The Ugly Wife

The Ugly Wife
Kakak


__ADS_3

Eden tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang kecewa dan juga sedih, saat mendapat kabar dari Asyifa dan juga Zidan, bahwa dirinya diusir oleh pihak rumah sakit.


Meskipun begitu, Eden tetap memaksakan seulas senyum dan menyetujui keputusan yang diberikan oleh rumah sakit itu pada dirinya.


Sementara Zidan menyelesaikan semua biaya administrasi, serta Asyifa yang terlihat sibuk membereskan semua barang milik Eden, pria itu hanya bisa memandang kosong ke arah luar jendela dengan perasaan campur aduk.


Kini diri Eden dipenuhi dengan rasa bingung dan juga takut. Ia bingung harus membawa dirinya pergi kemana setelah keluar dari rumah sakit ini.


Apa harus ke desa, tempat rumahnya dan panti milik ibunya berada? Tapi melakukan hal itu, membuat Eden merasa takut kalau-kalau nanti dirinya akan ditolak serta diusir oleh para warga dan juga anak-anak panti.


Karna terlalu memaksakan diri memikirkan semua itu, tiba-tiba kepala Eden terasa sangat sakit dan berdenyut. Membuatnya langsung menelungkupkan wajahnya diatas kedua tangan.


"E_Eden? Kamu baik-baik saja?" tanya Asyifa cemas, melihat pergerakan yang tidak biasa dari Eden.


"Aku baik-baik saja, Asyifa. Kepalaku hanya terasa sedikit sakit dan juga berdenyut, tidak perlu terlalu khawatir"


"Yang benar? Apa tidak sebaiknya kita panggil dokter saja untuk memeriksamu langsung? Siapa tahu ada sesuatu yang salah dengan kepalamu sehingga membuatnya terasa sakit secara tiba-tiba seperti itu"


"Tidak perlu Asyifa, aku benaran baik-baik saja kok, kamu tidak perlu sampai memanggil dokter segala. Aku hanya perlu menutup mata selama beberapa menit saja, pasti langsung membaik"


"Yang benar? Tapi kenapa kamu menutup wajahmu seperti itu? Aku jadinya tidak bisa melihat ekspresimu sama sekali, cobalah untuk mengangkatnya sedikit"


"Aku sungguh baik-baik saja Asyifa. Aku seperti ini, karna menurutku dengan melakukan gerakan ini akan membuatku merasa sedikit lebih baik"


"Tidak, coba biarkan aku melihat wajahmi secara jelas, supaya aku bisa menyimpulkan sendiri apa benar kamu baik-baik saja atau tidak. Oke?"


Tanpa menunggu persetujuan keluar dari mulut Eden, Asyifa segera berjalan menuju ranjang pria itu dan berusaha untuk membuat wajah Eden terangkat dari kedua tangannya.


Namun karna Eden mati-matian menolak dan juga mempertahankan posisinya itu, Asyifa yang tenaganya kalah jauh dari pria itu hanya bisa terus berusaha tanpa bisa membuahkan hasil apa pun.


"Asyifa, tolong hentikan usahamu. Aku benar baik-baik saja, apa kamu tidak bisa percaya saja pada perkataanku?" tanya Eden dengan suara memelas yang terdengar pelan.


"Tidak bisa Eden. Aku harus memastikan langsung keadaanmu, karna bisa saja kamu berbohong tentang hal itu. Kalau masih tetap menolak untuk dilihat olehku, aku akan pergi memanggil dokter saja untuk datang kesini!"


"Hah, kenapa sih kamu benar-benar keras kepala sekali. Apa kamu tidak merasa malu sama sekali untuk memanggil dokter dari rumah sakit yanh sudah mengusirku?" tanya Eden sinis, sambil mengangkat wajahnya.


Melihat wajah pria itu yang sembab seperti habis menangis tertahan, Asyifa menjadi sedikit bersalah karna sudah memaksanya sedari tadi.


Kini Asyifa merasa paham mengapa Eden bertingkah seperti tadi. Ternyata pria itu sedang diselimuti kekecauan yanh teramat sangat.


"Eden, apa kamu baru saja menangis karna mendapat fakta bahwa dirimu tidak diterima di rumah sakit ini? Apa itu juga yang telah membuat kepalamu terasa sakit?"


