The Ugly Wife

The Ugly Wife
Suntikan


__ADS_3

Elina yang panik saat melihat tubuh Eden terapung diatas bak penampung air miliknya, segera menceburkan dirinya sendiri tanpa pikir panjang ke dalam bak tersebut.


Tapi baru saja turun, tubuh Elina yang tidak mempunyai kemampuan berenang sedikit pun, pada akhirnya harus terpaksa memilih naik kembali ke atas permukaan bak.


Bagi yang tidak tahu, bak penampungan air di rumah Elina hampir sebesar kolam berenang dengan sebuah penutup besar, yang hanya bisa dibuka oleh para pria dewasa saja.


Kebetulan, pagi hari itu Elina baru saja membeli air untuk diisi kedalam bak tersebut, dan oleh para petugasnya, penutup bak penampung lupa untuk dipasang kembali.


Itulah mengapa Eden bisa sampai berada di dalam bak, dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan.


"Sialan! Apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan tidak bisa berenang sama sekali, lalu bagaimana aku bisa membawa Eden keluar dari dalam sana?!" gerutu Elina kesal, sambil meremas rambutnya sendiri.


Jika Elina meminta bantuan pada tetangga lain untuk menolong Eden, gadis itu takut nantinya Eden terpaksa harus pergi ke rumah sakit untuk dirawat.


Kalau itu sampai terjadi, maka semua kedok Elina yang mengatakan Eden adalah saudara jauh darinya, akan terbongkar. Apalagi jika sampai polisi yang ditugaskan oleh Zidan mengetahui keberadaan Eden, maka sudah bisa dipastikan bahwa nasib Elina akan berada dibalik jeruji besi.


Tapi melihat tubuh Eden yang secara perlahan mulai jatuh ke dalam air, membuat Elina semakin ketakutan kalau sampai ada sesuatu yang buruk, terjadi pada pria itu.


Dalam keadaan genting, otak Elina terpikirkan suatu keputusan lain yang mungkin akibatnya akan terdengar sama ekstremnya dengan membawa Eden ke rumah sakit.


Yaitu, dengan meminta pertolongan pada Asyifa dan juga teman-teman wanita itu untuk membantunya menyelamatkan Eden dari dalam air.


"Tapi kalau aku menghubungi mereka, apa nantinya mereka akan melaporkanku pada pihak berwajib? Argggghh! Kenapa juga para petugas sialan itu harus lupa menutup bak penampungnya, dan kenapa juga Eden harus terjatuh ke dalam sana?! Ah masa bodoh!"


Elina yang semakin kesal sekaligus takut, karna tubuh Eden sudah sampai di dasar air, pun segera mencari ponselnya untuk bisa menghubungi Asyifa.


Tapi sayangnya, ia baru tersadar kalau sudah melakukan hal paling ceroboh yang pernah dilakukannya seumur hidup, yaitu dengan pergi begitu saja meninggalkan ponselnya di tangan Asyifa.


Untungnya di dalam rumah Elina masih ada telepon rumah yang bisa digunakan olehnya untuk menelpon. Gadis itu pun segera berlari ke dalam rumah untuk menuju mendapatkan telepon rumah.


Karna tidak punya waktu untuk melihat nomor Asyifa yang ditulisnya dibuku hariannya, Elina pun memilih untuk langsung menghubungi nomor ponselnya sendiri, dengan harapan akan dijawab oleh salah satu dari orang-orang yang menemuinya sore ini.


Dengan tangan gemetar, Elina menekan satu persatu tombol yang bertuliskan angka, lalu menekan tombol panggil diakhir. Setelah beberapa saat menunggu nada terhubung, Elina pun mendengar sapaan diujung telepon.


"Halo? Elina?" sapa Asyifa.


"Ah, ternyata kamu bisa menebak kalau ini adalah aku yang menelpon"


"Tentu saja aku bisa mengetahuinya. Karna di ponselmu, nomor ini di tuliskan dengan nama rumah. Dan menurut tebakanku, sudah pasti itu nomor telepon rumah milikmu sendiri dan bukannya orang lain" jelas Asyifa.


