The Ugly Wife

The Ugly Wife
Undangan


__ADS_3

"Aku menikah denganmu? Jangan mimpi! Mau sampai kapan pun, hal itu tidak akan aku lakukan, bahkan sampai mati!" jawab William tegas.


"Kamu tidak mau? Yah sudah, kalau begitu kamu secara tidak langsung telah memberi ijin padaku, untuk melaporkan ibu dan juga kakak iparmu"


"Apa-apaan kamu Zenith, apa kamu sadar kalau yang kamu lakukan sekarang adalah bentuk pemerasan?"


"Aku tidak sedang melakukan pemerasan kak Haykal, tapi aku sedang melakukan negosiasi dengan kalian sekeluarga. Pilihannya hanya dua, yaitu William mau menikah denganku, atau aku melaporkan mommy dan juga kak Kana. Simpel bukan?"


"Tapi Zenith, kamu juga tahu kalau William tidak pernah mencintaimu, bagaimana bisa dia menikah dengan wanita yang tidak dicintainya? Kehidupan rumah tangga kalian di masa depan pastinya tidak akan berjalan dengan bahagia, nak" nasehat Rizal, mencoba untuk mengubah keinginan Zenith.


"Daddy tidak perlu khawatir mengenai hal itu, karna yang akan menjalaninya adalah aku dan William. Intinya sekarang, keinginanku bisa menikahi William, itu saja"


"Mintalah hal yang lain, selain itu. Aku janji akan mengabulkannya" bujuk William.


"Tidak ada hal lain lagi yang lebih aku ingin daripada menikah denganmu, William. Uang, jabatan, kecantikan, dan semuanya, sudah aku miliki"


Mendengar jawaban Zenith, sekeluarga itu langsung terdiam. Karna memang benar, jika Zenith menginginkan sesuatu, ia pasti bisa saja dengan mudah mendapatkannya.


Selain itu, keluarga gadis itu dibandingkan dengan keluarga William, memang lebih kaya. Jadi tidak mungkin William bisa memberi Zenith, tawaran harta yang jauh lebih banyak dari yang keluarganya miliki.


"William, mommy mohon turuti saja keinginan Zenith supaya dia tidak melaporkan mommy. Mommy sangat takut jika harus masuk ke dalam penjara, sayang" mohon Ratih pada putra bungsunya itu.


"Apa mommy sudah gila? Setelah semua yang mommy lakukan untuk menghancurkan hidupku, sekarang mommy memohon untuk aku mau menikah dengan Zenith demi bisa membebaskan mommy, apa mommy tidak merasa malu sedikitpun?!"


"Mommy tentunya merasa sangat malu dan juga merasa sangat bersalah padamu Will. Tapi disisi lain, mommy juga tidak mau kalau harus masuk penjara. Tolonglah mommy sekali ini saja, Will"


"Iya William, tolong selamatkan kami"


Ratih dan Kana segera berjalan menuju ke arah William untuk memohon bantuan pria tersebut. Namun William hanya bisa terdiam, sambil memegang kepalanya yang kini mulai terasa sakit.


Ingin rasanya ia bangkit dan melampiaskan kekesalan dalam hatinya, pada kedua wanita yang ada di dekatnya itu. Namun dengan sekuat tenaga, William mencoba mengontrol dirinya.


"Kenapa saat melakukan semua kejahatan itu, kalian tidak berpikir dulu? Sekarang saat akan mendapatkan hukumannya, kalian baru memohon untuk diselamatkan?"


"Tapi daddy, ini semua kan mommy dan Kana lakukan, juga adalah demi kebaikan William"


"Kebaikanku? Memangnya kapan aku pernah meminta mommy untuk membuat anakku hilang dari dunia ini? Kapan aku meminta kalian untuk mengembalikan sosok Aliya ke dalam hidupku? Kapan!"


"Ka_ka_kamu, kamu memang tidak pernah memintanya. Tapi semua itu adalah inisiatif mommy sendiri, karna mommy tahu apa yang terbaik untukmu William"


"Lalu, apa sekarang kehidupan William terlihat jauh lebih baik setelah semua yang mommy lakukan? Tidak mommy! Bahkan aku merasa, kalau sekarang hidupku terasa sangat hampa dan tak ada artinya lagi, itu semua karna ulah mommy!"


