
Raka dan Adam hanya bisa tertunduk malu saat keduanya telah sepenuhnya sadar dari pengaruh alkohol.
Bagaimana tidak malu, mereka sendiri kan yang sudah menawarkan diri untuk datang menjaga Zidan, tapi pada akhirnya kondisi keduanya pun tak jauh beda dengan pria yang ingin mereka jaga.
Kini keempatnya sedang duduk di meja makan dan bersiap untuk memakan sarapan yang telah disiapkan oleh Kinara dengan senang hati.
"Ckckck. Kalian berdua memang benar-benar sahabatku yang paling bisa diandalkan. Kalau tidak ada kalian berdua, entah bagaimana aku bisa pulang semalam dengan selamat" cibir Zidan, seolah sedang berterima kasih.
"Bukan begitu Zidan, aku hanya tidak tahu kalau minuman yang ditawarkan padaku ternyata mengandung alkohol" ucap Raka berusaha membela diri.
"Yang benar saja. Masa kamu tidak bisa membedakan sama sekali mana minuman yang mengandung alkohol dan mana yang tidak mengandung alkohol, dari baunya saja sudah bisa ketahuan"
"Kalau membedakannya dengan cara seperti itu juga aku sudah tahu. Tapi kata pelayannya, minuman yang aku memang berbau seperti minuman beralkohol, tapi sebenarnya sama sekali tidak mengandung alkohol"
"Dan kamu percaya begitu saja? Raka, yang namanya minuman kalau sudah memiliki bau alkohol, sudah pasti minuman itu juga akan mengandung alkohol" jelas Kinara prihatin.
"Yah mana aku tahu. Aku hanya seorang diri disana, jadi pas ditawari yah aku mau-mau saja. Apalagi waktu itu aku sangat haus"
"Loh, bukannya masih ada satu lagi teman wanita kalian yang juga ada di dalam bar itu, kenapa tidak bertanya saja padanya?"
"Teman wanita? Teman wanita mana yang kamu maksudkan, semalam kami hanya ada bertiga di dalam bar itu. Tidak ada satu pun teman wanita kami semalam disana" jawab Zidan kebingungan.
"Yang benar? Lalu kenapa dia bisa tahu nama dari kalian bertiga, bahkan saat aku datang kembali ke bar waktu itu, dia terlihat sedang berusaha untuk mengantar kalian pulang menggunakan mobilnya"
Mendengar cerita Kinara tentang seorang wanita yang mereka yakini tidak ada sama sekali kehadirannya semalam, sontak saja ketiga pria tersebut saling melempar tatapan penuh kebingungan.
Pasalnya, benar-benar hanya mereka bertiga yang datang semalam ke bar, dan pulangnya pun sama seperti itu, hanya ditambah dengan kehadiran Kinara saja.
"Kinara, apa kamu sempat bertanya mengenai identitas wanita itu, seperti siapa namanya atau semacamnya? Karna aku, Raka dan juga Adam sama sekali tidak tahu sama sekali mengenai wanita yang kamu ceritakan"
"Kalau tidak salah, namanya adalah Vera. Dia mengaku sebagai salah satu teman kalian bertiga, aku juga sempat bertukar nomor telepon dengannya"
"Vera? Aku sama sekali tidak mempunyai kenalan wanita yang bernama Vera. Kalau kalian berdua bagaimana?"
__ADS_1
"Aku juga tidak" jawab Raka.
"Aku juga tidak" jawan Adam.
"Apa kamu yakin kalau namanya adalah Vera, apa kamu yakin tidak salah dengar semalam karna suara musik yang keras di bar?" tanya Zidan penasaran.
"Aku yakin sekali namanya Vera, karna di dalam ponselku juga nomornya tertulis dengan nama yang sama. Kalau kalian masih tidak percaya juga, lihat saja" ucap Kinara yakin, sambil menyodorkan ponselnya ke arah Zidan dan kedua sahabatnya.
Zidan yang memang penasaran dan ingin mencari tahu lebih jauh tentang sosok wanita yang bernama Vera itu, langsung mengambil ponsel Kinara dengan senang hati.
Untuk memastikan bahwa itu bukanlah nomor salah satu dari kontak yang ada di dalam ponselnya, Zidan pun mencocokannya satu persatu dengan teliti, tapi hasilnya nihil.
Selanjutnya, Zidan menyerahkan ponsel tersebut pada Raka dan Adam secara bergiliran untuk melakukan hal yang sama dengan yang dilakukannya. Tapi hasilnya tetap sama saja nihil.
Nomor tersebut tidak ada dalam daftar nomor yang ada di dalam ponsel ketiga pria itu. Dengan satu lagi alternatif yang tersisa, Zidan tanpa ragu langsung menekan tombol panggil pada nomor tersebut.