"Yah, tebakanmu memang benar."


"Tapi Elina, kenapa kamu tiba-tiba saja malah menelponku? Apa kamu tanpa terduga telah berubah pikiran untuk mengembalikan Eden pada kami, atau malah menelpon hanya demi bisa mendapatkan ponselmu kembali?"


"I_itu, itu aku memang berniat untuk berubah pikiran seperti katamu!" ucap Elina ragu.


"Benarkah? Kamu tidak sedang bercanda bukan, apa aku bisa mempercayai apa yang baru saja kamu katakan?"


"Iya benar, kamu bisa memegang semua kata-kataku. Tapi kalau aku benar berubah pikiran, aku ingin kamu dan juga semua teman-temanmu itu, bisa mengabulkan satu permintaan dariku"


"Permintaan? Apa itu? Jika aku dan yang lainnya bisa mengabulkannya, pasti akan kami lakukan dengan senang hati. Tapi yang terpenting adalah, Eden bisa selamat dan kembali berkumpul bersamaku dan semua anak panti" jawab Asyifa yakin.


"Permintaanku adalah, kamu dan semua temanmu itu, harus mencabut laporan kalian di kepolisian tentang kasus penculikan Eden, dan berjanji tidak akan memasukkanku ke dalam penjara. Kalau kalian bisa berjanji untuk melakukan itu semua, maka aku pun akan mengembalikan Eden. Bagaimana?"


Setelah Elina mengatakan permintaannya dan ingin melakukan kesepakatan, Asyifa yang mendengarkannya memilih terdiam selama beberapa sesaat, untuk bisa memikirkannya sebelum pada akhirnya akan menjawab.


Tentu saja hal itu membuat hati Elina menjadi semalin gelisah, karna teringat akan kondisi Eden yang sudah berada di dasar bak air tanpa pertolongan apa pun.


"Baiklah. Aku berjanji akan melakukan semua yang kamu katakan barusan, kalau kamu juga menepati janji mengembalikan Eden pada kami" jawab Asyifa akhirnya, yang membuat tubuh Elina hampir saja melompat tinggi karna kesenangan.


"Bagus sekali. Keputusanmu memang suda yang paling tepat Asyifa"


"Tentu saja aku akan melakukannya jika itu bisa membuatku menyelamatkan Eden dari niat balas dendammu yang jahat! Jadi kapan kami bisa bertemu dengan Eden, serta bisa membawanya pulang?"


"Bagimana kalau sekarang? Kalau kamu setuju, aku akan mengatakam alamat dimana rumahku berada, supaya kalian bisa datang" tawar Elina penuh harap.

__ADS_1


"Baiklah. Coba sebutkan alamat rumahmu, dan tidak butuh waktu lama, kami semua akan segera tiba disana" jawab Asyifa setuju.


"Akan aku sebutkan, kalau kamu bisa berjanji untuk satu hal lagi. Yaitu kalian harus datang dan sampai di rumahku, dalam waktu kurang dari 20 menit!"


"20 menit? Memangnya kenapa kami harus datang secepat itu? Bagaimana kalau alamat rumahmu ternyata sangat jauh dari tempat kami semua berada?!" protes Asyifa, terpikir satu masalah.


"Aku yakin bahwa rumahku tidak akan jauh dari tempat kalian berada, kalau jarak kalian berada tidak jauh dari rumah sakit. Jadi, apa kamu setuju dengan permintaanku?"


"Baiklah! Lagi pula, pihak kami lah yang saat ini paling ingin secepatnya bertemu dengan Eden. Jadi apa pun itu, harus bisa dilakukan demi keselamatannya"


Mendengar hal itu, tanpa pikir panjang lagi Elina segera menyebutkan alamat lengkap dimana rumahnya berada, untuk selanjutnya bisa dicatat oleh Asyifa diujung sana.


