
"Asyifa! Maaf lama"
"Kenapa nafasmu tidak beraturan seperti itu, jangan bilang kamu habis lari untuk bisa datang ke sini? Dimana mobilmu?"
"Mobilku bannya kempes, sedang ku tinggal di bengkel tidak jauh dari sini. Aku terpaksa lari karna tidak ada taksi yang kosong"
"Oke, aku mengerti. Tapi tenangkan dulu dirimu, ini minum" ucap Asyifa sambil memberikan sebotol air mineral kepada William
"Terima kasih"
"Aku sudah mengatakan pada yang lainnya, kalau kamu tidak bisa ikut berlibur. Tapi apa alasanmu tidak bisa ikut?"
"Mommyku sakit, Asyifa. Aku memang masih marah dan kecewa padanya, tapi bagaimana pun juga, dia adalah wanita yang melahirkan aku. Mana mungkin, aku bisa menutup mata melihatnya seperti itu"
"Aku setuju denganmu. Kita bisa pergi liburan bersama di lain waktu, jadi kamu fokus saja untuk merawat ibumu dulu. Semoga beliau lekas sembuh"
"Terima kasih Asyifa"
"Sama-sama. Tapi, apa kamu datang ke sini hanya untuk menjelaskan alasanmu tidak bisa ikut? Kamu kan bisa mengatakannya lewat telepon William!"
"Bukan hanya itu, ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu" ucap William sambil berlutut dengan satu kaki di depan Asyifa, membuat gadis itu terkejut.
"Astaga, apa yang kamu lakukan William? Cepat bangun! Banyak orang yang melihat ke arah kita sekarang" pinta Asyifa malu karena mulai banyak orang berhenti hanya untuk melihat mereka berdua.
Namun William tidak memperdulikan semua itu. Kemudian dengan tenang mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam kantong celananya untuk diperlihatkan pada Asyifa.
"Asyifa, apa kamu mau menikah denganku? Aku memang punya banyak salah padamu, tapi biarkan aku untuk menebus semua itu. Aku berjanji akan menjadi pasangan yang lebih baik lagi dari yang sebelumnya. Aku mohon terimalah lamaranku ini"
"William, kamu sedang bercanda kan? Aku mohon berhenti, ini sama sekali tidak lucu! Keluargamu bahkan tidak menyukai diriku, bagaimana bisa kamu ingin menikahi gadis yang tidak disukai keluargamu?" marah Asyifa mulai berlinang air mata.
"Aku akan membuat mereka menyukaimu Asyifa. Bahkan jika tidak berhasil, aku akan tetap menikah denganmu. Kamu hanya perlu percaya dan berada disampingku saja"
Asyifa melihat ketulusan yang murni dari dalam mata William. Meskipun ia masih ragu dengan perasaannya, yang tampaknya sudah berkurang untuk pria itu, namun Asyifa tak ingin menyesal di masa depan karna menolak lamaran William.
"Aku mau menikah denganmu, William"
Mendengar jawaban Asyifa, William langsung memakaikan cincin di jari manis gadis itu dan memeluknya erat.
Beberapa orang yang berkumpul dan tampak sedang merekam momen lamaran itu, juga ikut bersorak senang serta bertepuk tangan.
"Terima kasih Asyifa, terima kasih banyak"
Angel, Mira dan juga Zidan yang sedari tadi berdiri tak jauh dari sana, tampak sangat kecewa dengan jawaban yang keluar dari mulut Asyifa.
"Tidak bisa! Aku harus menghentikannya, jangan sampai Asyifa terlena ke dalam rayuan pria berengsek itu lagi!"
"Jangan Mira. Biarkan Asyifa untuk memilih jalan hidupnya sendiri, dia pasti tahu mana yang terbaik untuk dirinya"
"Tapi bagaimana jika William menyakitinya lagi, apa kamu senang melihat sahabatmu terluka?"