"Ma_maafkan mommy, Will. Mommy sangat menyesal atas semuanya, maaf"


"Sudahlah, William tidak mau mendengar apa-apa lagi dari mulut mommy! Sekarang, mommy dan Kana selesaikan saja semuanya sendiri, jangan libatkan William!"


Setelah berkata seperti itu, William berjalan pergi dari ruang tamu begitu saja. Membuat tubuh Ratih dan Kana, langsung merosot lemah jatuh terduduk diatas sofa.


Sedang Zenith juga tampak tak merasa puas, dengan jawaban yang diberikan oleh William. Gadis itu segera memutar otak, supaya bisa membuat William mau berubah pikiran untuk menikah dengannya.


"Sayang sekali, ternyata William tidak mau menuruti keinginanku untuk menikah. Kalau begitu, terpaksa aku harus melaporkan kak Kana dan juga mommy. Maaf yah"


Baru saja Zenith selesai mengetik nomor di layar ponselnya dan akan segera menekan pilihan panggil, namun dengan cepat Haykal menahan tangan gadis itu.


"Ada apa kak?"


"Kamu tidak perlu terburu-buru seperti itu, untuk melaporkan mereka. Karna aku akan berusaha untuk membujuk William terlebih dulu, bagaimana?"


"Boleh juga. Baiklah, aku akan berbaik hati untuk menunggu disinu. Tapi ada satu syarat, kak Haykal harus berhasil mengubah jawaban William dalam waktu setegah jam, dan jika lebih dari itu, aku akan langsung melaporkan mereka. Setuju?"


"Baiklah"


Haykal pun berjalan naik ke atas lantai dua untuk menyusul William, adiknya itu ternyata sudah berada dalam kamarnya. Beberapa kali mengetuk pintu dan menunggu, akhirnya pintu kamar William itu pun terbuka lebar.


"Ada apa kak? Apa Zenith sudah pergi?"


"Dia masih ada di ruang tamu"


"Lalu, kenapa kak Haykal mengikutiku kesini? Jangan bilang kalau kakak berniat untuk membujukku supaya mau menuruti keinginan wanita itu? Aku tidak akan mau kak!"


"Apa kamu tega melihat mommy dan juga istriku masuk penjara? Dimana hati nuranimu Will? Mereka berdua adalah ibu dan juga iparmu sendiri!"


"Aku juga tahu kak. Tapi kenapa harus aku yang menerima semua konsekuensi dari kejahatan mommy dan Kana? Aku tentu saja berhak untuk menolak!"

__ADS_1


"Berarti kamu lebih memilih Zenith untuk melaporkan mereka? Begitu?"


"Aku bahkan tidak yakin kalau wanita itu berani untuk melaporkan mommy dan juga Kana. Itu semua pasti hanya sekedar omong kosongnya saja"


"Dia akan benar-benar melakukannya, William! Kamu pikir kenapa aku sampai menyusul kamu kesini segala? Itu karna Zenith sudah menelpon, tapi digagalkan olehku!"


William memang tahu kalau Zenith bisa melakukan segala sesuatu yang diinginkan olehnya, namun tidak pernah terbayang jika wanita itu juga berani melakukannya terhadap keluarga William.


William yang mendengar cerita sang kakak, seketika langsung berpikir ulang tentang apa yang menjadi keputusannya. Meskipun pria itu memang marah pada ibunya, tapi melihat ibunya harus berada di balik jeruji penjara, jelas William tidak akan tega.


Setelah diam dan berpikir beberapa saat, William pun dengan berat hati akhirnya harus memutuskan untuk menuruti keinginan Zenith, demi kebebasan Ratih dan juga Kana.


"Bagaimana William, cepat tentukan apa keputusanmu. Karna waktu yang diberikan oleh Zenith hanyalah setengah jam saja, lebih dari itu ia akan segera menelpon"


"Lebih baik kita turun dlu ke bawah, kak. Aku akan mengatakan sendiri keputusanku pada Zenith" ajak William pada akhirnya.


"Baiklah"


Kedua pria itu pun segera turun kembali ke lantai satu untuk menemui Zenith. Dan Zenith yang melihat kedatangan kembali William pun tersenyum senang.


"Jadi, bagaimana William? Apa kamu sudah merubah jawabanmu sesuai dengan apa yang aku inginkan?"