Setelah selesai, obrolan keduanya ditelepon pun berakhir. Elina yang tidak tahu harus apa lagi selain menelpon, memilih untuk kembali lagi ke belakang rumah dan naik ke atas bak penampung untuk terus mengawasi keadaan Eden dari atas sana.


"Ya tuhan! Apa tidak bisa engkau buat Eden untuk segera sadar, dan naik ke atas air dengan kemampuannya sendiri? Kalau dirinya terlalu lama berada dibawah sana, mungkin akibat yang terjadi selanjutnya akan sangat fatal!" gumam Elina cemas.


*****


20 menit penantian Elina untuk menunggu kedatangan Asyifa dan juga rombongannya, terasa menjadi waktu terlama dalam hidup Elina untuk menanti sesuatu.


Ketika sebuah bunyi khas yang sering ia dengar ketika ada tamu yang datang ke rumahnya berbunyi, wajah cemas Elina pun seketika berubah senang.


Tanpa membuang waktu lagi, Elina segera turun dari atas bak dan berlaro cepat ke arah pintu rumah untuk membukanya.


Dan benar saja, di depan sana sudah berdiri sosok Asyifa yang ditemani oleh Zidan, Raka, dan juga Adam. Sedang Angel dan Mira yang mempunyai kesibukan lain, terpaksa tidak bisa ikut datang.


"Akhirnya kalian datang juga! Kenapa lama sekali sih, apa kalian tahu seberapa gelisah aku tadi selama menunggu?!"


"Hei, kenapa kamu marah-marah seperti itu? Yang harusnya marah disini adalah kami, karna kamu sudah membuat kami harus cape berulang kali hari ini!" jawab Raka, yang mau tidak mau menjadi kesal karna mendengar pertanyaan dari Elina.


"Apa maksudmu?! Kenapa kalian seharian yang cape, malah aku yang disalahkan?!"


"Ya tentu saja harus kamu yang disalahkan, jadi maunya siapa lagi? Kami semua sudah cape-cape mengejarmu keliling rumah sakit untuk bisa membujukmu mengembalikan Eden, tapi kamu malah kabur begitu saja. Dan setelah itu, kamu menelpon Asyifa untuk menyuruh kami datang ke rumahmu kalau ingin Eden dikembalikan. Kalau memang dari awal ingin mengembalikannya, kenapa harus pakai acara kabur segala?!" sembur Raka panjang lebar.


Sontak saja, hal itu membuat tubuh dan mulut Elina terdiam kaku secara bersamaan, karna tidak tahu harus menjawab apa. Apalagi semua yang dikatakan oleh Raka barusan memang ada benarnya.


Tapi Elina tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya di telepon mengenai kondisi Eden yang sedang gawat, karna takut akan tetap dilaporkan ke pihak berwajib atas hal tersebut.


"Sudah, tidak usah berdebat lagi. Kalau kamu memang telah berubah pikiran dan berniat untuk mengembalikan Eden, sebaiknya cepat tunjukkan dimana Eden" ucap Zidan tak ingin membuang waktu.


"Benar kata Zidan. Sebaiknya kamu tunjukkan dimana Eden berada supaya kami bisa membawanya pergi. Dan setelah itu, tidak ada lagi urusan diantara kita" timpal Asyifa setuju.


"I_itu, E_Eden, Eden ada di___"


"Lihat! Apa sekarang kamu berubah pikiran lagi, untuk tidak jadi mengembalikan Eden pada kami? Minggir sana, biar aku masuk ke dalam dan akan mencari sendiri dimana Eden berada!" pinta Raka.


Dengan kasar, pria itu mendorong tubuh Elina menyingkir dari depan pintu, lalu tanpa ada rasa sungkan sama sekali, melangkah masuk ke dalam rumah Elina.


Sedang Elina yang tiba-tiba saja mulutnya menjadi kaku dan tidak bisa mengatakan dimana sebenarnya Eden berada, hanya bisa berdiri diam tanpa mencengah tindakan Raka yang seenaknya.


Melihat Raka yang sudah masuk dan mulai mencari-cari keberadaan Eden, membuat Asyifa dan yang lainnya pun dengan terpaksa harus mengikuti tingkah pria itu.


