The Ugly Wife

The Ugly Wife
Membuka rahasia Kinara


__ADS_3

Adam yang sedang berusaha sekuat tenaga untuk memindahkan mobil milik Zidan yang berada di parkiran bar, terlihat kesulitan karna banyaknya mobil lain yang menghimpitnya.


Meski sudah memutar otak dan melakukan semua ide yang dimilikinya, Adam tetap tidak dapat berhasik mengeluarkannya. Dengan perasaan kesal, pria itu pun bergegas keluar dari dalam mobil untuk mencari orang yang bertugas di parkiran bar tersebut.


Tapi meski sudah berkeliling kesana kemari untuk mencari, Adam tak juga dapat bertemu dengan orang yang ingin ditemuinya, atau orang lain yang dapat membantunya.


Adam yang tidak tahu harus berbuat apa lagi, terpaksa berjalan kembali ke arah parkiran untuk memesan taksi online melalui ponsel miliknya. Biarlah nanti mobil Zidan akan diambilnya keesokan hari.


Setelah menemukan satu taksi online yang terlihat berada di dekat bar, Adam baru saja akan menekan tombol pesan ketika sebuah suara wanita yang berasal dari arah belakang menghentikan niatnya.


"Adam?" sapa suara itu, terdengar ragu.


Saat Adam berbalik, ia menemukan sosok wanita yang sudah lama tidak dilihatnya dan juga tidak ia ketahui kabarnya sedang melihat ke arahnya dengan ekspresi wajah penasaran


"Kinara? Kenapa kamu bisa ada di dalam area bar, di jam selarut ini?" tanya Adam merasa heran, kepada sosok wanita yang memanggil namanya yang ternyata adalah Kinara.


"Aku bisa ada disini, karna tadi baru saja selesai merayakan pesta ulang tahun salah satu teman modelku yang diadakan di dalam bar ini. Itu teman-temanku"


Adam mengalihkan pandangannya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Kinara. Dan benar saja, disana terlihat berkumpul beberapa orang wanita yang gayanya memang terlihat berkelas, layaknya model papan atas.


Selain wanita-wanita tersebut, Adam juga melihat ada beberapa pria tampan yang ikut berdiri di dekat mereka, sambil terlihat asyik mengobrol satu sama lain.


"Apa semua temanmu itu membawa serta pasangannya, karna aku juga melihat ada beberala pria disana"


"Oh kalau pria-pria itu, memang ada yang adalah pasangan dari beberapa temanku, tapi ada juga yang bukan, dan mereka datang karna memang memiliki profesi yang sama dengan kami sebagai seorang model"


"Ah begitu. Apa om Marcel juga ikut datang bersamamu ke tempat ini?" tanya Adam yang terlihat mulai mencari-cari keberadaan dari ayah sahabatnya itu.


"Ayahnya Zidan tidak ikut datang kesini, jadi kamu tidak perlu bersusah payah untuk mencari keberadaanya seperti itu. Aku tadi datang bersama dengan salah seorang dari temanku yang ada disana"


"Loh, kenapa tidak mengajak om Marcel juga, bukannya temanmu ada yang mengajak pacar mereka? Atau jangan-jangan kamu memang sengaja tidak mau mengajaknya, karna takut akan merasa malu membawa pria yang memiliki umur jauh diatasmu?"


"Wah, wah. Kenapa tiba-tiba kamu berbicara seperti itu padaku, Adam? Aku pikir, selama ini kamu tidak terlalu sibuk dengan apa yang aku lakukan dengan rumah tanggaku, kenapa sekarang kamu terlihat sangat peduli?" tanya Kinara, terlihat tersinggung.


"Aku sengaja terlihat tidak peduli, karna aku tahu kalau selama ini telah menjalankan apa yang menjadi peranmu dengan baik, yaitu menjadi istri muda om Marcel"


"Lalu, kenapa sekarang kamu terlihat peduli? Aku kan masih tetap berstatus sebagai istri ayahnya Zidan, dan aku juga masih tetap menjalankan semua tugasku"


"Bagimu mungkin seperti itu, tapi bagiku yang mengetahui segala sesuatunya, tahu bahwa ada beberapa hal yang tidak kamu lakukan dengan baik sebagai istri om Marcel"


"Oh yah? Contohnya seperti apa saja, apa kamu bisa berbaik hati untuk mengatakannya padaku juga, karna aku sama sekali tidak tahu apa pun!" jawab Kinara kesal.


