The Ugly Wife

The Ugly Wife
Kasus pembunuhan


__ADS_3

Setelah selesai dengan kegiatan memanen mereka, ibu panti segera memberikan arahan pada semuanya untuk membawa hasil panen masuk ke dalam dapur panti supaya bisa di bersihkan, sebelum disimpan.


Asyifa dan kedua bocah panti yang sejak tadi menemaninya, pun dengan cepat menjadikan hal itu sebagai kesempatan untuk kabur dari pengawasan Eden.


Namun sayangnya mereka bertiga kalah gesit dengan si pria tersebut. Eden yang sangat ingin mereka hindari itu, tiba-tiba sudah saja berdiri dihadapan ketiganya.


"Asyifa, ayo aku antar ke tempat yang ada sinyalnya" ajak Eden, menghampiri Asyifa.


"Aduh, kayaknya tidak bisa hari ini deh Eden. Soalnya aku mau bantu ibu panti dan anak panti lainnya membersihkan sayuran dan juga buah-buahan yang baru di panen tadi, lain kali saja yah perginya"


"Tapi katamu takut kedua sahabatmu nanti panik karna melihatmu pergi dari apertemen tanpa memberi kabar apa pun, kenapa pakai ditunda segala? Kalau masalah hasil panen, biarkan saja penghuni panti yang bersihkan sendiri, mereka sudah terbiasa"


"Tapi aku juga ingin ikut bantu, lagian sudah terlalu sore kalau mau pergi mencari sinyal. Aku juga belum sempat mandi, badanku gatal semua dan lengket"


"Ada apa ini, kamu sepertinya terlihat sangat ingin menghindariku. Apa ada sesuatu yang tanpa sengaja, membuatmu takut padaku?" tanya Eden curiga.


"Ya ampun, mana mungkin aku takut padamu! Yang terjadi seharusnya itu, kamu yang takut padaku, aku kan makhluk terkuat di bumi"


Asyifa berusaha sekuat tenaga untuk terlihat biasa saja, ia bahkan sampai harus mencari candaan yang pasti akan terdengar sangat garing ditelinga semua orang.


Semenit, dua menit, hingga menit ketiga Eden tetap tak memberikan reaksinya atas candaan yang baru saja Asyifa lontarkan. Hanya suara tawa paksa dua bocah yang berada di dekat Asyifa, yang terdengar dalam keheningan itu.


Berada dalam keadaan yang menyesakkan, membuat Asyifa seolah tak bisa bernafas sesuka hatinya, padahal saat ini mereka lagi berada di alam terbuka.


"Ya sudah kalau kamu tidak ingin pergi hari ini, aku juga tidak akan memaksa. Kalau nanti kamu sudah berniat untuk pergi, katakan saja padaku" jawab Eden pada akhirnya.


"Ah iya, pasti. Terima kasih atas tawarannya Eden, kalah begitu kami masuk duluan"


Tanpa membuang waktu sedetik pun untuk tetap berada di tempat itu lagi, Asgifa segera menarik tangan kedua bocah untuk masuk ke dalam panti.


Setelah meletakkan hasil panen yang telah mereka kumpulkan, ketiganya pun langsung menuju ke kamar gadis bisu yang dari awal sudah memiliki kecurigaan pada Eden, untuk menanyakan apa saja yang diketahui gadis itu tentang Eden.


Tok..Tok...Tok..


"Elisa, apa kamu di dalam?" panggil salah satu bocah, sambil mengetuk pintu kamar gadis bisu yang ternyata bernama Elisa itu.


"Elisa? Apa kamu sedang tidur? Tolong buka pintunya sebentar saja, karna ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan padamu" timpal yang lainnya.


"Namanya Elisa? Kalau kalian berdua, siapa namanya? Maaf, soalnya kakak tidak sempat menanyakan nama kalian sedari tadi"


"Namaku Rora, dan dia Nana"


"Ah baiklah Rora dan Nana, bagaimana kalau kak Asyifa saja yang mencoba mengetuk dan memanggil Elisa? Siapa tahu Elisa tidak ingin membukakan pintunya, karna tadi kalian sudah bersikap seolah dia sering bertingkah aneh"


"Baiklah kak"


"Elisa, apa kamu mendengar suara kakak? Ini kak Asyifa yang baru datang dari kota, apa kamu bisa membukakan pintunya? Karna kak Asyifa ingin berbicara sebentar dengan Elisa" bujuk Asyifa.


