
Hari ini adalah hari dimana Kemal akan kembali pulang ke kota dimana pria itu tinggal selama ini bersama dengan Laras. Namun yang berbeda, ia akan pulang seorang diri tanpa adanya sang istri.
Dengan perasaan sedih, Kemal menatap pemandangan langit biru yang tampak indah dari kaca jendela bandara. Setelah kepergian Sarah, waktu telah mampu membuat pria itu akhirnya bisa mencintai Laras.
Nisa yang mengerti tentang perasaan sedih ayahnya, hanya bisa menggenggam tangan pria itu untuk menguatkan hatinya. Perilaku Kemal selama berada bersama dengan Asyifa di kota ini, menunjukkan kalau ia benar-benar merasa bersalah pada putrinya itu.
Pria tua itu juga tanpa absen sehari pun, selalu datang mengunjungi Laras di tempat sel wanita itu. Bahkan alasan Kemal tidak bisa datang menemani Asyifa dipersidangan terakhirnya, karna ia harus berada di tempat Laras.
Semua itu Kemal lakukan untuk membujuk Laras supaya mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada Asyifa. Kemal ingin Laras bisa merenungi semua itu, dan juga berubah menjadi lebih baik lagi.
Namun sampai akhir, istrinya itu dengan angkuhnya tetap menolak permintaan Kemal. Laras lebih memilih membusuk bersama dengan semua dendamnya, dari pada harus meminta maaf kepada Asyifa.
"Maafkan ayah, karna tidak berhasil membuat ibumu meminta maaf padamu atas semua perlakuannya selama ini" ucap Kemal sedih.
"Tidak apa-apa ayah. Nisa juga tidak butuh permintaan maaf dari ibu, Nisa lebih berharap ibu bisa menjadi orang yang lebih baik lagi setelah keluar dari sana"
"Terima kasih, nak. Jika kapan saja kamu membutuhkan bantuan atau pun kehadiran ayah, jangan sungkan untuk menghubungi"
"Pasti ayah"
"Kamu juga harus selalu mengirim kabar pada ayah tentang keadaanmu disini. Ayah juga ingin kamu menjaga pola makanmu, lihatlah tubuhmu menjadi jauh lebih kurus dari terakhir kali ayah melihatnya"
"Iya ayah, Nisa pasti akan melakukan semua yang ayah katakan barusan. Jadi ayah tidak perlu khawatir"
"Putriku yang malang, putriku yang hatinya sebaik malaikat, sekali lagi maafkan ayahmu ini. Ayah berjanji akan berusaha menjadi sosok ayah yang lebi baik lagi untukmu" janji Kemal, sambil membelai sayang rambut Asyifa.
"Terima kasih ayah"
"Terima kasih juga putriku"
"Om, sudah saatnya om harus masuk ke dalam karna sebentar lagi pesawatnya akan lepas landas" ucap Zidan mengingatkan.
"Ternyata sudah secepat itu waktu berlalu, om merasa seperti baru kemarin sampai di kota ini untuk bertemu dengan putri om"
"Ayah, kenapa ucapan ayah seperti orang yang ingin pergi jauh dan entah kapan akan kembali lagi?"
"Om kan bisa datang menemui Asyifa kapan pun om mau. Untuk masalah biayanya, Zidan yang akan mengurus semuanya nanti, jadi om tidak perlu cemas"
"Terima kasih Zidan. Om hanya ingin meminta satu hal saja padamu, sebelum om pergi. Apa kamu bisa mengabulkannya?"
"Apa itu om? Kalau memang Zidan bisa, pasti akan Zidan kabulkan" jawab Zidan yakin.
"Om minta tolong padamu untuk bisa selalu menjaga Asyifa, agar dia selalu aman dan terhindar dari segala bahaya dari orang yang senantiasa mengincarnya"
"Tanpa perlu om minta pun, itu sudah pasti akan aku lakukan om. Asyifa adalah orang kepercayaanku di perusahaan dan sekaligus tetanggaku, tidak mungkin aku tidak menjaga dirinya"
"Terima kasih Zidan, terima kasih"
"Astaga, apa ayah pikir aku masih seorang anak kecil sampai harus perlu dijaga segala? Aku sudah besar ayah, aku bisa menjaga diriku sendiri"
"Ayah juga tahu kalau kamu sudah besar nak, tapi ayah akan lebih tenang perginya kalau sudah memastikan ada seorang pria yang bisa menjagamu dengan baik"
"Terserah ayah sajalah" putus Asyifa pasrah, tak ingin lagi berdebat dengan sang ayah.
