The Ugly Wife

The Ugly Wife
Salah paham


__ADS_3

Asyifa yang telah sampai di rumah sakit dan sedang membantu Eden memakan sarapan yang telah disediakan bagi pria itu, menatap ke arah jendela dengan tatapan menerawang.


Meskipun sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak memikirkan pemandangan yang baru saja dilihatnya pagi ini, nyatanya pikiran Asyifa tak bisa diajak bekerja sama dan terus dipenuhi oleh sosok Zidan dan Kinara yang terlihat bersama.


Kondisi Asyifa yang terlihat berbeda tersebut, pun dapat dirasakan oleh Eden. Karna setiap kali Asyifa datang menjenguknya, pasti akan datang dengan suasana hati yang bagus dan selalu penuh senyuman.


Meski hari ini wanita itu juga datang dengan senyuman saat menyapa Eden, tapi bisa terlihat jelas bahwa itu bukanlah senyuman yang sama dengan hari-hari sebelumnya.


Senyum Asyifa pagi ini, seolah memberikan isyarat pada Eden bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja, dan ada hal yang mengganggu pikirannya.


Seperti saat ini, meski sudah dipanggil berulang kali oleh Eden, Asyifa tetap asyik berada dalam lamunannya seolah tak ingin kembali ke dunia nyata.


Plok!


Eden menepuk kedua tangannya dengan keras, tepat di depan wajah Asyifa, supaya bisa membuatnya sadar.


"Astaga Eden! Apa sih yang kamu lakukan, kenapa pakai acar tepuk tangan dengan keras seperti itu? Aku kan jadi kaget" ucap Asyifa sedikit kesal.


"Maaf Asyifa, aku tidak menyangka kalau kamu akan sekaget itu. Niatku tadi hanyalah untuk menyadarkanmu saja, karna meskipun sudah dipanggil berulang kali, tetap saja tidak direspon olehmu"


"Tapi kan tidak perlu sampai dikagetkan juga Eden, bisa saja aku sedang memikirkan hal penting sehingga tidak mendengar suaramu. Apa tidak bisa dengan cara yang lebih halus?"


"Ma_maaf Asyifa, aku memang sudah salah dan melewati batas tadi. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi" janji Eden, takut Asyifa akan semakin kesal dan marah.


"Hah, sudahlah. Moodku tiba-tiba berubah menjadi sangat buruk karna tepukan tadi. Aku rasa, mungkin lebih baik aku pulang saja sekarang"


"Pulang? Tapi bukannya kamu baru saja sampai beberapa menit yang lalu, masa sudah mau pulang saja. Kamu juga sudah berjanji akan membawaku jalan-jalan hari ini di taman menggantikan suster, masa batal begitu saja"

__ADS_1


"Sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku itu padamu. Tapi tenang saja, sebelum pergi aku akan menyuruh suster yang bertugas untuk datang kesini, menggantikanku. Kalau begini, tidak masalah bukan?"


"Tentu saja masalah Asyifa. Masalah suster yang bertugas bukan orang sama denganmu, dan yang berjanji padaku tadi adalah kamu dan bukannya suster itu" protes Eden mulai ikut-ikutan kesal.


"Eden, aku hanya tidak mengikuti apa yang menjadi keinginanmu kali ini saja, selama ini kan aku selalu menuruti semuanya. Apa tidak bisa kali ini kamu memakluminya?"


"Tapi memangnya ada apa? Tidak mungkin kan alasannya hanya karna aku membuatmu terkejut tadi, pasti ada alasan lainnya juga kenapa kami ingin cepat-cepat pulang. Sedari awal datang juga, ekspresi wajahmu seolah mengatakan ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan dengan serius"


"Baiklah, aku minta maaf karna tadi sudah memarahimu dan merasa kesal seenaknya. Perkataanmu memang benar, ada sesuatu yang sedang menggangu pikiranku"


"Tentang apa?"


"Itu tentang masalah pribadiku Eden, kamu sama sekali tidak perlu tahu dan juga ikut memikirkannya. Cukup cepat pulih, supaya kita bisa mengunjungi anak-anak panti lagi" pinta Asyifa berusaha tersenyum.


"Apa itu karna Zidan? Bukannya katamu kalian sudah memutuskan hubungan pertunangan supaya kamu bisa lebih fokus merawatku, kenapa sekarang kamu memikirkannya lagi? Apa kamu menyesal sudah mengakhirinya, dan ingin kembali padanya?"


Meski begitu, Asyifa merasa wajar saja kalau Eden bersikap begitu, karna memang tadi dirinya sudah bereaksi berlebihan. Padahal yang membuat pikirannya kacau adalah Zidan dan bukannya Eden.


