
Rora, Nana dan semua anak panti lainnya segera berlari mengambur ke arah Asyifa dan Zidan, ketika kedua orang itu baru saja turun dari mobil.
Zidan dan Asyifa sengaja menyempatkan diri untuk mampir pagi-pagi sekali sebelum pergi ke perusahaan untuk bekerja, karna semalam Rora menelpon dan bersikeras supaya kedua orang itu datang ke panti.
"Semuanya, tolong jangan lari-lari seperti itu. Kalau nanti kalian sampai jatuh, bagaimana?" tegur Asyifa, yang langsung membuat semua anak itu berjalan dengan perlahan.
Melihat tingkah mereka yang mengemaskan, membuat Asyifa yang awalnya ingin sekali marah, terpaksa harus menelan bulat-bulat kembali amarahnya itu.
Apalagi ditambah dengan sosok Rora dan juga Nana, yang sudah bergelayutan manja di pinggang Asyifa dengan wajah tak berdosa yang menjadi senjata andalan mereka.b
"Hufhh! Ada apa? Kenapa kalian berdua tanpa terduga menelponku ditegah malam, dan memaksa supaya aku dan kak Zidan datang ke panti sebelum berangkat kerja?"
"Itu___, sebebarnya, aku dan Nana, serta anak panti lainnya, merasa penasaran dan sangat ingin tahu tentang kondisi kak Eden saat ini. Karna kemarin saat kak Zidan menerima telepon dari rumah sakit, aku tanpa sengaja juga ikut mendengarnya"
"Astaga, kenapa kalian tidak langsung saja mengatakannya lewat telpon saat semalam? Apa kalian tidak tahu seberapa khawatir kak Asyifa, saat mendengar paksaan dari kalian untuk datang pagi-pagi sekali kesini?" tegur Zidan, saat melihat wajah Asyifa lagi-lagi berubah seolah ingin marah.
Bagaimana tidak marah, semalaman Asyifa tidak bisa tidur sampai pagi karna terus memikirkan hal-hal berbahaya yang mungkin saja telah terjadi pada anak-anak itu.
Apalagi saat Asyifa meminta Rora untuk memberikan teleponnya pada salah satu wanita yang diperkejakan oleh Zidan untuk menjaga anak-anak itu, mereka menolaknya dan langsung mematikan telepon begitu saja.
Kalau saja tidak ditenangkan oleh Zidan dan juga kedua sahabatnya, mungkin saja Asyifa akan memaksa datang malam itu juga ke panti, demi memastikan kondisi semua anak panti baik-baik saja.
"Maaf kak" jawab mereka serempak.
"Aduh tahu deh, aku pusing! Kamu saja lah yang berbicara pada mereka, aku ingin pergi ke dalam dan bertemu dengan para pekerja. Bagaimana bisa mereka membiarkan anak kecil menggunakan telepon sendirian pada malam hari?!"
Dengan marah, Asyifa berjalan masuk ke dalam panti untuk mencari para pekerja dan bersiap menegur mereka dengan keras. Para anak panti yang melihat hal itu, hanya bisa terdiam dengan wajah cemas.
Jelas dari wajah-wajah tak berdosa itu, juga tersirat perasaan bersalah karna tanpa sengaja telah membuat kesalahan hingga orang lainlah yang harus kena marah, untuk menggantikan mereka.
"Lihat kan, sekarang kak Asyifa malah pergi untuk memarahi para kakak pekerja yang tidak memiliki salah apa-apa. Semua itu bisa terjadi, karna kesalahan yang telah kalian lakukan semalam, apa kalian tidak merasa bersalah?"
"Bersalahhhh kak"
"Kalau kalian merasa bersalah, apa kalian akan melakukan hal yang sama lagi seperti semalam, pada lain waktu yang akan datang?"
"Tidaaaak kak"
"Benaran tidak? Apa kakak bisa memegang perkataan kalian, dan juga percaya padanya? Apa kalian bisa berjanji pada kakak?"
"Bisaaaaaa kak"
"Bagus. Kalau begitu sebagai hadiah karna kalian sudah berjanji, kak Zidan juga akan gantian menjawab pertanyaan kalian tentang kondisi kak Eden. Bagaimana?"
