
Ting... Tong...
Zidan menekan bel rumah ayahnya dengan tidak sabaran. Ia ingin segera berada diatas kasur dalam kamarnya karna merasa sangat lelah setelah bekerja lembur.
Menyadari kini Asyifa sudah tidak harus memberikan uang pada ibunya setiap waktu, dan hidup wanita itu juga sudah tak kurang satu pun karna sudah ditanggung oleh William, Zidan dengan sengaja mengambil lebih banyak pekerjaan untuk dikerjakan sendiri.
Semua itu dilakukannya supaya bisa memberikan lebih banyak waktu luang bagi Asyifa dan kehidupan pernikahannya.
Dirinya juga sangat menyesal karena telah membuat Asyifa harus segera kembali bekerja. Apalagi wanita yang masih sangat dicintainya itu, datang ke perusahaannya dalam kondisi yang tidak menyenangkan untuk bekerja.
"Zidan? Kenapa kamu datang selarut ini, apa kamu baru saja pulang kerja? Wajahmu terlihat sangat lelah"
Kinara yang membukakan pintu untuk Zidan, terlihat terkejut melihat kondisi pria itu.
Zidan terlihat kurus dari terakhir kali mereka bertemu, di acara ulang tahun perusahaan pria itu. Penampilannya juga tidak serapi dulu, kumis dan janggut mulai bermunculan di wajahnya yang tampan.
Bagaimana tidak, setelah melihat Asyifa menerima lamaran William, Zidan merasa sangat terpukul. Ia menjadi tidak nafsu makan selama berhari-hari dan hanya sibuk bekerja. Dirinya bahkan semakin jarang memperhatikan kebersihan dirinya sendiri.
"Aku baik-baik saja. Apa ayahku ada di dalam? Aku ingin menginap selama beberapa waktu disini" jawab Zidan sambil melangkah masuk melewati Kinara begitu saja.
"Ayahmu belum pulang kerja, hanya aku sendirian di rumah. Tapi apa yang sudah terjadi padamu Zidan? Kamu terlihat sangat kurus, apa kamu sedang sakit?"
"Aku pikir ada ayah di rumah. Kalau begitu aku tidak jadi menginap, lebih baik aku kembali saja ke apartemenku"
Baru saja ia akan berbalik untuk segera keluar dari rumah, saat rasa sakit yang teramat sangat menghantam kepalanya. Seketika penglihatannya menjadi buram dan tubuhnya ambruk ke lantai.
"Zidan! Astaga, bagaimana ini? Zidan, tolong sadarlah. Ya ampun kenapa badannya panas sekali?" teriak Kinara mulai panik.
Dengan sekuat tenaga Kinara berusaha untuk memindahkan tubuh Zidan ke atas sofa yang ada di ruang tamu. Karna jika harus membawanya ke kamar pria itu dilantai dua, jelas ia tidak akan sanggup.
Setelah itu Kinara juga membuka sepatu serta kaos kaki Zidan. Tak lupa ia sengaja membuka beberapa kancing bagian atas kemeja Zidan, supaya pria itu bisa leluasa bernafas.
Saat melihat area bagian atas tubuh Zidan yang berkeringat, Kinara seolah tersihir untuk menyentuhnya. Dengan hati-hati, ia mulai membelai tubuh pria yang masih sangat ingin dimilikinya itu.
Merasa tidak puas sampai disitu, Kinara dengan berani memajukan dirinya untuk mengecup tubuh pria itu. Tidak ketinggalan ia juga memeluknya dan terakhir meninggalkan kecupan singkat di bibir Zidan.
Saat sedang menikmati momen langkah itu, Kinara tersadar saat mendengar suara mobil yang memasuki garasi samping rumah. Suara mobil itu sangat dikenali oleh Kinara, sebagai suara mobil suaminya.
"Ya tuhan, apa yang baru saja sudah aku lakukan?! Aku pasti sudah tidak waras!" ucap Kinara bangkit menjauhi Zidan dengan wajah terkejut.
"Kinara, apa yang kamu lakukan di ruang tamu selarut ini? Dan kenapa tidak mengunci pintunya, sayang?"