"Kalau begitu, ayah pergi dulu yah jaga dirimu. Zidan, om pamit pergi dulu"
"Hati-hati ayah. Jangan lupa kabari aku dan Zidan, setelah ayah sampai disana"
"Pasti nak"
Setelah selesai berpamitan dengan Asyifa dan juga Zidan, Kemal secara diam-diam menyelipkan sebuah kertaa ditangan Zidan, seolah ia tak ingin hal itu terlihat oleh Asyifa.
Meskipun terlihat bingung, namun Zidan seperti mengerti maksud dari Kemal, ia pun langsung memasukkan kertas tersebut ke dalam salah satu saku jasnya.
Kemal pun berjalan masuk diiringi dengan lambaian tangan dari Asyifa yang tiada hentinya. Namun bersamaan dengan sosok Kemal yang menjauh, firasat buruk pun juga menghampiri Zidan.
"Zidan? Hei! Zidan!" panggil Asyifa berulang kali, karna Zidan terlihat melamun.
"Ah, iya Fa. Ada apa?"
__ADS_1
"Kamu kenapa melamun seperti itu, aku panggil beberapa kali jiga tidak direspon. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
"Tidak ada, aku hanya merasa sayang saja om harus pulang secepat ini. Padahal aku sudah berniat untuk mengajak om berlibur bersama setelah sidah perceraianmu dengan William berakhir" jawab Zidan asal.
"Ya ampun, aku tidak tahu kalau ternyata kamu sepengertian ini. Ayahku pasti sangat senanh jika memiliki anak sepertimu"
"Benarkah?"
"Tentu saja, dan aku rasa bukan hanya ayahku saja yang ingin memiliki anak sepertimu, tapi semua orang juga ingin. Hanya sayangnya, kamu bukanlah anaknya"
"Sebenarnya ada satu cara yang bisa kita lakukan, supaya membuatku menjadi anak ayahmu juga"
"Apa itu?" tanya Asyifa penasaran.
"Caranya adalah, kamu harus mau menikah denganku, maka secara langsung aku juga telah menjadi anak ayahmu. Simpel bukan?"
"Itu sih mau-maunya kamu saja!" cibir Asyifa sambil mecubit pelan lengan Zidan.
"Tapi memang benarkan ideku? Apa kamu tidak memiliki niat untuk melakukannya? Hitung-hitung sebagai pahala karna sudah mengabulkan keinginan ayahmu"
"Jangan bicara yang aneh-aneh, lebih baik kita kembali ke kantor sekarang!"
"Menurutmu, tanggal berapa dan hari apa yang cocok untuk kita mengadakan pesta pernikahan? Atau kamu lebih memilih untuk langsung tinggal bersama saja denganku?"
"Zidan!" seru Asyifa kesal.
Asyifa yang tak ingin lagi meladeni dan juga mendengar segala ocehan Zidan tentang pernikahan, langsung menatap pria itu kesal. Namum bukannya diam, Zidan menjadi lebih bersemangat untuk menghoda Asyifa.
Tanpa memperdulikan Zidan yang masih berdiri disana, Asyifa pun berjalan pergi menuju mobil dan meninggalkan Zidan begitu saja.
Setelah memastikan Asyifa telah masuk ke dalam mobil, dengan cepat Zidan mengambil surat dari kantongnya, dan mulai membaca isinya. Seketika itu juga, wajah Zidan berubah menjadi sepucat tembok.
"Zidan, apa yang masih kamu lakukan disitu? Ayo cepat masuk ke mobil, kalau tidak aku akan menahan taksi yang lewat dan pulang dengan taksi itu!" ancam Asyifa dengan tak sabaran.
Namun Zidan tak bergeming, pria itu hanya menatap Asyifa dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan, membuat Asyifa menjadi kebingungan sendiri.
"Tuhan, aku harap apa yang dituliskan om Kemal di surat ini, tidak menjadi kenyataan. Karna jika itu sampai terjadi, maka Asyifa akan benar-benar menjadi hancur" batin Zidan dalam hatinya.
Hari sudah berubah sore ketika, Asyifa dan Mira sampai di apertemen mereka. Keduanya pulang tanpa sosok Angel, karna gadis itu masih ada keperluan lain dan harus mampir ke suatu tempat sebelum pulang.
