The Ugly Wife

The Ugly Wife
Dilamar


__ADS_3

Asyifa memandang terkejut ke sekeliling ruangan, yang beberapa menit lalu masih dalam keadaan gelap gulita.


Kini bagai mendapat sebuah mantra sihir, ruangan itu pun berubah menjadi tampak sangat indah. Temboknya dihiasi dengan balon dan pernak pernik berwarna putih dan juga pink yang mendominasi.


Beberapa belas kursi berjejer rapi disebelah kanan dan kiri, dipenuhi oleh para anak panti yang tersenyum dengan wajah berbinar ke arah Asyifa.


Tapi dari semua pemandangan indah itu, ada satu yang paling mencuri perhatian Asyifa. Sebuah kue tingkat berwarna putih yang tampak mencolok berada ditengah ruangan, dan dengan hiasan boneka seorang pria yang sedang melamar seorang wanita menghiasi diatasnya.


Seolah mendapat sebuah petunjuk, Asyifa segera berbalik memandangi sosok Zidan yang masih tetap setia berdiri dibelakangnya, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Satu hal lagi yang membuat Asyifa semakin yakin dengan tebakannya, yaitu karna kini Zidan tengah bergerak-gerak dengan gelisah, sambil memasukkan tangan kanannya ke dalam saku.


"Zidan?" panggil Asyifa, sambil menyentuh tangan pria itu perlahan.


"Ah iya. Ja_jadi ini, i_itu, apa. Hah! Kenapa aku tiba-tiba tidak bisa bicara seperti ini, malah terbata-bata seperti orang bodoh!" runtuk Zidan kesal.


"Tidak apa, aku bisa kok menunggu dirimu sampai bisa kembali bicara normal lagi. Jadi pelan-pelan saja, dan juga jangan terlau keras pada dirimu sendiri"


"Maaf Asyifa, pasti kamu sudah mempunyai bayangan tersendiri tentang apa yang baru saja kamu lihat, tapi aku malah merusaknya dengan kegugupanku"


"Aku rasa, semua pria pasti pernah merasa gugup sepertimu ketika berada di momen penting ini"


"Terima kasih atas pengertianmu, Asyifa. Tapi apa kamu bisa memberikan waktu sebentar saja padaku, untuk mempersiapkan diri lagi?"


"Tentu saja"


Zidan pun memilih membelakangi Asyifa, untuk menyembunyikan wajahnya yang kini berubah warna, menjadi semerah tomat masak.


Sedang keempat sahabat Zidan dan Asyifa, asyik tertawa pelan melihat tingkah langkah pria tersebut. Namun para anak panti yang polos, malah ikut tegang bersama Zidan, karna takut acara itu tidak berjalan dengan lancar.


Meskipun Zidan memiliki banyak pengalaman tentang mendekati wanita sewaktu masih sekolah, dan juga pernah berpacaran, namun tetap saja ini adalah acara lamaran pertama yang dipersiapkannya untuk wanita yang dicintainya. Jadi maklum saja jika pria itu merasa gugup.


Berbeda dengan Asyifa yang meski sama gugup dan juga terkejut, tapi tetap bisa untuk mengontrol semua perasaan tersebut dengan baik.


Mungkin karna ini bukan pertama kalinya lagi dirinya dilamar, atau karna ia sudah pernah memiliki pengalaman berumah tangga, membuat Asyifa terlihat jauh lebih dewasa dan percaya diri.


"Tes, tes, tes. Perhatian untuk semua yang telah berada di ruangan ini, apa aku bisa meminta fokus kalian semua untuk diarahkan hanya padaku?"


"Raka! Dasar gila! Apa yang sedang kamu lakukan sekarang, kenapa kamu malah berdiri di tempat yang telah kita siapkan untuk Zidan dan Asyifa?!" bisik Mira marah, ke arah Raka yang tiba-tiba saja berbicara seolah sedang memandu acara tersebut.


"Kamu diam saja, aku sekarang sedang berusaha untuk membantu Zidan. Apa kamu tidak bisa melihatnya?"


"Membantu? Yang benar saja, yang ada nanti kamu malah akan membuat acara yang kita persiapkan bersama Zidan dengan susah payah ini, hancur berantakan!"