"Aku memang menyayangi Asyifa, tapi aku ingin selalu mendukungnya atas setiap hal yang dia ambil, selama itu masih positif. Dan lagi, semua orang berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua Mira"
"Benar yang dikatakan Angel. Hidup Asyifa adalah miliknya, kita sebagai orang terdekat hanya bisa mendukung dan menghiburnya saat ia terluka"
"Apa yang kamu katakan, bukannya kamu sendiri juga menyukai Asyifa? Apa kamu rela membiarkan Asyifa direbut oleh pria lain, dan lagi itu adalah pria yang pernah menyakiti dirinya?!"
"Lalu aku harus bagaimana, apa aku harus memaksa Asyifa untuk balik menyukai diriku juga? Tidak mungkin Mira, karna cinta itu tidak bisa dipaksakan"
"Jadi kamu menyerah begitu saja? Ternyata cuma segitu rasa cintamu pada Asyifa!"
"Karna rasa cintaku sebegitu besarnya pada Asyifa, sehingga aku rela membiarkannya untuk bahagia bersama pria lain dan bukannya bersamaku"
Mira yang mendengar jawaban Zidan, seketika terdiam membisu, seolah tertampar oleh tulusnya perasaan pria itu.
"Aku yakin, kamu juga pasti akan segera bertemu dengan wanita yang sama baiknya seperti Asyifa"
"Terima kasih Angel. Tapi sepertinya, aku juga tidak bisa pergi berlibur bersama kalian. Aku belum siap menghadapi Asyifa dan harus memberikan ucapan selamat padanya"
"Kami mengerti. Gunakan semua waktu luang yang kamu miliki, untuk membuat dirimu merasa lebih baik"
"Katakan saja pada Asyifa, kalau aku ada urusan pekerjaan yang mendadak. Semoga liburan kalian menyenangkan, dan sampai jumpa lagi" pamit Zidan kembali mendorong masuk kopernya ke dalam gedung apartemen.
"Aku merasa bersalah pada Zidan. Ucapanku barusan, sudah sangat keterlaluan"
"Tenang saja, aku yakin dia pasti bisa mengatasinya. Sebaiknya kita datangi kedua pasangan itu dan memberi mereka selamat"
"Aku hanya akan memberikan Asyifa selamat, aku masih tidak bisa menerima William!"
"Terserah kamu saja. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, tapi jangan sampai membuat Asyifa sedih"
__ADS_1
"Kenapa juga Asyifa harus memilih pria sialan itu lagi sih? Padahal ada harta karun murni di depannya, yaitu Zidan!"
"Diamlah Mira!" tegur Angel, saat langkah keduanya mulai dekat dengan Asyifa.
"Hai Asyifa, hai William. Aku dan Mira sudah menyaksikannya sedari tadi, selamat yah untuk kalian berdua"
"Terima kasih Angel. Aku merasa sangat beruntung, karna Asyifa mau memberikan kesempatan sekali lagi padaku dan menerima lamaranku"
"Itu karna Asyifa berhati baik, bukan seperti keluargamu!" sindir Mira sinis.
"Mira! Kami sudah berjanji untuk membuat keluarga William menyukai diriku"
"Semoga saja berhasil, dan bukan hanya sandiwara mereka saja seperti terakhir kali"
"Kalian berdua tidak perlu khawatir. Begitu kalian pulang dari liburan, aku akan langsung mempersiapkan acara pernikahanku dengan Asyifa"
"Sungguh? Aku tidak sedang bermimpi kan, apa itu mungkin untuk dilakukan?"
"Tentu saja. Kita akan mempersiapkannya bersama, sesuai dengan yang kamu inginkan. Jadi selama liburan, sebaiknya kamu juga meluangkan waktu untuk mencari konsep pernikahan yang kamu sukai"
"Terima kasih William, aku sangat bahagia mendengarnya. Aku sudah tidak sabar untuk menyiapkan pernikahan kita" ucap Asyifa kembali memeluk pria yang telah menjadi calon suaminya itu.