Namun tetap saja tidak ada respon apa pun dari dalam kamar Elisa, seolah tidak ada seorang pun disana. Karna tidak sabaran lagi, Asyifa pun secara perlahan mulai memajukan sebelah matanya untuk mengintip melalui celah yang ada di lubang kunci.


Cahaya dalam kamar itu terlihat lumanyan gelap, karna lampunya tidak dinyalakan dan hari sudah mulai menjelang malam. Ketika sedang berusaha untuk bisa melihat lebih jelas lagi, tiba-tiba sekelebat bayangan hitam lewat di depan lubang pintu membuat Asyifa terkejut dan spontan berjalan mundur.


"Ada apa kak? Apa kakak melihat ada Elisa di dalam kamarnya?" tanya Nana penasaran.


"Kakak? Kak Asyifa!"


"Eh iya, Rora"


"Kakak baik-baik saja kan? Kenapa wajah kak Asyifa berubah menjadi pucat seperti itu, apa yang sudah kakak lihat barusan di dalam kamar Elisa?"


"Entahlah, kakak juga tidak yakin apa yang kakak lihat barusan. Karna lampunya tidak dinyalakan, jadi kakak tidak bisa melihat jelas. Bahkan kakak sempat berhalusinasi, kalau ada bayangan hitam yang lewat di dalamnya" jelas Asyifa cepat, tak ingin membuat kedua bocah itu khawatir.

__ADS_1


"Apa kakak yakin? Siapa tahu bayangan hitam yang kakak lihat itu benaran, dan ternyata itu adalah Elisa?"


"Benar kata Nana, apa tidak sebaiknya kita mencoba memanggil Elisa beberapa kali lagi? Aku ingin segera mendengar cerita darinya, mengenai kak Eden"


"Baiklah, kita coba panggil lagi. Tapi kalau Elisa masih tetap tidak menjawab juga, maka kita tunggu saja sampai dia keluar nanti saat jam makan malam"


"Baik kak"


Ketiganya pun kembali bergantian memanggil nama Elisa berulang kali, sambil tak lupa untuk terus mengetuk pintu gadis itu. Namun hasilnya tetap sama, tak ada jawaban atau suara apa pun dari dalam.


Karna mengira Elisa masih kesal pada Nana dan juga Rora, Asyifa akhirnya menyarankan untuk mereka berhenti saja, dan menunggu hingga Elisa keluar dari kamarnya dengan sendirinya.


Beberapa jam pun berlalu dan pada akhirnya menunjukkan pukul 8 malam, waktunya untuk makan malam bersama. Asyifa dan semua anak panti, mulai sibuk menyiapkan segala macam hidangan dan peralatan makan diatas meja makan dengan rapi.


Tapi hingga tiba waktunya akan makan, sosok Elisa masih belum juga kelihatan disana. Hal itu sontak membuat Asyifa, Rora dan Nana merasa heran sekaligus cemas.


"Maaf bu, kalau boleh tau Elisanya mana yah? Kok sedari tadi aku tidak melihat Elisa, pas dipanggil-panggil ke kamarnya juga tidak ada sahutan sama sekali" tanya Asyifa pada ibu panti, yang baru saja duduk dikursinya.


"Elisa? Bukannya di dalam kamarnya yah? Tadi pas ibu bawa dia masuk ke dalam panti, katanya dia mau tiduran saja sampai sore jadi ibu biarkan saja"


"Ah, begitu. Tapi apa tidak sebaiknya kita bangunkan saja bu? Lagian sekarang sudah malam, dia kan juga harus makan malam"


"Benar juga, kalau begitu biar ibu saja yang bangunkan. Atau, Asyifa juga ingin ikut pergi bersama ibu?"


"Boleh bu. Rora sama Nana, mau ikut juga tidak? Biar sekalian bisa minta maaf sama Elisa, soal kejadian yang tadi siang"


"Iya, mau kak" jawab keduanya kompak.


Akhirnya keempat orang itu pun melangkah menuju ke kamar Elisa. Keadaannya pun tak berubah sama sekali, Elisa masih tetap tidak menyahut meskipun sudah dipanggil berulang kali oleh ibu panti dan juga Asyifa.


"Apa Elisa biasanya memang seperti ini kalau sedang istirahat bu?"