"Biarkan saja Mira, Raka pasti tahu apa yang sedang dilakukannya sekarang. Jadi kita cukup memperhatikan, dan percayakan saja semuanya pada Raka. Silakan Raka, lanjutkan lagi acaranya" sela Adam, menengahi.


Mendapat sinyal hijau dari Adam, Raka pun tersenyum senang dan kembali menyiapkan kata-kata yang bagus untuk kembali memulai acaranya lagi.


"Ehem. Maaf yah para hadirin, karna tadi ada sedikit gangguan dari sistemnya, tapi sudah kami atasi dengan baik" ucap Raka bercanda.


Mendengar itu, Mira segera memutar kedua bola matanya malas. Sedang anak-anak panti tertawa riuh, karja tahu bukan itu yang telah terjadi sebenarnya.


"Sebelum membuka kembali acara kita ini, aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan terlebih dahulu. Apakah dari antara ribuan tamu yang hadir diruangan ini, apa ada yang bisa menebak, ada acara apa sih hari ini?"


"Aku tahu! Aku tahu! Aku tahu!" jawab para anak panti heboh, saling berebut untuk bisa diberikan kesempatan menjawab oleh Raka.


"Ya, silahkan Nana!"


"Acara yang diadakan oleh kak Zidan hari ini, adalah acara kejutan yang dipersiapkan untuk bisa melamar kak Asyifa menjadi pasangam hidup kak Zidan selamanya"


"Benar sekali, hebat kamu Nana! Dan karna kamu sudah menjawab dengan benar, kamu akan kaka beri tugas untuk berdiri disamping kak Asyifa sekarang"


"Siap kak"

__ADS_1


Nana dengan cepat menuruti perintah Raka, dan berjalan menghampiri Asyifa. Melihat kedatangan Nana kecil, Asyifa mau tidak mau terseyum gemas dan meraih tangan gadis itu untuk digenggam erat.


"Satu pertanyaan lagi untuk kaum wanita yah, apakah ada yang tahu kenapa kak Zidan kita, memutuskan untuk melamar kak Asyifa?"


"Aku! Aku tahu!"


"Wah Rora, pelan-pelan saja teriaknya. Kakak pasti akan tetap bisa melihatmu, sekali pun kamu tidak berteriak sekencang itu. Jadi apa jawabanmu?"


"Karna kak Zidan takut kak Asyifa dilamar oleh pria lain, apalagi kak Asyifa kan sangat cantik! Jadi dari pada keduluan orang lain, kak Zidan memilih bergerak cepat!"


"Hahahaha, pintar sekali jawabanmu Rora. Yah walaupun agak lucu juga, tapi memang ada benarnya. Baiklah, Rora juga silakan menuju kesamping kak Asyifa"


"Siap kak!"


Rora melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Nana, dan Asyifa pun turut meraih tangan gadis itu untuk masuk ke dalam genggamannya erat.


"Karna kak Asyifa sudah mempunyai dua dayang untuk mendampinginya, sekarang saatnya kak Zidan yang membutuhkan bantuan kita. Apa kalian bisa bantu?"


"Bisaaaaaa kaaakaaak!"


"Bagus! Kalau begitu ayo kita beri semangat pada kak Zidan, supaya bisa maju ke depan ruangan dan menunggu kedatangan kak Asyifa. Beri tepuk tangan yang meriah untuk kak Zidan!"


Mendengar banyaknya tepuk tangan yang berbunyi demi menyemangatinya, seketika itu juga rasa percaya diri Zidan pun meningkat kembali.


Dengan gagah, pria itu mulai berjalan secara teratur ke arah depan ruangan dimana kue bertingkah diletakkan.


"Kerja bagus adik-adikku sayang. Sekarang giliran meminta bantuan Rora dan Nana untuk membawa kak Asyifa berjalan ke arah kak Zidan. Apa kalian berdua siap?"


"Sudah kak!"


"Silahkan jalan!"


Asyifa dalam tuntunan langkah kedua gadis kecil disampingnya, pun berjalan menuju ke arah Zidan dengan senyuman mereka di bibir manisnya.


Bagi Asyifa, itu adalah acara kejutan yang paling manis yang pernah terjadi di dalam hidupnya, karna dihadiri oleh para jelmaan malaikat dan juga sahabat yang sudah seperti keluarga bagimya.


