
"Aliya, kamu kenapa keluar? Kamu harusnya di dalam istirahat saja, kamu kan masih sakit. Jangan jalan-jalan dulu" ucap William sambil menghampiri Aliya.
Asyifa memandang kedua orang di depannya dengan pandangan bertanya, dan entah mengapa ada perasaan tak senang ketika melihat kedekatan sang suami dengan wanita bernama Aliya itu.
Sedangkan kedua sahabat Asyifa hanya bisa menahan nafas ketika berada di situasi seperti ini, dimana tidak lama lagi Asyifa akan mengetahui semua rahasia yang William lakukan dibelakangnya.
Hanya Zidan yang wajahnya terlihat semakin ingim menghajar William.
"Aku tadi mendengar ribut-ribut dari dalam, dan ada suaramu juga. Karna merasa cemas, makanya aku keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi"
"Tidak terjadi apa-apa kok, sebaiknya kamu masuk kembali ke dalam yah? Ayo, akan aku bantu antar" pinta William sambil menuntun langkah Aliya untuk masuk kembali.
Namun belum juga mencapai pintu, langkah keduanya sudah dihentikan oleh Zidan. Pria itu kemudian menarik tubuh William dan tanpa ampun melemparkannya sekuat tenaga hingga William jatuh terduduk, dengan jarak yang cukup jauh.
"William!" teriak Asyifa dan Aliya bersamaan, saat melihat apa yang dilakukan Zidan pada pria yang mereka cintai.
"Apa yang kamu lakukan pada, William? Kenapa kamu memperlakukannya dengan begitu kasar?!" tanya marah Aliya.
"Aku tidak akan mau bicara dengan wanita murahan sepertimu. Jadi, jangan pernah mengajakku bicara!"
"Mu_murahan? Apa kamu, baru saja bilang aku wanita murahan? Apa maksud dari ucapanmu itu?"
"Tidak usah berpura-pura bodoh. Kamu juga pasti sudah tahu jika pria yang kamu pacari itu, sudah memiliki seorang istri bukan? Meskipun dia tidak memberitahumu, tapi aku yakin kamu mengetahui semuanya!"
"Angel, apa maksud dari semua pembicaraan mereka? Kenapa aku tidak bisa mengerti akan situasinya sama sekali?" tanya Asyifa pada Angel.
Angel dan Mira pun saling melempar tatapan ragu dan juga cemas, namun keduanya tetap bungkam. Mira dengan spontan memberikan usul pada Angel, untuk membujuk Asyifa masuk kembali ke dalam ruangan wanita itu, dan membiarkan Zidan menangani masalah yang ada.
"Asyifa, bagaimana kalau kita kembali ke dalam saja? Kamu kan belum sepenuhnya sehat, biar Zidan dan William menyelesaikan masalah diantara mereka"
"Tidak bisa seperti itu, Ngel. William adalah suamiku, jadi aku juga harus tetap berada disini untuk menemaninya"
"Su_suami? Jadi, kamu Asyifa?" tanya Aliya tak menyangka jika wanita dihadapannya adalah Asyifa, hingga membuatnya tanpa segaja keceplosan bertanya.
"Iya, aku adalah Asyifa, istrinya William. Kalau boleh tahu, kamu siapa yah? Apa hubungan kamu dengan suamiku?"
"A_aku, aku____"
Sebelum Aliya sempat menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya, Zidan sudah lebih dulu menarik tangan wanita itu untuk pergi dari sana. Zidan tidak ingin Asyifa sampai mengetahui semuanya, setidaknya setelah wanita itu benar-benar sehat.
"Mau kamu bawa pergi kemana Aliya, Zidan? Cepat lepaskan dia, atau akan aku katakan semuanya pada Asyifa!" teriak William marah.
"Dasar pria brengsek! Jadi, kamu lebih baik melihat istirmu menderita dari pada wanita yang dengan tidak tahu malunya, merusak rumah tangga kalian berdua?"
"Apa maksudnya, wanita itu merusak rumah tanggaku dengan William? Rumah tangga kami baik-baik saja kok, Ra"
"Rumah tangga kalian tidak baik-baik saja, Asyifa! Suami yang sangat kamu cintai dan kamu banggakan setiap saat itu, tanpa sepengetahuan dirimu, sudah berselingkuh dengan wanita ini!" jelas Mira tanpa bisa dicegah, karna saking emosinya.
"Mira!" seru Zidan dan juga Angel.
"Biar aku katakan, supaya Asyifa juga bisa mengetahui warna asli dari pria brengsek ini! Kamu bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari dia, Asyifa"
Asyifa yang mendengar suami perkataan Mira, hanya bisa berdiri diam tanpa bisa mengucapkan satu patah kata pun. Dirinya kini seketika menjadi mengerti, mengapa ada perasaan tak suka melihat kedekatan antara William dan juga Aliya.