"Sayang, kamu sudah pulang? Aku_aku hanya sedang_sedang mengurus Zidan. Iya, aku sedang mengurus Zidan!" jawab Kinara gugup menyambut kedatangan Marcel.
"Mengurus Zidan? Memangnya ada apa dengan Zidan? Dimana dia sekarang?"
Kinara hanya bisa menunjuk ke arah Zidan yang masih dalam keadaan pingsan di sofa. Marcel yang penasaran, segera berjalan mendekati Kinara.
"Zidan, itu Zidan? Apa yang sudah terjadi padanya, Kinara? Kenapa dia bisa sampai pingsan, terlebih lagi tampilannya seperti orang yang kurang makan dan tidak istirahat selama berhari-hari?"
"Tadi dia tiba-tiba datang dan bilang ingin menginap beberapa hari disini. Tapi saat tahu kamu tidak berada di rumah, ia langsung ingin pergi, tapi malah jatuh pingsan begitu saja"
"Apa dia sedang sakit?"
"Aku juga tidak tahu, sayang. Saat datang kondisinya memang terlihat kurang bertenaga dan juga terlihat lelah. Bagaimana ini sayang, apa yang harus kita lakukan? Aku takut terjadi sesuatu pada Zidan"
"Kamu tenang yah, aku akan menghubungi dokter untuk datang memeriksa keadaan Zidan. Semoga saja, tidak ada hal buruk yang terjadi padanya"
Dengan cepat Marcel meraih ponsel miliknya, yang berada dalam tas kerja dan mulai sibuk berbicara disana.
"Bagaimana, berapa lama dokter akan sampai sayang? Aku takut kondisi Zidan semakin parah"
"Tidak butuh waktu lama sayang. Kebetulan dia sedang berada ditempat praktiknya, yang tidak jauh dari rumah kita"
"Syukurlah kalau begitu"
Marcel melangkah maju untuk mengecek keadaan putranya. Saat merasakan panas dari tubuh Zidan, ia dengan cepat berlari ke arah dapur mengambil air hangat dan juga kain untuk mengompres.
Dengan cekatan ia mulai merawat Zidan. Bahkan Marcel terlihat seperti sudah terbiasa melakukannya. Membuat Kinara menatapnya kagum.
"Setelah sekian lama, akhirnya ayah bisa merawatmu lagi seperti dulu. Ayah rindu akan kebersamaan kita, anakku. Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu, apa karna Asyifa kamu menjadi seperti ini?" ucap Marcel sedih dalam hatinya.
Merasakan sentuhan ditubuhnya, dengan perlahan Zidan mulai membuka kedua matanya.
__ADS_1
"Ayah?" panggil Zidan lemah.
"Zidan, kamu sudah sadar nak? Dimana yang sakit, katakan pada ayah"
"Kepalaku terasa sangat sakit ayah. Tapi aku bingung, kenapa hatiku juga ikut terasa sakit?" ucap Zidan meneteskan air mata.
Mendengar jawaban Zidan, membuat Marcel sadar bahwa apa yang ia pikirkan barusan pasti benar. Zidan menjadi seperti ini karena Asyifa memilih menikah dengan pria lain.
"Bersabarlah nak, sebentar lagi dokter akan datang memeriksa keadaanmu" hibur Marcel menghapus air mata dari wajah Zidan.
"Sayang, aku rasa dokternya sudah datang. Akan ku suruh segera masuk" ucap Kinara saat mendengar ketukan di pintu.
Dan memang benar, yang datang adalah dokter yang juga merupakan kenalan Marcel. Dengan cepat ia segera memeriksa Zidan serta menuliskan beberapa resep di secarik kertas yang kemudian ia berikan pada Marcel.
"Kurangnya asupan makanan sehat dan ditambah kurang istirahat dalam waktu yang lama, membuat kondisi kesehatan anakmu memburuk. Aku sarankan untuk menyuruhnya istirahat total dirumah"
"Tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja, banyak kerjasama dengan klien yang harus aku hadiri ayah" protes Zidan masih dengan suara lemah.
"Paman sudah menduga kamu akan berkata seperti itu. Sifatmu dari kecil yang selalu bertanggung jawab akan segala hal, tidak pernah berubah. Ini, aku sudah meresepkan beberapa vitamin yang harus diminum oleh Zidan jika dia tidak ingin istirahat total"
"Jadi, aku masih bisa bekerja seperti biasa paman?"