"Ada beberapa acara besar yang diadakan oleh perusahaan yang menaungi namamu, dan ada juga beberapa yang diadakan oleh mitra produk berbelas yang berkolaborasi denganmu, tapi saat datang ke tempat acara-acara tersebut, kamu tidak pernah sekali pun mengajak om Marcel. Apa itu yang bisa dibilang dengan telah menjalankan tugasmu? Kamu tidak sedang berniat untuk mendorong om Marcel menjauh dari hidupmu atau pun mencari penggantinya bukan?"


"Ka_kamu! Apa ternyata selama ini kamu secara diam-diam telah mengawasi setiap gerak gerikku? Apa kamu sudah gila?!" teriak Kinara dengan suara keras.


Sontak saja, suara wanita itu memancing rasa ingin tahu dari orang-orang yang kebetulan berada di area parkiran bar, dan yang tidak ikut ketinggalan tentu saja menarik perhatian semua teman Kinara.


Mereka yang terlihat cemas karna Kinara berdebat dengan seoramg pria asing, pun segera menghampiri teman mereka itu untuk membantunya menyelesaikan masalah yang terjadi diantara keduanya.


"Hei Kinara, ada apa ini? Apa sesuatu sudah terjadi diantaramu dengan pria ini, sampai membuatmu teriak sekencang tadi?" tanya seorang wanita, yang menurut tebakan Adam adalah pemeran utama di pesta yang telah dihadiri oleh Kinara beberapa waktu lalu.


"Tidak ada apa-apa beb, hanya ada sedikit kesalahpahaman diantara kami berdua, jadi kalian tidak perlu cemas"


"Bagaimana bisa kami semua tidak merasa cemas, kalau mendengar seberapa besar suara teriakmu tadi. Lihat, bahkan orang lain yang berada di parkiran ini juga ikut menatap ke arah kita dengan rasa penasaran"


"Hufhhhh. Maafkan aku, tapi tadi itu benar tidak ada hal besar yang terjadi kok. Hanya karna aku yang sudah terlanjur emosi duluan, makanya berteriak"


"Kalau benar itu hanyalah masalah kecil yang diakibatkan oleh kesalahpahaman diantara kalian, seharusnya dapat diselesaikan dengan baik-baik dan tidak perlu pakai kekerasan atau pun marah-marah, Kinara"


"Iya, aku juga sebenarnya mau melakukan seperti yang kamu katakan. Tapi sepertinya tidak bisa, karna pria ini sudah lebih duluan mengatakan sesuatu yang terdengar seperti fitnahan untukku" jelas Kinara sambil melihat Adam dengan tatapan permusuhan.


"Kok bisa, memangnya apa yang sudah dia katakan padamu? Hei, apa bagus kamu yang adalah seorang pria sejati mengatakan hal yang bisa menyinggung perasaan wanita?!" tanya seorang teman pria Kinara, sambil menarik kerah baju Adam kasar.


Adam yang merasa kalau dirinya tidak pernah melakukan sesuatu yang dapat membuatnya harus disalahkan sedari tadi, tak ingin tinggal diam dan malah melakukan serangan balik terhadap pria tersebut.


Dengan kasar dan tanpa rasa ampun sedikit pun, Adam langsung saja memutar tangan lawannya hingga ke posisi terbalik, sampai membuat sang empunya tangan berteriak kesakitan sambil memohon untuk tangannya segera dilepaskan.


Mendengar permohonan pria itu yang juga bersamaan dengan pekikan kerasa dari semua wanita yang ada disana termaksud Kinara, Adam hanya bisa dengan terpaksa mengikuti permintaan itu dan melepaskannya secara kasar juga.


