The Ugly Wife

The Ugly Wife
Resmi bercerai


__ADS_3

Setelah beberapa kali mengikuti persidangan, akhirnya hari dimana keputusan perceraian antara Asyifa dan William akan dikeluarkan oleh pengadilan, pun tiba.


Proses perceraian mereka bisa terbilang cukup cepat, karna hanya memakan waktu kurang lebih dua bulan saja. Semua itu bisa terjadi, karna pihak dari William tidak pernah memberikan protes atas setiap argumen, dan fakta yang diberikan oleh pihak Asyifa.


Alasan pihak William melakukannya, karna saat awal persidangan pertama, William dan juga Ratih telah disuguhkan dengan fakta bahwa Asyifa dibela oleh putra dari pemilik perusahaan terbesar di negara mereka.


"Dengan ini, saya menyatakan bahwa gugatan cerai yang telah diajukan oleh pihak ibu Asyifa, diterima! Dan dengan itu, persidangan ini resmi saya tutup!"


Tok..Tok..Tok..!


Saat mendengar keputusan akhir yang keluar dari hakim, serta ketukan palu yang berbunyi, tubuh Asyifa pun langsung jatuh terduduk di kursinya. Seketika tubuh wanita itu, seolah


telah terbebas dari beban berat yang selama ini menahannya.


"Terima kasih, terima kasih banyak tuhan" gumam Asyifa dengan penuh rasa syukur.


Angel dan Mira segera menghampiri dan langsung memeluk erat tubuh sahabatnya itu, seraya mengucapkan kata-kata selamat untuk Asyifa. Tak lupa Zidan dan juga Lilian pun melakukan hal yang serupa.


Tiba-tiba dari sudut matanya, Asyifa melihat pihak William dan keluarganya, tampak sedang berjalan menuju ke arah tempatnya berdiri.


"Kelihatannya kamu senang sekali, telah resmi bercerai denganku. Apa karna sekarang kamu telah bebas mendekati pria lain yang berada disekitarmu?" sindir William, sambil menatap tajam ke arah Zidan.


"Kalau pun Asyifa ingin melakukan seperti yang kamu katakan barusan, memangnya ada yang salah? Toh, dia bukan lagi istri dari pria yang tanpa tahu malu, malah berselingkuh dibelakangnya" balas Zidan, tak mau kalah.


"Apa aku terlihat seperti sedang berbicara denganmu? Rasanya aku berbicara dengan Asyifa deh, dan bukan denganmu, tapi kenapa malah kamu yang menjawab?"


"Aku tidak keberatan sama sekali, jika Zidan mau menggantikan diriku untuk berbicara denganmu" ucap Asyifa, membela Zidan.


Mendengar Asyifa yang kini terlihat akrab dengan memanggil Zidan langsung dengan sebutan nama, dan tak lagi menggunakan embel-embel pak di depannya, membuat William mau tak mau menjadi kesal seketika.


"Ternyata kalian sudah jauh lebih akrab yah sekarang, sampai Asyifa bisa memanggilmu langsung dengan nama saja"


"Tentu saja mereka menjadi akrab. Dan bukan hanya itu saja, apa kamu tahu kalau anak Asyifa yang telah meninggal, juga diberikan nama oleh Zidan? Ah, tentu saja kamu tidak tahu, karna mengunjungi makamnya sekali saja pun kamu tidak pernah!" kini giliran Mira yang menjawab ucapan William.


"Jangan melewati batasmu Angel, kamu itu hanya lah orang luar di hidup Asyifa! Jadi tolong tetap berada di batas itu, dan jangan bertindak kurang ajar padaku!"


"Kalau aku orang luar, berarti kamu juga orang luar William. Apa kamu tuli, sampai tidak bisa mendengar jelas keputusan yang diberikan oleh hakim beberapa menit yang lalu?"


Tangan William nampak telah terangkat ke atas dan siap untuk menampar wajah Mira, namun Rizal yang tak ingin putranya semakin jauh membuat kesalahan, dengan sigap menghentikannya.


"Cukup sampai disitu saja, William. Ayah tidak pernah mengajarkan padamu, untuk berlaku kasar terhadap perempuan"


"Ayah selalu saja membela orang-orang ini, dan tidak pernah mau membela atau pun mendukung apa yang ingin William lakukan. Apa ayah takut jika teman ayah yang kaya itu akan memutuskan kerja sama dengan perusahaan kita, hanya karna ayah melakukan hal buruk pada wanita yang dicintai oleh putranya?!"


"Apa yang kamu maksud itu adalah ayahku? Astaga, ternyata kamu lucu sekali. Apa kamu tahu, tanpa bantuan dari ayahku sekali pun, jika aku ingin memberimu perhitungan, bisa saja aku lakukan dengan mudah. Tapi karna Asyifa tidak menyetujui hal itu, maka aku juga tidak melakukannya!"