Namun sedetik kemudian, Zidan menjauhkan ponsel dari telinganya dan membesarkan volume panggilan, supaya dapat didengar oleh ketiga orang lainnya.
"A_apa-apaan itu, kenapa kata operator sistem nomornya malah tidak terdaftar? Aku rasa dia tidak mungkin dengan sengaja memberiku nomor yang salah untuk dihubungi kan, untuk apa dia melakukannya?"
"Entahlah. Tapi aku rasa, dia pasti memiliki alasan tersendiri untuk itu, apalagi katamu dia sempat mengaku-ngaku sebagai salah satu dari teman wanita kami. Padahal sebenarnya, kami bahkan tidak mengenalinya sama sekali. Bukannya itu aneh?"
"Benar apa yang dikatakan oleh Adam. Aku juga merasa ada yang aneh, apalagi sampai ada seorang pelayan yang dengan beraninya malah membohongiku"
"Apa kamu mengingat wajah dari pelayan yang sudah membohongimu semalam?" tanya Zidan memastikan.
"Iya, aku masih mengingat wajahnya dengan baik karna waktu itu aku belum berada di bawah pengaruh alkohol. Sekali pun aku tidak mengingatnya, tapi kalau melihat wajahnya secara langsung, aku pasti mengenalinya"
"Bagus. Kalau begitu, bagaimana kalau kita kembali lagi ke bar itu untuk menemuinya, dan memaksanya untuk memberitahu siapa yang sudah menyuruhnya melakukan semua pekerjaan kotor seperti itu" usul Zidan.
"Setuju. Dengan begitu, kita juga pasti bisa mengetahui identitas dari siapa Vera yang sebenarnya, dan juga alasannya berpura-pura menjadi teman kalian"
"Yah sudah, ayo kita pergi sekarang. Aku rasa semakin cepat kita menemui pelayan itu, maka semakin cepat juga kita mengetahui identitas si Vera"
__ADS_1
"Ta_tapi Zidan, kami berdua kan belum sempat memakan sarapan kami sama sekali. Apa tidak bisa kamu memberikan waktu sedikit lagi, untuk kami menghabiskannya?" tanya Raka penuh harap.
"Astaga, apa kalian sebegitu kelaparannya, sampai tidak bisa menahannya sebentar lagi saja? Kalau kalian memang masih ingin tinggal untuk menghabiskan sarapan, maka aku akan pergi sendiri lebih dulu"
"Iya, kamu pergilah lebih dulu, nanti aku dan Raka akan segera menyusul dari belakang. Masalahnya, sekarang perutku sangat lapar karna semalam tidak sempat makan malam juga" timpal Adam menyetujui usul Zidan.
"Ya sudah, aku pergi duluan. Awas saja kalau kalian sampai lama menyusulnya, akan aku coret nama kalian dari daftar sahabatku yang bisa diandalkan!"
"Iya, iya, kami mengerti. Jangan khawatir, kami pasti akan langsung menyusul begitu sarapan ini habis. Iyakan Adam?"
"Iya benar"
"Hah, terserah kalian saja"
"Zidan, apa aku boleh ikut bersamamu? Kamu juga kan tidak mempunyai mobil untuk pergi ke sana, karna mobilmu semalam ditinggal begitu saja di parkiran bar, jadi akan lebih baik kalau menggunakan mobilku saja" usul Kinara berhati-hati.
"Kalau bukan mobilmu yang aku pinjam, maka mobil siapa lagi yang harus ku mintai pinjam? Kamu kan tahu kalau mobil Adam dan Raka juga tidak ada disini. Atau, kamu tidak berniat untuk meminjamkannya?"
"Ah, tentu saja aku ingin sekali meminjamkan mobilku padamu. Pakai saja selama yang kamu butuhkan, kebetulan hari ini juga aku tidak sedang ingin kemana-mana"
"Ya sudah, ayo kita pergi"
"Baik"
Setelah berkata seperti itu, Zidan pun segera berjalam keluar dari dalam apertemennya disertai oleh sosok Kinara yang dengan senang hati mengikutinya dari arah belakang.
Namun betapa terkejutnya Zidan saat sudah berada diluar apertemen, dia malah harus berpapasan dengan Asyifa yang juga baru saja keluar dari apertemen milik wanita itu.
Sama seperti ekspresi Zidan yang terkejut, ekspresi wajah Asyifa pun tak jauh berbeda. Apalagi saat ia melihat adanya sosok Kinara yang ikut keluar dari apertemen Zidan, Asyifa langsung memberikan tatapan sedih ke arah pria yang penah menjadi tunangannya itu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Asyifa bergegas untuk pergi dari tempat itu secepat mungkin, meninggalkan sosok Zidan yang terlihat seperti ingin menahannya.
Bersambung...
__ADS_1