
William dengan mata masih tertutup rapat, menyentuh kasur disampingnya berusaha mencari tubuh wanita yang baru kemarin resmi menjadi istrinya.
Namun saat mengetahui kasur disebelahnya kosong, kedua matanya dengan cepat terbuka. Ia bangkit dari tidurnya dan segera keluar dari kamar.
"Asyifa? Sayang, kamu dimana?"
"Aku di dapur sayang, sedang memasak sarapan untuk kita" teriak Asyifa dari dalam dapur, yang berada di lantai dua rumah mereka.
Mengetahui dimana keberadaan sang istri, William pun segera menyusulnya. Saat tiba di pintu dapur, ia mencium aroma sedap yang berasal dari balik tubuh Asyifa yang sedang sibuk memasak.
"Apa yang kamu masak untuk sarapan kita sayang, aromanya sedap sekali. Perutku jadi merasa lapar seketika"
"Aku hanya memasak nasi goreng sederhana dengan bahan seadanya yang telah kamu siapkan. Apa tidurmu nyenyak?"
"Tidurku sangat nyenyak sekali. Itu semua berkat jatah malam pertama yang diberikan olehmu berulang kali" cengir William sambil memeluk tubuh Asyifa mesra.
"Dasar, mesum! Apa kamu tahu, karna itu aku hampir tidak bisa bergerak sama sekali. Bahkan berjalan saja, masih terasa sakitnya sampai sekarang!"
"Hehehe, maafkan aku sayang. Aku juga rasa, kalau semalam terlalu bersemangat. Tapi ini semua juga karna salahmu, siapa suruh kamu sangat cantik semalam? Aku kan jadinya tidak bisa menahan diri"
"Baiklah, ini semua adalah salahku!" ucap Asyifa terlihat kesal, sambil melepaskan pelukan William dari tubuhnya.
"Astaga, aku hanya bercanda sayang. Tapi kenapa tidak membangunkanku tadi, kalau kamu kesulitan berjalan? Aku kan bisa menggendongmu dan sekalian membantumu mandi"
"Apa kamu pikir aku tidak tahu apa jadinya jika meminta bantuanmu? Bahkan hanya dalam waktu semalam menjadi istrimu, aku sudah bisa tahu jalan pikiranmu untuk urusan seperti ini. Yang ada aku bukan mandi, tapi dipaksa untuk memberikanmu jatah lagi!"
"Ya ampun, apa kamu mempunyai bakat untuk menebak isi hati orang, sayang? Yang kamu katakan barusan, benar semua!"
"Dasar suami mesum" ucap Asyifa nampak tak bisa berkata-kata lagi, melihat tingkah William.
"Aku mencintaimu Asyifa, istriku yang paling cantik dan paling baik hati!" teriak William sambil mengecup setiap sudut wajah Asyifa dengan gemas.
"Hentikan William, aku tidak bisa bernafas! Aku bilang berhenti menciumku, dan cepat makan sarapannya" mohon Asyifa sambil berontak melepaskan diri.
"Siap bu bos!"
William pun mengambil tempat di depan Asyifa, dan menikmati sarapan yang diberikan Asyifa padanya. Ia tampak sangat menikmati makanan yang dimasak oleh istrinya itu.
"Untung saja kita tinggal di rumah sendiri, dan bukan tinggal bersama orang tuamu. Kalau tidak, aku pasti sangat malu sekali karna sikapmu yang seperti anak kecil ini"
"Aku memang sengaja menyiapkan rumah ini sebelum pernikahan kita, supaya bisa memberikanmu rasa nyaman. Aku sadar betul kalau keluargaku belum menerima dirimu sepenuhnya, oleh karena itu aku tidak ingin kita tinggal bersama dalam satu atap"
"Terima kasih, Will. Aku janji akan berusaha untuk mengambil hati orang tuamu, dan juga yang lainnya"
"Tapi jangan sampai terlalu memaksakan dirimu sayang, aku tidak ingin kamu merasa terbebani. Kita akan melakukannya bersama, jadi jangan khawatir" ucap William mengingatkan, sambil mengelus punggung tangan Asyifa lembut.
"Aku mengerti, sayang"
Kemudian keduanya kembali fokus pada makanan masing-masing sambil sesekali membicarakan beberapa hal. Setelah selesai, William yang merasa kasihan pada Asyifa berinisiatif untuk mencuci piring bekas sarapan mereka.
"Biar aku saja yang cuci"
"Tidak apa sayang, anggap saja ini sebagai bayaran atas sarapan enak yang aku makan barusan. Kamu silakan duduk cantik di situ, sambil menungguku"
Asyifa hanya bisa menuruti perkataan William untuk tetap duduk ditempatnya, sambil memperhatikan punggung pria yang telah menjadi suaminya itu. Seketika perasaannya menghangat, mengingat setiap waktu yang telah mereka lalui hingga sampai di detik ini.