"Akhirnya bisa pulang juga ke apertemen, setelah seharian bekerja tanpa henti seperti robot, dibawah pemerintahan pak Zidan yang gila kerja" ucap Mira, lalu menjatuhkan diri ke atas sofa.
"Aku pikir Zidan adalah pria yang kamu sukai, makanya kamu bisa berteman akrab dengan dirinya hingga sekarang"
"Memang dia adalah pria favorit yang aku dukung dengan sepenuh hati untuk menjadi kekasih bahkan suamimu, tapi dia masih saja tetap sama seperti dulu kalau menyangkut masalah pekerjaan"
"Kenapa tidak langsung protes saja padanya, saat bertemu di luar area perusahaan?"
"Apa kamu pikir aku tidak pernah melakukan hal seperti itu?"
"Memangnya pernah? Kalau begitu, apa yang dikatakannya saat mendengar protes darimu?" tanya Asyifa ikutan duduk disebelah Mira.
"Katanya dia tidak bisa melakukan seperti yang aku inginkan. Karna biar bagaimana pun juga dia harus bisa tetap bersikap profesional di dunia kerja, bahkan saat dirinya sedang berhadapan dengan temannya"
"Hmm, kalau dipikir-pikir jawaban Zidan ada benarnya juga sih. Karna kalau sampai dia menuruti keinginanmu, maka nanti akan menimbulkan kecemburuan antar karyawan lain denganmu"
"Itu juga yang dikatakan oleh Angel. Tapi tetap saja aku kesal, kalau melihat wajah sedatar temboknya itu saat di perusahaan"
"Hahaha, benar juga katamu. Tapi bukannya tu sudah menjadi ciri khas Zidan tersendiri?"
"Aku juga tahu. Yang aku heran, kenapa dia bisa dengan mudah merubah wajahnya menjadi terlihat sangat kasihan, saat sedang meminta sesuatu dariku dan Angel? Atau saat dia sedang bersama denganmu!" gerutu Mira tanpa henti.
"Memangnya seperti apa wajahnya saat sedang bersama denganku?"
"Apa kamu mau lihat? Akan aku contohkan! Dia akan selalu tersenyum manis seperti ini, lalu saat melihat wajah kesalmu, dia akan mulai tertawa senang seperti orang gila!"
Melihat Mira yang terlihat serius menirukan ekspresi Zidan, seketika membuat tawa Asyifa pecah tanpa bisa dicegah. Meskipun Mira mencontohkannya tidak berlebihan, tapi dimata Asyifa tetaplah terlihat lucu.
"Sudah, sudah! Aku sudah tidak kuat lagi tertawa melihat tingkah konyolmu itu. Apa mau mengambil air es dari kulkas, apa kamu juga mau sekalian?"
__ADS_1
"Boleh. Kebetulan aku juga sudah sedari tadi menahan rasa haus ditenggorokanku" jawab Mira sambil menunjukkan ekspresi lucu, supaya bisa membuay Asyifa tertawa lagi.
Dan benar saja, Asyifa pun kembali tertawa lepas lagi. Mira yang melihatnya pun menjadi puas, karna sudah lama sejak terakhir kali dirinya melihat Asyifa tertawa seperti itu.
Setelah puas tertawa, Asyifa pun berjalan menuju kulkas dan mengambil dua botol air es untuk dirinya sendiri dan juga untuk Mira. Hingga saat itu, tak ada sedikit pun firasat buruk yang menghampiri wanita itu.
Asyifa memberikan botol air es milik mira dengan sebelah tangannya, lalu meminum setengah miliknya sebelum meraih tasnya dan berjalan menuju ke kamar.
"Mau kemana?" tanya Mira.
"Mau ke kamar ganti baju, sekalian mandi juga. Badan dan rambutku rasanya lengket sekali, setelah seharian beraktifitas dengan di perusahaan"
"Ya sudah, jangan lama-lama yah? Aku mau ajak kamu nonton drama korea yang hari ini baru tayang" pinta Mira cepat.
"Nontonnya dimana? Di leptopmu, atau di televisi saja?"
"Di televisi saja, biar lebih enak karna layarnya lebih besar dari pada layar leptop. Kita juga bisa sambil bersantai di sofa dan makan cemilan kesukaan kita sepuasnya!"
"Oho, aku seperti sudah bisa membayangkan semua kesenangan itu di otakku. Aku akan segera kembali dalam waktu 15 menit!"
"Siap ditunggu" jawan Mira sambil berpose seperti sedang memberikan penghormatan kepada Asyifa.