Tapi selama apa pun, dan seberapa kerasnya mereka mencari Eden di dalam rumah itu, mereka tetap tidak bisa menemukannya. Dan pada akhirnya, harus kembali ke hadapan Elina untuk bertanya.


"Elina, dimana kamu menyembunyikan Eden? Kenapa kami tetap tidak bisa menemukannya meskipun sudah mencari ke seluruh penjuru rumahmu?" tanya Adam sadar.


Melihat betapa lembutnya cara Adam bertanya pada Elina, membuat Raka yang sudah kesal, menjadi bertambah kesal.


Baru saja ia ingin menggantikan Adam untuk bertanya pada Elina secara kasar, tapi dengan cepat dihentikan oleh Zidan. Karna saat ini, Elina terlihat seolah akan berbicara sesuatu.


"E_Eden, Eden tidak ada di dalam rumah ini. Di_dia, dia berada diluar" jawab Elina tergagap


"Dimana? Ada diluar mana tepatnya dia berada Elina? Aku mohon padamu, untuk bisa menunjukkannya pada kami. Apa kamu bisa melakukannya?"


"Maaf. Aku mohon tolong maafkan aku, ini semua adalah salahku. Eden bisa sampai seperti itu, semuanya adalah salahku!" pinta Elina mulai terisak.

__ADS_1


Melihat Elina yang tiba-tiba saja menangis dan mengucapkan kata maaf, entah mengapa firasat Asyifa mengatakan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi pada Eden.


"Katakan. Katakan padaku, apa yang sudah terjadi pada Eden? Cepat katakan Elina!" pinta Asyifa panik.


"E_Eden. Sa_saat aku tiba di rumah, Eden sudah terjatuh ke dalam bak penampungan air yang ada di belakang rumahku dalam keadaan tak sadarkan diri"


"APA?!" teriak ketiga pria itu bersamaan.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Adam dan juga Zidan secepat kilat berlari ke arah pintu yang menghubungkan dengan halaman belakang, dimana bak tersebut berada.


Sedang Asyifa yang syok mendengar berita yang dikatakan barusan oleh Elina, langsung jatuh lemas terduduk diatas lantai tanpa bisa mengucapkan satu kata pun.


"Kenapa kamu tidak langsung mengatakanya sedari tadi, saat kami datang? Kenapa malah mengulur waktu selama ini, apa kamu ingin Eden benar-benar mati di dalam sana?!" teriak Raka marah.


"A_aku takut. Aku takut kalau kalian akan tetap melaporkanku kepada pihak berwajib, kalau sampai tahu seperti apa keadaan Eden yang sebenarnya. Tapi aku tidak pernah ada niatan untuk membuatnya mati tenggelam di bawah sana. Aku bersumpah"


"Lalu kenapa pria sebesar Eden bisa berada di dalam sana, kalau bukan ada seseorang yang telah dengan sengaja memasukkannya?!"


"Bukan aku, aku sama sekali tidak pernah ada niatan sejahat itu padanya. Aku sendiri tidak menyangka dia bisa sampai berada di dalam sana. A_aku pikir, itu karna petugas air yang mengisi air pagi ini, lupa untuk menutup kembali bak penampungnya"


"Astaga, apa itu masuk akal? Eden pastinya punya mata untuk bisa melihat kalau baknya sedang tidak tertutup, dan tidak mungkin dia sengaja menjatuhkan dirinya ke dalam sana! Kalau kamu ingin beralasan, seharusnya bisa mencari alasan yang bagus dan setidaknya bisa dipercaya!"


"Aku berani bersumpah, bahwa memang itu lah yang terjadi. Aku juga bersumpah kalau bukan aku yang membuat Eden bisa berada di dalam sana"


Raka yang masih tetap tidak bisa percaya pada ucapan Elina, baru saja akan kembali memprotes ucapan wanita itu, namun harus terhenti karna melihat sosok Zidan dan Raka yang telah kembali.