Asyifa juga merasa sangat bersyukur karena telah menerima lamaran William waktu itu. Kalau ia mengikuti ucapan Mira dan juga Angel, mungkin ia tidak akan bisa merasakan semua kebahagian menjadi istri William.
"Untung saja kamu melamarku saat itu. Karna berkat itu, aku juga bisa merasakan indahnya berumah tangga. Sebenarnya aku takut menikah, karna melihat kondisi rumah tangga orang tuaku yang tidak pernah akur" ucap Asyifa terlihat sedih.
"Hei, kenapa kamu berkata seperti itu? Semua orang berbeda Asyifa, oleh karena itu kehidupan serta rumah tangga yang mereka jalani juga berbeda. Kamu tidak perlu takut, aku pasti akan membuat rumah tangga kita jauh lebih baik dari orang tuamu"
"Aku tahu kamu pasti bisa melakukannya. Tapi karna terlalu banyak rasa takut yang aku simpan, membuat diriku merasa tersiksa. Aku juga takut jika sudah memiliki anak, atau kamu jatuh miskin, sifatku akan ikut berubah menjadi sama seperti ibuku"
"Dengarkan aku, itu semua tidak akan terjadi. Kamu adalah kamu, dan selamanya akan seperti itu. Tidak usah memikirkan hal yang belum pasti, lebih baik kamu nikmati saja segala kebahagiaan yang ada sekarang"
"Maafkan aku, kamu pasti merasa terbebani. Baru juga kemarin menikah, aku sudah berulang kali mengeluh padamu"
"Aku tidak merasa keberatan sama sekali, Asyifa. Justru aku merasa senang, karna itu berarti kamu mempercayai diriku" ucap William tulus sambil memeluk tubuh Asyifa dengan sayang.
"Terima kasih, aku beruntung mempunyai dirimu sebagai suami"
__ADS_1
" Kalau kamu merasa beruntung, bagaimana kalau memberikanku jatah pagi juga? Aku pasti akan sangat merasa bahagia" bisik William jahil ditelinga Asyifa.
"William! Rasa sakit karena yang semalam saja belum hilang, masa sudah minta lagi? Apa kamu tidak merasa cape?"
"Tidak. Aku bahkan merasa sangat bugar sekali, hingga bisa melakukannya berulang kali. Ayolah sayang, setelah itu aku akan membantumu mandi"
"Tidak mungkin kamu hanya membantuku mandi saja, pasti akan mengambil jatah juga bukan?"
"Itu tergantung seberapa cantik dirimu saat berada dalam kamar mandi" cengir William tanpa rasa bersalah.
Asyifa hanya bisa menatap wajah suaminya dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin, pria yang selama pacaran dikiranya adalah seorang pria alim, malah berubah menjadi sangat mesum setelah sehari menikah.
Karna tidak mendapat jawaban dari Asyifa, William tanpa permisi lagi segera menggendong Asyifa menuju kamar mereka yang berada dilantai dua.
"Sepertinya walaupun aku larang kamu tidak akan mendengarkannya bukan? Kalau begitu sebagai gantinya, kamu yang akan memasak makan malam!"
"Setuju!" ucap William kesenangan dan langsung menutup pintu kamar.
Mereka pun melakukan sesuatu yang sering dilakukan oleh pasangan suami istri, berulang kali. Dan seperti tebakan Asyifa, mereka juga melanjutkannya di dalam kamar mandi.
Hal itu tentu saja membuat Asyifa harus rela menahan rasa sakit lagi, saat bergerak atau pun berjalan. Tapi ia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa merasa diinginkan itu sangat membahagiakan.
*****
Setelah tiga hari mengambil cuti untuk menghabiskan waktunya bersama William, sebagai ganti waktu bulan madu yang tidak bisa mereka lakukan, Asyifa akhirnya harus kembali bekerja.
Bulan madu Asyifa dan juga William terpaksa ditunda karna banyaknya pekerjaan yang tertahan karna ketidakhadiran Asyifa.
Sebenarnya Zidan sudah mencoba mencari seorang lagi sekretaris untuk membantu pekerjaan Asyifa, namun tidak ada satu pun yang cocok dengan kriteria yang pria itu inginkan.
Maka jalan satu-satunya adalah membatasi jatah cuti yang diambil Asyifa, untuk segera kembali bekerja. Meskipun merasa tidak enak pada William, tapi karena harus bersikap profesional, Asyifa terpaksa untuk menuruti perintah bosnya itu.
