The Ugly Wife

The Ugly Wife
Ketergantungan


__ADS_3

"A_apa maksudmu, a_aku tentu saja tidak kenal dengan kalian semua, dan apa yang ingin kalian lakukan padaku hingga susah payah mengejarku seperti itu!"


"Kalau memang kamu tidak mengenal kami, lalu kenapa saat melihat aku dan temanku di depan pintu rumah sakit, kamu malah segera lari seperti orang yang sudah melakukan suatu kesalahan besar?"


"A_apa-apaan perkataanmu itu! Aku lari tadi, karna kalian berdua datang dan melihatku dengan tatapan aneh. Mana mungkin ada orang yang tidak lari, jika dilihat seperti itu!" kelit Elina cepat.


"Oke lah, anggap saja kamu memang lari karna Mira dan Angel yang tiba-tiba datang dan melihatmu dengan tatapan aneh. Tapi apa kamu masih tetap bisa berkelit, jika aku dan Asyifa bilang pernah melihatmu sedang berpura-pura menjadi perawat teman kami?" tanya Zidan sinis.


Sontak saja wajah Elina berubah menjadi pucat pasi, dan kedua bola matanya terbelalak kaget, seperti orang yang baru saja melihat hantu.


Tapi yang hebatnya, hanya dalam hitungan detik saja, dia sudah bisa mengontrol dirinya untuk merubah ekspresinya supaya terlihat biasa-biasa saja.


"Untuk apa aku berpura-pura menjadi perawat teman kalian, sedang kan profesku adalah seorang perawat benaran? Jika kalian ingin menuduh seseorang, tolong berikan tuduhan yang masuk akal, jangan seperti ini!"


Asyifa yang tidak ingin berdebat panjang lebar, mengambil ponsel miliknya dari dalam tas, dan mulai menekan tombol panggil pada sebuah nomor baru yang beberapa hari pernah menelponnya.


Ketika menunggu beberapa saat hingga nada panggilan terbubung, bersamaan dengan itu juga, sebuah dering ponsel berbunyi dari arah tas yang dibawa oleh Elina.


Karna hal itu, semua mata pun kini tertuju pada tas Elina yang masih saja mengeluarkan bunyi-bunyian khas saat seseorang mendapat panggilan telepon.


Namun dengan pintarnya, dan tanpa sempat dilihat oleh seorang pun yang ada disana, gadis itu menekan tombol tolak dan dengan percaya dirinya, berpura-pura seolah sedang menerima telepon.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Elina pada layar ponselnya yang telah berubah menjadi hitam lagi seperti sebelumnya.


"Astaga, aku lupa kalau sudah meninggalkan kamu sendirian di depan sana. Tunggu yah, aku akan segera kesana sekarang" lanjutnya mengakhiri telepon pura-pura itu.


"Pacarmu yang tadi itu yah, yang menelpon?" tanya Angel polos.


"Iya. Kalau sudah tidak ada yanh ingin kalian katakan dan tuduhkan padaku lagi, maka aku ingin pamit pergi dari sini sekarang juga. Karna pacarku sudah menunggu terlalu lama di depan"


Ketika Elina baru saja akan melangkahkan sebelah kakinya untuk segera pergi dari sana, saat itu juga tangan Raka sigap menangkap tangan gadis itu untuk menghentikannya.


"Ada apa lagi?!" tanya Elina kesal.


"Eitsss, jangan marah-marah dong mba Elina. Kita semua disini kan tidak memakai yang namanya kekerasan sama kamu, jadi tidak perlu semarah itu"


"Kamu sudah gila yah? Sekali pun kamu sama teman-temanmu itu tidak menggunakan kekerasan sama sekali padaku, tapi kalian yang menyita waktuku dengan paksa, sudah termaksud tindak kejahatan! Apa kalian ingin dilaporkan ke pihak berwajib?" ancam Elina dengan berani.


Plok... Plok... Plok..


Mendengar ancaman gadis itu, Zidan segera memberikan tepuk tangan berulang kali untuknya, sambil tersenyum menahan tawa.


"Hebat juga yah kamu, bisa-bisanya sempat mengancam akan melaporkan kami semua ke pihak berwajib. Padahal kamu tahu, kalau sampai kita benaran kesana, maka pihak yang harus mengkhawatirkan dirinya adalah kamu, dan bukannya kami"


"Ya tuhaaaaannn, apa lagi maksud dari pria sinting ini!? Apa kamu masih tetap ingin bersikeras untuk menuduhku kalau aku ini pernah melakukan perbuatan nekat dengan berpura-pura menjadi perawat temanmu?"


"Aku bukannya sedang menuduhmu, tapi itu memang kenyataan yang sebenarnya. Jadi kamu sebaiknya segera mengakui perbuatan jahatmu itu, sebelum aku berubah pikiran dan malah menelpon polisi datang ke tempat ini sekarang juga!"


