


"Terus, harusnya aku mengatakan langsung saja tentang apa yang aku pikirkan?" tanya Asyifa cemberut.


"Tentu saja"


"Sekali pun apa yang aku pikirkan dan yang akan aku katakan itu adalah suatu hal yang tidak pantas dan memalukan?"


"Iya Asyifa, kamu boleh mengatakannya. Tapi ada syaratnya, kamu hanya boleh melakukan semua itu kalau sedang bersama denganku"


"Kenapa begitu?" tanya Asyifa bingung.


"Yah karna ijin itu kan aku yang berikan, bukan orang lain yang memberikannya padamu"


"Kalau begitu, jika nanti ada pria lain yang juga memberiku ijin yang sama dengan yang kamu berikan, apa itu berarti aku boleh melakukannya juga pada pria itu?"


"Tidak boleh!" jawab Zidan cepat, sambil melemparkan tatapan tak senang kepada wanita yang ada di depannya.


"Loh, kenapa tidak boleh? Kan alasanmu tadi, karna kamu yang memberikan ijin makanya aku boleh melakukan hal itu. Tapi kenapa jika pria lain juga memberikan ijin, akh tetap tidak boleh melakukan hal yang sama?"


"Aku bilang tidak boleh, yah berarti tidak boleh Asyifa. Tidak usah banyak bertanya kenapa, cukup turuti saja kata-kataku"


"Tidak mau! Aku tidak mau menuruti semua perkataanmu barusan, lagian ini kan aku yang berhak memutuskan!"


Zidan menatap lekat pada mata wanita yang sedang ikut-ikutan keras kepala juga seperti dirinya. Memang benat itu adalah hak Asyifa untuk memutuskan, tapi membayangkan kalau Asyifa sampai dekat dengan pria lain, itu membuat Zidan kesal setegah mati.


Meskipun prianya belum ada dan juga belum diletahui, tapi tetap saja kesal. Dengam cepay Zidan memikirkam jawaban apa yang harus diberikan pada Asyifa, supaya wanita itu mau menuruti keinginannya.


Tiba-tiba sebuah ide jahil terlintas di otaknya, membuat Zidan tertawa kecil. Sedang Asyifa yang melihat tingkahnya, segera menatap Zidan seolah sedang mengatai pria itu gila.


"Jangan menatapku seperti itu! Dan juga hilangkan pikiranmu yang mengira aku gila"


"Hah, bagaimana kamu bisa tahu kalau aku sedang mengataimu gila dalam hati? Apa kamu memiliki keahlian seorang dukun?"


"Tidak usah menebak yang aneh-aneh Asyifa. Jelas saja aku bisa tahu, dari wajahmu saja sudah dapat kelihatan jelas!"


"Oh, begitu. Lalu kenapa kamu tertawa tadi, tidak mungkin kan kamu tiba-tiba tertawa tanpa alasan"


"Aku tertawa karna sedang memikirkan apa hukuman yang pantas untukmu, karna sudah berani melawan perkataanku"


"Hu_hukuman? Apa maksudnya itu?!"


"Iya, kalau kamu tetap tidak mau menuruti keinginanku sampai akhir, aku akan dengan terpaksa mencium dirimu!" ancam Zidan.


Mendengar ancaman Zidan, Asyifa secara spontan langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Tak hanya sampai disitu, Asyifa juga menggeser duduknya supaya bisa menjauh dari Zidan.


"Awas saja kalau kamu berani melakukannya, aku akan melaporkanmu dengan tuduhan pelecehan pada tetangga!"


"Hahaha pelecehan pada tetangga, apa-apaan judulnya itu! Tenang saja, aku tidak akan jadi melakukannya kalau kamu mau menuruti perkataanku tadi. Bagaimana?"


"Baiklah, akan aku turuti! Puas?"


"Puas sekali, terima kasih Asyifa yang cantik jelita. Kamu memang wanita yang pengertian yah, kalau menikah denganmu, hidupku pasti akan bahagia setiap saat"


"Me_menikah? Apaan sih kamu, dari tadi bercandanya tenteng nikah-nikah terus. Apa tidak ada candaan yang lain sekali hal itu?"


"Kalau candaan tentu saja ada banyak, tapi kalau ungkapan yang paling tulus dan paling serius dari dalam hatiku yah cuman itu saja" ucap Zidan sambil memandangi memajukan wajahnya ke depan wajah Asyifa.