"Selamat Asyifa, aku dan Mira turut bahagia mendengarnya. Kami pasti akan ikut membantumu menyiapkan segalanya untuk hari bahagiamu nanti"
"Terima kasih, kalian benar-benar sahabat terbaikku. Aku beruntung memiliki kalian berdua" ucap Asyifa sambil memeluk Angel dan Mira.
*****
Sudah seminggu berlalu sejak William melamar Asyifa, kini gadis itu sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan mereka.
Mulai dari memilih konsep, mencoba gaun pengantin, serta foto prewedding. Dan kini ia tengah berada di sebuah cafe untuk melakukan hal terakhir, yaitu menyusun daftar orang yang akan di undang.
"Aku rasa sedikit sekali jumlah tamu undangan dari pihakku. Baru sekarang aku sadar, kalau ternyata aku memiliki sangat sedikit kenalan"
"Makanya, lain kali kamu harus sering-sering berinteraksi dengan orang lain juga. Kamu terlalu cepat menghabiskan masa mudamu, bahkan pacaran saja baru sekali!"
"Aku hanya tidak ingin menyesal jika menolak lamaran William, Mira. Aku mengerti kamu kecewa dengan keputusanku, tapi aku sangat ingin membuktikan kalau William adalah pria yang tepat untukku"
"Yah, dan dimasa depan nanti kamu pasti akan menyesal"
"Sudahlah Mira, kita di sini untuk membantu Asyifa memikirkan siapa saja yang akan di undang, bukan bertengkar"
"Oh iya, aku lupa untuk menuliskan nama pak Zidan juga dalam daftar!"
"Apa maksudnya? Pak Zidan menyukai diriku, begitu? Astaga, berhentilah berbicara yang tidak masuk akal"
"Apa yang Mira katakan adalah fakta, Asyifa. Pak Zidan memang menyukai dirimu, bahkan sangat. Aku dan Mira sudah mengetahuinya sejak awal, hanya kamu saja yang tidak menyadari perasaannya padamu"
"Kalian pasti sedang mengerjaiku kan, mana mungkin pak Zidan menyukai seorang wanita sepertiku?!"
"Kamu pikir kenapa pak Zidan sangat tidak menyukai William? Itu karna William adalah pria yang kamu sukai, yang berarti mereka menjadi saingan untuk mendapatkan dirimu!" jelas Mira gemas.
"Tapi kenapa sikap pak Zidan tidak terlihat seperti seseorang yang biasanya sedang jatuh cinta? Dia selalu memberikanku banyak pekerjaan dan membuatku tersiksa"
"Aku yakin pak Zidan mempunyai alasannya sendiri hingga melakukan semua itu" jelas Angel yakin.
"Lalu apa yang membuat kalian sangat yakin kalau pak Zidan menyukaiku? Kalau hanya karna dia tidak menyukai William, mungkin saja ada alasan lainnya dan bukan karena menyukaiku"
"Kami mendengarkannya langsung dari mulut pak Zidan! Apa sekarang kamu masih tidak percaya juga?" ucap Mira kesal.
Tiba-tiba William datang menghampiri meja ketiga gadis itu, sambil membawa sebuah nampan yang berisi beberapa makanan dan juga minuman.
Tapi sebelum sampai di meja dan tanpa sepengetahuan para gadis, William dengan sengaja membuang sedotan untuk minuman mereka.
"Apa kalian sudah selesai menulis daftar nama undangan? Aku harap kalian tidak terlalu kecapaian, jadi aku bawakan makanan dan juga minuman"
"Terima kasih William"
"Sama-sama Angel. Astaga, kenapa mereka bisa lupa memberikan sedotan untuk minumannya? Tunggu sebentar yah, aku akan segera mengambilnya"
"Biar aku saja yang ambil. Kamu temani Mira dan Angel saja" ucap Asyifa kemudian berjalan menuju tempat pemesanan.
"Apa saja yang kalian bicarakan sedari tadi dengan Asyifa? Aku harap kalian tidak bicara sesuatu yang aneh padanya" tegur William serius, sambil duduk di sebelah kursi milik Asyifa.
