The Ugly Wife

The Ugly Wife
Ditolak pengadilan


__ADS_3

Malam ini adalah pertama kalinya Zidan dan Lilian, menerima undangan makan malam bersama Marcel dan juga Kinara, dalam rangka merayakan ulang tahun mantan suami Lilian itu.


Zidan dan Lilian menatap wajah dua orang dihadapannya dengan tatapan acuh tak acuh. Namun tak bisa dipungkiri, dari tatapan Zidan juga menyiratkan adanya rasa penasaran.


Zidan merasa penasaran akan wajah cantik Kinara yang nampak sedikit bengkak dan dihiasi oleh lebam yang hampir hilang. Hal itu terlihat seolah adalah bekas dipukuli oleh seseorang, namun entah siapa.


Zidan hanya bisa menatap wajah ayahnya dengan tatapan bertanya, namun pria tua itu malah berbalik menghindari tatapan Zidan, dan pura-pura sibuk dengan buku menu yang ada ditangannya.


"Kenapa kamu membuka buku menu? Aku kira, kamu sudah memesan semua makanan untuk malam ini" tanya Lilian yang sadar akan tingkah Marcel yang aneh.


"Aku memang sudah memesan semuanya, tapi aku juga ingin menawarkan pada kalian, untuk menambah pesanan jika ada makanan yang kalian inginkan lagi di daftar menunya"


"Tidak perlu repot-repot. Aku dan Zidan hanya akan memakan sedikit makanan yang kamu pesan, kemudian pamit pulang. Bukan begitu Zidan?" tanya Lilian sinis, yang langsung disetujui oleh Zidan dengan anggukan kepala.


"Kenapa secepat itu bunda? Tolong tinggalah sedikit lebih lama lagi untuk malam ini, Pasti akan lebih menyenangkan" bujuk Kinara lembut.


"Ada apa dengan wajahmu, Kinara? Kenapa bisa seperti itu?"


Mendengar pertanyaan Zidan, Kinara dan Marcel seketika sama-sama menjadi terkejut. Marcel yang sedang meneguk air minum, langsung terbatuk berulang kali. Sedangkan Kinara hanya bisa bergerak-gerak dengan gelisah, tidak tahu harus menjawab apa.


"Oh iya, beberapa minggu yang lalu aku juga tanpa sengaja melihat kamu dan ayah datang ke rumah sakit. Memangnya, siapa yang sakit waktu itu?" lanjut Zidan.


"Ka_kamu, kamu melihat ayah dan Kinara di rumah sakit? Ah, mungkin kamu hanya salah lihat, ayah dan Kinara tidak pernah pergi ke rumah sakit dalam dua bulan terakhir ini"


"Iya Zidan, yang dikatakan ayahmu benar. Mungkin kamu hanya salah lihat waktu itu"


"Tidak mungkin, aku yakin kalau itu adalah ayah dan juga Kinara. Aku bahkan sampai mendatangi sendiri dokter yang kalian temui untuk memastikannya langsung"


"Kenapa kamu mendatangi dokter yang kamu datangi?! Apa kamu tidak punya pekerjaan lain?!" tanya Marcel marah, dan tanpa sadar memukul meja.


"Hei, kenapa kamu semarah itu pada Zidan? Seharusnya kamu bersyukur Zidan bersikap begitu, karna itu tandanya dia masih peduli padamu yang adalah ayahnya! Meskipun kelakuanmu di masa lalu, sangat memalukan dan tak termaafkan!"


"Ma_maaf. Aku bukannya marah, tapi hanya sedikit terkejut"


"Jadi benar, kalau kalian pergi ke rumah sakit hari itu? Siapa yang sakit, apa itu kamu yang sakit Kinara? Kenapa kamu sampai harus melakukan rontgen segala?"


Kinara menatap wajah Zidan dengan tatapan haru, karna dirinya merasa Zidan masih sangat peduli akan apa yang terjadi padanya. Pria itu bahkan sampai bersusah payah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Itu membuat Kinara tidak bisa untuk tidak semakin mencintai dan merindukan sosok Zidan. Ingin rasanya, ia berlari ke pelukan Zidan dan menceritakan semuanya.


Namun tiba-tiba, Kinara memekik pelan seolah menahan sakit. Ternyata dari balik meja, Marcel menginjak ujung jari wanita itu dengan keras dan kemudian melemparkan tatapan mengancam.


Zidan dan Lilian yang memperhatikan semua yang terjadi diantara kedua orang itu, hanya bisa saling melempar tatapan heran. Biar bagaimana pun, Lilian adalah seorang wanita juga, ia tidak mungkin akan hanya menonton saja saat wanita lain disakiti.