"Entahlah, mungkin bisa dibilang begitu. Aku senditi tidak yakin apa yang aku rasakan saat ini, karna saking banyaknya perasaaan yang menumpuk di dalam hatiku"


"Apa tidak bisa kamu mencoba untuk berbagi semua itu dengan menceritakannya padaku? Aku mungkin tidak akan bisa membantumu menyelesaikannya, tapi aku sangat yakin bisa menjadi seorang pendengar yang baik" bujuk Asyifa, menyentuh tangan Eden lembut.


"Maaf aku tidak bisa. Rasanya aku sudah sangat banyak merepotkan serta membuat dirimu serta Zidan kesusahan. Bagaimana bisa aku menambahnya dengan perasaan sepele yang kini sedamg kurasakan"


"Kalau sampai membuatmu tiba-tiba merasa sakit, itu namanya bukanlah perasaan sepele Eden. Lagipula, aku sama sekali tidak merasa direspotkan atau dibuat susah olehmu. Jadi kamu bisa bercerita sepuas dan senyaman hatimu padaku"


"Tidak bisa Asyifa, aku terlalu malu untuk menceritakannya padamu. Aku janji setelah ini, akan lebih berhati-hati mengontrol apa yang kurasakan supaya tidak berdampak pada fisikku"


"Apa kamu tidak mempercayaiku? Apa karna itu, kamu tidak bisa menceritakan semua yang kamu rasakan saat ini padaku?" tanya Asyifa kecewa.


"Bukan begitu Asyifa, aku hanya__"


"Lupakan! Kalau memang kamu tidak ingin menceritakannya, maka aku juga tidak akan memaksamu lagi. Sekarang aku akan keluar dan mencari Zidan, supaya dia saja yang membantumu dengan hal lainnya"

__ADS_1


Asyifa pun berjalan keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi pada Eden, yang menatapnya dengan tatapan sedih.


Beberapa menit setelah kepergian Asyifa, sosok Zidan yang sedari tadi tidak kelihatan akhirnya muncul. Dengan canggung, Eden melemparkan senyuman ke arah pria itu.


"Loh, kenapa kamu berada sendirian? Kemana perginya Asyifa, apa dia sedang keluar untuk membelikan makanan?" tanya Zidan, terlihat bingung.


"Itu, Asyifa keluar karna dia sekarang sedang marah padaku"


"Marah padamu? Memangnya apa yang sudah kamu lakukan, sampai tunaganku bisa setega itu marah pada orang yang sedang terbaring sakit?"


"Hahaha. Kamu masih saja memamerkan kalau status kalian sekarang adalah tunangan di depanku yah, apa kamu takut aku akan merebut Asyifa darimu?"


"Kalau sampai merebut, aku yakin kamu tidak akan bisa melakukannya. Tapi anggap saja ini adalah sikap tegas yanh ku tunjukkan untuk memperlihatkan kedudukanku padamu"


"Benar katamu, aku tidak mungkin bisa merebut Asyifa darimu sekalipun aku berniat melakukannya. Seorang pria yang mempuyai kehidupan menyedihkan, dibandingkan kamu yang memiliki segalanya dan juga tampan, aku bukanlah apa-apa"


"Kenapa kamu berbicara seperti orang yang sedang putus asa? Kamu tidak sedang kacau kan, karna mendengar kabar dirimu ditolak oleh pihak rumah sakit dan dipaksa segera pindah dari sini?"


"Putus asa yah? Mungkin bisa dibilang begitu, aku menyedihkan bukan? Tapi aku memang layak mendapatkan semua ini, karna memiliki ibu seorang psikopat"


"Kamu bodoh yah?!"


"A_apa?" tanya Eden terkejut, saat mendengar celetukan spontan dari Zidan.


"Iya, bodoh! Bagaimana bisa kamu bilang kalau dirimu pantas mendapatkan semua ini hanya karna memiliki ibu seorang psikopat! Memangnya lahir dari rahim wanita itu, adalah keinginanmu sendiri?"


"Memang bukan keinginanku, tapi tetap saja aku yang merupakan anaknya, pasti akan tetap dibenci oleh banyak orang. Itu adalah fakta yanh tidak bisa ku hindari"


"Kalau begitu abaikan saja!"