Kedua pria itu kembali ke dalam rumah dengan seluruh tubuh basah kuyup, dan juga sambil membopong tubuh Eden yang sama basah kuyupnya.


"Eden! Ya tuhan, apa dia masih hidup? Tolong katakan padaku kalau dia masih hidup" pinta Asyifa bergegas mendekat.


"Meskipun suara nafas dan detak jatungnya sanga lemah, tapi dia masih tetap hidup. Tubuhnya juga sempat bereaksi untuk segera memuntahkan semua air yang masuk saat berada dalam bak penampung, ketika Zidan melakukan CPR"


"Syukurlah. Kalau begitu, keadaan Eden sudah baik-baik saja kan sekarang?" tanya Asyifa penuh harap.


"Aku rasa belum tentu, Asyifa. Karna selain Eden, kami juga menemukan hal lain di dalam bak tersebut" jawab Zidan, sambil menatap wajah Elina tajam.


"Hal lain? Apa itu?" tanya Raka penasaran.


"Entahlah, aku dan Adam juga tidak tahu apa itu pastinya. Mungkin kamu yang perawat dan selama ini selalu berada bersama Eden, bisa menjelaskan apa isi dari suntik-suntik yang baru saja kami temukan bersama dengan tubuh Eden di dalam bak penampung. Bukan begitu Elina?!"


Setelah berkata seperti itu, tangan Zidan meraih jasnya yang sama basah kuyup, tapi anehnya malah berbentuk bulat seperti ada sesuatu di dalam sana, dan menuangkan isinya di depan hadapan Elina.


Isinya ternyata adalah beberapa suntik dengan ukuran besar, yang biasanya bisa langsung membuat tubuh Asyifa berkeringat hebat saat melihatnya setiap kali dirinya pergi ke rumah sakit.


"Suntik apa ini Elina? Cairan apa yang tadinya berada di dalam sana? Pastinya bukan hal yang harus kami khawatirkan bukan?" tanya Asyifa, berusaha berpikiran positif.


Tapi melihat ekspresi Elina yang ketakutan dan kelihatan pucat tanpa berani mengatakan satu kata pun, membuat Asyifa terpaksa harus berpikir bahwa apa pun yang tadinya berada dalam suntikan itu, pastinya bukan sesuatu yang baik.


"Tidak masalah kalau kamu tidak ingin mengatakannya. Tapi apa bisa kamu katakan pada kami, apa isi suntikan itu telah masuk ke dalam tubuh Eden?"


Elina mengangguk.


"La_lalu, apa isinya berbahaya jika disuntik dalam jumlah sebanyak ini?" tanya Asyifa lagi, sambil memegang keempat suntikan itu.


Elina pun kembali mengangguk.


"Sialan! Apa tidak bisa kamu katakan saja, apa sebenarnya isi dari semua suntikan itu?! Atau kamu lebih ingin dibawa ke kantor polisi dan menjawabnya disana?!" ancam Raka.


"Ti_tidak! Kalian sudah berjanji, kalau tidak akan pernah melaporkanku ke pihak berwajib tentang kasus ini. Kalian tidak bisa seenaknya mengingkari janji yang sudah kalian katakan!" jawab Elina panik, pada akhirnya bisa juga mengeluarkan suaranya.


"Siapa yang berjanji seperti itu? Bukannya kamu hanya mendengar Asyifa seorang yang mengatakannya, dan bukan kami semua kan? Kalau begitu, tentu tidak ada masalah kalau aku tetap ingin melaporkanmu, karna aku tidak pernah berjanji sama sekali!"


"Tidak! Aku tidak mau, tolong jangan laporkan aku ke pihak berwajib. Aku tidak mau sampai harus masuk ke dalam penjara, dan membuat semua yang telah aku capai selama ini dalam hidupku dengan susah payah, harus hancur begitu saja"


"Kalau memang tidak ingin dilaporkan, maka cepat katakan apa sebenarnya isi dari semua suntik ini!" pinta Raka sekali lagi.

__ADS_1


"I_isinya, o_obat tidur"


Bersambung..


__ADS_2