The Ugly Wife

The Ugly Wife
Diikuti


__ADS_3

Sinar matahari pagi yang masuk lewat jendela kamar yang sedikit terbuka, mengenai wajah Eden, membuat pria itu perlahan membuka kedua matanya.


Langit-langit kamar berwarna putih yang terasa familiar menyambut dirinya, membuat Eden segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


Rumah sakit. Dirinya kini berada di dalam rumah sakit tebak Eden, begitu selesai dengan pengamatannya. Tapi siapa? Siapa yang telah membawanya ke tempat ini?


Karna jika itu adalah Elina, maka itu terasa tidak mungkin. Sedari kecil, gadis itu memang selalu nekat melakukan suatu hal yang berbahaya ketika marah. Namun untuk bisa sampai mengakui semua perbuatannya, Elina tak pernah berani.


Elina bahkan lebih memilih untuk mencari kambing hitam yang bisa disalahkannya, dari pada harus mengakui dan berakhir dengan mendapat hukuman atas semua perbutannya.


Tapi jika benar Elina lah yang membawa Eden ke rumah sakit karna khawatir dengan kondisi pria itu, maka Eden merasa sangat bersyukur, karna itu tandanya Elina telah jauh berubah.


Senyum bangga terukir jelas dibibir Eden saat dirinya memikirkan kemungkinan itu. Namun semuanya berubah ketika Eden merasakan ada sesuatu yang sedang menindas sebelah tangan miliknya.


Ketika menolehkan pandangannya ke tangan tersebut, Eden melihat wajah Asyifa yang sedang tertidur lelap dalam posisi duduk disamping ranjang rumah sakit, tempatnya berbaring.


"Asyifa? Apa yang dia lakukan disini, kenapa malah memilih tidur dalam posisi tidak nyaman seperti itu?" gumam Eden bingung.


"Itu karna dia sangat khawatir terhadap keadaanmu, dan bahkan bersikeras untuk tetap menemanimu disini dan tidak pulang" jawab Zidan, yang baru saja keluar dari dalam toilet yang ada dalam kamar rawat Eden.


"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kalian berdua ada disini, dan bertemu denganku? Apa karna saking khawatirnya, Elina dengan sadar telah mengakui kesalahannya dan mengabarkan kalau aku tengah dirawat disini kepadamu dan juga Asyifa?"


"Apanya yang merasa khawatir, wanita gila itu bahkan hanya memikirkan tentang kebebasan dirinya, disaat tubuhmu sedang tergeletak pingsan dengan keadaan basah kuyup" cibir Zidan kesal.


"Ah, ternyata sifat dan kebiasaannya masih sama saja seperti yang dulu. Padahal saat aku terjatuh ke dalam bak penuh berisi air itu dan hampir kehilangan kesadaranku, aku sempat memikirkan akan seberapa khawatir Elina padaku nantinya. Tapi ternyata semua itu tidak ada gunanya sama sekali" ucap Eden sedih, sambil menutup wajahnya dengan sebelah tangannya yang bebas.


"Aku pikir mungkin dia juga merasa khawatir pada kondisimu saat itu. Tapi tak sebesar rasa takutnya yang memikirkan nantinya akan dilaporkan ke pihak berwajib, dan juga masuk penjara atas semua kesalahannya padamu"


"Yah, dia memang selalu seperti itu sejak dulu kami masih kecil. Selalu melakukan tindakan berbahaya dan juga nekat dalam suasana hati yang buruk, tapi tidak pernah ingin mendapat hukuman atas semua itu"


"Apa kalian berdua pernah berteman baik?" tanya Zidan penasaran.


"Tidak juga. Tapi aku melindunginya dari kejahatan ibuku, karna sebenarnya memiliki perasaan khusus terhadapnya"


"Aku mencintainya? Apa itu juga yang menjadi alasanmu tidak ingin aku dan Asyifa sampai tahu kalau kamu mengenalinya, saat pertama kali dia datang ke panti, dan mengaku-ngaku sebagai perawatmu?" mau tidak mau, Zidan merasa sedikit terkejut.


"Kalau ditanya apa aku masih menyukainya sampai sekarang, mungkin jawabanku adalah sedikit. Tapi jika ditanya kenapa aku tidak mengatakan kalau mengenalinya waktu itu, maka jawabannya adalah karna aku sungguh merasa bersalah kepadanya, atas kematian Elisa sebagai korban terakhir ibuku"


"Kenapa? Bukannya waktu itu kamu sudah setuju bahwa dirimu juga merupakan korban atas semua kejahatan ibumu? Bukan inginmu kan jika Elisa harus tewas mengenaskan, jadi kenapa merasa bersalah?"