"Kenapa Kinara, kenapa kamu berteriak seperti sedang menahan sakit?"


"Ah, tidak ada apa-apa bunda. Perut Kinara hanya sedikit kram saja" jawab Kinara cepat.


"Kamu yakin? Bukan karna seseorang yang ada di dekatmu, mencoba untuk membuatmu kesakitan?"


"Tidak bunda, tidak ada yang seperti itu. Aku kan duduk di sebelah Marcel, tidak mungkin suamiku sendiri akan bertindak kasar seperti itu padaku"


"Dia kan cuman suamimu, dan bukannya ibu yang melahirkanmu. Zaman sekarang, bahkan ibu kandung pun bisa menyiksa anaknya sendiri, apalagi yang tidak memiliki hubungan darah denganmu"


"Astaga, apa kamu mencurigai aku Lilian? Kamu kan juga sangat mengenal diriku, tida mungkin aku seperti itu"


"Siapa yang tahu, orang kan juga bisa saja berubah. Lihat saja wajah istri mudamu itu, bagaimana aku tidak curiga padamu?"


Marcel menatap wajah Kinara, dan mengutuk wanita muda itu dalam hatinya. Ia kesal karna Kinara tidak bisa menutupi bekas itu dengan riasan atau semacamnya.


Kinara yang takut dengan tatapan Marcel, hanya bisa menunduk sambil berusaha menutupi wajahnya dengan sebelah tangan.


"Kamu pikir, itu adalah ulahku? Astaga, kamu salah sangka Lilian. Kinara, coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi sayang"


"Ta_tapi, aku malu sayang"


"Apa kamu lebih senang jika melihat aku yang dikira melakukan itu padamu? Kamu tega sekali, sayang"


"Baiklah, aku akan cerita yang sebenarnya. Bunda, Zidan, bekas di wajah Kinara bukanlah ulah Marcel, tapi ulah teman Kinara yang juga sesama model"


"Kenapa dia melakukan itu padamu?" tanya Zidan cepat.


"Apa kamu merebut suaminya juga, sama seperti yang kamu lakukan padaku?"

__ADS_1


"Bu_bukan seperti itu, bunda. Teman Kinara hanya salah paham saja padaku, karna dia mengira aky menyukai pacarnya, tapi yang ada malah sebaliknya. Pacarnya lah yang menyukai Kinara secara sepihak"


"Mana mungkin kalau hanya seperti itu, kamu bisa mendapatkan bekas pukul separah itu. Dan kalau dilihat-lihat, itu bukan bekas pukulan wanita atau seorang gadis, tapi itu lebih ke pukulan seorang pria"


"Temanku itu memang memiliki sifat yang mudah sekali marah, jadi sebelum tahu yang sebenarnya terjadi, dia sudah main pukul. Selain itu, dia juga pernah mengikuti bela diri, jadi bekasnya seperti ini bunda"


"Oh, begitu" jawab Lilian, kembali bersikap cuek. Namun dalam hatinya, ia masih sedikit merasa ragu.


Keempat orang itu pun kemudian menikmati makan malam dalam diam. Acara ulang tahun Marcel, juga berjalan dari awal hingga akhir dengan suasana yang terasa sangat aneh.


*****


Zidan memarkirkan mobilnya di parkiran gedung pengadilan. Pria itu kemudian keluar, dan berjalan mencari sosok Asyifa yang sudah menunggunya.


Yah, hari ini adalah hari dimana Asyifa akan mengajukan perceraian terhadap William. Namun, belum sejam berlalu sejak wanita itu meminta ijin untuk pergi, dirinya sudah menelpon Zidan untuk memminta bantuan.


Belum juga mendengar detail apa yang terjadi, Zidan malah bertanya dimana Asyifa berada, dan langsung bergegas mendatangi wanita itu.


"Asyifa!"


"Pak Zidan, bapak sudah datang? Kok cepat sekali, perasaan baru beberapa menit yang lalu aku menghubungi bapak" ucap Asyifa nampak terkejut.


"Kebetulan aku sedang ada di dekat sini, jadi bisa cepat sampainya"


"Padahal bapak tidak perlu sampai repot mendatangiku seperti ini, kita kan masih bisa berbicara lewat telepon pak"


"Tidak repot kok, lagian ini kan untuk masalah yang penting, jadi aku harus menemui dirimu secara langsung. Bagaimana kalau kita mencari tempat nyaman untuk berbicara?"


"Kita ke cafe, tempat tadi aku menunggu bapak saja" tawar Asyifa, sambil menunjuk ke arah cafe yang tak jauh dari sana.