Asyifa yang sudah berusaha untuk berpikir positif sampai seperti itu, tetap saja merasa tak senang ditatap dengan ekspresi yang baru pertama kali dilihatnya diwajah Eden.


"Sudah aku bilang itu tentang masalah pribadi milikku Eden, kamu tidak perlu memikirkanya sama sekali. Aku bisa mengatasinya sendiri kok" jawab Asyifa santai.


"Aku tanya, apa itu ada hubungannya dengan Zidan dan hubungan pertunangan kalian yang sudah berakhir karna aku?"


"Astaga, kenapa kamu sangat ingin tahu soal masalah pribadiku Eden? Kalau memang ada hubungannya dengan Zidan, memangnya apa yang ingin kamu lakukan?"


"Kenapa kamu masih memikirkannya, kamu kan sudah memilihku dan melepaskannya. Seharusnya kamu tidak usah lagi bertingkah seperti itu, dan fokus saja padaku" ucap Eden, mulai marah.

__ADS_1


"Hah, apa-apaan ucapan dan nada bicaramu barusan. Aku memang melepaskan Zidan dan tidak lagi memiliki hubungan denngannya, karna ingin fokus merawatmu. Tapi semua itu adalah alasanku yang kedua, tapi yang paling utama adalah membebaskan Zidan dari aku yang tidak bisa memberikannya sebuah keputusan pasti tentang masa depan kami"


Mendengar penjelasan Asyifa, seketika wajah Eden berubah menjadi merah padam karna menahan malu dan juga perasaan kesal yang mulai menghampirinya.


Ternyata selama ini dia sudah salah paham sendiri, karna Asyifa mengatakan alasannya mengakhiri hubungannya dengan Zidan karna ingin fokus mengurusnya.


Eden pikir dengan berita itu, setidaknya dia mungkin saja memiliki peluang untuk bisa lebih dekat dengan Asyifa, dan juga mungkin bisa menggantikan tempat yang pernah diisi oleh Zidan dihati wanita itu.


Nyatanya, meskipun Zidan sudah tidak lagi memiliki hubungan dan tidak lagi berada setiap saat di dekat Asyifa, pria itu rupanya masih tetap berada dalam hati Asyifa dengan utuh dan tak tergantikan sedikitpun.


"Jadi, apa kalau aku sudah benar-benar dinyatakan sembuh oleh dokter, kamu akan kembali memperbaiki hubunganmu dengan Zidan?" tanya Eden hati-hati.


"Entahlah, aku juga tidak tahu apa itu mungkin bisa untuk ku lakukan, karna mengingat aku lah yang sudah mengakhirinya begitu saja. Tapi jika ada kesempatan dan tuhan memberi jalan padaku, aku pasti tidak akan ragu untuk melakukannya"


Deg! Jantung Eden berhenti sesaat setelah mendengar jawaban tegas dan yakin yang keluar dari dalam mulut Asyifa. Kini Eden telah tersadar sepenuhnya, kalau dia sudah tak mempunyai kesempatan.


Bahkan cela sekecil apa pun di dalam hati Asyifa, pasti tidak akan ada. Harapan yang awalnya kembali mekar dihati Eden, perlahan mulai hilang begitu saja.


"Eden? Ada apa, apa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu? Wajahmu tampak pucat tiba-tiba, apa perlu aku panggil dokter untuk memeriksamu?" tanya Asyifa, terlihat cemas.


"Ti_tidak perlu Asyifa. Wajahku seperti itu, mungkin karna semalam aku kurang istirahat saja. Kamu tidak perlu cemas, dan silakan lanjutkan niatmu untuk pulang"


"Ya ampun, apa kamu baru saja mengusirku pergi dari sini? Hei, atau jangan-jangan kamu sedang balas dendam karna aku sudah memarahimu tadi?"


"Tidak Asyifa, aku hanya merasa kalau sepertinya aku juga membutuhkan waktu sendiri supaya bisa beristirahat. Oh iya, kalau kamu keluar nanti, tolong sampaikan pada susternya kalau aku minta jalan-jalannya dibatalkan hari ini" pinta Eden, kemudian pria itu langsung membalikkan badannya untuk membelakangi Asyifa.


Meskipun merasa ada yang aneh dengan tingkah Eden yang tiba-tiba menjadi mudah dan tak mempermasalahkannya untuk pulang ke rumah, Asyifa memilih untuk mengikuti permintaan pria tersebut dan keluar dari kamar meninggalkan Eden seorang diri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2