"Silakan saja kalau kamu ingin menelponnya, tapi jangan pernah tahan aku untuk tetap berdiri di tempat konyol ini! Karna aku masih punya banyak janji penting setelah ini!" jawab Elina ketus, dan berlalu pergi dari sana.


"Kalau begitu, biar kami saja yang akan mengikutimu pergi sampai ditempat dimana pacarmu sedang berada sekarang. Bukannya itu lebih simpel untukmu?"


Mendengar usulan Adam, mau tidak mau Elina harus menghentikan langkah kakinya menuju ke area depan rumah sakit. Gadis itu berbalik, dan memberikan tatapan benci pada Asyifa dan yang lainnya.


Dengan kesal, Elina melangkah ke arah Adam dan mendorongnya sekuat tenaga hingga jatuh terdudu diatas lantai batu.


"Hei! Kenapa kamu menjadi sekasar itu pada temanku? Apa kami sedari tadi melakukan hal kasar padamu, sehingga kamu membalasnya dengan melakukan ini?!" tanya Mira marah.


"Diam! Kalian benar-benar sudah membuatku menjadi sangat kesal dan juga marah. Harus sampai berapa kali lagi aku bilang, kalau aku bukanlah orang yang kalian maksud? Jadi tolong pergi dari sini, dan jangan pernah lagi muncul dihadapanku!"


"Kami tidak akan melakukannya seperti yang kamu inginkan, selama kamu juga tidak ingin mengakui kejahatanmu, dan mengembalikan Eden pada kami!" tolak Asyifa tegas.


Sambil memberikan sebuah kode pada Angel, Asyifa kembali menekan tombol panggil pada nomor Elina untuk membuktikan kalau semua yang mereka katakan tentang gadis itu, benar tanpa ada rekayasa.

__ADS_1


Begitu ponselnya berdering, Elina buru-buru mengeluarkannya lagi dari dalam tas untuk melihat siapa yang menelpon. Melihat nama Asyifa, Elina pun berniat menolaknya.


Tapi kalah cepat dari gerakan tangan Angel yang tanpa terduga, sudah berdiri saja di samping gadis itu dan merebut ponselnya, sesuai dengan arti kode yang diberikan oleh Asyifa barusan.


"Apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa seenaknya saja merebut ponsel milik orang lain? Apa kamu preman?! Aku minta, cepat balikan ponselnya padaku!"


"Tentu akan kami kembalikan lagi, tapi itu setelah aku selesai memeriksa nomor yang tertera di ponselmu, dengan yang ada di dalam ponselku!" jawab Asyifa enteng.


"Apa-apaan, kenapa jadinya kamu yang bisa memutuskan seenaknya? Itu kan ponselku, jadi sudah seharusnya diperiksa saat kalian mendapat ijin dariku!"


Asyifa yang terlihat sedang sibuk melakukan apa yang dibilangnya barusan, memilih untuk mengabaikan semua perkataan Elina dan fokus pada tujuannya.


Hal itu membuat perasaan Elina yang sudah tak tenang, malah semakin menjdi-jadi. Tak hanya ingin diam saja, dan menyaksikan ponselnya diperiksa oleh Asyifa, Elina lalu berusaha merebutnya kembali.


"Heh, heh, heh! Mau apa kamu? Kenapa tiba-tiba saja main maju segala ke arah Asyifa? Apa kamu tidak tahu siapa status dia sekarang?!" tanya Raka sok misterius.


"Aku tidak peduli siapa dia. Mau dia anak pejabat kek, anak astronot kek, bahkan anak pemimpin negara ini juga aku tidak mau tahu! Pokoknya cepat kembalikan ponsel milikku!"


"Astaga, kenapa sih gadis ini bisa sekeras kepala ini? Hei, apa tidak bisa kamu mengaku saja kalau sudah menculik Eden? Toh kita juga sudah berbaik hati dengan datang tanpa ada pihak berwajib yang menemani"


"Aku bilang kembalikan ponselku sekarang juga! Apa kamu tuli, hah?" marah Elina tanpa memperdulikan perkataan Raka sama sekali"


Akhirnya, terjadilah pertikaian kecil diantara Raka dan juga Elina, karna Raka yang tanpa henti terus berusaha untuk menghalanginya mengapai Asyifa.


"Sudah Raka. Kamu sudah boleh melepaskan dia sekarang, karna aku sudah menemukan bukti pasti di tanganku, yang bisa kita jadikan bukti bahwa dia adalah orang yang sama dengan perawat gadungan itu!"


Dengan santai dan ekspresi wajah yang seolah sedang menantang Elina, Asyifa pun memperlihatkam layar ponselnya dan juga layar ponsel gadis itu, yang kini menampilkan dua nomor yang sama disana.