"Dasar gila! Apa kamu dengan sengaja ingin berniat untuk membuat tanganku patah?! Apa mencari masalah dengan Kinara tadi tidaklah cukup untukmu, sampau harus mencari masalah juga denganku?!"

__ADS_1


"Siapa yang mencari masalah dengan siapa sebenarnya, apa kamu tidak bisa bercermin terlebih dulu sebelum bicara? Bukannya kamu sendiri yang sudah berlaku kasar padaku, apa salah kalau aku membalasnya?"


"Wah, kayaknya kamu benar-benar sudah gila rupanya. Aku kan melakukan semua itu bukan tanpa alasan, kamu sendiri yang sudah cari masalah dengan Kinara, tentu saja harus aku beri pelajaran!"


"Aku mencari masalah dengannya? Baiklah, katakan saja kalau aku memang benar telah mencari masalah dengannya. Tapi yang harus kalian tahu, bahwa apa yang baru saja aku katakan pada Kinara, adalah sesuatu yang sesuai dengan faktanya dan bukan sebuah fitnahan belaka" jelas Adam, tak ingin terus disalahkan.


"Memangnya, apa yang sudah kamu katakan pada Kinara? Kalau memang itu bukan fitnah, kenapa dia bisa semarah itu padamu?!"


"Entahlah, aku juga merasa bingung kenapa dia secara tiba-tiba saha marah padaku. Apa mungkin karna semua yang aku katakan itu adalah sepenuhnya benar yah Kinara, kalau kamu memang malu dengan kondisi pria yang telah menjadi suamimu itu?"


"Suami? Maksud kamu pak Marcel, yang adalah seorang kaya raya itu? Memangnya kenapa Kinara harus malu dengan kondisi suaminya, padahal suaminya sekaya itu?"


"Kalau dia tidak malu, lalu kenapa dia tidak pernah sekali pun membawa om Marcel yang adalah ayah dari mantan pacarnya, untuk datang ke acara-acara penting yang diadakan di lingkungan kerjanya?"


Mendengar berita yang memang tidak banyak diketahui orang-orang di industri tempatnya bekerja tentang siapa Marcel sebenarnya, tentu saja langsung membuat para rekan kerja Kinara terkejut.


Dengan pandangan penuh tanda tanya, satu persatu dari mereka mulai memandangi wajah Kinara yang kini berubah merah padam karna menahan malu.


Sedang Adam yang membongkar rahasia tersebut, malah tersenyum senang karna melihat Kinara yang tak bisa lagi berkata apa pun dengan mulut terkunci rapat.


"Ma_mantan pacar? Pak Marcel itu adalah ayah dari mantan pacar Kinara? Apa yang sedang kamu bicarakan, apa maksudnya semua itu Kinara?"


"Maksudnya adalah, pria tua yang umurnya terlihat lebih pantas menjadi ayah Kinara itu, sebenarnya status awalnya adalah seorang pria beristri yang anaknya pernah menjadi kekasih Kinara di masa lalu"


"Astaga, apa itu benar Kinara? Berarti, kamu pasti sangat terkejut dong saat mengetahui fakta bahwa suamimu itu ternyata adalah ayah dari mantan pacarmu" ucap seorang gadis sambil bercanda.


"Ahahaha. Ceritanya sudah seperti drama di televisi-televisi saja yah? Mungkin kalau ceritamu diangkat jadi film benaran, maka nanti judulnya akan diberi nama, suamiku ternyata mantan calon mertuaku" timpal yang lainnya sambil tertawa keras.


Melihat reaksi yang dari teman-temannya yang sama sekali tidak menghakiminya atas semua itu, Kinara langsung bisa bernafas lega dan membalas tawa mereka dengan senyuman tipis.


Tapi Adam yang tidak ingin Kinara tersenyum seperti itu jauh lebih lama lagi, berniat untuk tidak akan melepaskan wanita itu sampai Kinara mendapat ganjaran atas perbuatannya.


"Apa kalian semua bodoh?! Kinara itu bukan tidak tahu kalau om Marcel adalah ayah dari mantan pacarnya, justru dia sendiri yang telah dengan sengaja memikat pria itu saat masih berstatus sebagai pacar anak om Marcel!"