"Kamu kan juga tahu, kalau sekarang aku sedang tidak ingin memikirkan tentang masalah percintaan"

__ADS_1


"Aku tahu Asyifa. Aku cuman melakukan ini semua, supaya kamu tidak melupakan kalau ada perasaanku yang senantiasa menunggu untuk dibalas olehmu"


"Zidan, aku rasa itu akan mustahil untuk bisa terjadi. Bahkan sampai detik ini, tidak pernah sekali pun aku merasakan kalau diriku sedang memiliki sebuah perasaan yang spesial pada dirimu"


Kecewa, itulah perasaan yang kini sedang menerpa hati Zidan saat mendengar jawaban Asyifa. Namun entah mengapa, pria itu tak ingin menyerah terhadap perasaannya.


Dirinya bahkan yakin bahwa suatu hari nanti, dia dan Asyifa akan bisa menikah dan juga memiliki hubungan rumah tangga yang penuh dengan kebahagiaan.


"Bagaimana yah, meskipun sudah mendapat penolakan dua kali darimu, tapi aku tetap tidak mau menyerah begitu saja"


"Zidan" panggil Asyifa, terkejut mendengar ucapan tulus dari pria di hadapannya itu.


"Tidak apa kan kalau aku bersikeras untuk tetap mencintai dirimu? Aku kan juga berhak untuk mencintai, dan kamu juga berhak untuk menolak diriku, jadi diantara kita tidak ada yang dirugikan sama sekali"


"Apa itu tidak terlalu menyakitkan? Karna aku juga pernah merasakan perasaan suka yang tidak terbalas dalam waktu yang sangat lama"


"Memang menyakitkan, tapi itu sudah resiko yang harus aku ambil karna hatiku secara tak terduga jatuh cinta padamu. Kita kan tidak bisa menentukan dengan siapa kita akan jatuh cinta, bukan?"


"Maaf Zidan. Sekarang dimatamu, aku pasti terlihat seperti wanita yang tidak tahu malu karna sudah menolak cinta darimu, yang adalah pria tampan dan juga kaya serta selalu menjadi incaran banyak wanita" ucap Asyifa sambil berlinang air mata.


Seandainya saja waktu itu, Asyifa tidak pernah bertemu dan mengenal William, atau dirinya tidak jatuh cinta pada pria itu, mungkin saja hati Asyifa tidak akan tertutup serapat ini karna trauma.


"Kamu tidak perlu minta maaf Asyifa. Apa yang menjadi perasaanku, adalah tanggung jawabku sendiri dan tidak ada hubungannya dengan dirimu"


"Seandainya saja, William tidak pernah ada dalam hidupku, mungkin aku masih punya kesempatan untuk bisa jatuh cinta padamu"


Mendengar penyesalan yang keluar dari mulut Asyifa, Zidan dengan lembut meraih wajah wanita itu supaya mata keduanya bisa saling bertemu. Zidan menghapus air mata Asyifa, dan membelai rambutnya penuh kasih sayang.


"Mungkin William telah memberikan puluhan luka dalam hidupmu, tapi jangan pernah kamu sesali semua itu, karna diantara luka itu ada sebuah anugerah yang sempat dititipkan tuhan padamu. Anugerah itu adalah Arcelio, malaikatmu. Jika kamu tidak bertemu dengan William, tentu kamu juga tidak akan pernah mempunyai kesempatan untuk memiliki Arcelio dalam kandunganmu. Atau, apa kamu juga menyesal akan adanya kehadiran Arcelio dalam hidupmu?"


"Tidak! Aku tidak pernah menyesal akan kehadiran Arcelio dalam hidupku, dan sampai kapam tidak akan pernah"


"Kalau begitu, apa kamu bisa menganggap pertemuanmu dengan William sebagai jalan tuhan untuk menitipkan Arcelio padamu? Dan lupakan semua luka yang William berikan, aku yakin kamu pasti akan merasa lebih lega jika melakukannya"


"Bagaimana bisa aku melupakan semuanya begitu saja, Zidan? Sekali pun aku ingin, aku tetap terbayang semua hal itu setiap saat!"