"Tidak juga, biasanya dia hanya akan tidur selama 1 jam saja saat siang hari. Dia juga yang paling cepat datang, kalau sedang ada sesuatu yang ingin dikerjakan bersama. Apa jangan-jangan ada sesuatu yang buruk terjadi padanya di dalam?" tanya ibu panti cemas.


"Ada. Ibu selalu menyimpan dua kunci setiap kamar, sebagai cadangan untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu"


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuka kamar Elisa menggunakan kunci itu dari luar saja bu? Supaya kita bisa langsung masuk dan mengecek keadaan Elisa"


"Benar juga katamu. Kalau begitu tunggu sebentar yah, akan segera ibu ambilkan kunci cadanganya"


Ibu panti pun bergegas pergi, dan kembali lagi dengan sebuah kunci kecil ditangannya. Tanpa membuang waktu lagi, Asyifa segera membuka kamar Elisa menggunakan kunci tersebut.


Saat Asyifa mendorong pintu kamar supaya terbuka lebar, keadaan disana sangat sunyi dan juga gelap gulita. Samar-samar, Asyifa mencium bau darah segar yang sangat tajam menusuk hidungnya.


Dengan perasaan waspada, Asyifa mencari dimana letak tombol lampu berada. Setelah berhasil menyalakan lampu, tubuh Asyifa seketika bergetar hebat melihat penampakan yang ada di depan matanya.


Tubuh gadis yang selalu terlihat ceria dan selalu menampilkan senyum indahnya pada Asyifa itu, kini tergantung diatas langit-langit kamarnya dengan keadaan yang sangat mengenaskan.


Ada bekas tebasan panjang pada permukaan lehernya yang saat ini terikat oleh tali tebal. Ada juga beberapa bekas tusukan dibagian luat bajunya, hingga darah merembes turun dari sana dan jatuh mengenai lantai.


Gaun warna putih yang dipakainya, kini telah berubah warna menjadi merah darah yang mengerikan. Yang membuat Asyifa merasa sangat sakit hati ialah, bahkan sampai akhir hayatnya, Elisa tetap memberikan senyuman terbaik diwajahnya sebelum ia pergi menuju ke alam baka.


"Argggghhh, Elisa. Ya tuhan, apa yang sudah terjadi padamu nak! Siapa yang tega-teganya melakukan semua ini pada gadis malangku" teriak ibu panti histeris, sambil memeluk erat tubuh Elisa.


Anak-anak panti lainnya yang mendengar teriakan sang ibu panti mereka, pun menjadi penasaran dan beramai-ramai ikut datang ke kamar Elisa untuk melihat apa yang terjadi.


Seketika itu suasana menjadi sangat gaduh dan terkendalikan. Suara-suara tangisan, dan juga suara jeritan ketakutan, mulai memenuhi seluruh penjuru rumah.


Hanya beberapa anak panti pria yang dengan cepat mengambil tindakan, untuk segera pergi mencari bantuan dari warga desa yang tinggal tak jauh dari panti.


*****

__ADS_1


"Jangan disentuh!" teriak Asyifa cepat, saat melihat para warga ingin menurunkan jasad Elisa dari atas.


"Kenapa jangan diturunkan? Apa kamu ingin kami membiarkan Elisa tergantung kesakitan terus diatas sana?" protes salah seorang warga.


"Apa bapak tidak tahu apa yang harus kita lakukan pertama-tama saat terjadi sebuah kasus pembunuhan? Kita harusnya menelpon pihak kepolisian, dan membiarkan mereka yang menangani kasus ini. Dan kalau bapak sembarangan menyentuh jasad Elisa, bukti penting yang ada disana mungkin saja akan ikut terhapus!"


"Ya ampun, ini adalah sebuah desa terpencil di pinggiran kota, apa kamu pikir akan ada polisi yang mau datang malam-malam seperti ini untuk memeriksa satu mayat saja?"


"Satu mayat saja? Apa bapak sadar dengan apa yang baru saja bapak ucapkan? Satu mayat ini adalah seseorang yang mati karna pembunuhan kejam yang dilakukan oleh orang lain, kalau kita tidak menangani dan menangkap pelakunya, bisa-bisa akan ada lebih dari satu mayat yang ditemukan lagi setelah ini! Apa bapak ingin hal seperti itu terjadi?" tanya Asyifa marah.


Mendengar perkataan Asyifa, bapak itu pun menjadi diam seketika. Apalagi, banyak suara dari para warga lain yang mulai perlahan ikut setuju dengan pendapat Asyifa.