Hening! Semua tawa yang beberapa menit lalu terdengar riuh rendah serta diselingi juga dengan candaan receh, seketika saat mereka mendengar penjelasan lebih lanjut dari Adam, semuanya pun terdiam tanpa bisa berkata sepatah kata pun.


Bahkan Kinara sendiri terlalu syok untuk bereaksi, karna tidak menyangka Adam memiliki niat untuk membongkar rahasia kelamnya sampai sejauh itu.


"A_Adam, a_apa yang sudah kamu katakan barusan di depan teman-temanku? Apa kamu sudah gila, semua itu kan sama sekali tidak benar. A_ayo, ikut aku pergi dari sini" pinta Kinara, setelah berhasil mengontrol kembali perasaannya.


"Adam aku minta tolong padamu, untuk ikut aku pergi dari sini sekarang juga. Kita akan bicara lagi tentang hal ini, tapi tidak disini dan tidak di depan teman-temanku"


"Kalau aku tidak mau, apa yang ingin kamu lakukan? Apa kamu akan memaksaku untuk tetap pergi, seperti kamu memaksa Zidan untuk melepaskanmu menikah dengan om Marcel?" tanya Adam, kembali mengungkit kejadiam yang telah lalu.


"Kamu kan juga tahu, kalau waktu itu aku sudah tidak mencintai Zidan. Dan lagipula, hubungan rumah tangga antara ayah dan juga bunda Zidan sudah tidak terjalin dengan baik. Apa salahnya kalau aku dan Marcel yang sudah saling mencintai, memutuskan untuk menikah setelah aku putus dari Zidan?!"


"Ahahahahaha. Ahahahaha. Mencintai? Kamu bilang kalau kamu mencintai om Marcel? Astaga Kinara, jangan buat aku tertawa tanpa bisa berhenti karna perkataanmu itu. Bahkan anak remaja yang masih polos sekalipun, pasti tahu kalau kamu menikah dengan om Marcel bukan karna mencintainya, tapi karna ingin merasakan harta serta kekuasaannya!"


"Tahu apa kamu tentang perasaanku? Aku sama sekali tidak pernah memiliki niat sejelek itu saat ingin menikah dengan suamiku, aku sungguh mencintainya dengan tulus! Kalau memang aku tidak mencintainya, maka coba saja kamu buktikan itu!" tantang Kinara dengan percaya diri.


"Bukti yah? Bagaimana jika aku bilang kalau setelah menikah dengan om Marcel, kamu masih tetap mengejar-ngejar Zidan yang telah menjadi mantan pacarmu sekaligus anak tirimu juga? Bahkan sampai saat ini, kamu masih tetap memanggil bunda Zidan dengan sebutan bunda, karna ingin mendapat restu dari wanita itu. Apa itu semua masih bisa dikatakan kalau kamu benar mencintai om Marcel dengan tulus?"


"Wah, gila! Aku tidak menyangka kalau ada cerita seheboh ini dalam pernikahanmu yang membuat semua wanita di negara ini menjadi sangat iri padamu" celetuk salah seorang teman Kinara sinis.


"Yah, aku akui sih kalau kami juga sangat menyukai uang dan kekuasaan seorang pria, sekalipun dia sudah tua, kami pasti bersedia untuk menjadi istrinya. Tapi tidak berarti bisa dengan menjadi pelakor di rumah tangga mantan pacar, seperti yang sudah dilakukan olehmu" timpal yang lainnya.


"Yah, begitu lah wajah asli dari teman kalian yang tidak tahu malu sama sekali. Jadi aku sarankan, sebaiknya kalian berpikir ulang lagi jika mau tetap berteman dengannya"


"Oh iya, aku hampir lupa kalau hari ini sudah menyiapkan pesta lain di rumahku sebagai perayaan ulang tahunku. Apa kalian masih punya cukup tenaga untuk lanjut ronde dua guys?" tanya wanita yang berulang tahun.


"Tentu saja masih!"