Itu adalah perasaan yang biasa dirasakan oleh semua wanita, saat ada wanita lain yang ingin merebut kekasih mereka. Hanya saja sedari tadi, Asyifa berusaha untuk tidak berpikiran negatif pada sang suami.
"Apa benar semua yang dikatakan oleh Mira barusan, Will?" tanya Asyifa berusaha tegar, menatap wajah William.
"Asyifa, sebaiknya kita masuk saja. Kamu harus banyak istirahat, ayo"
"Lepaskan aku Angel! Aku sekarang sedang bertanya pada suamiku, apa semuanya itu benar? Jawab aku William!" desak Asyifa.
"Iya, semuanya benar! Aliya dan aku memang berpacaran dibelakangmu selama ini. Apa ada masalah?"
__ADS_1
"Se_sejak kapan?"
"Sejak usia kehamilanmu memasuki usia lima bulan, saat itu jugalah aku dan Aliya memulai hubungan kami"
"Ke_kenapa? Kenapa kamu melakukan semua itu padaku, Will? Apa aku setidak pantas itu, untuk dirimu, hingga kamu membawa wanita lain sebagai orang ketiga ke dalam rumah tangga kita?"
"Aliya bukan orang ketiga diantara aku dan juga kamu Asyifa, jadi kamu jangan salah paham dengan mengatakan fakta yang tidak benar. Aliya adalah wanita pertama dalam hidupku, dan kamu adalah wanita setelah Aliya"
"Jadi, maksudmu akulah orang ketiganya, dan bukan wanita itu? Apa yang kamu katakan tidak salah, Will? Akulah wanita yang kamu nikahi dan menjadi istrimu, akulah yang mengandung keturunan darimu, bagaimana bisa kamu mengatakan kalau akulah orang ketiga disituasi seperti ini!"
"Kamu sudah bukan wanita yang sedang mengandung keturunan dariku, jangan lupa akan hal itu Asyifa. Kalau untuk masalah kamu adala istriku, aku bisa saja menceraikan kamu kapan pun aku ingin"
Bruk. Sebuah pukulan dari Zidan langsung mengenai wajah William dan membuat pria itu kembali ambruk. Tapi kali ini, Zidan tak sedikit pun memberikan kesempatan untuk William bisa membalas atau bahkan hanya untuk melepaskan diri.
Dengan brutal dan penuh emosi, Zidan terus melayangkan pukulan demi pukulan ke wajah William. Membuat semua yang menyaksikan hal itu, bergidik ngeri melihat kemarahan Zidan.
"Hentikan pak Zidan. Bapak tidak perlu sampai harus mengotori tangan bapak, hanya untuk memberikan pelajaran padanya" ucap Asyifa tenang.
Wanita itu tampaknya susah payah, membuat dirinya menjadi jauh lebih tegar dan berbesar hati menghadapi segalanya. Dengan perlahan ia maju untuk menarik tubuh Zidan menjauh dari William.
"Aku tidak tahu kenapa aku bisa menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tangga milikku sendiri. Tapi jika memang kamu ingin mengakhiri semuanya, aku akan dengan iklas mengabulkan keinginanmu itu"
"Aku dan William sudah lama berpacaran sebelum kamu muncul dalam hidup William. Aku sempat menghilang sebentar, dan mungkin itulah yang membuat William tanpa sengaja bisa mendekati dirimu" jelas Aliya secara tiba-tiba ikut campur.
"Ah, begitu. Terima kasih atas penjelasannya, tapi aku sudah tidak penasaran lagi. Kalian berdua pastinya memiliki banyak kenangan dan ikatan yang berarti, maafkan aku yang telah seenaknya masuk diantara kalian"
"A_aku, aku hanya menjelaskannya supaya kamu tidak salah paham, dan bukannya ingin menyuruhmu meminta maaf" jawab Aliya tampak merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Baiklah, karna aku sudah mengetahui semuanya, jadi tidak ada yang harus akau lakukan lagi disini bukan? Kalau begitu, aku permisi untuk kembali ke dalam ruanganku untuk beristirahat"
Asyifa yang matanya tampak berkaca-kaca, sekali lagi memandangi wajah William penuh harap, seolah ingin pria itu memilih dirinya pada detik terakhir. Namun harapannya itu, harus ia kubur karna wajah William tak terlihat merasa bersalah sama sekali, malah pria itu tampak bahagia.
"Kamu masih bisa menunjukkan wajah bahagia seperti itu di depan Asyifa, yang baru kehilangan anak kalian dari rahimnya? Apa kamu benar manusia, William?" tanya Angel marah.