"Apa sekarang kamu sedang menunjukkan warna aslimu, di depan kami berdua?" tanya Mira sinis tanpa takut sedikit pun.
"Dengar yah Mira, aku menghargaimu karna kamu adalah sahabat Asyifa. Tapi aku tidak akan menahan diri, jika kamu mempengaruhi Asyifa untuk tidak jadi menikah denganku!"
"Kami bukannya sedang mempengaruhi Asyifa untuk tidak jadi menikah denganmu William. Kami hanya ingin Asyifa tahu tentang perasaan Zidan yang sebenarnya, itu saja"
__ADS_1
"Dia itu sudah mau menikah denganku Angel, semuanya sudah selesai di persiapkan. Apa kamu mau, hanya karena ucapan kalian pada Asyifa, pernikahan ini batal?"
"Hentikan! Kenapa kamu marah-marah pada kami berdua? Justru bagus kalau Asyifa tidak jadi menikah denganmu, karna aku juga tidak menyetujuinya!"
"Sayangnya kamu itu cuma sahabatnya saja, dan bukan orang tua Asyifa yang harus dia dengarkan semua ucapannya. Dengarkan aku baik-baik Mira, Asyifa sendirilah yang setuju untuk menikah denganku, jadi kalau kalian berdua bersikap seperti ini padaku, sama saja kalian tidak ingin Asyifa bahagia!"
"Kamu!"
"Tenanglah Mira. Apa yang dikatakan William memang ada benarnya, kita seharusnya tidak menceritakan hal itu pada Asyifa. Tapi aku ingin kamu tahu William, kalau Asyifa menganggap kami berdua sama pentingnya dengan kedua orang tuanya!" jelas Angel tegas, sambil bangkit dari duduknya.
Asyifa yang baru datang merasa ada yang aneh dengan suasana diantara ketiga orang di depannya. Terlebih lagi saat melihat posisi Angel yang sudah berdiri, seolah ingin segera pergi dari sana, dan Mira yang kelihatan menahan marah.
"Angel, kenapa kamu tiba-tiba berdiri? Apa ada sesuatu yang sudah terjadi diantara kalian, selama aku pergi?"
"Tidak ada yang terjadi, Asyifa. Aku dan Mira hanya baru teringat, ada pekerjaan kantor yang harus kami kerjakan bersama"
"Pekerjaan apa, kenapa aku tidak tahu kalau kalian sedang mengerjakan sesuatu bersama?"
"Lebih tepatnya itu adalah pekerjaan milikku, dan Angel hanya membantu karna aku minta" sambung Mira, ikut berdiri dan merapikan barang bawaannya.
"Maaf karena tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama denganmu, Asyifa. Sampai bertemu di apartemen nanti"
"Tidak masalah Angel, kalian kan memang harus mengerjakan sesuatu dan bukan disengaja, jadi aku bisa mengerti. Aku juga ingin berterima kasih atas bantuan kalian berdua"
"Sama-sama Asyifa, kami pergi dulu"
Angel dan Mira lalu bergantian memeluk gadis itu sebelum akhirnya berjalan keluar dari sana.
"Kamu tidak bertengkar kan dengan Mira dan juga Angel, selama aku pergi?"
"Mana mungkin, sayang. Aku bukan pria yang senang bertengkar dengan perempuan"
"Baguslah kalau begitu. Aku sangat ingin kalian bertiga menjalin hubungan baik, karna bagiku Angel dan Mira sangat berharga, sama berharganya dengan kedua orang tuaku"
"Aku berjanji akan melakukan yang terbaik agar hubungan kami bisa kembali terjalin dengan baik seperti dulu"
"Terima kasih, sayang"
*****
Hari pernikahan yang sangat dinantikan oleh William pun akhirnya tiba. Ia berdiri dengan tak sabaran, menanti datangnya sang mempelai wanita.
Asyifa yang sudah memakai gaun pengantin tampak cantik dari biasanya, ia berjalan perlahan di temani ayahnya.
