
Haykal menatap ke arah Kana yang sedang serius berlatih untuk acara fashion shownya di depan cermin dalam kamar mereka. Entah mengapa ia merasa sudah beberapa minggu ini, istrinya itu terlihat semakin ceria suasana hatinya.
Padahal sejak pernikahan William dan Zenith batal, dan lagi sejak William memutuskan untuk menikah dengan Asyifa, suasana hati Kana tak pernah baik. Tiap hari ada saja yang ia keluhkan tentang hubungan William dan Asyifa, dan bukan hanya Kana saja tapi juga dengan Ratih.
Tapi beberapa minggu ini, Kana tak pernah seperti itu lagi. Wanita itu menjadi semakin santai dan fokus pada karirnya di dunia model, sama seperti Ratih yang juga mulai sibuk dengan berbagai kumpulan kelas atasnya.
"Beberapa waktu ini, aku perhatikan kamu semakin terlihat ceria dan tak gampang marah lagi. Apa ada kabar baik yang sedang mendatangimu?" tanya Haykal dengan tatapan menyelidiki.
Kana yang baru saja selesai dengan latihan yang dilakukannya, balas menatap Haykal sinis. Suasana hatinya tiba-tiba berubah jadi buruk, saat mendengar pertanyaan suaminya itu. Dengan masa bodoh, Kana berjalan melewati Haykal begitu saja menuju ke arah kulkas.
"Apa kamu tidak mendengarku?"
"Aku mendengarmu kok"
"Lalu, kenapa tidak menjawab pertanyaanku dan malah melewatiku begitu saja?"
"Karna pertanyaanmu memang tidak butuh untuk dijawab olehku"
"Tidak membutuhkan jawaban?"
"Iya. Memangnya kalau aku menjadi ceria dan bahagia, itu hal yang salah? Itu kan adalah hakku! Kenapa kamu bertanya sesuatu yang kamu sendiri, pasti tau jawabannya?" jelas Kana terlihat mulai marah.
"Kenapa meninggikan nada bicaramu tiba-tiba hanya karna aku bertanya seperti itu?"
"Karna kamu membuatku kesal!" bentak Kana sambil menghentakkan kakinya.
"Aku bertanya seperti itu, karna aku sangat mengenal dirimu Kana! Aku sangat tahu, pasti sesuatu yang telah menjadi ambisimu sudah terwujud, sehingga membuat dirimu menjadi seperti ini. Tidak mungkin kalau tidak ada yang terjadi"
"Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Kalau pun ambisiku sudah tercapai, bukankah itu adalah hal yang bagus?"
"Tentu saja tidak bagus. Karna setiap ambisi yang kamu miliki, pastinya ada hal buruk di dalamnya!" ucap Haykal, mulai terlihat emosi juga.
"Astaga, kenapa kamu menjadi sangat curiga padaku Haykal? Tolong jangan buat aku menjadi semakin kesal pdamu!"
Haykal yang sudah tidak tahan berdebat dengan Kana, memilih untuk tidak membalas lagi ucapannya. Ia malah segera bangkit dan berjalan untuk meninggalkan wanita itu seorang diri.
"Kenapa diam? Mau kemana kamu, aku belum selesai bicara dengamu Haykal!"
Kana yang sedari dulu tak suka diabaikan, menjadi sangat kesal dan mencoba untuk menahan suaminya. Namun karna Haykal tak juga mau berhenti, Kana berlari ke arahnya dan menarik belakang baju pria itu hingga sobek.
"Apa yang kamu lakukan? Apa sudah kamu gila, kenapa menarik pakaianku hingga robek?"
"Siapa suruh kamu mengabaikanku seperti itu? Kamu kan tahu, aku paling tidak suka diperlakukan seperti itu!"
"Aku begitu karna tidak lagi ada yang ingin ku bicarakan denganmu. Tapi kamu harus mengingat perkataanku ini, jika kamu sampai kedapatan olehku melakukan sesuatu untuk menghancurkan hubungan William dan Asyifa, akan ku pastikan kamu mendapatkan ganjarannya dariku!" ancam Haykal, kemudian berjalan keluar dari kamar.
"Beraninya kamu mengancamku, Haykal! Apa kamu pikir aku takut dengan ancamanmu itu? Dasar suami gila!" teriak Kana histeris.
Haykal yang masih bisa mendengar teriakan Kana, hanya bisa menghela nafas perlahan. Ia kemudian mengingat akan dokumen yang diambilnya semalam untuk diperiksa, harus segera ia kembalikan lagi.