Asyifa pun melakukan hal yang sama sebelum akhirnya wanita itu hilang dibalik pintu kamarnya. Mira pun melakukan hal yang sama, dengan masuk ke kamarnya sendiri.
Setelah beberapa saat, Mira akhirnya kembali berjalan ke ruang tamu dengan badan yang lebih segar sehabis mandi. Tak lupa gadis itu membawa setumpuk penuh cemilan dalam pelukannya.
Saat baru saja ingin menyalakan televisi, ia dikejutkan dengan kedatangan Angel dan juga Zidan yang masuk ke dalam apertemen dengan terburu-buru.
"Astaga! Ada apa dengan kalian, kenapa kalian masuknya seperti sedang dikejar oleh seseorang saja?" omel Mira kesal.
"Dimana Asyifa sekarang?" tanya Zidan, tak menanggapi pertanyaan Mira.
"Asyifa? Dia ada di dalam kamarnya, mungkin masih sedang keramas. Memangnya ada apa kalian mencari Asyifa? Wajah kalian berdua juga terlihat pucat sekali"
"Apa sedari tadi dia ada sempat membuka ponsel atau pun menonton televisi?" kali ini Angel yang bertanya.
"Tidak, sejak tadi pulang dari perusahaan dia tidak sempat melihat ponselnya, karna kami sibuk mengobrol berdua. Kalau soal televisi, kami memang rencananya akan membukanya karna ingin menonton drama korea baru yang akan tayang hari ini"
"JANGAN!" seru Zidan dan Angel bersamaan, membuat Mira menatap keduanya dengan tatapan heran.
"Apa sih yang sebenarnya terjadi? Jangan membuatku seperti orang bodoh karna saking bingungnya dengan tingkah kalian berdua saat ini!"
"Pasti akan kami jelaskan padamu nanti. Yang penting sekarang adalah, kamu tidak boleh membiarkan Asyifa menonton televisi atau pun membuka ponselnya!"
Mira baru saja ingin membuka mulutnya untuk kembali mengucapkan sesuatu, namun terhenti saat sosok Asyifa terlihat berjalan keluar dari dalam kamar.
Hanya menggunakan pakaian rumah yang nampak kependekan, dan juga rambut yang masih basah terbungkus handuk, Asyifa seketika terkejut saat mendapati Zidan juga berada disana.
"Kenapa kamu ada di apertemen kami?" tanya Asyifa sambil menutupi kedua pahanya.
"Hanya sekedar mampir sebentar saja. Aku juga membelikanmu beberapa cemilan dan minuman kesukaanmu saat dalam perjalanan pulang tadi"
"Ah, terima kasih. Aku pasti akan menikmati semuanya" jawab Asyifa salah tingkah.
Melihat ekspresi Zidan yang nampak biasa saja saat melihat tampilan dirinya sekarang, membuat Asyifa menjadi sedikit malu karna sudah heboh sendiri.
Demi menutupi semua itu, Asyifa memikirkan sesuatu untuk dilakukan supaya bisa menghilangkannya. Wanita itu pun berjalan ke arah remot televisi dan tanpa berkata apa-apa lagi, langsung menghidupkannya.
"Jangan nyalakan televisinya Asyifa!" teriak Angel dan Zidan panik.
Namun terlambat, televisi kini sudah nyala dan sedang menampilkan sebuah berita yang membuat Asyifa menjadi penasaran untuk menontonnya.
Berita itu adalah berita tentang kecelakaan sebuah pesawat yang baru saja terjadi sejam yang lalu, dan tujuan pesawat itu adalah kota dimana Asyifa dilahirkan.
Yang lebih mengejutkan lagi, saat Asyifa membaca nama pesawat yang mengalami kecelakaan itu, namanya sama dengan pesawat yang dinaiki oleh sang ayah. Saat itu juga tubuh Asyifa menjadi lemas dan jatuh terduduk dilantai.
"Ke_kenapa, kenapa nama pesawatnya sama seperti nama pesawat yang ditumpangi oleh ayahku? I_itu, itu bukan pesawat yang sama kan Zidan?" tanya Asyifa menatap ke arah Zidan, meminta kepastian.
Ketika melihat Zidan hanya diam saja dan tak bisa berkata sepatah kata pun, seketika itu juga tangis Asyifa pecah. Mira yang langsung bisa memahami situasinya, segera memeluk tubuh Asyifa erat.
__ADS_1
Bersambung...