"Kenapa juga bosmu itu harus menyuruhmu cepat-cepat kembali bekerja, membuat kesal saja! Padahal aku masih ingin menghabiskan waktu bersamamu seharian, dan juga berbulan madu di tempat indah" gerutu William memperhatikan Asyifa yang sedang bersiap, dari atas tempat tidur.
"Maaf sayang, aku juga merasa sangat bersalah padamu. Aku janji bulan depan kita akan melakukan bulan madu"
"Aku tidak marah padamu, tapi pada bosmu yang gila kerja itu. Bagaimana bisa dia menyuruh pengantin baru untuk segera bekerja, dasar jomblo!"
"Memangnya setinggi apa sih kriterianya, sampai tidak ada satu pun yang cocok dari sebanyak itu yang datang melamar. Aku sangat yakin, semua ini adalah rencananya untuk mengganggu waktu kita!"
"Kenapa kalian sangat membenci satu sama lain sih, apa kalian memiliki dendam pribadi? Aku yang melihatnya saja sampai pusing"
"Itu semua kan karena dirimu, sayang!" ucap William tak sengaja keceplosan.
"Karna aku? Kok bisa karna aku, memangnya apa yang sudah aku lakukan?"
"Maksudku, aku tidak menyukainya karna sering memberikanmu banyak pekerjaan tanpa henti. Kalau alasan dia tidak menyukai diriku, aku sendiri juga tidak tahu, sayang"
Mendapat jawaban seperti itu dari William, membuat Asyifa mengangguk-anggukkan kepalanya setuju.
"Apa kamu sudah selesai bersiap? Apa mau aku bikinkan sarapan?"
"Tidak perlu, biar aku saja yang membuat sarapan. Sebaiknya kamu pergi mandi saja, katamu mau mengantarku ke kantor"
"Baiklah kalau begitu. Aku mandi dulu yah" ucap William sambil mengecup puncak kepala Asyifa sayang.
Tapi sayangnya, tindakan manis itu malah berubah menjadi panas karna William yang tidak bisa menahan diri. Ia kemudian memancing Asyifa dengan gerakan-gerakan yang membuat gadis itu mendesah pelan.
"William, aku harus segera membuat sarapan dan berangkat kerja" bisik Asyifa dengan suara nyaris tak terdengar.
Mendengar suara-suara yang dikeluarkan oleh sang istri, membuat William menjadi semakin bersemangat untuk segera melaksanakan aksinya.
"Sebentar saja sayang. Tidak masalah kan kalau terlambat beberapa menit, aku janji akan melakukannya dengan cepat"
William pun membawa tubuh Asyifa untuk kembali ke atas tempat tidur mereka, saat melihat wanita itu sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dan hanya bisa pasrah mengikuti setiap gerakan yang diarahkan oleh William.
Pagi itu pun harus dilewati oleh Asyifa dengan melayani keinginan suaminya. Dan bukan hanya sekali, tapi beberapa kali, yang membuatnya harus mandi ulang.
Saat sudah berada dalam kamar mandi, Asyifa hanya bisa melemparkan tatapan kesal pada William dan tidak mau berbicara sama sekali dengan pria itu.
"Maaf sayang, aku kelepasan"
__ADS_1
"Diam. Aku sedang marah dan tidak ingin berbicara denganmu! Lihatlah, karna ulahmu aku harus mandi ulang, padahal aku sudah selesai bersiap tadi!"
"Aku benar-benar minta maaf, sayang. Biar aku membantumu mandi dan bersiap, oke?" tawar William sambil mendekat ke arah Asyifa.
"Berhenti di situ, dan jangan mendekat! Aku tidak membutuhkan bantuanmu, aku bisa melakukannya sendiri"
Mendapat larangan dari Asyifa, William dengan sengaja segera memasang tampang menyedihkan agar dikasihani. Namun karena sudah terlanjur sangat kesal, Asyifa tidak memperdulikannya dan terus melanjutkan mandinya.
"Jangan harap aku akan luluh dengan wajah sedihmu itu" sindir Asyifa.
*****
Sambil berjalan tergesa-gesa menuju ruang rapat, Asyifa melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangannya.
"Gawat, aku terlambat 5 menit dari jam rapat yang ditentukan. Ini semua karna William!" gerutu Asyifa sebelum memasuki ruangan, sambil mengusap keringat yang mengalir di wajahnya.
"Asyifa? Kenapa kamu berkeringat seperti itu, kamu habis lari?"
"Pak Zidan? Bapak kok berada di sini, dan bukannya dalam ruang rapat?"