"Bagaimana, apa kamu masih akan tetap menyangkalnya? Nomormu bahkan adalah ada di dalam ponselku, dan pernah menelpon beberapa hari yang lalu, untuk menawarkan pengembalian Eden padaku!"


"Sial!" umpat Elina pelan.


"Dan yang paling penting adalah, kami semua juga tahu kamu adalah kakak dari Elisa yang merupakan korban pembunuhan terakhir yang telah dilakukan oleh ibunya Eden. Wajar kan kalau ternyata kamu menyimpan dendam padanya, hingga berani menculiknya!"


"Kalian___, kalian mengorek informasi pribadi mengenai diriku? Apa kalian tidak tahu kalau itu semua adalah tindak kejahatan?!"


"Benar sekali katamu Adam! Apa perlu aku panggilkan sekalian kepala polisinya, dan juga polwan yang pernah kamu temui untuk memastikan berita kematian adikmu?"


"Memangnya salah kalau aku menanyakan tentang kebenaran berita kematian adikku ke pihak berwajib? Itu kan adik kandingku, aku rasa tidak ada yang salah dengan apa yanh sudah aku lakukan!"


"Memang tidak salah. Tapi dalam rekaman cctv, sosokmu yang sedang mengambil foto adikmu dari ruang arsip, terekam dengan jelas. Untuk apa coba kamu mengambil foto itu, kalau kamu sendiri sudah mempunyai fotonya yang lain?!" tanya Angel.


"I_itu, itu karna aku ingin memiliki fotonya yang sudah besar, karna fotonya yang ada padaku, adalah foto masa kecilnya!"


"Argggghhhh! Kenapa sih kamu selalu saja bisa menjawab pertanyaan kami, dan tidak ingin memgakui kesalahanmu yang telah menculik Eden?!" tanya Raka kesal.


"Yah itu karna aku memang tidak pernah menculiknya! Kalian saja yang terus-terusan menuduhku tanpa henti!"


"Kalau begitu, jangan salahkan aku jika harus melibatkan pihak berwajib untuk mengurus kasus ini. Bagaimana kalau kita mulai dari mengeledah tempat tinggalmu?" tanya Zidan, dengan tatapan mengancam.


Mendengar ancaman Zidan, Elina yang sadar dirinya akan langsung ketahuan jika hal itu dilakukan, dengan berani memilih untuk lari dari sana tanpa membawa serta ponselnya.


Rombongan Zidan yang turut mengejarnya di belakang, ketingalan selangkah karna gadis itu sudah lebihb dulu melompat ke dalam kendaraan umum yang sedang melaju di dekatnya.


"Sial!" umpat Zidan kesal.


*****


Di rumah Elina, tempat Eden berada:


Eden mengerjap bangun dari tidurnya saat hari telah beranjak malam. Dirinya tidak tahu sudah berapa lama dirinya tidur, dengan hari itu dengan bantuan dari obat tidur.


Wajahnya yang tanpak pucat seperti mayat, dipenuhi oleh keringat yang terus mengalir tanpa henti. Hanya dalam waktu singkat, badan pria itu mengalami penurunan yang sangat mengerikan.

__ADS_1


Itu semua disebabkan oleh suara-suara yang terus saja masuk ke dalam kepala dan juga telinganya, tanpa sedikit pun ingin segera pergi dari sana.


Eden yang merasa seperti berada di neraka karna saking tersiksanya mendengar suara itu, hanya bisa menyuntik dirinya dengan obat tidur atau pun menelan berbutir-butir obat untuk bisa membantunya tidak sadarkan diri.


Karna hanya dengan cara itu saja, mampu mrmbuatnya terlepas dari jeratan suara-suara yang sekian lama tak penah muncul, tapi pada akhirnya muncul kembali karna Elina.


"Dimana? Diaman obatnya? Aku butuh obat, dimana suntikannya? Obat! Suntikan! Tolong, tolong berikan keduanya padaku" jerit Eden kesakitan, saat tidak bisa menemukan obat yang dicarinya.


Dengan sekuat tenaga, Eden berusaha untuk bangkit berdiri dan mencari disekeliling rumah Elina, yang keadaannya masih gelap gulita, tanpa adanya penerangan sama sekali.


Tapi tak sampai 10 menit, tubuh Eden yang memang tidak lagi bisa mendapat asupan makanan dengan baik karna ketergantungan obat tidur parah, ambruk seketika.


Tubuh pria itu jatuh dengan posisi telentang, dan sambil menutupi kedua telinganya sekuat yang dibisa, ia mengetang keras.


"Argggggghh! Pergi! Pergi, aku mohon pergi dari sini! Tolong tinggalkan aku sendiri, dan jangan pernah muncul lagi! Arrggghh!"


Elina yang baru saja sampai di depan rumah, memandang dengan heran pada beberapa tetangga yang terlihat sedang mengintip-intip ke dalam rumahnya dengan penasaran.