"A_apa, maksudmu, ke_kegu_guran?"
"Diam, Mira! Jangan pernah kamu salahkan Aliya atas apa yang dialami oleh Asyifa, karna Aliya tidak ada hubungannya sama sekali!"
"Tidak ada hubungannya sama sekali, apa kamu yakin? Aku rasa sedikit banyak dia juga ikut berperan, Will"
"Apa maksudmu, Asyifa? Jangan berbicara omong kosong seperti itu!" marah William.
"Pagi itu. Apa kamu ingat apa yang terjadi pagi dimana kita pertama kali bertengkar? Kini aku seperti tersadar, kalau waktu itu kamu sengaja mencari alasan untuk memulai pertengkaran denganku. Kamu menuduhku memiliki hubungan gelap dengan pak Zidan, dan kamu juga mengatakan bahwa anak dalam rahimku mungkin saja bukan anakmu melainkan anak pak Zidan"
"Ka_kapan, kapan aku berkata seperti itu pada kamu, Asyifa?" tanya William berpura-pura lupa, karna panik melihat tangan Zidan kembali terkepal.
"Kamu juga dengan tak berperasaan pergi begitu saja, meninggalkan aku yang sedang kesakitan. Seandainya, kamu membantuku saat itu, mungkin bayimu masih hidup saat ini! Kenapa kamu setega itu, kenapa?" teriak Asyifa emosi, yang pada akhirnya tidak bisa menahannya lagi.
Asyifa memburu untuk mempukul dada William dengan tenaganya yang tak seberapa, untuk melampiaskan semua amarahnya. William yang masih memiliki sedikit belas kasih, hanya memilih diam menerima semua pukulan Asyifa.
Tak berapa lama, pukulan Asyifa pun perlahan semakin pelan dan tanpa terduga tubuhnya ambruk tak sadarkan diri. Membuat semua orang menjadi panik, bahkan tak terkecuali William.
Saat William ingin menyentuh Asyifa, dengan kasar Zidan menendang tangan pria itu menjauh. Kemudian dengan gagahnya, Zidan mengangkat tubuh Asyifa masuk ke dalam pelukannya untuk dibawa pergi dari sana.
"Aku akan bertanya satu hal padamu untuk terakhir kalinya, siapa yang akan kamu pilih? Asyifa yabg adalah istrimu, atau Aliya yang adalah selingkuhanmu?" tanya Zidan.
"Maaf, pilihanku masih tetap sama seperti sebelumnya. Aku memilih Aliya"
"Kalau begitu, segera urus perceraian kalian supaya Asyifa tidak tersiksa semakin lama! Dan aku juga bisa kembali mendekati Asyifa tanpa adanya penghalang"
*****
Asyifa memasuki ruangan yang dulu pernah menjadi kamarnya selama beberapa waktu, sambil menarik dua buah koper yang tidak terlalu besar dalam genggamannya.
__ADS_1
Dengan perlahan, Asyifa mengedarkan pandangannya untuk melihat ke sekeliling. Semuanya yang ada, masih tampak sama seperti dulu tanpa ada satu pun yang berubah sejak terakhir kali Asyifa meninggalkannya.
Sebuah perasaan haru perlahan memasuki relung hatinya, membuat perasaan sedih yang bersarang disana sedikit mendapatkan kehangatan.
"Kenapa berdiri diam disitu?" tanya sebuah suara tiba-tiba dari arah belakang.
"Ah, Angel, tidak ada apa-apa"
"Kamu menangis, Fa? Ada apa, kamu merasa sakit lagi atau kamu sedih karna William lebih memilih bersama Aliya?" tanya Mira panik.
"Tidak kok, Ra. Aku hanya merasa terharu melihat kamarku, yang masih terlihat sama seperti terakhir kali aku melihatnya"
"Ah, itu. Aku dan Mira sengaja membiarkan semuanya tetap ditempat semula, supaya tetap bisa merasakan kehadiranmu di dalam apertemen ini"
"Apa kalian sudah punya firasat kalau aku dan William, tidak akan berkahir bahagia?"
"Sebenarnya, iya. Dari awal, kami merasa William bukanlah pria yang tepat untuk kamu jadikan pendamping dalam hidupmu. Tapi kami berdua sangat ingin melihat dirimu bahagia, itulah sebabnya kami mendukung semua keinginanmu" jelas Angel sedih.
"Kalau saja kami menentang dan melakukan segala cara untuk memisahkan William darimu, mungkin saha semua ini tidak akan terjadi. Maafkan kami, Asyifa" lanjut Mira, dengan nada penuh penyesalan.