"Mauuuuu kak"
"Oke, sepertinya Rora katakan, bahwa benar kalau kemarin kak Zidan dan juga kak Asyifa dihubungi oleh pihak rumah sakit mengenai kondisi kaak Eden, serta disuruh untuk datang langsung kesana"
"Lalu, bagaimana keadaan kak Eden kak? Apa kak Eden sudah sadar dari keadaan komanya sekarang? Dia baik-baik saja kan kak?" tanya Rora tak sabaran.
"Iya benar, kak Eden sudah sadar dari koma dan sekarang kondisinya juga sudah menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi tetap saja, kondisi tubuh kak Eden masih sangat lemas. Terlebih lagi, kak Eden masih harus mengikuti serangkaian tes dari pihak rumah sakit, yang akan dilakukan hari ini"
__ADS_1
"Wah, aku tidak percaya kak Eden masih bisa hidup setelah terluka separah itu!" celetuk salah seorang anak pria.
"Iya, aku juga. Apa kamu juga lihat sebanyak apa darah yang keluar dari kepala kak Eden, saat dia dibawa masuk ke dalam mobil ambulans? Aku melihatnya, dan itu banyak sekali!" timpal yang lainnya.
"Memang ini seperti keajaiban yang telah diberikan tuhan sehingga kak Eden kalian bisa kembali sadar. Doakan yah, semoga kak Eden juga bisa secepatnya juga pulih seperti sedia kala"
"Aminnnn kak"
"Tapi, apa setelah kak Eden kembali pulih seperti sedia kala sesuai dengan ucapan kak Zidan barusan, apa kak Eden akan ikut masuk penjara juga seperti ibu panti?" tanya Nana, tanpa terduga.
Zidan memang sudah menyadarinya sedari awal, kalau cara berpikir Nana agak berbeda dengan anak-anak lain yang seumurannya. Gadis kecil itu memiliki kepintaran dan juga sikap dewasa, yang jauh melampaui umurnya sendiri.
Bahkan pertanyaan seperti itu, sudah bisa Zidan prediksi akan keluar dari mulut Nana. Dan karna tidak ingin berbohong, apalgi pada anak kecil, Zidan mau tidak mau harus mengatakan yang sebenarnya.
"Besar kemungkinannya akan seperti itu. Karna bagaimana pun juga, kak Eden kalian adalah kaki tangan dari ibu panti dalam setiap kejahatan yang dilakukan oleh wanita itu"
"Tapi kan, kak Eden melakukannya karna dia dipaksa oleh ibu panti. Masa tetap harus dimasukkan ke dalam penjara sih, kan kak Eden hanya ingin melindungi nyawanya juga" protes Nana.
"Kak Zidan dan pihak berwajib juga tahu akan hal itu, tapi itu tetap tidak bisa menutupi kenyataan bahwa dirinya terlibat. Jadi mau itu hukumannya lama atau cepat, kak Eden kalian harus tetap menerimanya"
"Apa tidak bisa, kalau kak Eden tidak jadi dihukum saja? Aku yakin semua temanku yang telah berpulang ke surga, pasti akan senantiasa mengampuni kesalahan kak Eden. Apalagi, kak Eden yang telah menguburkan semua jasad mereka dengan layak"
"Tidak bisa Nana. Karna biar bagaimana pun, negara kita adalah negara yang menjunjung tinggi hukum yang telah dibuatnya, jadi setiap orang yang terlihat baik secara paksa atau pun tidak dalam suatu kejahatan, harus bisa menerima hukuman yang diberikan padanya"
Mendengar penjelasan Zidan, seketika itu juga semua kepala mungil milil anak-anak yang kini telah menjadi tanggung jawab Zidan, tertunduk lemas.
Mereka terlihat sedih dan juga kecewa, karna tidak bisa melakukan apa-apa untuk bisa membuat Eden terbebas dari hukuman dan tidak jadi dipenjara.
Zidan yang merasa sedikit kasihan pada mereka, menjadi tergerak hatinya untuk bisa membantu. Meskipun bukan sebuah bantuan besar, namun Zidan yakin dapat membuat hatu para malaikatnya sedikit membaik.