Setelah melewati beberapa rangkaian acara, keduanya pun resmi menjadi sepasang suami istri. Asyifa yang bahagia, tak henti-hentinya terseyum, membuat sang ayah menitikan air mata haru.
"Selamat yah nak, kini kamu sudah resmi menjadi seorang istri dari pria yang kamu cintai. Bukalah lembaran baru dihidupmu bersama dirinya, dan berbahagialah selalu"
"Terima kasih ayah. Terima kasih karna sudah mau datang dan menemani Asyifa berjalan menuju pelaminan. Tapi sebenarnya, Asyifa sangat berharap ibu juga bisa hadir bersama kita di sini"
"Ayah mengerti akan keinginanmu itu. Tapi mengingat seperti apa sifat ibumu, ayah takut ia akan membuat pernikahan ini menjadi sulit untuk terlaksana. Ayah hanya ingin semuanya berjalan lancar, semoga kamu bisa mengerti"
"Aku mengerti ayah. Tapi kita tidak mungkin bisa menyembunyikan semua ini selamanya dari ibu, suatu hari nanti pasti ia akan mengetahuinya juga"
"Jika saat itu tiba, ayah sendiri yang akan menjelaskan semuanya, jadi kamu tidak perlu cemas. Nikmati saja hidup barumu sekarang dengan bahagia, dan segera berikan ayah cucu-cucu yang imut"
"Ayah, Asyifa kan jadi malu" ucap Asyifa dengan wajah yang seketika bersemu merah.
"Maaf mengganggu waktu ayah dan Asyifa, tapi kita harus melakukan foto bersama sekarang. Aku sangat ingin memiliki foto ini, untuk di panjang di rumah kami nanti, ayah" sela William yang datang menghampiri Asyifa dan juga ayahnya.
"Tentu saja. Ayo kita pergi berfoto sebanyak mungkin di hari bahagia ini"
Mereka pun melakukan foto bersama yang diikuti oleh keluarga William, kedua sahabat Asyifa, dan juga beberapa tamu yang hadir. Meskipun keluarga William belum menerima Asyifa sepenuhnya, tapi demi William, mereka terpaksa tetap mengikuti semua rangkaian acara yang ada.
Hanya Zidan seorang yang tetap bersembunyi di pojokan tempat acara, sambil memandangi wajah wanita yang sangat ia cintai dengan tatapan sedih.
"Semoga kamu bahagia selalu, Asyifa. Aku akan mengatakan ini untuk terakhir kalinya, aku mencintaimu" bisik Zidan sambil menghapus air mata yang tanpa bisa dicegah jatuh membasahi pipinya.
"Ternyata kamu datang juga ke pernikahan Asyifa. Kenapa kamu memaksakan diri seperti itu?" tanya Raka yang baru saja tiba bersama Adam.
"Raka? Adam? Dari mana kalian tahu, aku ada disini?"
"Dari undangan yang kamu tinggalkan begitu saja di apartemenmu" jawab Raka sambil memperlihatkan udangan yang diberikan sendiri oleh Asyifa pada Zidan.
"Aku dan Raka berniat datang untuk mengajakmu pergi keluar, karna beberapa hari ini kamu terlihat tak bersemangat. Tapi saat melihatmu tidak ada, kami pun memutuskan untuk datang ke tempat ini, setelah melihat undangan pernikahan yang bertuliskan nama Asyifa diatas meja"
"Maaf karna tidak cerita. Aku hanya tidak ingin menyusahkan kalian berdua, yang harus mengurusi pria malang yang selalu gagal dalam masalah percintaan"
"Sudahlah. Jangan dipikirkan lagi, aku yakin suatu saat kamu pasti akan bertemu dengan jodohmu juga. Ayo pulang, aku dan adam akan menemanimu" ajak Raka sambil menepuk punggung Zidan untuk memberinya semangat.
__ADS_1
"Terima kasih guys" ucap Zidan tulus. Mereka pun meninggalkan tempat itu.
Bersambung....