"Itu semua bukan salah kalian berdua, itu adalah kesalahanku sendiri yang bersikeras untuk menerima lamaran William. Jadi jangan salahkan diri kalian, dan terima kasih karna masih mau menerimaku kembali di dalam apertemen ini"
"Tentu saja kami akan menerimamu kapan pun. Karna bagaimana pun juga, aku dan Angel bisa sampai tinggal ditempat ini kan berkat dirimu. Tapi, apa tidak apa-apa kamu keluar secepat ini dari rumah sakit?"
Setelah kemarin mengetahui semua belang dari William, dan mendengar keputusan pria itu yang lebih memilih Aliya dibandingkan dengan dirinya, Asyifa pun memohon pada Zidan untuk secepatnya keluar dari rumah sakit.
Ia merasa tidak ingin lebih lama berada di dalam satu rumah sakit dengan kedua orang itu, apalagi sampai bersebelahan ruangan dengan mereka. Zidan pun menyetujui keinginan Asyifa, dengan syarat Asyifa harus kembali tinggal di apertemen bersama dengan Angel dan Mira.
Asyifa yang merasa memang perlu menjauhi William dan tidak punya hak untuk kembali tinggal di rumah milik William, pun dengan senang hati mengiyakan syarat dari Zidan. Setidaknya disini, Asyifa bisa menenangkan diri dari segala masalah yang memenuhi pikirannya.
"Tidak apa-apa, Ra. Aku sudah merasa jauh lebih baik, jadi jangan khawatir. Lagipula dibandingkan dirawat oleh orang lain di runah sakit, aku lebih senang dirawat oleh kalian berdua. Kalian tidak keberatan bukan harus merawatku?"
"Tentu saja tidak!" jawab Angel dan Mira kompak, membuat Asyifa tersenyum senang.
Ting... Tong...
Bel apertemen berbunyi, membuat ketiga wanita itu berhenti berbicara. Dengan cepat, Mira berjalan menuju pintu untuk segera membukakannya.
"Ternyata bunda dan juga Zidan yang datang, selikan masuk" sapa Mira sambil menyuruh keduanya masuk.
"Maaf mengganggu, Ra. Tapi bunda sangat khawatir akan kondisi Asyifa, dan ingin segera bertemu dengannya"
"Tidak masalah. Aku pikir, akan lebih bagus jika bunda yang berbicara dengannya. Karna mungkin saja, dia mau lebih menumpahkan semua kesedihan yang dirasakannya saat ini"
"Bagaimana kondisinya, Ra?" tanya Lilian dengan wajah cemas.
"Mungkin orang lain yang tidak tahu tentang apa yang telah ia alami, akan melihatnya baik-baik saja. Tapi bagi kita yang melihatnya bertingkah seperti biasa, itu sama sekali sesuatu yang baik-baik saja bun"
"Apa dia tidak menceritakan apa yang sedang dirasakan saat ini padamu dan Angel? Atau dia sesekali menangis dan menumpahkan keluh kesahnya pada kalian?"
"Tidak sama sekali bunda. Sejak diantara Zidan kesini, Asyifa terlihat baik-baik saja meskipun wajahnya masih tampak sangat pucat"
Zidan dan Lilian yang mendengar penjelasan dari Mira, tampak saling melemparkan tatapan penuh arti. Keduanya seolah teringat pada kondisi mereka sendiri beberapa tahun yang lalu, saat sama-sama jatuh pada situasi terburuk seperti yang sedang dialamai oleh Asyifa saat ini.
Saat itu, keduanya sama-sama memendam apa yang mereka rasakan dan tak ingin membagikannya dengan seorang pun. Itulah yang membuat Lilian menjadi memiliki penyakit mental, dan juga Zidan yang berubah menjadi pribadi yang dingin.
"Yang kamu ucapkan benar, semakin Asyifa menunjukkan dirinya baik-baik saja, maka itu semakin membuatnya menjadi tidak baik-baik saja. Oleh karna itu, kita sebagai orang terdekatnya, harus melakukan segala cara agar Asyifa kembali seperti semula"
"Baik bunda. Tapi, bagaimana caranya?"
"Caranya dengan secepatnya menjauhkan Asyifa dari penyebab utama Asyifa menjadi seperti saat ini, yaitu William"
"Kita kan sudah membawanya ke tempat ini, Zidan. Itu berarti Asyifa sudah jauh dari William bukan?"
__ADS_1
"Tidak, sayang. Maksud Zidan, bukan hanya dalam segi jarak sebenarnya, tapi juga dalam segi jarak hubungan. Perceraian, itulah yang Asyifa butuhkan untuk lepas dari belenggu penderitaannya"
Bersambung...