"Terima kasih atad bantuan kalian berdua Rora dan Nana, sekarang kalian sudah bisa kembali ke tempat kalian masing-masing" pinta Raka, setelah Asyifa sampai.


"Baik kak"


"Nah, sekarang kelanjutan acara ini akan kakak berikan kepada kak Zidan untuk membawa kita ke tahapan yang berikutnya. Silahkan Zidan"


"Huh! Maaf karna tadi acara sempat terhenti karna aku sedikit merasa gugup. Bagaimana tidak gugup, sebentar lagi aku akan melamar seorang wanita cantik yang sudah sangat lama aku cintai"


"Cieeeeeee" semuanya bersorak.


"Asyifa"


"Iya, Zidan"


"Tadi kamu sudah mendengar sendiri dari Raka dan juga anak-anak panti, bahwa acara ini adalah acara, yang aku siapkan dengan penuh keyakinan untuk bisa melamarmu"


"Iya aku dengar"


"Kamu juga pastinya sudah berulang kali mendengar pernyataan cinta yang ku katakan padamu. Saat itu aku menembakmu untuk bisa menjadi pacarku, tapi kini aku berubah pikiran, dan lebih ingin menjadikanmu wanita yang akan selalu menemaniku hingga ke masa tuaku nanti"


Zidan mengambil nafas sebentar untuk bisa melanjutkan perkataannya lagi.


"Mungkin aku kelihatannya seperti seorang pria tangguh yang sudah diberkahi oleh tuhan segala sesuatunya. Tapi dibandingkan semua hal itu, ada satu hal yang lebih ingin ku miliki, yaitu dirimu. Aku yang tangguh bisa menjadi rapuh tanpa kehadiranmu, dan bahkan aku yang pintar bisa menjadi bodoh saat menatap wajahmu. Aku yang selalu terlihat kokoh, bisa juga goyah dan menangis seperti anak kecil jika melihatmu dalam bahaya. Demi semua perasaan itu, dan demi keinginan almarhum ayahmu, aku ingin melamarmu untuk bisa menjadi istriku"


"Aku berjanji akan mewujudkan kebahagiaan yang selama ini tak pernah bisa kamu rasakan, dan yang selama ini terus dicari-cari olehmu. Aku juga berjanji akan menjaga cinta dan kesetiaanku hanya untukmu seorang, melindungi dan juga menyayangimu, semua hal yang kamu inginkan dalam hidup ini, akan aku coba penuhi sebisaku. Hanya dengan satu jawaban darimu, apakah kamu bersedia menjadi istriku Asyifa?"


Asyifa yang terharu mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Zidan, tanpa sadar telah dipenuhi oleh air mata yang terus mengalir tanpa henti.

__ADS_1


Ia bahkan tidak bisa membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Zidan, hanya anggukan kepala yang bisa Asyifa berikan sebagai pertanda dirinya bersedia menjadi istri Zidan.


Bahagia mendapat jawaban yang diinginkan olehnya, Zidan segera meraih tangan Asyifa dan menyematkan sebuah cincin berlian yang tampak indah ke jari manis wanita itu, lalu memeluknya erat.


"Terima kasih Asyifa, terima kasih. Terima kasih karna sudah bersedia menerima diriku yang penuh dengan kekurangan ini"


Semuanya bersorak gembira melihat acara itu berjalan dengan sukses. Sambil menikmati makanan dan minuman yang tersedia disana, mereka merayakan kegembiraan itu.


*****


Di sisi lain, di sebuag rumah sakit dimana Eden sedang dirawat, sebuah keajaiban pun turut hadir disana.


Pria yang telah divonis oleh beberapa dokter ahli yang sudah sangat berpengalaman di bidang itu, bahwa dirinya tidak lagi memiliki harapan besar untuk hidup, kini secara tanpa terduga menunjukkan adanya respon.


"Do_dokter, pa_pasien, pasien baru saja menggerakkan salah satu tangannya secara tiba-tiba" ucap seorang perawat terkejut.


"Apa? Kamu yang benar saja, bagaimana bisa pasien yang sudah tidak ada harapan dan sebentar lagi harus kita cabut alat penopang hidupnya, tiba-tiba bergerak? Jangan bicara sembarangan kamu!"