"Baiklah"


Sebuah jawaban singkat yang keluar dari mulut William, membuat semua orang yang ada disana pun akhirnya bisa bernafas lega. Terlebih Ratih dan juga Kana, yang sedari tadi telah terbayang-bayang akan rasa takut karna harus berada dibalik jeruji penjara.


"Baiklah apa Will? Apa baiklah yang kamu maksud adalah, mau menikah denganku?"


"Itu kan yang kamu mau?"


"Iya, itu yang aku mau William! Aku senang sekali karna bisa mendengar jawaban itu darimu, terima kasih sayang" ucap Zenith, sambil berjalan ke arah William dan langsung memeluk pria itu erat.


"Sama-sama. Tapi kamu jangan senang dulu, karna aku punya satu syarat yang harus kamu lakukam jika ingin menikah denganku"


"Apa itu? Aku pasti akan melakukan apa pun yang kamu minta" tanya Zenith melepaskan pelukannya.


"Kamu harus mau menghapus semua video itu beserta salinannya, di depan aku dan juga keluargaku!"


"Baiklah. Kapan kita akan menikah?"


"Astaga, mendengarmu bertanya seperti itu, aku jadi salah paham, kalau kamu sudah tidak sabar sekali untuk segera menikah dengaku"


"Tidak usah berpikir yang aneh-aneh, aku hanya ingin cepat menikah supaya mommy dan juga Kana terbebas dari ancamanmu"


"Kalau begitu, besok aku dan kamu, beserta keluarga kita, akan mulai mempersiapkan pesta pernikahan kita"


"Tidak ada pesta! Cukup menikah saja, aku tidak mau ada pesta segala"


"Tapi aku tidak mau. Mimpiku sedari dulu adalah bisa menikah denganmu, dengan pesta pernikahan yang sangat besar. Jadi jika kamu tidak mengharapkan adanya pesta, maka lebih baik kita tidak usah menikah saja" ancam Zenith.


William yang tahu arah pembicaraan gadis itu, hanya bisa menghela nafas frustrasi. Ingin rasanya dia menyeret tubuh Zenith untuk segera pergi dari hadapannya, karna saking emosinya.


"Terserah kamu saja!"


*****


Angel dan Mira menatap tak percaya ke arah sebuah kertas yang baru saja diantarkan oleh kurir bersama dengan sebuah karangan bunga, untuk Asyifa.


Kertas yang menjadi pusat perhatian kedua gadis itu adalah sebuah kertas undangan pernikahan. Dan yang membuat mereka terkejut, adalah dua nama yang terukir indah diatas kertas itu.


Nama William yang adalah mantan suami dari Asyifa, dan ada nama Zenith, yang mereka tahu adalah wanita yang sudah sedari dulu terobsesi dengan William, bahkan pernah menjadi mantan calon istri pria itu.


"Ini kertas undangannya benaran atau tidak sih, Ngel? Apa aku sendiri yang salah lihat?" tanya Mira polos.


"Aku juga melihatnya Mira, itu asli. Kalau tidak percaya, sentuh saja kertasnya!"


"Tapi kok bisa? William dan Asyifa kan baru minggu lalu resmi bercerai, bagaimana bisa dia sudah menikah lagi dengan wanita lain!"


"Pastinya ini semua terjadi karna keinginan ibu William, iparnya, dan juga Zenith sendiri. Memang ini lah yang mereka harapkan dari perceraian Asyifa dan juga William"


"Benar juga katamu. Tapi apa kita harus memberitahukan hal ini pada Asyifa?"


"Bukannya sudah seharusnya yah Asyifa tahu, diundangan inu kan tertulis namanya"

__ADS_1


"Tapi Angel, aku takut Asyifa akan merasa sedih karna hal ini. Apa lebih baik kita tidak usah memberitahunya saja?"


"Tidak bisa begitu Mira. Asyifa harus tahu dan juga harus datang ke acara ini, supaya bisa menjadi bukti kalau Asyifa sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi pada William!"


"Aku tidak setuju!"


Mira pun meraih undangan beserta dengan karangan bunga yang ada, dan membawanya menuju arah belakang apertemen. Angel yang melihat hal itu, segera menyusul.


"Apa yang mau kamu lakukan terhadap bunga dan juga undangan itu?"


"Tentu saja akan aku musnahkan!" jawab Mira sambil melempar kedua benda itu masuk ke dalam tong pembakaran.


Baru saja gadis itu akan menyalakan korek api dan melemparkannya ke dalam, ketika dengan cepat Angel mengambil semuanya kembali.