"Benar, mungkin seperti itu mereka akan terus mencibirmu. Tapi bukannya dari perkataan itu juga kamu bisa langsung sadar, kalau semua bukan salahmu, melaikan salah ibumu? Untuk apa kamu memperdulikan perkataan orang yang tidak menggunakan otaknya dengan baik untuk berpikir? Bukannya akan lebih baik jika kamu hanya memdengar perkataan orang yang otaknya masih bisa dipakai, dan juga menyayangi dirimu dengan tulus?"


"Orang yang otaknya bisa dipakai, dan juga menyayangiku dengan tulus? Sebenarnya, siapa yang kamu maksudkan?" tanya Eden bingung.


"Ternyata kamu memang bodoh yah? Tentu saja orang itu adalah Asyifa, dan juga semua anak panti yang hingga kini masih berharap akan kesembuhanmu!"


Eden yang mendengar perkataan Zidan, terdiam seketika. Pria itu tampak sedang berpikir sejenak, dan pada akhirnya Eden mau tidak mau harus mengakui bahwa apa yang dikatakn oleh pria yang ia anggap sangat menyebalkan itu, ada benarnya juga.


Meskipun tidak bisa langsung menerimanya begitu saja, tapi perkataan Zidan yang ia katakan dengan cara yang cukup kasar namun secara bersamaan juga terdengar tulus ditelinga Eden, membuat perasaannya sedikit membaik.


"Dan mungkin juga aku" lanjut Zidan dengan suara pelan, tapi mampu di dengar oleh Eden.


"Wah! Ternyata kamu yang bertingkah selalu menyebalkan dan juga kasar padaku, juga bisa mengatakan hal semanis itu yah? Aku merasa sedikit terharu" goda Eden jahil.


"Tidak usah sesenang itu! Aku tidak bilang kalau aku menyayangimu seperti Asyifa dan anak-anak panti, tapi aku juga tidak menaruh benci padamu. Hanya saja, otakku masih bisa berfungsi dengan baik, jadi aku tidak sampai menyalahkanmu seperti orang lain"


"Terima kasih Zidan, sungguh"


"Tidak perlu berterima kasih, ini bukan lah sesuatu yang besar. Kamu juga tidak perlu memikirkan kemana akan pergi nanti setelah keluar dari rumah sakit ini, karna itu semua sudah aku siapkan"


Terharu, perasaan itu akhirnya benar-benar sampai ke hati Eden setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Zidan. Ia tidak pernah menyangka pria yang baru saja dikenalnya itu, akan menolongnya sampai sejauh ini.


Tanpa berkata apa-apa, Eden berhambur memeluk tubuh Zidan dan tanpa rasa gengsi sedikit pun mulai menangis tanpa suara disana.


Zidan yang meskipun merada sedikit tidak nyaman mendapat pelukan tiba-tiba dari sejenisnya, tetap berusaha untuk membalas pelukan itu dengan menepuk pelan pundah Eden.


"Terima kasih Zidan, terima kasih. Terima kasih karna sudah memberikanku sebuah kesempatan untuk bisa merasakan apa yang namanya ketulusan dari orang-orang dewasa, yang selama ini tidak pernah ku dapatkan"

__ADS_1


"Iya, sama-sama"


"Aku berjanji, setelah benar-benar sembuh, aku akan menjalani hukumanku dengan baik di dalam penjara, selama apa pun itu. Karna sekarang aku tahu, tetap akan ada orang yang senantiasa menyambut kedatanganku saat hari dimana aku dibebaskan"


"Tentu saja kamu harus melakukannya seperti itu. Siapa bilang penjara itu adalah rumahmu, sampai kamu bisa seenaknya saja disana? Kamu harus bekerja keras disana, dan juga menuruti apa yang diperintahkan padamu!"


"Hahaha. Iya, iya, aku tahu"


"Bagus. Kalau begitu, sekarang kamu tidak perlu merasa sedih atau pun takut lagi. Karna sekarang kamu sudah memiliki rumahmu sendiri untuk pulang. Hapus air matamu, dan ayo kita bersiap untuk pergi dari sini"


"Baik kak Zidan" jawab Eden bercanda.


"Astaga, kamu membuatku merinding! Bagaimana bisa kamu baik-baik saja saat memanggilku kakak?"