"Aku tidak menyuruhmu untuk langsung bisa melupakannya Asyifa, tapi coba lakukan saja secara perlahan"


Asyifa nampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk menyetujui usulan dari Zidan. Setidaknya, dirinya juga harus mau memaafkan, supaya bisa lepas dari perasaan yang selama ini terus membayanginya.


"Wanita pintar. Aku yakin kamu pasti bisa melakukannya, karna Asyifa yang aku kenal adalah wanita yang kuat menghadapi segala situasi dihidupnya"


"Terima kasih, Zidan" ucap Asyifa, sambil memeluk tubuh pria itu.


Zidan yang tekejut mendapat pelukan secara tiba-tiba dari Asyifa, hanya bisa terpaku diam. Namun sedetik kemudian, secara perlahan Zidan dapat merasakan adanya perasaan tulus yang ingin disampaikan Asyifa melalui pelukannya. Oleh karna itu, Zidan pun turut membalas pelukan Asyifa.


*****


Zidan dan Asyifa akhirnya memutuskan untuk menghentikan aksi mencoba semua permainan, ketika jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Dengan badan yang terasa lelah namun wajah penuh senyum kebahagiaan, keduanya pun masuk ke dalam mobil Zidan dan langsung menuju arah pulang ke apertemen.


"Sekali lagi terima kasih atas semua bantuan dan juga untuk semua nasihatnya, Zidan" ucap Asyifa berterima kasih, ketika keduanya telah berada di depan pinti apertemen Asyifa.


"Sama-sama, Asyifa. Sudah larut, sebaiknya kamu cepat masuk dan beristirahat"


"Baiklah, kamu juga cepat kembali supaya bisa beristirahat"


"Tentu. Sekarang kamu masuklah"


"Tidak, kamu duluan saja yang masuk. Aku akan melihatmu dari sini"


"Mana mungkin aku bisa melakukan hal itu, Asyifa. Kamu kan wanita, jadi sudah pasti kamu yang harus masuk duluan"


"Tidak, kamu saja yang masuk duluan. Aku tidak masalah kok kalau kamu masuk duluan, aku kan wanita kuat"


"Hahaha, apa sekarang kamu sedang mencuri kata-kataku yang aku katakan saat kita masih di taman bermain tadi?"


"Bisa dibilang seperti itu. Sudah, sebaiknya kamu segera masuk sana"


"Tidak, kamu yang harus masuk duluan"


Ketika keduanya sedang sibuk melempar suruhan untuk siapa yang masuk duluan, tiba-tiba saja pintu apertemen Asyifa terbuka lebar. Dan disana berdiri sosok Mira dengan ekspresi wajahnya yang terlihat kesal.


"Astaga, apa kalian berdua adalah pasangan remaja yang baru saja habis jadian? Aku yang sedari tadi mendengar pembicaraan kalian berdua dari balik pintu, menjadi geli sendiri tahu! Ingat umur dong, tinggal masuk saja susah sekali"

__ADS_1


"Mira?!" panggil Asyifa dan Zidan sama-sama terkejut dengan kehadiran gadis itu.


"Iya, ini aku. Kenapa?"


"Ah, tidak kenapa-kenapa kok Ra. Aku hanya mengira kamu dan Angel sudah tidur sedari tadi, karna ini sudah larut malam"


"Itu dia yang menjadi pertanyaanku juga, kenapa yah kami berdua belum tidur padahal sudah jam segini? Apa kamu tahu alasannya Zidan?" tanya Mira sambil menatap tajam ke arah Zidan.


"A_aku, aku tidak tahu Mira" jawab Zidan, yang entah mengapa tiba-tiba menjadi gugup.


"Kamu tidak tahu? Wah, kenapa saat aku mendengar jawabanmu sepertinya ada yang ingin meledak dari diriku yah!"


"Ma_maaf, Ra" ucap Zidan, tanpa tahu apa kesalahan dirinya.


"Pfffttt. Ya ampun Mira, kamu seperti seorang ibu yang sedang memarahi anak gadisnya karna kedapatan sedang berpacaran secara diam-diam dengan kekasihnya di depan pintu rumah saja"


"Tidak usah ketawa kamu, Ngel. Aku sedang marah benaran sekarang, apa kamu tidak lihat jam berapa pria ini mengantar Asyifa pulang ke aperteman?!"