"Apa sekarang kamu sedang memamerkan seberapa banyak harta yang kamu miliki?"


"Kenapa tidak? Lagian semua itu aku dapat dari hasil kerja kerasku sendiri, bukan seperti dirimu yang bisanya hidup dari bekerja di perusahaan milik ayahmu"


Buk..


Merasa kalah telak dari Zidan, dan tak bisa membalas sedikit pun perkataan lawannya, membuat William menjadi emosi dan tanpa pikir panjang lagi. Pria itu pun melayangkan sebuah pukulan ke atas wajah Zidan.


Zidan yang sudah menduga akan mendapat serangan dari William, menerima pukulan itu dengan tetap berdiri tegap diposisinya.


"Apa-apaan kamu! Kenapa tiba-tiba main pukul saja, ke wajah putraku! Apa kamu mau dilaporkan ke polisi, karna telah melakukan kekerasan?" marah Lilian, yang tak terima Zidan diperlakukan seperti itu.


"Jangan Lilian! Tolong jangan melaporkan putraku ke polisi, aku yakin dia melakukannya tanpa sadar barusan. Iyakan William? Ayo cepat minta maaf pada Zidan, sayang"


"Aku tidak mau! Aku memang telah sengaja memukulnya, kenapa? Kalau tante ingin melaporkanku ke polisi, silakan saja lakukan sekarang juga, aku tidak takut sama sekali!"


Melihat situasi yang semakin memanas dan tak terkendali, membuat Asyifa menjadi cemas. Wanita itu mencoba mencari cara agar keributan itu tidak lagi berlanjut.


"Sudah! Semuanya tolong berhenti sampai disini saja, jangan membuat keributan ini semakin besar. Lebih baik kita semua bubar dan kembali ke rumah masing-masing" usul Angel, yang tiba-tiba membuka suara.


Asyifa yang melihat hal itu, segera menatap Angel dengan tatapan penuh rasa terima kasih. Angel pun balas mengusap punggung Asyifa lembut.

__ADS_1


Tiba-tiba mereka semua dikejutkan oleh sosok pria yang terlihat seperti seorang kurir, yang muncul dari arah lain, sambil membawa sebuket karangan bunga.


"Permisi, kalau boleh tahu, apa disini ada yang bernama ibu Asyifa?"


"Aku yang bernama Asyifa. Ada perlu apa yah, bapak mencariku?"


"Ini bu, ada kiriman bunga, untuk diberikan kepada ibu. Tolong diterima yah bu" jawab pria itu, sambil menyodorkan karangan bunga yang dibawanya kepada Asyifa.


"Ini buat aku pak? Tapi kalau boleh tahu, dari siapa yah pengirimnya?"


Asyifa yang tampak bingung, hanya bisa menerima karangan bunga tersebut. Setelah dilihat, ternyata ada secarik kertas yang terselip disana.


"Selamat karna keinginanmu untuk bercerai dari William, telaj terwujud. Tapi jangan senang dulu Asyifa, karna kamu belum bisa membuka fakta sebenarnya kenapa sampai anakmi bisa meninggal! Jangan bilang kalau kamu percaya begitu saja, dengan alasan stres dan kecapaian yang telah membuatmu mengalami keguguran? Astaga, kamu polos sekali, Asyifa! Yah, pokoknya aku sudah berbaik hati, memberikanmu petunjuk, jadi silakan cari sendiri sisanya"


Setelah membaca tulisan itu, Asyifa pun terkejut dan langsung menjatuhkan karangan bunga yang dipengangnnya begitu saja ke lantai.


Karna penasaran, Angel dan Mira pun segera mengambil kertas itu untuk membacanya langsung. Dan seketika, Mira pun menjadi penuh akan amarah.


"Siapa orang sialan yang telah menyuruh bapak untuk mengirimkan sampah ini pada sahabatku?!" tanya Mira kesal.


"Maaf bu, saya juga tidak tahu siapa nama pengirimnya. Saya hanya disuruh oleh ibu pemilik toko bunga ini, untuk dikirimkan ke wanita yang bernama Asyifa, yang katanya hari ini sedang mengikuti sidang akhir dari kasus perceraiannya dengan suaminya"


"Ciri-ciri yang bapak sebutkan memang sama persis dengan yang ada di sahabatku, tapi yang jadi pertanyaannya kami sekarang, siapa orang yang telah menyuruh bapak untuk mengantar karangan bunga ini?!" tanya Mira sekali lagi.