"Boleh, ayo ke sana"


Keduanya pun berjalan ke arah cafe tersebut. Setelah Zidan memesan minuman dan makan siang, karna kebetulan sudah waktunya jam makan siang, barulah keduanya memulai pembicaraan tentang masalah Asyifa.


"Apa yang terjadi?"


"Entahlah pak, aku juga tidak mengerti. Tapi yang pasti, berkas yang aku ajukan ditolak begitu saja"


"Ditolak? Kenapa bisa begitu, memangnya apa alasan mereka menolaknya?" tanya Zidan heran.


"Aneh. Tidak biasanya, ada berkas yang langsunh ditolak begitu dimasukkan. Bahkan belum lewat setegah jam"


"Apa ini semua adalah ulah William, sampai berkasku ditolak seperti itu pak?" tanya Asyifa terlihat berharap.


"Aku berkata seperti ini, bukan karna ingin menyakiti hatimu atau pun menghalangimu berharap Asyifa. Tapi untuk apa William melakukan semua itu? Bukannya kamu juga melihatnya sendiri, kalau dia lebih memilih wanit itu dibandingkan dirimu?"


"Benar juga, kata pak Zidan. Maafkam aku pak, karna dengan bodohnya sudah berharap untuk sesuatu yang jelas-jelas, mustahil terjadi"


"Jangan bicara seperti itu, Asyifa" ucap Zidan merasa bersalah, melihat wajah sedih Asyifa.


"Lupakan saja, ucapanku barusan pak. Yang ingin aku tanyakan sekarang adalah, apa pak Zidan bisa membantuku agar berkas yang ku ajukan ini, bisa diterima oleh pengadilan?"


"Tentu saja aku akan membantumu, berikan saja berkasmu padaku. Biar nanti aku yang akan mengajukannya langsung, melalui orang kenalanku yang ada di pengadilan"


"Benarkah pak? Terima kasih banyak pak Zidan, untung saja aku kenal dengan orang penting seperti bapak"


"Dasar, kamu bisa saja memujinya. Tapi aku perhatikan, kamu sepertinya sekang sekali saat aku bilang bisa membantumu agar berkasmu diterima. Apa kamu sudah yakin untuk berpisah dari William?"


"Aku sudah yakin, pak. Aku tidak ingin egois, dengan memaksa seseorang untuk tinggal disampingku, ketika orang itu tidak ingin melakukannya. Aku memang belum bisa mengucapkan selamat padanya, yang sudah menemukan cintanya yang telah lama hilang. Tapi dengan membuatnya bebas secepat mungkin, itu berarti aku sudah menunjukkan bukti kalau aku mendukung dirinya"


Mendengar penjelasan Asyifa, Zidan hanya bisa terdiam sambil memandangi wajah wanita itu dengan tatapan kagum. Hal itu juga membuat Zidan semakin jatuh cinta pada Asyifa.


"Pak Zidan? Bapak?" panggil Asyifa pada Zidan yang masih diam saja.


"Eh, iya Fa. Ada apa?"


"Fa? Pak Zidan baru saja memanggilku dengan panggilan Fa, seperti yang biasa Mira dan Angel lakukan?"


"Memangnya iya?" tanya Zidan tak sadar.


"Iya, baru saja bapak seperti itu"


"Begitu yah. Ya sudah, kalau begitu mulai sekarang jika kita sedang berada diluar perusahaan, kita berbicara sambil memanggil nama masing-masing saja"

__ADS_1


"Eh, kok begitu? Bukannya, tidak nyaman yah pak? Aku kan bawahannya pak Zidan"


"Astaga, kamu itu harus mencontohi Angel dan juga Mira. Mereka berdua nyaman saja bersikap begitu, kenapa kamu tidak? Apa karna kamu menyukaiku yah?" goda Zidan.


"Tidak usah aneh-aneh deh pak. Baiklah, aku akan bersikap santai dengan pak Zidan kalau kita berada diluar perusahaan!"


"Santai dong, Fa" ucap Zidan nyengir.


"Oh iya, tadi kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?"


"Tidak ada yang aneh, kamu bahkan terlihat sangat cantik sekali"


"Hmm, begitu yah? Kamu pasti aslinya adalah seorang tukang gombal yang handal yah, makanya bisa pintar menggoda wanita. Bahkan yang sudah mau berstatus janda, seperti aku!" sindir Asyifa dengan nada bercanda.


Zidan yang disindir, malah asyik tertawa saat melihat ekspresi Asyifa. Pria itu bahkan sampai harus memengangi perutnya, karna saking lucunya.


"Aku baru pertama kali melihatmu tertawa lepas seperti ini. Kamu harus sering-sering tertawa, Zidan"


"A_apa? Apa, kamu baru saja memanggil namaku barusan?"