"Karna Elina menitipkan Elisa kepadaku. Elina bilang, setelah dia sukses dengan pekerjaan yang dijalaninya saat ini di kota, dan juga jika dia sudah berhasil menikah dengan pacarnya, dia akan segera menjemput Elisa supaya bisa hidup bahagia bersamanya"


"Oke, aku mengerti kalau kamu merasa bersalah karna diberi amanat untuk menjaga Elisa, tapi kamu juga mempunyai kehidupan sendiri, dan tidak mungkin bisa mengawasi Elisa setiap saat" protes Zidan, tetap tak ingin Eden merasa bersalah.


"Semua perkataanmu ada benarnya, kalau saja aku tidak tahu tentang semua rencana pembunuhan Elisa. Tapi pada kenyataannya, aku mengetahui dan juga menyaksikannya sendiri dengan kedua mataku! Itu yang selalu membuatku merasa bersalah pada Elisa dan juga pada semua korban"


Mendengar penjelasan Eden, Zidan yang tidak berada di posisi tersebut tapi bisa merasakan seperti apa perasaan Eden yang terbelenggu rasa bersalah, terdiam tanpa tahu harus mengatakan apa.


Ingin rasanya Zidan mengatakan sesuatu yang sekiranya dapat meringankan semua rasa bersalah, atau menghilangkannya dari dalam hati pria itu.


Namun sebuah kenyataan menamparnya, bahwa itu tidak mungkin bisa dilakukannya. Karna hal yang bisa membuatnya menjadi nyata, adalah dengan mengubah takdir Eden untuk tidak dilahirkan oleh wanita yang kini berstatus sebagai ibunya.


Dalam keheningan yang panjang dan terasa sangat tak nyaman itu, sebuah sentuhan yang tiba-tiba saja menyentuh tangan Eden, segera memecah kehinangan tersebut.


Asyifa, wanita itu kini telah mengangkat wajahnya dan tengah memandangi wajah Eden lembut dengan seulah senyum indah menghiasi bibirnya.


"Asyifa, kamu sudah bangun? Apa kamu terbangun karna mendengar suaraku dan kak Zidan yang tengah berbicara?" tanya Eden, terlihat sedikit merasa tak enak hati.


"Tidak. Aku memang sudah terbangun sejak tadi, cuman sedang malas saja mengangkat kepalaku untuk melihat kalian berdua. Oh iya, apa kamu tidak keberatan aku memegang tanganmu?"


"Kalau aku sih sama sekali tidak masalah, tapi mungkin yang merasa masalah adalah kak Zidan, Asyifa. Apa kamu tidak takut dengan kemarahan kak Zidan nantinya?"

__ADS_1


"Aku rasa Zidan tidak akan marah, karna dia juga pastinya tahu kalau ini adalah sentuhan sebagai sebuah dukunganku terhadapmu"


"Dukungan?"


"Iya, dukungan. Aku rasa tidak masalah jika kamu ingin menaruh rasa bersalah pada Elisa dan juga semua korban di dalam hatimu. Tapi cukup dalam waktu yang sewajarnya, karna seperti orang yang sedang berkabung dalam sebuah kematian, hidupmu juga perlu saatnya untuk memulai lembaran baru"


Tanpa sadar, setetas air mata mengakir turun membasahi wajah Eden. Entah mengapa, saat mendengar semua perkataan Asyifa barusan, hati pria itu merasa sedikit longgar.


Bukan longgar karna rasa bersalahnya telah berkurang, tapi karna semua perasaan itu sudah diwajarkan untuk bisa menetap selama beberapa saat disana.


Zidan yang melihat hal itu, seketika menjadi sedikit paham akan perasaan Eden. Mungkin dibandingkan dengan sebuah kata hiburan yang mengatakannya tidak bersalah sama sekali atas semua kejadian itu, Eden lebih membutuhkan pengakuan atas rasa bersalah yang membelenggunya.


"Terima kasih Asyifa, terima kasih. Terima kasih karna sudah mau mendukungku untuk merasa bersalah pada mereka semua, aku janji tidak akan menahannya terlalu lama" ucap Eden haru.


"Sama-sama Eden. Ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan, tapi jika sudah saatnya untuk melepaskannya, maka kamu pun harus iklas melepaskannya"


Sebuah pelukan hangat, Asyifa berikan pada Eden sebagai penutup atas semua dukungan yang baru saja diberikannya. Zidan yang senantiasa menonton interaksi keduanya, tak ingin ketinggalan dan ikut-ikutan memeluk Eden juga seperti Asyifa.


"Astaga, apakah aku sudah datang di waktu yang salah untuk memeriksa keadaan pasien di ruangan ini?" tanya sebuah suara dari arah pintu kamar.


"Ah, dokter. Ternyata ini sudah waktunya Eden harus diperiksa yah? Maafkan aku dan juga Zidan, yang menghambat tugas dokter" ucap Asyifa melepaskan pelukan dari Eden.


Zidan yang memeluk setelah Asyifa pun dengan terpaksa harus melakukan hal yang sama seperti tunangannya, dan membiarkan dokter segera memerika kondisi Eden.


"Tidak apa-apa bu Asyifa. Pasien seperti pak Eden ini, memang sangat membutuhkan banyak perhatian dan juga dukungan dari orang-orang terdekatnya. Tapi bolehkan, aku memeriksanya sekarang?"


"Tentu saja dok"


Asyifa dan Zidan memilih untuk berjalan menjauh sedikit dari ranjang Eden, supaya bisa memberikan cukup ruang bagi pria yang berprofesi sebagai dokter itu.


Untuk beberapa saat tidak ada satu pun yang berbicara karna sibuk melihat setiap gerakan pemeriksaan yang dilakukan dokter terhadap Eden. Asyifa dan juga Zidan menanti dengan cemas.


"Syukurlah, ternyata keadaan pak Eden sudah lumanyan membaik dari kemarin saat datang ke rumah sakit ini. Semoga dalam beberapa hari lagi, pak Eden sudah bisa pulang"


"Sama-sama. Kalau begitu, aku permisi dulu untuk memeriksa pasien lain" pamit dokter tersebut, meninggalkan ruangan Eden.


*****


Sejak kejadian Eden dibawa pergi ke rumah sakit oleh Asyifa dan yang lainnya, Elina yang tak kunjung mendapat kabar tentang apa yang akan terjadi padanya, menjadi semakin menggila.


Gadis itu bahkan mengunci semua pintu rumahnya, dan juga mematikan total ponsel miliknya. Bahkan saat kedatangan sang pacar pun, Elina tetap bertahan di dalam sana dan tidak ingin keluar.


Merapikan rumahnya yang berantakan, dan juga membersihkan diri pun tak bisa Elina lakukan, karna otaknya terus-terusan memikirkan akan bagaimana nasibnya nanti.


"Tidak, aku tida bisa berdiam diri terus di dalam rumah seperti ini. Bisa-bisa aku mati karna stres!" gumam Elina.


Dengan masih menggunakan seragam rumah sakitnya, Elina meraih ponsel dan juga tas yang berisikan beberapa barang penting, lalu berjalan keluar dari rumah.


Yah, Elina berniat untuk mencari dimana keberadaan Asyifa dan juga teman-temannya saat ini. Sebelum pergi, Elina mengunjungi tempat penyewaan mobil yang berada tak jauh dari rumahnya.


"Elina, ada apa datang kesini? Apa kamu ingin menyewa mobil lagi seperti sebelumnya?" sapa seorang pria, yang sepertinya pemilik tempat tersebut.


"Iya kak. Aku ingin menyewa mobil yang sama seperti sebelumnya pernah aku sewa. Tapi untuk kali ini, mungkin akan memakan waktu beberapa lama. Apa bisa?"


"Tentu saja bisa, selama kamu juga bisa membayarnya sesuai harga. Kalau boleh tahu, berapa lama kamu ingin menyewanya?"


"Seminggu. Untuk pembayarannya, akan aku transferkan lewat rekeningku, jadi kakak tidak perlu khawatir"


"Baiklah. Akan aku suruh pekerjaku untuk membawa keluar mobilnya sekarang juga" ucap pria itu, sambil berlalu pergi.


Tak lama kemudian, pria itu kembali dengan menumpangi sebuah mobil berwarna hitam yang dikendarai oleh seorang pria lainnya, yang terlihat seperti pekerja disana.

__ADS_1


Setelah selesai menerima pembayaran dari Elina di rekeningnya, pria itu pun memberikan kunci dari mobil hitam tersebut kepada Elina untuk bisa dibawa pergi.


"Terima kasih kak. Aku pasti akan membawa mobilnya kembali setelah waktu sewanya habis terpakai"


"Iya, sama-sama Elina. Oh iya satu lagi, tolong mobilnya jangan dipakai untuk sesuatu yanh berbahaya yah, misalnya seperti melakukan tindakan kriminal. Oke?"


Meski selalu mendengar ucapan itu dari sang pemilik tempat sewa saat akan menyewa mobil, tapi entah mengapa sekarang saat mendengarnya lagi, membuat perasaan Elina menjadi sedikit kesal.


Mungkin karna gadis itu memang ingin memakai mobil tersebut untuk melakukan hal yang tak jauh dari perkataan pemilik mobil, makanya membuat perasaannya menjadi seperti itu.


"Tenang saja kak, itu tidak akan mungkin aku lakukan. Aku kan harus menjaga nama baikku sebagai pacar seorang pria kaya" jawab Elina setegah bercanda.


"Hahahaha, dasar kamu ini. Semua orang di lingkungan ini juga sudah mengetahuinya kalau kamu sebentar lagi akan menikah dan menjadi orang kaya. Yah, pokoknya gunakan seinginmu saja lah"


"Baik kak, sekali lagi terima kasih"


Setelah obrolan bas-basi itu, Elina pun masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi dari sana sambil menahan rasa kesal yang masih ada dalam hatinya.


Merasa telah aman dari penglihatan orang, Elina mengeluarkan ponselnya dan mulai melihat sebuah lokasi dari satu lagi alat pelacak tersisa, yang pernah dipasangnya untuk mengawasi Asyifa dan juga Zidan, serta teman-teman keduanya.


"Untung saja alat pelacak yang satu ini tidak mereka lepaskan, jadi untuk sementara aku awasi saja sampai bisa mendapatkan alamat pasti rumah sakit dimana Eden dirawat" putus Elina, tak mempunyai pilihan lain.


Dengan kecepatan tinggi, ia membawa mobil tersebut menuju ke arah sebuah bangunan aperteman yang cukup mewah, untuk mulai menjalankan rencananya.


Sejam, dua jam, hingga lima jam berlalu, namun tak ada satu pun kemajuan yang bisa Elina dapatkan dari usahanya untuk berada disana.


Saat tepat pukul 8 malam, barulah sebuah pergerakan terlihat pada layar ponselnya, bahwa mobil yang dipasangi alat pelacak itu sedang berjalan keluar dari parkiran.


Tanpa membuang waktu lagi, Elina segera menghidupkan mobilnya sendiri dan mulai mengikuti mobil tersebut, saat mobil itu berjalan melewatinya.


"Semoga saja tujuan mereka pergi saat ini, adalah ke tempat dimana Asyifa dan juga Eden berada" ucap Elina dengan penuh harap.


Namun pada akhirnya, hanya kekecewaan yang didapatkan oleh Elina. Karna kedua gadis yang diikutinya dengan susah payah sejak tadi, hanya ingin pergi ke sebuah cafe untuk mencari makan malam.


Mungkin itulah yang terpikirkan oleh Elina, tapi yang sebenarnya terjadi adalah, Angel dan juga Mira sengaja memilih berhenti di cafe, karna menyadari bahwa keduanya sedang diikuti oleh seseorang.


"Apa benar mobil itu mengikuti kita, Ra?" tanya Angel cemas.


"Sudah pasti dia mengikuti kita. Lihat saja, mobilnya juga berhenti tepat dibelakang mobil milikmu"


"Tapi kan, bisa saja dia memang memiliki tujuan untuk datang ke cafe ini, dan bukan sedang mengikuti kita. Aku rasa kamu cuma terlalu sensitif saja"


"Tidak mungkin Angel. Kalau memang cafe ini adalah tujuan perjalanannya sejak tadi, lalu kenapa dia tidak keluar juga dari dalam mobil dan masuk kesini seperti kita berdua?"


"Atau bisa saja, dia sedang berhenti sejenak untuk menelpon seorang kenalannya? Karna aku juga sering seperti itu" tebak Angel lagi, berusaha tetap berpikir positif.


"Baiklah, anggap saja kalau dia memang tidak sedang mengikuti kita. Tapi supaya semakin yakin lagi, bagaimana kalau kita memastikan hal itu lebih lanjut?"


"Caranya?"


"Kita memesan makanan yang ingin kita makan, kemudian kembali lagi ke apertemen dan tidak jadi pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Eden. Kalau dia tidak mengikuti kita pulang ke apertemen, berarti benar dia tidak mengikuti kita. Tapi kalau sampai yang terjadi malah sebaliknya, maka dugaanku lah yang benar" usul Mira cerdik.


"Boleh juga"


Kedua gadia itu pun mulai memesan menu yang mereka inginkan untuk dibawa pulang ke apertemen, lalu berjalan keluar dari cafe seperti biasa.


Sambil asyik bercerita dan sesekali tertawa, keduanya masuk kembali ke dalam mobil dan bersiap pergi dari sana.


Benar saja, saat Angel menghidupkan mobil dan membawanya keluar ke jalan raya, mobil yang dicurigai mengikuti keduanya pun ikut melakukan hal yang sama.


"Sialan! Lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti pada si pengendara mobil itu, saat kita telah sampai di depan gedung apertemen!" ucap Mira kesal, karna dugaannya benar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2