"Sumpah bu, saya tidak tahu siapa orangnya. Saya hanya mengikuti suruhan dari pemilik toko, katanya dia juga menerima pesanan itu melalui telepon, dan pembayarannya juga dilakukan dengan cara uangnya dititipkan ke seorang anak kecil"


"Bapak pikir kami percaya?!"


"Sudahlah Mira, jangan memaksa orang lain yang tidak tahu apa- apa, seperti itu. Terima kasih banyak karna sudah mau mengirimkan bunga ini, bapak boleh pergi sekarang"


"Baik bu, saya permisi"


Setelah kepergian sang kurir, Asyifa pun turut berjalan keluar dari ruang persidangan tanpa mengatakan apa-apa. Meskipun berulang kali dipanggil namanya oleh Zidan, namun Asyifa tetap berjalan pergi.


*****


Ketika telah sampai di depan ruangan yang menjadi tujuan mereka, bukannya mengetuk pintu, Ratih malah langsung menendangnya tanpa rasa takut sedikit pun.


"Astaga, apa mommy tidak bisa membukanya dengan pelan-pelan saja? Pintu ruanganku kan jadinya lecet sekarang, memangnya ada apa sih sampai mommy terlihat sangat marah seperti sekarang?" tanya Zenith santai.


"Jangan pura-pura bodoh kamu, Zenith! Apa kamu memang berniat untuk memancing amarahku, dengan mengirimkan pesan itu pada Asyifa?!"


"Ups, ketahuan deh! Aku tidak menyangka kalau mommy akan ada disana juga, saat Asyifa membaca surat yang aku kirim. Biar aku tebak, pasti ekspresi wajah kalian berdua langsung berubah panik kan?"


"Aku sih tidak cemas, karna kamu tidak akan bisa membuktikan keterlibatanku perihal obat itu, bukan? Akan cuman wajah mommy yang ada dalam rekaman video itu" jawab Kana spontan.


Ratih pun langsung melemparkan tatapan tajam ke arah menantu perempuannya itu. Membuat Kana hanya bisa berpura-pura melihat ke arah lain.


"Yah, ucapanmu memang ada benarnya juga sih, kak Kana. Aku mungkin tidak akan bisa membuktikan dirimu turut terlibat, tapi apa kamu pikir Asyifa dan yang lainnya percaya jika kamu bilang tidak terlibat? Aku kalau jadi mereka, jelas tidak percaya sedikit pun"


"Sialan kamu, Zenith!"


"Ahahahaha,,, kalian harus melihat seperti apa ekspresi wajah kalian sendiri. Seperti anak kucing yang baru saja kedapatan mencui ikan tahu, lucu sekali!"


Plak...


Belum selesai Zenith menertawakan kedua wanita itu, Ratih langsung menamparnya supaya menjadi diam.


Plak...


Zenith yang tidak mau kalah, dengan berani turut membalas tamparan yang diberikan Ratih padanya. Membuat Ratih dan juga Kana membelalakkan matanya terkejut.


"KAMU!"


"Kenapa? Apa mommy pikir aku tidak akan berani membalas tamparan yang mommy berikan padaku? Dengan baik-baik, jangan pernah kalian berpikir bisa memperlakukanku dengan seenaknya, karna aku bisa menjadi lebih jahat dari kalian!"


"Dasar anak tak tahu sopan santun, jangan pernah kamu berharap aku akan memberikan restuku padamu, untuk menikah dengan putraku!"

__ADS_1


"Tentu saja mommy harus memberikannya, kalau mommy tidak ingin video yang ada padaku, sampai tersebar luas ke seluruh media sosial"


"Zenith, aku pikir apa yang kamu lakukan ini sudah kelewatan batas. Karna seperti katamu yang mengatakan bahwa video itu adalah hasil rekayasamu sendiri, maka kami pasti bisa membuktikan bahwa semua itu tidaklah benar. Dan setelah membuktikannya, kami juga akan melaporkanmu ke polisi, apa kamu mau dilaporkan?" ancam Kana.


"Usaha yang cukup bagus kak Kana. Tapi apa kak Kana pikir, aku sebodoh itu? Video ini memang palsu, tapi hampir 100% telah dibuat terlihat asli, kalian juga telah menontonnya langsung bukan? Itu berarti, kesempatan kalian untuk membuktikan video ini hanyalah hasil rekayasaku, adalah 0%!"


Setelah mendengar ucapan Zenith, tiba-tiba muncul sebuah ide gila di otak Ratih. Wanita itu pun langsung berjalan ke arah pintu dan menguncinya dari dalam.


"Apa yang ingin mommy lakukan sekarang, kenapa pintunya dikunci segala?"