"Baiklah, kita akan panggil polisi untuk datang menangani mayat Elisa. Tapi, akan berapa lama mereka tiba ditempat ini?"


"Kalau soal itu, bapak tidak usah cemas dan serahkan saja padaku. Aku sendiri yang akan membuat mereka tiba secepat mungkin"


Setelah berkata seperti itu, Asyifa menyuruh seorang pria yang juga adalah warga desa untuk mengantarnya ke tempay yang ada sinyal untuk menelpon. Tapi sebelum pergi, tak lupa ia juga menyuruh beberapa warga untuk tetap berjaga di dalam kamar Elisa.


Saat sampai ditempat yang ada sinyalnya, Asyifa dengan cepat mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku celana. Benar saja, sinyal langsung muncul dilayarnya.


Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Asyifa segera menekan tombol panggil pada nomor pria yang selalu bisa andalkan dan mintai bantuan dalam setiap keadaan.


"ASYIFA! DIMANA KAMU? KENAPA KAMU PERGI BEGITU SAJA TANPA MENGATAKAN APA PUN PADA KAMI, APA KAMU TAHU BETAPA CEMASNYA AKU?" teriak suara di ujung sana yang terdengar sangat marah.


Bukannya menjadi takut, atau pun balas marah juga, Asyifa malah menangis dengan sekecang-kencangnya disana. Bahkan pria yang mengantarnya, sampai panik karna tidak tahu alasan Asyifa tiba-tiba menangis.


"A_Asyifa, ma_maafkan aku. A_aku bukannya berniat ingin memarahimu, aku hanya terlalu senang dihubungi olehmu. Tolong jangan menangis lagi, Asyifa" pinta suara itu panik.


"Zi_Zidan, Zidan!"


"Iya, Asyifa aku disini. Tolong berhentilah menangis, aku sungguh tidak melakukannya dengan sengaja tadi saat berteriak padamu"


"Zidan, ba_bagaimana ini? A_aku sangat takut sekarang, di_ditempat yang aku datangi, te_telah terjadi suatu kejadian yang sangat mengerikan!"


"Apa maksudmu Asyifa? Tempat yang mana? Kamu ada dimana sekarang? Dan kejadian apa yang sudah terjadi disana?" tanya Zidan bertubi, sakinga paniknya.


"Aku datang ke sebuah panti asuhan yang ada di sebuah daerah terpencil di pinggiran kota, dan tadi baru saja terjadi seuatu pembunuhan terhadap salah satu anak panti!" jawab Asyifa dalam satu tarikan nafas.


"APA?!"


"Sekarang aku harus bagaimana, Zidan? Aku sangat takut"


"Baiklah, kamu tenangkan dirimu dan coba dengarkan arahan dariku. Pertama-tama yang harus kamu lakukan adalah menjaga kondisi kejadian untuk tetap seperti saar pertama kali ditemukan, lalu hubungi polisi untuk segera datang"


"Aku sudah melakukan hal pertama yang kamu katakan, tapi aku belum melakukan yang kedua. Kata para warga, polisi sangat susa untik dipanggil ke tempat ini karna jarak yang jauh dan tempatnya yang terpencil"


"Kalau begitu, kamu kirimkan lokasimu saat ini ke ponselku, biar aku yang akan menelpon polisi untuk segera datang kesitu"


"Baik Zidan"


Asgifa pun dengan cepat mengetik nama desa yang menjadi lokasinya berada saat ini dan mengirimkannya melalui pesan teks ke ponsel Zidan.


"Aku sudah menerima pesanmu, dan Raka juga sedang menghubungi polisi sekarang untuk datang secepatnya ke lokasimu. Tolong tetap aktifkan ponselmu selama itu"


"Tidak bisa, disini sinyalnya susah. Untuk bisa menelponmu saja, aku harus diantar oleh warga kampung ke tempat yang ada sinyal"


"Ya tuhan! Kalau begitu, aku mohon padamu untuk selalu berhati-hati terhadap orang yang ada disekitarmu, karna mungkin saja pelaku pembunuhannya adalah seseorang yang tidak pernah kamu duga"


"Aku janji akan berhati-hati"


"Bagus. Sekarang pulanglah kembali ke panti dan tunggu aku disana, karna aku akan segera berangkat saat ini juga"

__ADS_1


"Baik Zidan"


Bersambung...


__ADS_2