"Kakak serius?" tanya Rora bersemangat, diikuti Nana dan semua anak lainnya.
"Iya kakak serius. Karna sebenarnya, kakak juga tidak setuju jika Eden harus dihukum lama untuk berada dibalik jeruji penjara. Oleh karna itu, apa kalian bisa sedikit bersabar lagi sampai saatnya kak Eden bebas?"
"Bisaaaa kak"
Anak-anak itu pun berebut untuk berhampur memeluk tubuh Zidan, sambil tak henti-henti mengucapkan kata terima kasih.
Asyifa yang sebenarnya sudah sedari tadi ikut memperkatikan dan mendengar interaksi Zidan dan para anak-anak itu, pun tersenyum bahagia.
"Beruntung sekali aku sebagai wanita yang bisa memilikimu sebagai tunanganku, Zidan. Semoga mulai dari saat ini, hingga masa yang akan datang nanti, kita akan tetap bersama untuk selamanya" batin Asyifa haru.
*****
Dengan wajah tersenyum puas, Zidan dan Asyifa menapat kertas yang menampilkan hasil dari serangkaian tes yang telah dijalani oleh Eden hari ini.
"Seperti yang ibu Asyifa dan pak Zidan lihat, kalau hasil tes pasien mendapatkan hasil yang sangat baik. Aku yakin, tidak akan lama lagi pasien sudah bisa kembali beraktifitas seperti sedia kala"
"Syukurlah kalau begitu dok. Aku dan Asyifa sangat berterima kasih atas semua kerja keras dokter bersama dengan tim, yang telah melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Eden. Aku mohon bantuannya dari dokter, hingga akhir penyembuhan Eden"
"Sama-sama pak Zidan, ini semua juga berkat keajaiban yang diberikan tuhan pada pasien. Tapi untuk permintaan terakhir pak Zidan, sepertinya aku tidak bisa mengabulkannya"
__ADS_1
"Loh, kenapa dok? Apa ada hal lain tentang Eden, yang kami tidak ketahui?" tanya Asyifa, terlihat bingung.
"Tidak ada ibu Asyifa. Hanya saja, berita soal pasien adalah anak dari seorang wanita psikopat yang telah membunuh puluhan anak panti di desa, sudah menyebar di seluruh rumah sakit ini"
"Apa maksud dokter, para pasien lainnya yang mengetahui bahwa Eden adalah anak seorang psikopat, melarangnya untuk bisa terus mendapatkan perawatan di rumah sakit ini?" tebak Zidan, tepat sasaran.
"Benar pak Zidan. Sebenarnya kami dari pihak rumah sakit tidak bermasalah sekali tentang fakta ini, karna pada dasarnya banyak juga para pelaku kejahatan yang pernah mendapat perawatan disini. Tapi karna para pasien yang terus memprotes dengan keras agar pak Eden bisa dibawa keluar, mau tidak mau pak kepala rumah sakit ini harus mengambil jalan terbaik yang ada, dan itu adalah dengan mengeluarkan pak Eden dari rumah sakit ini"
Mendengar penjelasan dokter, Asyifa pun menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dengan wajah suram. Wanita itu tidak tahu harus membawa Eden kemana setelah keluar dari rumah sakit ini.
Karna jika rumah sakit terbesar di kota ini saja sudah tahu tentang identitas asli Eden, pastinya rumah sakit lain juga sudah tahu hal yang sama. Kalau Asyifa membawa Eden ke rumah sakit lain, pasti akan ditolak juga.
Tapi mengingat Eden yang belum pulih benar, dan masih membutuhkan perawatan dari ahlinya, membuat Asyifa tidak ingin menyerah begitu saja.
"Dok, apa tidak bisa kita rahasiakan saja keberadaan Eden di rumah sakit ini? Dokter dan tim medis lainnya, tinggal bilang saja kalau Eden telah keluar dari sini, tapi ternyata kita hanya memindahkannya ke kamar yang berbeda. Bagaimana?" usul Asyifa berani.