"Permisi bu, ada apa yah? Kenapa ibu semua berdiri di depan rumahku, dan mengintip-intip segala ke dalam?" tanya Elina.


"Bagaimana kita tidak berdiri disini dan juga mengintip-intip ke dalam rumahmu, kalau bukan karna saudaramu itu mulai kambuh dan berteriak-teriak histeris lagi!"


"Hah? Yang benar saja dia teriak bu, atau bisa jadi ibu mereka yang salah dengar. Orang saudaraku sudah mulai membaik kondisinya pagi ini"


"Aduh, buat apa kami tipu Elina! Kalau cuman satu orang saja yang mendengar, mungkin saja bisa dibilang salah dengar. Tapi ini kan sampai 4 orang loh yang dengar, masa bisa dibilang salah sih? Yang benar saja!" protes salah seorang ibu sewot.


Baru saja Elina berniat untuk menjawab perkataan sewot ibu itu, ketika suara teriakan Eden yang keras sekali, mulai terdengar dari dalam rumah.


Seketika itu juga, wajah Elina berubah kecut. Apalagi kini semua tatapan keempat ibu itu beralih padanya dengan tatapan sok merasa paling benar.


"Itukan sudah aku bilang, kalau dia kembali teriak-teriak histeris lagi! Kamu sih tidak mau percaya!"


"Iya, iya, iya bu. Maaf aku salah karna tidak mempercayai perkataan ibu sekalian. Kalau begitu, aku pamit masuk dulu ke dalam untuk melihat kondisi saudaraku"


"Eh tapi Elina, apa tidak sebaiknya kamu membawanya untuk dirawat di rumah sakit tempatmu bekerja saja? Kasian loh, dia sendirian terus selama kamu kerja. Apa dia sempat makan?"


"Iya Elina. Rumah sakit tempatmu bekerja kan paling bagus di kota ini, lagian pasti akan mendapat pelayanan gratis karna kamu juga kerja disana. Mending dibawa saja kesana, dari pada suara teriakannya menggangu para tetangga!"


"Iya bu. Aku juga berniat melakukannya, tapi semuanya kan membutuhkan penyiapan berkas dan segala macamnya. Jadi tidak bisa asal masuk saja"


"Huh, iya deh! Sudah ibu-ibu, lebih baik kita pulang kembali ke rumah kita masing-masing, dari pada berdiri disini liatin Elina sama saudaranya yang gila itu!"


"Iya ayo pergi"


Keempat ibu yang kepo dengan urusan orang lain itu pun melangkah keluar dari halaman rumah Elina, dan berjalan pergi kembali ke rumah mereka masing-masing.


Elina yang meskipun sudah terbiasa dengan mulut rempong tetangganya itu, mau tidak mau tetap harus merasa kesal karna mereka sok ingin mengatur hidupnya, dan mengatai Eden gila.


"Dasar ibu-ibu kurang kerjaan, sukanya kepoin hidup orang lain! Astaga, sial apa sih aku hari ini?! Sudah dikejar sama orang-orang itu, eh sampai rumah malah ketemu kumpulan ibu rempong, dan sekarang harus mengurus Eden yang kondisinya semakin buru dari hari ke hari!" gerutu Elina, melangkah masuk.


Karna keadaan rumah yang gelap gulita, gadis itu pun segera menekan stop kontak untuk menghidupkan lampu supaya bisa melihat keadaan sekitar dengan jelas.


Betapa terkejut dirinya saat mendapat seisi rumahnya sudah diobrak-abrik seperti habis ada pencuri yang masuk. Semua barang pecah belah habis tak bersisa diatas lantai.


Kotak obat-obatan yang disimpannya juga sudah keluar sumua dari tempatnya, dan bahkan berkas-berkas penting miliknya juga ikutan tercecer begitu saja disana.


"Dia sepertinya sudah benar-benar gila seperti apa yanh dibilang oleh para ibu-ibu tadi! Apa yang sebenarnya sudah dilakukan olehnya, selama aku pergi?!" marah Elina, sambil manarik rambutnya frustrasi.


Tapi dengan sekuat tenaga, ia memilih untuk menyabarkan hatinya dan melewati semua kekacauan itu untuk pergi mencari dimana keberadaan Eden saat ini.


Setelah berkeliling ke seluruh penjuru rumah, Elina tak juga menemukan keberadaan Eden dimana pun. Dengan pikiran iseng ingin mengecek ke tempat penampungan air, yang ada dibelakang rumahnya,gadis itu pun dibuat semakin syok dengan pemandangan yang menantinya.


Tubuh Eden yang tak sadarkan diri, sedang mengapung diatas permukaan air bersama dengan beberapa suntikan yang sudah kosong isinya.

__ADS_1


"EDEN!!!"


Bersambung...


__ADS_2