Pria itu pun mengambil ponsel dari sakunya dan menekan menu panggil pada nomor sang adik.
"Halo kak, ada apa?" sapa William yang sedang menghabiskan waktu bersama Aliya di rumah wanita itu.
"Dimana kamu Will, apa kamu sedang berada di perusahaan?"
"Iya kak. Ini kan masih jam kerja, jadi tentu saja aku di perusahaan. Memangnya kenapa kak?" jawab William berbohong.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bertemu denganmu untuk mengembalikan dokumen yang ku ambil semalam, apa aku langsung ke sana saja?"
"Kak Haykal mau datang? Ja__jangan kak! Maksudku, aku sedang berada diluar untuk menyelesaikan pekerjaan, bukannya sedang berada di perusahaan. Biar nanti aku saja yang mendatangi kakak, kakak berada dimana sekarang?"
William yang takut jika sang kakak akan benar-benar pergi ke perusahaan dan tidak mendapati dirinya disana, memilih untuk mencari alasan lain. Sedang Aliya yang sibuk membuatkan makan siang untuk mereka, hanya menatap William dengan tatapan ingin tahu.
"Kenapa jawabanmu menjadi berubah-ubah? Yah sudah, kamu datang saja ke pengadilan. Dua jam lagi aku harus mendampingi klienku di persidangan, jadi sekalian kita bertemu disana saja" putus Haykal.
"Baiklah kak. Kalau begitu, aku akan datang kesana jika persidangan kakak telah selesai. Nanti kabari saja aku"
"Kenapa menunggu sidangku selesai? Aku pikir kamu akan datang sekarang?" tanya Haykal keheranan.
"Aku kan sudah bilang, kalau aku sedang ada urusan pekerjaan diluar kak. Tidak bisa kalau sekarang"
__ADS_1
"Pekerjaan apa? Tapi kata daddy, dokumen ini akan diperlukan untuk rapat setegah jam lagi di perusahaan kita. Apa aku yang telah salah dengar?"
"Rapat? Setengah jam lagi?" William bertanya dengan nada terdengar seolah sedang mengingat-ingat lagi.
"Iya. Atau mungkin aku yang salah dengar, biar aku hubungi daddy saja untuk bertanya"
"Tidak usah kak! Aku baru ingat, kalau benar ada rapat setegah jam lagi. Aku hanya lupa sesaat tadi, maafkan aku kak"
"Tidak masalah, aku berpikir akulah yang salah dengar. Baiklah kalau begitu, biar aku saja yang mengantarkan dokumen ini langsung ke daddy. Tenang saja, aku akan mengatakan kalau kamu tidak bisa mengambilnya karna punya pekerjaan diluar"
"Jangan! Aku saja, biar aku saja yang pergi mengambilnya langsung dari kakak. Aku akan segera pergi sekarang, tunggu aku dan jangan pergi ke perusahaan!" pinta William kemudian mematikan sambungan telepon tanpa memberi Haykal kesempatan untuk berbicara lagi.
Haykal yang terkejut mendapati sambungan telepon mati begitu saja, hanya bisa menatap ponsel ditangannya dengan tatapan heran.
Entah mengapa Haykal merasa curiga pada adiknya itu. Tingkah William mengatakan seolah ia sedang menyembunyikan sesuatu dari Haykal.
"Ada apa dengan William hari ini? Kenapa dia agak sedikit bertindak aneh yah? Apa cuma perasaanku saja?" gumam Haykal pada dirinya sendiri.
*****
William yang tak ingin meninggalkan Aliya dan menyudahi kebersamaan mereka begitu saja, memaksa wanita itu harus mau ikut pergi bersamanya ke tempat Haykal.
"Apa kamu marah sayang, aku paksa ikut denganku ke tempat kak Hayka?" tanya William, sambil memandangi wajah cantik Aliya dengan tatapan cemas.
"Aku tidak marah padamu, aku cuman merasa sedikit kesal saja. Aku kesal karna kamu memaksaku pergi disaat aku baru saja akan memakan makan siangku!" jawab Aliya cemberut.
Memang benar dia menjadi kesal, tapi bukan itu yang menjadi alasannya kesal pada pria disebelahnya. Aliya hanya merasa William bertindak sangat egois tanpa memikirkan perasaan Asyifa.