"Kamu tidak membaca pesan yang aku kirim ke ponselmu yah? Waktu rapat diundurkan, karna ada insiden kecil yang terjadi dengan klien kita saat menuju ke sini"
"Astaga, syukurlah kalau begitu. Aku pikir rapatnya sudah mulai, dan aku datang terlambat"
Asyifa yang merasa sangat kelelahan karna harus berjalan bahkan hampir berlari menggunakan sepatu tumit tinggi, segera berjongkok dilantai untuk beristirahat sejenak.
Sebenarnya ia bisa saja berjalan dan duduk di salah satu bangku yang ada di dalam ruang rapat, namun karena rasa sakit yang tidak tertahankan lagi yang ia rasakan diantara kedua kakinya, membuat Asyifa tidak bisa melakukan itu.
"Ada apa, Asyifa? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Zidan nampak panik melihat wajah Asyifa yang seperti menahan sakit.
"Aku baik-baik saja pak. Hanya butuh waktu beristirahat sejenak dan aku akan segera membaik"
Tiba-tiba dari arah depan mereka, muncul dua orang karyawan wanita yang seingat Asyifa, tidak begitu menyukai dirinya.
"Astaga, ini dia pengantin baru kita! Kenapa kamu cepat sekali kembali dari bulan madu, bahkan belum ada seminggu?!" tanya salah seorang dari mereka, yang memiliki rambut panjang sampai ke pinggangnya.
"Kenapa kamu melakukan posisi aneh seperti itu, dan lagi dengan wajah seperti menahan sakit? Ya ampun, jangan bilang kamu sedang mengalami kesakitan yang biasa dirasakan oleh gadis yang baru saja menikah?"sambung gadis lain yang memiliki rambut sebahu.
"Sekuat apa sih permainan suamimu, sampai kamu datang ke kantor dalam keadaan separah ini? Membuat malu saja!" setelah berkata seperti itu, keduanya pun menertawakan Asyifa dengan pandangan mengejek.
"Ehem. Apa kalian sering melakukan bullyan lewat lisan seperti ini pada Asyifa? Kalian bahkan berani sekali melakukannya di depanku" Marah Zidan.
Saat Zidan mengajak keduanya berbicara, mereka seperti baru menyadari kehadiran sang bos di sana. Entah apa yang mereka pikirkan sampai tidak melihat sosok Zidan, yang sedari tadi terus berada disamping Asyifa.
"Pak Zidan. Maaf pak, kami tidak melihat ada bapak sedari tadi di sini. Kami nampaknya sangat senang bertemu dengan Asyifa setelah tiga hari tidak melihat kehadirannya di kantor, jadinya tidak melihat keadaan sekitar" ucap si rambut pendek beralasan.
"Apa kamu pikir aku mudah untuk dibodohi? Awas saja kalau sampai saya melihat kalian melakukan hal seperti ini lagi, akan saya pastikan kalian berdua pergi dari perusahaan ini tanpa membawa apa pun! Sekarang, cepat minta maaf pada Asyifa! "
"Maafkan kami Asyifa, pak Zidan" ucap keduanya bersamaan.
"Sudah, sana pergi!"
Keduanya pun dengan cepat berlalu dari sana. Zidan yang merasa kasihan melihat Asyifa masih dengan posisinya semula, kemudian berusaha membantu wanita itu untuk berjalan masuk ke dalam ruang rapat.
Zidan tidak ingin ada karyawan lain yang ikut mengejek Asyifa setelah melihat keadaannya. Selain itu, ia takut klien mereka yang akan segera datang, melihat cara berjalan Asyifa yang tidak biasa.
"Terima kasih pak Zidan. Maaf karena sudah merepotkan bapak"
"Tidak masalah. Anggap saja ini sebagai balas budi, karna dulu kamu juga pernah menolongku"
"Kapan aku pernah menolong pak Zidan? Seingatku, aku hanya melakukan apa yang menjadi tugasku saja"
"Waktu di liburan bersama kita, saat acara penutupan. Kamu terpaksa berpura-pura mengiyakan semua ucapanku"
"Ah, menjadi calon menantu pak Marcel? Aku ingat sekarang! Lalu, bagaimana respons ayah pak Zidan setelah tahu aku menikah dengan William?"
"Dia sangat kecewa sekali. Bahkan dia berkata padaku, untuk terus mencari tahu kabar rumah tanggamu. Karna mungkin saja kalian berdua bercerai" gurau Zidan.
"Astaga, pak Marcel!"
Tapi Asyifa tidak tahu, bahwa sebenarnya gurauan yang dikatakan oleh Zidan barusan, adalah impian yang berasal dari diri pria itu sendiri dan bukan dari ayahnya.
__ADS_1
Bersambung....