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita semua pergi ke rumahku sekarang? Oh iya Kinara, karna aku melihat sepertinya kamu masih memiliki sesuatu untuk dibicarakan dengan pria ini, jadi aku memutuskan untuk tidak akan mengajakmu pergi. Tidak masalah kan?"


"Ta_tapi, aku bisa melanjutkan bicara kami dilain waktu lagi. Aku juga sangat ingin bisa ikut ronde kedua di rumahmu"


"Tidak perlu sungkan Kinara, dan tinggallah disini sesuka hatimu. Kalau begitu kami pamit pergi dulu yah, sampai bertemu lagi di tempat pemotretan besok. Bye!"


Sebelum Kinara sempat membuka mulutnya untuk kembali mengatakan sesuatu, semua temannya baik itu wanita atau pun pria, sudah lebih dulu berjalan menjauh dari tempatnya berdiri bersama Adam.


Dengan kesal, Kinara hanya bisa menggigit bibir bawahnya untuk meredam rasa ingin menangis yang tiba-tiba saja datang tanpa bisa dicegah.

__ADS_1


"Yah, memang itulah hal yang harusnya kamu dapatkan sedari dulu. Wanita sepertimu yang sudah melakukan banyak dosa terhadap Zidan dan juga bunda Lilian, tidak layak untuk berbahagia saat mereka hidup dengan penuh bekas luka dihatinya"


"Kenapa kami sejahat itu padaku, Dam? Apa tidak bisa kamu membiarkanku menikmati hidupku sebentar saja? Atau kamu pikir, bisa menjadi istri dari Marcel itu semuanya terasa menyenangkan? Aku juga sudah cukup menderita selama ini!" ucap Kinara dengan kesal, sambil mulai terisak pelan.


"Menderita kamu bilang? Memangnya apa yang bisa membuatmu menderita selama menjadi istri om Marcel? Apa kamu merasa seperti itu karna tidak bisa kembali memiliki Zidan sebagai kekasihmu?"


"Kenapa selalu Zidan yang kamu bahas sebagai setiap alasan dihidupku? Aku bahkan sudah berusaha menjauhinya sampai saat ini, dan tidak mengganggunya sama sekali!"


"Lalu kalau bukan karna Zidan, memangnya karna apa lagi kamu bisa menderita? Kamu kan sudah mendapatkan segala yang kamu inginkan selama ini"


"Lupakan! Meski kamu mengetahui semua gerak-gerikku diluar, kamu pasti tidak akan bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah tanggaku dengan Marcel. Selain itu, aku juga yakin kalau dia pastinya akan sangat berusaha untuk menyembunyikan semuanya"


"Apa sih yang kamu bicarakan? Apa benar ada sesuatu yang sudah terjadi dengan hubungan rumah tanggamu dengan om Marcel?" tanya Adam mau tak mau menjadi penasaran.


"Lupakan. Aku bilang lupakan saja, lagipula kalian semua kan memang lebih suka saat melihatku menderita, jadi untuk apa aku susah payah menceritakannya"


"Yah sudah kalau begitu" jawab Adam cuek, sambil berjalan pergi kembali ke tempat dimana mobi Zidan berada.


Saat sampai disana, perasaan senang yang baru beberapa waktu lalu dirasakan oleh Adam karna berhasil memberikan pelajaran pada Kinara, hilang begitu saja.


Dengan tatapan kesal, Adam mengarahkan pandangannya pada mobil milik sang sahabat yang masih tetap sama posisinya, dan tidak bisa dikeluarkan dari tempat parkir.


Jika ingin dipindahkan, maka Adam harus mencari siapa pemilik dari salah satu mobil yang sedang menghimpit mobil Zidan, untuk bisa diminta memindahkan mobil tersebut.


"Arggghhhhh! Kenapa sih aku sial sekali malam ini? Sudah mempunyai sahabat yang ingin mabuk secara tiba-tiba, mana saat pulang tidak bisa mengeluarkan mobil, siapa sih sebenarnya pemilik kedua mobil ini?!"


"Yang biru itu mobilku" jawab sebuah suara dari arah belakang Adam, dengan suara yang terdengar familiar.