"Aku serius dok, tadi dia bergerak! Masa aku bohong sih, kan dokter juga tahu kalau aku paling susah untuk berbohong"


"Baiklah kalau kamu tidak berbohong, tapi mungkin saja kamu hanya berhalusinasi saja tadi karna saking kelelahannya berjaga malam. Iyakan?"


"Aku memang cape dan lelah juga karna harus bekerja ekstra, apalagi kita kekurangan tenaga medis. Tapi aku tidak mungkin sampai berhalusinasi segala, dok. Aku benar-benar melihat, kalau pasien ini tadi bergerak"


Baru saja dokter akan membuka mulutnya untuk kembali membantah ucapan perawat itu, ketika ekor matanya menangkap adanya pergerakan dari sosok Eden yang sedang berbaring di ranjang.


Tapi kali ini, bukan hanya tangan Eden yang bergerak saja, tapi kedua mata pria itu juga ikut-ikutan terbuka secara perlahan.


"Ya tuhan! A_apa yang sedang aku lihat saat ini, apa ini nyata? A_aku, aku pasti sedang berhalusinasi kan?!"


"Dokter tidak sedang berhalusinasi, memang pasien yang sudah divonis akan meninggal itu, secara ajaib telah kembali sadar. Apa sekarang dokter sudah mau percaya dengan ucapanku?"


Tanpa menanggapi ucapan sinis perawatnya, dokter itu segera berjalan ke arah Eden dan mulai memeriksa keadaan pria itu, takut kalau ternyata ada sesuatu yang tidak beres.


Tapi pada kenyataannya, kondisi Eden sudah benar-benar siuman dan telah melawati masa komanya. Kini semua kondisi vital pria itu kembali membaik.


"Pak Eden? Apa bapak bisa mendengarkan suaraku? Kalau bapak bisa mendengarnya, tolong gerakkan salah satu jari milik bapak sebanyak satu kali"


Meskipun kesulitan, Eden tetap berusaha untuk melakukan intruksi yang diberikan oleh dokter padanya.


"Syukurlah kalau bapak bisa mendengarkan suaraku. Kalau begitu, aku akan segera menghubungi ibu Asyifa sebagai wali bapak, untuk datang kesini. Bolehkan pak?"


Sekali lagi Eden menggerakkan jarinya, saat mndengar ada nama Asyifa disebut.


"Baiklah. Suster, tolong segera hubungi ibu Asyifa dan juga pak Zidan, supaya mereka bisa secepatnya datang kesini"


"Baik dok"


Dengan cepat, dokter segera keluar dari ruang rawat Eden untuk menghubungi Asyifa dan juga Zidan. Sedang dokter yang tetap berada dalam ruangan tersebut, kembali memulai memeriksa kondisi Eden lebih lanjut.


Tak butuh waktu lama, keajaiban itu dengan cepat menyebar ke seluruh rumah sakit, dan membuat mereka penasaran terhadap sosok Eden, dan mulai mencari tahu segala sesuatu tentang pria itu.


Namun hal itu justru membawa mereka pada kasus ibu Eden yang adalah seorang psikopat berdarah dingin, yang sering membunuh anak asuhnya satu persatu.


Melihat adanya keterlibatan Eden disana, para orang itu pun menaruh rasa benci pada Eden secara mutlak, meskipun sudah dijelaskan dalam surat kabar, bahwa Eden melakukanya secara terpaksa.


"Dokter, gawat!"


"Kenapa? Apanya yang gawat?"


"Tadi setelah selesai menelpon dan memberi kabar pada ibu Asyifa dan pak Zidan, aku tanpa sengaja mendengar kalau para pasien sedang heboh dengan berita ibu pak Eden yang ternyata adalah seorang psikopat"


"Lalu, apa masalahnya dengan mereka? Mau Eden anaknya psikopat kek, anaknya orang gila kek, atau pun anak alien, memangnya ada hubungan apa sama mereka?"

__ADS_1


"Iya, memang tidak ada hubungannya dok. Tapi mereka protes, kalau tidak ingin berada dalam satu rumah sakit dengan anak dari seorang psikopat!"


Bersambung...


__ADS_2