"Kalau memang tidak bisa mengalahkanmu dengan cara halus, maka tidak ada salahnya aku menggunakan cara kasar bukan? Karna mau sekuat apa pun kamu, tetap akan kalah dengan kami yang berjumlah dua orang, sedang kamu hanya seorang diri"


"Jangan pernah mommy berpikir untuk bertindak macam-macam padaku, karna aku bisa dengan mudah memanggil semua pengawalku untuk menyeret kalian berdua keluar dari sini!"


Meskipun di bibirnya Zenith mengucapkan kata-kata ancaman, namun tidak bisa dia pungkiri kalau dirinya sekarang juga merasa cemas sekaligus takut tentang apa yang akan dilakukan oleh Ratih dan juga Kana.


Dengan menggunakan gerakan isyarat, Ratih pun segera memberikan perintah pada Kana. Kana yang mengerti, dengan cepat berjalan ke arah Zenith, dan menahan gadis itu sekuat tenaganya.


Seolah tak ingin menyia-yiakan waktu yang ada, Ratih langsung menghancurkan telepon kantor yang berada diatas meja kerja Zenith, hingga hancur berantakan.


"Sekarang coba saja menghubungi pengawal yang kamu miliki, menggunakan telepon yang sudah aku hancurkan itu!" ejek Ratih.


"Tolonggggg! Tolong aku!"


"Gadis sinting, beraninya dia berteriak! Kana cepat kamu tutup mulutnya itu, kalau tidak hanya dengan hitungan detik saja, semua orang akan mendengar teriakan murahannya, dan tamatlah riwayat kita!"


"Baik mommy"


Kana pun meraih kain yang menutupi meja tamu, untuk menyumpal mulut Zenith. Sedang tangan gadis itu, segera Ratih ikat menggunakan kabel telepon.


"Sekarang katakan, dimana kamu simpan video terkutuk itu? Cepat katakan, kalau tidak aku sendiri yang akan menyiksamu hingga kamu mau membuka mulut!"


"Twdak akwan pelnah, akwu katakan!" jawab Zenith dengan susah payah.


"Kamu yakin tidak ingin mengatakannya? Apa harus menggunakan kekerasan dulu baru kamu mau mengatakannya?"


"Sudah, hajar saja dia mommy! Biar tahu rasa, siapa suruh berani cari masalah dengan kita!" dorong Kana bersemangat.


Plak... Plak... Plak... Plak...


Ratih mulai melayangkan tamparan berulang kali ke atas wajah Zenith, namun meskipun begitu, Zenitg tetap pada pendiriannya untuk tidak memberi tahu dimana videonya disimpan.


"Ah, kamu tidak mau mengatakannya juga? Biar mommy tebak, apa video itu ada di dalam leptopmu?" ucap Ratih sambil mengamati ekspresi wajah Zenith.


"Sepertinya tidak. Atau jangan-jangan, ada di dalam ponselmu?"


Ketika Ratih menyebutkan ponselnya, Zenith langsung menunjukkan sebuah reaksi kecil. Meskipun hanya berupa gerakan alis yang naik ke atas, Ratih tetap bisa menangkapnya.


"Ah, ternyata ada di ponselmu! Kalau begitu, mari kita periksa bersama isi dari ponselmu yang mahal ini"


Ratih pun meraih jari Zenith untuk membuka kunci ponsel, dengan menggunakan sidik jari gadis itu. Setelah mencari beberapa saat, ia pun akhirnya menemukan video yang dicari olehnya.


Tanpa menunggu lagi, Ratih pun langsung menghapus video tersebut hingga ke bagian terdalam ponsel, untuk mencengah Zenith melakukan pemulihan.


Tak lupa ia juga mencari sesuatu yang bisa dipakainya untuk mengancam gadis kurang ajar itu. Ternyata ada beberapa bukti chat Zenith dengan pekerja di laboratorium, yang menjadi tempatnya mendapatkan obat untuk mengugurkan kandungan Asyifa.


Dengan bukti chat itu, Ratih dapat dengan mudah membuktikan keterlibatan Zenith atas semuanya. Ia pun langsung merekamnya dan mengirimkannya ke ponselnya sendiri.


"Riwayat chatmu ini akan menjadi bukti kuat keterlibatanmu, jadi sebaiknya kamu tidak coba-coba untuk mencari masalah lagi dengan mommy atau pun Kana. Jika kamu berani melakukannya, maka bukti ini akan tersebar ke seluruh media sosial! Ayo kita pergi, Kana"


"Baik mommy"


Ratih dan Kana pun berjalan keluar dari dalam ruangan Zenith, meninggalkan gadis itu seorang diri. Meskipun Zenith berusaha untuk berteriak, namun suaranya tetao tidak bisa keluar sama sekali.


"Dasar sialan!" umpatnya dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2