"Bekerja biasa seperti orang pada umumnya Zidan, bukan seperti kebiasaanmu yang terlalu memaksakan diri. Kalau kamu tidak mendengar dan jatuh sakit lagi, paman sendiri yang akan membawamu ke rumah sakit untuk dirawat inap selama seminggu penuh!"
"Baiklah paman"
"Bagus. Kalau begitu, aku pamit pulang dulu. Jangan lupa untuk membeli semua vitamin itu, Marcel"
"Tentu akan aku beli dan pastikan Zidan menghabiskannya. Terima kasih sudah mau datang selarut ini"
Setelah kepergian dokter, Marcel berusaha membantu Zidan untuk pindah ke atas kamarnya. Sedang Kinara mulai menyiapkan makan malam untuk kedua pria itu.
Tapi sebelum itu, Kinara menyuruh sopir Marcel untuk pergi menebus resep yang telah diberikan dokter untuk Zidan. Ia berniat untuk membawa vitamin itu bersama makan malam Zidan untuk diminum.
Sedang dikamar, Zidan mulai mengganti pakaian kerjanya dengan setelan rumah yang lebih nyaman dipakai. Ia kemudian berbaring diatas kasur, ditemani Marcel yang duduk dikursi samping ranjang.
"Jadi, apa kondisimu menjadi seperti ini karena Asyifa yang menikah dengan pria yang adalah mantannya itu?"
"Dari mana ayah tahu?"
"Begitu. Apa ayah merasa kecewa karena Asyifa tidak jadi menantu ayah? Ayah kan terlihat sangat menyukainya"
"Dibanding kecewa, ayah lebih merasa khawatir padamu. Apa kamu sebegitu sangat menyukainya?"
"Apa ayah ingat tentang gadis yang sering aku ceritakan dulu, waktu kita masih tinggal di perkotaan kecil?"
"Gadis yang kamu temui saat kabur dari rumah karna marah pada ayah dan bunda? Memangnya kenapa dengan gadis itu, apa kamu bertemu dengannya disuatu tempat?"
"Bukan disuatu tempat ayah, tapi di dalam perusahaan Zidan sendiri. Gadis itu adalah Asyifa, ayah"
"Yang benar, apa kamu tidak salah mengira? Bukankah sudah lama sejak waktu berlalu, saat terakhir kali kalian bertemu? Bagaimana bisa kamu masih mengingat wajahnya?"
"Tentu saja aku ingat Ayah, tidak mungkin aku melupakan wajah wanita yang menjadi cinta pertamaku itu"
Marcel yang mendengar cerita Zidan menjadi ikut bersemangat. Ia seolah ingin mendengar lebih lanjut cerita tentang cinta pertama anaknya itu.
"Lalu, apa Asyifa juga mengenali dirimu?"
"Sepertinya dia tidak mengenaliku, Ayah. Apa wajah Zidan menjadi jauh berbeda dari yang dulu?"
"Kamu memang bertambah tampan setiap harinya, mungkin itulah yang membuat Asyifa tidak mengingat dirimu. Yah, meskipun tidak setampan ayah"
"Astaga, anda sangat percaya diri sekali yah, tuan Marcel yang terhormat?"
"Percaya diri itu perlu anakku, tapi bukan itu yang ingin ayah katakan padamu sekarang. Dengarkan baik-baik, jika kamu dan Asyifa berjodoh, pasti akan bersatu bagaimana pun caranya. Jadi ayah mohon, berhentilah bersedih dan coba untuk memperhatikan dirimu sendiri"
"Doakan semoga kami berjodoh ayah. Zidan tahu mereka sudah menikah, tapi bisa saja mereka bercerai juga bukan?"
"Jadi kamu ingin ayah mendoakan yang buruk-buruk untuk Asyifa dan suaminya?" tanya Marcel, mencoba menggoda putranya.
"Bukan seperti itu ayah!" ucap Zidan kesal.
"Baiklah, baiklah, ayah mengerti. Ayah cuma sedang bercanda saja denganmu"
__ADS_1
Dari balik pintu, