The Ugly Wife

The Ugly Wife
Menemukan alat pelacak


__ADS_3

Sudah 3 hari berlalu sejak Eden menghilang dan diculik oleh wanita yang mengaku sebagai perawatnya, namun tidak ada satu pun petunjuk yang di dapat dari pencarian Zidan dan yang lainnya.


Meski begitu, Zidan tetap harus pergi bekerja seperti biasa dengan Asyifa di perusahaanya, mengingat masih banyak karyawan yang membutuhkan perhatian dan juga gaji dari dirinya.


Peristiwa hilangnya Eden juga secara sengaja dirahasiakan mereka dari para anak panti. Karna Asyifa dan Zidan khawatir, anak-anak itu akan menjadi cemas berlebihan yang akan memberikan efek buruk pada perkembangan mereka.


Oleh karna itu, Asyifa mengatakan bahwa Eden dibawa kembali ke rumah sakit, karna harus menjalani beberapa tes tambahan lagi, dan akan kembali seminggu atau lebih.


"Apa masih tidak ada informasi kemajuan sama sekali dari pihak berwajib atau pun dari Adam dan juga Raka?" tanya Asyifa, kepada Zidan yang sedang menyetir disampingnya.


"Belum ada, Fa. Mereka sudah mencari bukti atau petunjuk yang sekiranya bisa membawa kita pada Eden, namun sampai saat ini hasil yang didapatkan masih nihil"


"Ya tuhan, bagaimana bisa seperti ini jadinya! Tapi yang tidak aku mengerti, bagaimana bisa dia mengetahui segala sesuatu tentang siapa kita dan juga mengetahui bahwa Adam lagi mencari seorang perawat untuk Eden"


"Aku curiga, kalau wanita itu adalah orang yang telah cukup lama memperhatikan setiap gerak-gerik kita semua. Bisa saja di memiliki dendam tersendiri pada Eden"


"Dendam? Dendam apa, memangnya Eden sudah melakukan kesalahan apa padanya? Aku perhatikan kemarin, Eden juga terlihat seperti baru pertama kali bertemu dengannya seperti kita berdua" protes Asyifa cepat.


"Aku rasa tidak"


"Kamu rasa tidak? Apa maksudmu, Eden bisa saja mengenalinya atau pun pernah bertemu dengannya, begitu?"


"Iya, bisa jadi keduanya. Karna waktu perawat itu datang, aku sedang berada dibelakang kursi roda Eden dan bersiap mendorong, jadi saat itu aku bisa mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Eden ketika bertemu perawat gadungan tersebut"


"Apa yang dikatakan Eden?"


"Hanya satu kata yang simpel yang mungkin terdengat tak memiliki arti sama sekali, tapi dilihat dari gerakan tambahannya, aku bisa menduga dengan pasti bahwa dia juga kenal dengan sosok perawat itu"


"Memangnya apa yang Eden katakana? Dan apa gerakana tambahan yang dilakukannya? Coba katakan padaku!" pinta Asyifa semakin menjadi penasaran.


"Perkataan simpel Asyifa, hanya kata "eh" yang diakhiri dengan nada bertanya, sambil telunjuk kanannya menunjuk ke arah perawat gadungan. Hanya itu saja, tapi menurutmu apa artinya?"


"Bukannya seperti gerakan yang biasa kita lakukan saat bertemu seseorang yang sudah lama tidak pernah kita temui yah? Tapi kita sedikit lupa-lupa ingat pada wajah kenalan kita itu. Apa benar artinya begitu?" tanya Asyifa terlihat ragu.


"Benar sekali! Itu juga yang aku pikirkan saat melihatnya, tapi melihat gerakan Eden yang selanjutnya menggelengkan kepala dan mulai memperkenalkan diri juga seperti dua orang yang belum pernah kenal sebelumnya, membuatku tak ingin mengajukan pertanyaan padanya mengenai hal itu"


"Berarti, kita harus mengalihkan penyelidikan kepada orang-orang kenalan Eden yang sudah lama tidak bertemu dengannya. Dan yang pasti adalah wanita"


"Kamu benar, aku akan langsung mengatakan hal ini pada pihak berwajib dan juga pada Adam serta Raka. Supaya mereka langsung memulai penyelidikan"


"Kamu belum menceritakannya pada mereka semua? Aku pikir kamu sudah melakukannya sebelum mulai bercerita padaku"


"Maaf, tapi aku belum melakukannya. Karna aku baru saja terpikir tentang kemungkinan itu, saat sedang berbicara padamu"


"Ya sudah, sekarang kamu hubungi mereka semua dan berikan informasi yang sudah kamu temukan" pinta Asyifa cepat.


"Baik"


Tanpa banyak bicara lagi, Zidan meraih ponsel miliknya yang ia letakkan di tempat khusus ponsel dalam mobilnya, dan segera menghubungi kedua sahabatnya.


Setelah menjelaskan semuanya pada Adam dan juga Raka, Zidan pun beralih menelpon pihak berwajib untuk memberikan informasi yang sama pada mereka.


Baru saja telepon itu selesai, dan secara mendadak mobil Zidan juga berhenti begitu saja di tengah jalan menuju ke apertemen keduanya.


"Astaga, ada apa ini Zidan? Kenapa mobilmu tiba-tiba berhenti mendadak seperti itu?" tanya Asyifa sedikit terkejut.


"Aku juga tidak tahu. Mungkin saja bannya bocor atau malah mesinnya yang bermasalah, aku akan keluar untuk mengeceknya. Kamu tunggu lah disini"


"Iya, kamu jangan lama-lama"


Zidan segera turun untuk memeriksa apa yang salah dan sudah membuat mobilnya tiba-tiba saja berhenti secara mendadak.


Pada ban belakang mobilnya, Zidan akhirnya menemukan apa permasalahannya. Seperti dugaan, ada salah satu ban yang terlihat dalam keadaan penyok, kemungkinan sudah bocor sejak tadi.


Dengan kesal, Zidan menghubungi bengkel langganannya untuk datang ke tempatnya supaya bisa menyelesaikan permasalahan tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kamu sudah memeriksa keadaan mobilnya, apa yang terjadi?" tanya Asyifa, ketika Zidan sudah kembali masuk ke dalam mobil.


"Salah satu ban belakangnya ada yang bocor. Dan sepertinya sudah cukup lama bocornya, karna bannya terlihat penyok sekali"


"Kok bisa kita tidak menyadarinya sama sekali yah. Kalau begitu, kita harus segera mendorongnya menuju ke bengkel terdekat"


"Tidak perlu, mana mungkin aku akan tega membiarkan tunanganku mendorong mobil mogok pergi ke bengkel. Aku barusan tadi sudah menghubungi bengkel langgananku, supaya datang memperbaikinya. Jadi kamu tenang saja"


"Ah, ternyata begitu. Baguslah. Tapi nanti kita pulangnya pakai apa dong?"


"Asyifa, memperbaiki kebocoran ban mobil bukan sesuatu yang lama kok, jadi kamu tidak perlu sampai secemas itu untuk pulang" jawab Zidan, sambil mencubit gemas kedua pipi tunangannya itu.


"Tapi kenapa saat aku menemani Angel pergi ke bengkel karna ban mobilnya juga bocor, kami malah harus menunggu hampir satu jam lebih baru selesai?"


"Hmm. Aku ingin mengatakan ini, tapi kamu jangan mengomentariku dengan kata-kata pedis yah"


"Iya, iya, tidak akan. Memangnya kenapa, apa alasannya kami harus menunggu selama itu, padahal perbaikannya cepat saja?" tanya Asyifa dengan wajah serius.


"Aku rasa, itu karna kalian berdua adalah seorang wanita, dan tidak memiliki kelebihan di diri kalian yang bisa menunjukkan kalau kalian adalah orang kaya. Jadinya, kalian malah disuruh menunggu selama itu, demi bisa memberikan kesempatan pada orang yang lebih kaya"


"Wah, benar juga perkataanmu! Waktu itu memang ada orang-orang yang datangnya belakangan dari aku dan Angel, tapi malah diberikan pelayanan duluan! Itulah mengapa aku benci orang kaya, mereka selalu memakai kekayaannya untuk membuat orang lain yang berada dibawahnya menjadi kesusahan!"


Zidan yang awalnya hanya berniat main-main ingin membuat Asyifa kesal padanya, malah menerima perkataan menohok dari wanita itu tentang bagaimana tak sopannya orang-orang kaya seperti dirinya.


Mau tidak mau, Zidan hanya bisa diam seribu bahasa mendengar gerutuan Asyifa yang masih tetap berbunyi disampingnya dengan semangat yang berapi-api.


"Ya, ya, ya, aku minta maaf. Kami orang kaya memang sangat tidak sopan pada kalian yang adalah kaum tak mampu" jawab Zidan, yang langsung menghentikan gerutuan Asyifa.


"Eh? Kamu marah yah? Astaga, jangan bilang kalau kamu mengira semua ucapanku yang barusan itu untukmu?"


"Tentu saja, aku kan juga termaksud dari bagian orang kaya itu, meskipun tidak kaya sekali sih. Yang kaya sekali itu ayahku, bukan akunya" jawab Zidan kesal.


"Hahahahaha. Aku memang membicarakan orang kaya, tapi itu semua adalah perkataan yang dulu aku pikirkan tentang kalian. Tapi setelah lebih mengenalmu, aku jadi semakin sadar, kalau orang kaya yang sebaik malaikat sepertimu juga ada di dunia ini"


Blush!


Sedang Asyifa, terus saja melontarkan banyak pujian lain yang membuat Zidan semakin memerah wajahnya dan juga salah tingkah.


Untungnya, orang yang dikirimkan oleh pihak bengkel langganannya untuk memperbaiki mobilnya datang tepat waktu. Jadi Zidan bisa menjadikannya alasan untuk menjauh sesaat dari sisi Asyifa.


Dengan sabar, Zidan menunggu pria dari bengkel itu untuk memperbaiki mobilnya, dan sesekali Zidan juga turut membantunya untuk mengambil alat, karna mengingat pria itu hanya datang seorang diri.


"Sudah selesai pak Zidan"


"Terima kasih yah ucup. Ini bayaranmu, kamu sudah boleh pergi sekarang" jawab Zidan ramah, sambil memberikan beberapa lembar uang seratusan.


"Wah, ini terlalu banyak pak Zidan. Biaya perbaikan ban mobilnya tidak semahal ini, aku tidak bisa menerimanya" tolak ucup.


"Aku juga tahu kok, tapi aku memang sengaja memberimu sebanyak itu sebangai tip. Jadi ambil saja, dan pergunakan dengan baik"


"Ah, terima kasih pak Zidan. Aku pasti akan menggunakannya dengan baik seperti yang pak Zidan suruh"


"Sama-sama ucup. Kalau begitu, kamu boleh pergi sekarang, aku juga ingin kembali melanjutkan perjalanan pulang bersama dengan tunanganku"


"Se_sebentar, pak Zidan!" tahan ucup, pada sosok Zidan yang baru saja berniat masuk ke dalam mobilnya.


"Iya, ada apa?"


"Itu, aku hanya ingin memberitahu, bahwa saat aku sedang memperbaiki mobil bapak, aku melihat ada suatu benda yang sepertinya adalah alat pelacak"


"Alat pelacak?!"


"Iya pak Zidan. Alat pelacak itu menempel tepat dibawah mobil belakang pak Zidan. Kalau mau, aku bisa membantu untuk segera mengambilkannya"


Meskipun masih terlihat syok, Zidan pun dengan cepat menyetujui tawaran yang telah diberikan oleh ucup dengan anggukan kepala darinya.

__ADS_1


Melihat ada sesuatu yang terjadi diluar, Asyifa pun berinisiatif untuk turun juga dari mobil dan mencari tahu apa yang sedang terjadi, bertepatan dengan ucup yang kembali masuk ke bagian bawah mobil.


"Ada apa Zidan? Aku lihat, sepertinya kamu sudah memberikan upah pada pekerja itu, berarti masalah bannya sudah diselesaikan bukan? Kenapa kamu masih tetap berada diluar?" tanya Asyifa, saat sudah berada di sebelah Zidan.


"Pekerja itu menemukan ada sebuah alat pelacak yang dipasang dibawah bagian belakang mobilku, saat sedang memperbaiki ban mobil yang bocor"


"Apa? Alat pelacak? Si_siapa yang sudah memasangnya disana?"


"Menurutmu siapa lagi, kalau bukan orang yang paling sedang kita cari saat ini?" jawab Zidan, sambil menahan rasa geram yang kini muncul dalam dirinya.


"Maksudmu, si perawat gadungan yang sudah menculik Eden hingga saat ini?"


"Iya"


"Ya tuhan! Di_dia benar-benar sudah, sudah merencanakan semua penculikan itu dengan sebaik mungkin seperti perkiraanmu tadi. Apa jangan-jangan, dia juga menempelkan alat pelacak yang sama seperti di mobilmu, pada mobil Adam atau pun Raka?"


"Besar kemungkinannya seperti itu. Setelah ini, aku akan langsung menelpon Raka dan Adam untuk menyuruh mereka memeriksa mobil masing-masing"


"Iya, kamu harus melakukannya"


Tak berapa lama, ucup kembali dengan sebuah alat pelacak berwarna hitam yang ada ditanggannya.


Dengan marah, Zidan meraihnya dan ingin langsung menghancurkannya saat itu juga, namun dengan cepat dihentikan oleh Asyifa.


"Kenapa?"


"Aku rasa ada baiknya kita membawa pelacak ini untuk ditunjukkan pada pihak berwajib sebagai barang bukti" usul Asyifa.


"Hah! Kamu benar, hampir saja aku malah akan menghancurkan barang bukti penting yang telah susa payah ditemukan oleh ucup"


"Aku hanya menemukannya dengan tidak sengaja kok pak Zidan. Tapi kalau boleh aku memberi saran, sebaiknya mobil pak Zidan dibawa saja ke bengkel supaya bisa diperiksa dengan lebih teliti lagi olehku. Takutnya masih ada alat pelacak lain yang terpasang di dalamnya"


"Aku setuju dengannya, Zidan. Sebaiknya kita untuk sementara waktu menggunakan mobil lain, sampai mobilmu sudah terbukti aman untuk digunakan kembali. Aku tidak ingin ada hal buruk yang terjadi padamu, saat kamu sedang berkendara seorang diri"


"Baiklah. Aku akan menuruti saran ucup dan meletakkan mobilku di bengkel, supaya bisa diperiksa lebih menyeluruh lagi. Aku mohon bantuanmu yah, ucup"


"Siap pak Zidan. Aku pasti akan langsung mengabari bapak kalau-kalau nanti sudah menemukan sesuatu"


"Terima kasih ucup"


"Kalau begitu, mari kita pergi bersama-sama ke bengkel pak"


"Iya, ayo"


Zidan dan Asyifa kembali masuk ke dalam mobil bersama dengan alat pelacak yang kini sudah berpindah ke atas tangan Asyifa, dan mulai mengikuti ucup dari arah belakang.


Setelah sampai, Zidan memberikan kunci mobilnya pada ucup supaya bisa diperiksa juga. Selain itu, Zidan menyuruh ucup untuk merahasiakan apa yang sudah ditemukannya dan juga yang sedang dikerjakannya dari semua orang.


Pada pihak bengkel, Zidan juga memberi pesan tegas, bahwa tidak ada yang boleh menyentuh apalagi masuk ke dalam mobilnya selain ucup, karna ada sebuah barang yang tak ternilai harganya yang sedang dicari Zidan disana.


Setelah semua urusannya selesai di bengkel itu, Zidan segera memesan mobil lain dari tempat penyewaan mobil, supaya bisa dipakai olehnya dan Asyifa untuk sementara waktu.


Drttt... Drttt... Drttt...


Getaran di ponsel Zidan menarik perhatiannya serta Asyifa saat sudah berada dalam mobil. Ternyata itu adalah telepon dari Adam.


"Iya Dam, ada apa?"


"Aku dan Raka sudah mengikuti perintah yang kamu kirimkan lewat pesan, untuk memeriksa seluruh bagian mobil kami. Hasilnya sama seperti mobilmu, kami menemukan beberapa pelacak di dalam dan luarnya"


"Sialan! Siapa wanita ini sebenarnya, kenapa dia berani sekali memasang alat pelacak di mobil orang lain?!" tanya Zidan marah, sambil memukul bagian pintu mobil sewaan.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi yang pasti, Eden diculik dengan tujuan yang berbahaya, karna dia sampai semendetail ini menyiapkan semuanya"


"Aku bersumpah, akan membuatnya berada di balik dinginnya jeruji penjara selama mungkin saat nanti aku berhasil menemukannya, dan mengetahui identitas aslinya!"

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2