Bagaimana jika Haykal melihat keberadaan dirinya yang datang bersama dengan William? Dan bagaimana jika setelah melihat dirinya, Haykal malah menceritakannya pada Asyifa juga?"
Aliya hanya takut jika Asyifa sampai tahu tentang keberadaan dirinya, yang ada ditengah pernikahan wanita itu dengan William.
Aliya tak ingin Asyifa menjadi terluka hatinya, apalagi dalam keadaannya yang sedang mengandung. Walaupun sudah menolak berulang kali, namun William tak juga mau meninggalkan Aliya.
"Astaga Aliya, aku pikir kamu marah karna apa, ternyata hanya karna makanan saja? Kamu tidak perlu sampai semarah itu sayang, aku janji setelah mengambil dokumennya dari kak Haykal, aku akan langsunh membawamu makan ke tempat dengan berbagai makanan enak dijual"
"Kalau aku makan diluar, lalu bagaimana dengan makanan yang sudah aku masak susah payah di rumahku? Apa kamu akan menyuruh aku membuang semua makanan begitu saja?"
"Lalu?"
"Baiklah, setelah ini kita akan kembali pulang untuk makan masakanmu. Oke?"
"Terserah kamu saja!"
"Jangan marah lagi dong, sayang. Aku minta maaf yah, lain kali aku akan lebih menjaga ucapanku. Janji" bujuk William sambil memajukkan wajahnya ke arah Aliya.
Aliya yang sudah mengerti apa yang akan dilakukan William, segera menghindari wajah pria itu. Dan untung saja, mobil mereka sudah memasuki parkiran gedung pengadilan jadi Asyifa segera beralasan.
"Baiklah, aku memaafkanmu. Sudah sana, turun dan ambil dokumen yang kamu butuhkan dari kak Haykal" perintah Aliya, sambil mendorong tubuh William.
"Iya sayang, tapi jangan dorong-dorong aku seperti itu juga dong"
"Kasian kak Haykal, Will. Dia pasti sudah menunggu kedatanganmu sedari tadi, cepat sana!"
"Baiklah. Kamu tunggu disini yah sayang, aku akan cepat kembali" ucap William, tak lupa mengecup dahi Aliya mesra.
"Iya"
Setelah itu William segera berjalan menuju ke arah gedung dengan langkah yang sengaja dipercepat. Dan memang benar seperti kata Aliya tadi, Haykal memang sudah menunggu William di depan pintu masuk.
"Hai kak. Mana dokumennya?" tanya William tanpa basa-basi saat telah tiba dihadapan Haykal.
"Ini dokumennya"
"Terima kasih kak, kalau begitu aku langsung pamit pergi yah. Karna seperti yang kakak tahu, aku harus menghadiri rapat setegah jam lagi. Bye kak"
"Tunggu dulu William!" tahan Haykal sambil memegangi tangan William.
"Ada apa lagi kak? Kalau hal yang ingin kakak bicarakan tidak terlalu penting, bagaimana kalau lain kali saja? Aku benar-benar harus segera kembali ke perusahaan kak"
"Aku menahanmu karna ingin ikut pergi juga bersamamu ke perusahaan. Tadi daddy menelpon, dan menyuruhku untuk menghadiri rapat juga"
__ADS_1
"Apa? Kak Haykal ingin ikut bersamaku ke perusahaan? Tapi, bukannya kakak tidak bisa, karna ada persidangan sebentar lagi?"
"Masih dua jam lagi kok, jadi tidak masalah. Aku bisa langsung kembali kesini, setelah rapat selesai. Benar bukan?"
Mendengar penjelasan Haykal, membuat tubuh William seketika menegang dan mulai berkeringat. Ia takut jika mengijinkan Haykal ikut ke mobilnya, maka keberadaan Aliya pasti akan diketahui oleh sang kakak.
"Ah, begitu. Kalau begitu, kak Haykal naik mobil kakak sendiri saja. Bukannya lebih baik jika kita membawa mobil masing-masing? Kan tidak mungkin kakak meninggalkan mobil kakak disini"
"Aku tidak bisa, karna mobilku baru saja di pinjam dan dibawa pergi oleh temanku. Jadi, dengan terpaksa aku harus menumpang mobilmu. Kamu tidak akan keberatan bukan, kalau begitu ayo kita ke mobilmu"
Dengan santai, Haykal segera melewati William begitu saja ke arah parkiran. Dengan panik, William segera menghadang langkah kakaknya.
"Se_sebentar kak!"