"Entahlah, mungkin karna memang sudah sedari dulu aku ingin memiliki seorang kakak yang bisa ku andalkan? Dan saat melihat semua kebaikanmu dan perlindungan yang disiapkan olehmu untukku, aku merasa ingin menganggapmu seperti kakakku sendiri. Apa tidak boleh?" pinta Eden, sambil memasanh wajah memelas.


"Terserahmu saja deh! Lakukan apa yang bisa membuatmu senang, sesuka hatimu!" jawab Zidan, dengan sedikit terpaksa.


Eden yang tidak menyangka kalau permintaan yang diucapkannya dengan asal-asalan akan dikabulkan oleh Zidan, malah tanpa sadar menjadi kegirangan sendiri.


Tanpa bosan atau pun merasa cape, Eden terus saja memanggil Zidan dengan sebutan kakak berulang kali, sampai Zidan harus memintanya diam.


Sedang Asyifa yang melihat interaksi kedua pria itu dari luar ruangan, hanya tersenyum senang. Asyifa tidak menyangka kalau Zidan memang bisa mengatasi masalah Eden, seperti yang telah pria itu sampaikan padanya beberapa menit yang lalu.


"Astaga, ada apa ini? Apa telah terjadi sesuatu di dalam ruangan ini selama aku pergi, aku merasa sepertinya ada perubahan suasana yang jauh sangat besar dari sebelumnya di dalam sini" ucap Asyifa berpura-pura, sambil berjalan memasuki ruangan Eden.


"Oh, kamu sudah kembali. Maafkan aku karna sudah menolak untuk bercerita padamu tadi, Asyifa. Ternyata apa yang kamu katakan ada benarnya, aku merasa lega setelah bercerita apa yang ku rasakan pada kak Zidan"


"Apa? Kakak? Wah! Kenapa kamu tiba-tiba saja memanggil Zidan dengan sebutan kakak seperti itu?" Asyifa menjadi heboh.


"Yah, begitulah. Ceritanya panjang, dan tanpa aku sadari sudah seperti itu saja"


"Hmm. Jadi kamu lebih memilih bercerita pada Zidan yang baru kamu kenal, dari pada bercerita kepadaku yang lebih dulu kamu kenal? Aku merasa sedikit kecewa"


"Maaf Asyifa. Lagipula aku juga bukannya bercerita langsung, tapi kak Zidan lah yang sudah menebak apa yang sedang ku pikirkan dan juga rasakan. Tanpa sadar, aku sudah mengungkapkannya begitu saja"


"Hahahaha. Aduh, aku tidak tahan melihat wajah memelasmu itu Eden!"


"Kenapa kamu tiba-tiba tertawa, memangnya ada yang lucu yah? Atau jangan-jangan, kamu sedari tadi hanya sedang berpura-pura saja marahnya padaku?"


"Tentu saja dia berpura-pura. Asyifa kan juga sudah mendengar semua yang kita bicarakan dari luar ruangan, mana mungkin dia tidak sedang berpura-pura" sela Zidan, menjawab pertanyaan Eden.


"Hehehe, maaf"


"Hah, dasar! Ya sudah, anggap saja kita impas karna tadi aku sudah membuatmu kesal juga" jawab Eden pasrah.


"Terima kasih Eden. Oh iya Zidan, apa kita aka membawa Eden untuk tinggal di tempat itu? Aku rasa, tempat itu sangat cocok untuk mempercepat kesembuhannya"


"Aku juga merasa begitu. Lagipula, disana terdapat banyak kamar yang bisa kita jadikan kamar Eden. Aku juga sudah menyuruh Raka dan Adam, untuk mencarikan seorang dokter dan juga perawat yang akan merawat Eden selama berada disana"


"Syukurlah kalau begitu, aku jadinya bisa merasa tenang sekarang. Dengan begitu, kita akan lebih gampang dan sering datang untuk melihat kondisinya"


"Se_sebentar, aku tidak mengerti apa yang sedag kalian bicarakan. Memangnya aku akan dibawa kemana nanti?" tanya Eden, merasa bingung dan juga penasaran.


"Nanti juga kamu tahu sendiri akan dibawa kemana, setelah kita sampai disana. Tapi aku jamin, kamu pasti akan merasa senang sekai saat berada disana" jawab Asyifa, penuh rahasia.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2