"Maaf bu Asyifa, kami tidak bisa melakukan hal tersebut. Karna salah satu pasien yang menentang pak Eden dirawat di rumah sakit ini, adalah anak dari pemilik rumah sakit yang juga sedang dirawat disini"
"Tapi kalau rumah sakit terbesar di kota ini memaksa untuk mengeluarkan Eden, maka bagaimana dengan rumah sakit lainnya? Pasti mereka juga tidak akan mau menerima Eden disana! Lalu kami harus membawa pria yang sedang sakit itu kemana?!"
"Asyifa, tenang lah Fa. Tidak seharusnya kamu marah-marah seperti itu pada dokter, karna dia hanya melaksanakan tugas yang diberikan oleh para atasannya"
"Yang dikatakan pak Zidan benar, bu Asyifa. Aku juga tidak ingin mengeluarkan pak Eden dari rumah sakit ini, dan aku juga masih sangat ingin untuk tetap merawatnya dengan kedua tanganku sendiri. Tapi apa daya, aku juga hanyalah seoramg pekerja di rumah sakit ini dan tidak mempuyai kewenangan apa pun. Aku mohon maaf"
Asyifa yang masih dipenuhi perasaan kesal dan juga amarah, tak ingin mendengar apa yang dikatakan oleh dokter tersebut. Wanita itu malah bangkit dan berjalan keluar dari ruangan begitu saja.
"Maafkan sikap Asyifa dok, dia pasti sedang sangat marah sekarang jadi bersikap seperti itu. Untuk masalah Eden, biar aku yang akan mengurusnya supaya bisa keluar dari rumah sakit ini secepatnya"
"Tidak apa-apa pak Zidan. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih pada pak Zidan, karna sudah mau mengerti akan posisiku"
"Sama-sama dok. Kalau begitu aku permisi keluar untuk menyusul Asyifa" pamit Zidan, sambil mengulurkan tangannya.
"Silakan pak Zidan" jawab dokter, sambil membalas uluran tangan tersebut.
Zidan yang baru saja berjalan keluar dari ruangan dokter pun segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari keberadaan Asyifa.
Namun sosok wanita itu tak ada dimana pun, dan setelah mengelilingi rumah sakit selama beberapa lama, Zidan pun memutuskan untuk mengecek ke kamar Eden.
Dan benar saja, Zida melihat sosok Asyifa yang tengah berdiri di depan kamar Eden, sambil memandag ke dalamnya melalui kaca jendela yang tak tertutup kainnya.
"Ternyata kamu disini, aku sudah mencarimu selama beberapa saat. Hampir saja aku ingin keluar, karna mengira kamu sudah berada di dalam mobil"
"Apa yang harus aku katakan padanya saat akan mengajaknya keluar dari rumah sakit ini, Zidan? Apa aku harus mengatakan yang sejujurnya, bahwa keberadaannya ditolak karna dirinya lahir dari rahim seorang wanita psikopat?" tanya Asyifa sedih, tanpa beralih tatapan sedikit pun dari dalam kamar Eden.
"Asyifa"
"Aku sangat tahu rasanya saat dibenci oleh seseorang, untuk suatu kesalahan yang tidak pernah aku perbuat. Kesalahan karna lahir dari rahim seorang wanita yanh dibenci oleh orang lain"
"Asyifa aku mohon, jangan berkata seperti itu. Tolong jangan mengingat hal yang kamu tahu, dapat membuat luka lamamu kembali terbuka lagi" pinta Zidan, menarik tubuh Asyifa masuk ke dalam pelukannya.
Asyifa yang sudah menahan air matanya sedari tadi, perlahan mulai menumpahkannya di balik tubuh pria yang dicintainya. Meski bukan dirinya yang ditolak, namun Asyifa bisa merasakan akan seberapa hancur hati Eden saat mengetahui fakta dirinya ditolak untuk kesalahan yang tidak dilakukannya.
__ADS_1
Asyifa menangis untuk dirinya, dan juga menangis untuk sosok pria yang sampai saat ini masih terbaring di ranjang rumah sakit, tanpa bisa melakukan apa pun seorang diri.
Bersambung...