"Ada apa lagi? Jangan bilang kamu tidak mau mengijinkanku menumpang mobilmu? Ya ampun, aku tidak tahu kalau ternyata kamu sangat kikir William" ucap Haykal dengan nada yang dibuat-buat serius.
"Bukan kak. A_aku, aku hanya, hanya ingin buang air kecil! Iya, aku hanya ingin buang air kecil kak. Apa kak Haykal, bisa menungguku sebentar?"
"Tentu saja. Aku akan menunggumu di dalam mobil yah, kamu cepatlah pergi ke toilet"
"Tidak bisa! Aku tidak bisa pergi ke toilet sendirian, kak Haykal harus pergi bersama denganku. Ayo kak" ajak William sambil menarik paksa tangan Haykal.
Setelah dengan susah payah membuat Haykal menunggu dirinya di luar pintu masuk toilet, William pun segera masuk ke dalam salah satu bilik toilet.
Dengan panik, ia meraih ponselnya untuk menghubungi Aliya yang berada di mobilnya.
"Halo William, kamu dimana? Apa masih lama, katamu hanya mengambil dokumen saja. Kenapa lama sekali?"
"Maaf Aliya, aku rasa kita tidak bisa pulang bersama"
"Apa maksudmu?"
"Kak Haykal ternyata disuruh oleh daddyku untuk mengikuti rapat juga di perusahaan kami. Dan dia ingin menumpang mobilku, karna mobilnya sedang dipinjam temannya"
"Astaga, lalu aku bagaimana? Apa kamu akan membiarkanku pulang seorang diri?"
"Maafkan aku Aliya, aku juga tidak menduga kalau kejadiannya akan seperti ini. Apa kamu bisa pulang sendiri dengan taksi?"
"Kenapa menyuruhku pulang dengan taksi? Kenapa tidak membiarkan saja kak Haykal tahu tentang diriku? Bagaimana pun juga kan, nanti kamu akan memberitahu semua keluargamu kalau kita kembali berpacaran lagi. Jadi tidak masalah bukan, kalau kak Haykal tahu lebih cepat dari yang lainnya"
"Tidak bisa Aliya. Kak Haykal tidak boleh mengetahui hubungan kita sekarang. Jadi aku mohon, segera keluar dari mobil dan pulang ke rumahmu duluan"
"Kenapa tidak bisa? Apa alasannya?" tanya Aliya, yang memang sengaja ingin membuat William panik.
"Aku hanya takut kak Haykal akan sengaja memperlakukanmu dengan buruk, jika melihatmu sekarang. Aku akan membiarkan mereka bertemu denganmu, jika sudah menjelaskan semuanya"
"Kan ada kamu William. Aku yakin, kak Haykal tidak akan mungkin berani melakukan hal jahat padaku"
Mendengar jawaban Aliya yang masih bersikeras untuk tidak ingin pulang sendiri, dan tetap berada dalam mobil, membuat William menjadi semakin panik.
"Aliya, aku mohon padamu untuk menuruti saja perkataanku. Tolong mengerti diriku kali ini saja" mohon William.
"Baiklah, aku akan pulang sekarang dengan taksi. Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan aku tutuo teleponnya!"
"Tu_tunggu Aliya, aku____" ucapan William terhenti begitu saja, setelah mendengar nada terputusnya sambungan telepon dari Aliya.
Baru saja William ingin menelpon balik Aliya, namun niatnya itu tak dilakukannya karna mendengar suara langkah kaki yang memasuki area toilet.
"William, kamu di dalam kan? Kenapa lama sekali, daddy sudah menelponku untuk menyuruh kita bergegas ke perusahaan karna rapat akan segera dimulai"
"Iya kak, aku keluar sekarang" jawab William sambil berpura-pura menyiramkan air ke dalam kloset.
"Apa kamu bukan buang air kecil tapi sedang BAB tadi? Lama sekali!"
"Maaf kak, perutku tiba-tiba saja sakit. Ayo kita pergi" jawab William bergegas keluar dari toilet.
Haykal yang melihat kepergian William, hanya bisa menatap punggung adiknya itu dengan tatapan curiga. Ia tadi secara tidak sengaja mendengar suara William dari dalam bilik toilet, seolah sedang berbicara dengan seseorang melalui telpon.
Tapi Haykal bigung, kenapa William harus menelpon di dalam toilet? Apa ia takut akan didengar oleh Haykal?
Bersambung....
__ADS_1