"Kinara? Ini benar mobilmu?"


"Iya, itu mobilku. Apa mobil yang disebelah itu adalah milikmu? Kalau benar begitu, aku akan segera memindahkan mobilku supaya kamu bisa mengeluarkan mobilmu"


"Ah, iya" jawab Adam, entah mengapa merasa malu tanpa sebab yang jelas.


Dengan cepat, Kinara pun masuk ke dalam mobil yang diakui sebagai miliknya untuk segera memundurkannya, supaya bisa diberi ruang kepada mobil Adam yang sebenarnya adalah mobil milik Zidan.


Setelah melihat mobil Kinara keluar dari sana, Adam pun tak ingin membuang waktu lebih lama, dan langsung masuk ke dalam mobil Zidan untuk mengeluarkannya juga dari sana.


Saat semua permasalahan Adam sudah terselesaikan dengan baik berkat bantuan yang diberikan Kinara, pria itu pun kembali keluar dari mobil untuk mengucapkan rasa terima kasihnya sebelum pergi menjemput kedua sahabatnya.


Tok... Tok... Tok...


Adam mengetuk kaca mobil Kinara, untuk meminta wanita itu untuk menurunkannya.


"Ada apa lagi, apa masih ada yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Kinara bingung.


"Emmm itu, aku hanya merasa harus tetap mengucapkan terima kasih padamu atas bantuan yang barusan. Kalau tidak ada kamu, mungkin kami bertiga akan menginap di bar ini semalaman"


"Bertiga? Memangnya kamu datang dengan siapa kesini, aku tadi malah berpikir kalau kamu datang seorang diri"


"Tidak kok, aku datang bersama dengan Raka dan juga Zidan. Hanya saja, mereka berdua sedang ada di dalam karna Zidan yang sudah terlanjur mabuk, tidak sanggup berjalan ke parkiran seorang diri" jelas Adam.


"Zidan mabuk? Kok bisa sih, bukannya dia paling benci yah jika diajak pergi ke bar atau pun meminum alkohol? Kenapa tiba-tiba dia bisa berada disini dalam keadaan mabuk?"


"Aku juga sebenarnya tidak tahu apa alasan Zidan sampai ingin datang kesini dan minum alkohol. Tapi karna khawatir, aku dan Raka memilih untuk menemaninya"


Mendengar penjelasan Adam, rasa cemas dan juga ingin pergi melihat keadaan Zidan pun muncul di dalam hati Kinara. Tapi wanita itu tahu kalau hal tersebut tidak mungkin bisa dilakukan olehnya.


Meskipun tidak ada Marcel yang akan segera menatapnya tajam karna perhatian berlebih yang diberikannya pada Zidan, namun masih ada Adam yang juga akan melarang dirinya tegas untuk melakukan hal tersebut.


"Ah, ternyata begitu. Maaf yah aku tidak bisa bantu apa-apa seperti bantuanku untuk mobil milikmu, tapi semoga saja Zidan cepat sadar dari mabuknya"


"Yah, terima kasih. Kalau begitu, aku rasa harus pamit pergi sekarang, karna masih harus menjemput mereka berdua"


"Hati-hati Adam"


"Iya, kamu juga hati-hati jalan pulangnya. Semoga sampai di rumah dengan selamat" jawab Adam canggung.


Sebenarnya Adam merasa sedikit aneh dan juga bersalah melihat tingkah Kinara yang tidak bisa berkata apa-apa tentang keadaan Zidan, atau pun meminta untuk menemui pria itu seperti yang biasa dilakukannya.


Tapi karna itulah yanh paling terbaik untuk mereka berdua yang mempunyai masa lalu tak menyenangkan, maka Adam pun ingin membiarkan Kinara melangkah pergi sejauh yang ia bisa dari Zidan.

__ADS_1


Setelah melihat mobil Kinara berlalu pergi dan keluar dari area parkiran bar, Adam juga segera masuk kembali ke dalam mobil, dan mengendarainya menuju pintu utama bar demi bisa menjemput kedua sahabatnya itu.


Bersambung...


__ADS_2