"Iya"


"Bisa coba panggil sekali lagi?"


"Zidan" ulang Asyifa, sambil menatap wajah Zidan yang mulai memerah.


"Sekali lagi"


"Zidan"


Dan saat itu juga, wajah Zidan menjadi semakin memerah seperti kepiting rebus. Ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik meja.


Asyifa yang melihat hal itu, seketika sadar akan kebenaran omongan Angel dan Mira yang mengatakan, kalau bosnya itu memang menyukai dirinya. Namun, Asyifa memilih untuk pura-pura tidak menyadari hal itu.


Karna untuk saat ini, dirinya tidak ingin terlibat dalan percintaan dengan siapa pun itu. Biarlah untuk sementara waktu, ia hanya fokus mengurus perceraian dan kemudian menikmati waktu luangnya seorang diri.


"Ya ampun, lihatlah siapa ini yang kita temui disini Aliya! Ternyata, bukan cuman pacarmu William yang berselingkuh, tapi istrinya juga!" ucap Zenith yang tiba-tiba muncul bersama dengan Aliya, entah dari mana.


"Hai Zenith, lama tidak bertemu denganmu. Apa kamu sudah tidak terobsesi dengan William, hingga kamu bisa sedekat itu dengan pacar William?" balas Asyifa, yang tak mau diam saja disindir seperti itu.


"Supaya kamu tahu, aku sudah lama tidak lagi menyukai William. Sekarang aku sedang membantu William dan Aliya, untuk segera menyiapkan pernikahan mereka, begitu kamu dan William resmi bercerai. Benar kan Aliya?"


"I_iya"


"Baguslah kalau begitu. Tapi mungkin apa yang kalian inginkan itu akan memakan waktu sedikit lebih lama, karna baru saja orang dari pengadilan menolak untuk menerima berkas yang diajukkan oleh Asyifa" jelas Zidan, yang tanpa terduga menyela pembicaraan.


"Siapa kamu?!" tanya Zenith dengan ekspresi tak bersahabat.


"Perkenalkan, namaku adalah Zidan, dan aku adalah bos di perusahaan tempat Asyifa bekerja"


"Lalu, apa maksudmu tadi kalau berkas yang diajukan oleh Asyifa ditolak pengadilan?"


"Yah, maksudnya seperti itu"


"Kenapa bisa? Bicaralah yang jelas!" pinta Zenith tak sabaran.


"Mana aku tahu, tanyakan saja langsung ke pengadilan! Tapi kalau menurut tebakanku, mungkin saja dari pihak William, ada yang mencoba untuk menghalangi perceraian antara Asyifa dan juga William"


"Tidak mungkin, pihak William melakukannya. Itu pasti ulahmu kan, Asyifa? Kenapa kamu selalu berusaha merebut William dengan segala cara licikmu?"


Zenith yang terlihat emosi dan tidak terima dengan kabar yang dikatakan Zidan, dengan kasar langsung menarik rambut Asyifa sekuat tenaga. Membuat Asyifa hanya bisa merintih menahan sakit.


"Zenith, hentikan. Jangan buat keributan di tempat umum, ayo lepaskan rambut Asyifa" pinta Aliya yang mencoba menjauhkan Zenith dari Asyifa, dibantu oleh Zidan.


"Apa-apaan kamu, tiba-tiba bertinda kasar seperti itu pada Asyifa? Apa kamu mau aku laporkan ke polisi?" marah Zidan ketika Zenith telah berhasil dipisahkan dari Asyifa.


"Jangan. Aku mohon jangan laporkan Zenith ke polisi, aku minta maaf atas apa yang sudah dilakukannya barusan pada Asyifa"


"Jangan bicara padaku, kalian berdua sama saja! Sama-sama tidak waras, yang satu merebut suami orang, dan yang satunya lagi menyerang orang tanpa alasan! Ayo kita pergi dari sini, Asyifa"


Zidan yang tidak ingin Asyifa lebih lama berhadapan dengan dua wanita itu, meraih tangan Asyifa dan segera berjalan pergi dari sana.


Namun, suara-suara teriakan dan sumpah serapah Zenith, masih bisa terdengar di gendang telinga Asyifa. Membuat wanita itu hanya bisa mengelus dadanya, untuk bersabar.

__ADS_1


"Awas kamu Asyifa! Pokoknya, kamu harus bercerai secepatnya dari William! William itu sudah tidak menyukai dirimu lagi, jadi jangan berusaha untuk menahan dirinya disisimu, dasat wanita murahan!" teriak Zenith dengan penuh emosi.


Bersambung...


__ADS_2