"Sudahlah, lagipula Asyifa kan sudah besar. Dia juga pergi bersama dengan Zidan yang dapat dipercaya, jadi tidak usah khawatir berlebihan seperti itu"


"Terserah sajalah!"


Setelah berkata seperti itu, Mira pun langsung berjalan masuk kembali ke dalam apertemen meninggalkan mereka begitu saja. Asyifa dan Zidan yang masih tidak mengerti kenapa Mira marah, hanya bisa saling melempar tatapan bingung.


"Sudah, wajah kalian berdua tidak perlu bingung seperti itu. Mira memang sensitif setelah masalah Asyifa diperlakukan dengan tidak baik oleh William, itulah mengapa dia terlihat marah barusan"


"Tapi kan, aku perginya sama Zidan loh Ngel. Lagian ini ide dia juga kan yang menyuruhku pergi bersama Zidan, masa sekarang dia juga yang marah?"


"Apa dari tadi kamu tidak melihat ponselmu?" tanya Angel penasaran.


"Tidak, aku meninggalkannya di dalam mobil selama kami singgah di taman bermain tadi. Memangnya ada apa dengan ponselku?"


"Coba lihat dulu deh"


Asyifa pun segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan mngeceknya. Sedetik kemudian wajah Asyifa langsung berubah menjadi terkejut, karna tenyata ada banyak sekali panggilan tak terjawab dan juga pesan masuk.


Dan semua itu berasal dari satu orang, yaitu Mira. Sekarang barulah Asyifa bisa mengerti kenapa sahabatnya yang satu itu menjadi marah kepadanya dan juga kepada Zidan.


"Banyak banget panggilan dan pesan masuk dari Mira, Zidan" ucap Asyifa, menunjukkan layar ponselnya kepada Zidan.


"Karna itu dia marah?" tanya Zidan.


"Bisa dibilang begitu. Sebenarnya sedari tadi Mira tidak bisa tidur dan hanya terus sibuk mondar-mandir diruang tamu. Dia bahkan sampai membangunkanku yang sudah tidur nyenyak, karna khawatir padamu"


"Ya ampun, aku benar-benar tidak tahu kalau dia menelpon dan juga khawatir sekali padaku. Aku pikir kalau pergi dengan Zidan, aku tidak perlu mengabari kalian lagi, karna kalian kan sangat percaya pada Zidan"


"Kami memang percaya padanya, tapi tetap saja dia itu juga pria sama seperti William. Bagaimana kalau dia juga memperlakukanmu dengan buruk, apalagi kamu tidak bisa dihubungi sama sekali!" protes Mira, tiba-tiba keluar lagi.


"Astaga, aku tidak mungkin seperti itu pada Asyifa, Mira. Aku kan sudah berjanji untuk menjaganya dengan baik"


"Siapa yang tahu, tidak ada salahnya kan jika aku berwaspada saja?!"


Baru saja Zidan ingin membukan mulutnya untuk kembali memprotes ucapan Mira, tapi dengan cepat Asyifa memberikan isyarat padanya untuk tidak melakukan hal itu lagi.


"Iya, tidak ada salahnya kok Ra. Terima kasih yah, karna sudah mengkhawtirkan aku. Aku menjadi sangat terharu" rayu Asyifa sambil memeluk Mira manja.


"Lepas Fa, geli tahu! Sana peluk Zidan saja, kan kalian pasangan remaja yang penuh dengan asmara"


"Tidak ah, aku lebih baik memeluk kamu saja. Kalau meluk Zidan, takutnya diusir tetangga karna belum dihalalin"


"Kamu lagi ngasih kode yah ke Zidan buat cepat halalin kamu?" tanya Mira memulai candaannya.


"Apaan sih, Ra. Aku kan cuman bercanda!"


"Serius juga tidak apa-apa kok, Fa. Zidannya juga pasti siap banget, iyakan Zidan?" goda Angel, saling melemparkan senyum jahil ke arah Mira.


"Aku sih siap-siap saja. Yang sekarang jadi pertanyaan, Asyifanya siap tidak?"


"Apaan sih Zidan, kenapa kamu juga jadi ikut-ikutan godain aku kayak Mira sama Angel?"


"Cieee, ceritanya marah nih. Tapi mau kan Fa dihalalin sama Zidan?" goda Mira lagi.


"Tau ah, bikin kesel kalian semua!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2