"Angel, cepat kamu masukan semua itu ke dalam tong lagi sekarang juga! Kalau tidak, aku akan merebutnya secara paksa darimu!"


"Silakan rebut saja kalau bisa!"


Mendapat tantangan dari Angel, Mira pun tanpa berkata apa-apa lagi langsung menarik kertas itu dari tangan Angel. Angel yang tidak ingin kalah juga balas menarik, dan akhirnya terjadilah pertarungan tarik-menarik diantara keduanya.


Asyifa yang mendengar ada suara-suara ribut milik Mira dan Angel, pun menjadi penasaran. Wanita itu pun bergegas keluar dari kamar, untuk melihat apa yang sedang terjadi antara kedua sahabatnya itu.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Asyifa bingung melihat Angel dan Mira saling berebut sebuah kertas.


"Asyifa? Kenapa kamu keluar, sana cepat masuk kembali ke kamarmu!"


"Jangan Asyifa! Kamu harus melihat apa yang tertulis di kertas undangan ini!"


"Apaan sih Ngel, kamu itu memang sengaja mau buat Asyifa sedih lagi yah?!"


"Mana ada aku begitu. Asyifa itu suda tidak suka lagi sama William, jadi sekali pun dia melihat undangan ini, Asyifa akan baik-baik saja!"


"Ya ampun, kalian itu lagi bicara tentang apa sih? Coba bicara yang jelas, aku tidak bisa mengerti sama sekali" protes Asyifa yang menjadi semakin bingung.


Saat Angel lengah, Mira pun berhasil merebut kertas itu. Tanpa menunggu lagi, ia langsung memasukkannya ke dalam tong dan segera membakarnya menjadi abu.


"Akhirnya, biang masalah telah dilenyapkan! Ayo kita masuk ke dalam Asyifa, semuanya sudah kembali tenang" ajak Mira sambil merangkul bahu Asyifa.


"Beberapa hari lagi, William akan menikah dengan Zenith!" ucap Angek tiba-tiba.


"Angel!"


"Kertas yang barusan dibakat oleh Mira tadi, adalah undangan pernikahan mereka yang ditujukkan untukmu, Asyifa"


Asyifa yang menerima kabar William akan menikah dengan Zenith secara tiba-tiba dari mulut Angel pun hanya bisa terdiam. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


Bukannya Asyifa merasa sedih karna dirinya masih mencintai William, tapi karna dirinya sedih melihat William bisa semudah itu membuka lembaran baru dihidupnya bersama dengan wanita lain.


Asyifa takut anaknya yang kini telah berada di surga, melihat apa yang dilakukan oleh ayahnya dan kemudian menjadi sedih juga. Karna secara tidak langsung, William telah melupakan anak mereka.


"Asyifa? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Mira cemas, melihat Asyifa terdiam.


"Aku baik-baik saja, aku hanya sedikit terkejut saja tadi. Oh iya, apa kamu sempat membaca dimana dan kapan acaranya akan diadakan?"


"Untuk apa kamu menanyakannya? Jangan bilang kalau kamu akan datang ke acara itu?"


"Bukannya aku sudah seharusnya datang yah, Ra? Kan aku sudah diundang"


"Tapi Asyifa, mereka menggundangmu untuk sengaja memperlihatkan kalau apa yang sudah direncanakan oleh mereka sedari dulu, kini sudah berhasil, termaksud menyingkirkan dirimu dan diganti oleh Zenith!"


"Tidak apa-apa, Mira. Aku sudah tidak ada perasaan lagi terhadap William, jadi aku akan datang dan memberikan selamat kepada mereka berdua"


Mira yang kesal mendengar jawaban Asyifa, segera menatap marah ke arah Angel. Karna dirinya lah, kini Asyifa memaksakan diri untuk pergi.


"Kamu mau pergi dengan siapa? Apa perlu kami berdua temani?" tanya Angel mencoba menghindari tatapan Mira.


"Aku belum memikirkannya, nanti saja kita bicarakan lagi. Aku kembali ke kamarku dulu yah, karna ada berkas penting yang sedang aku periksa tadi"


"Tuh kan lihat, Asyifa jadi sedih sekarang! Ini semua karna dirimu yang keras kepala tidak mau mendengar kata-kataku!" marah Mira pada Angel, setelah Asyifa telah pergi.


"Yah, maaf Ra"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2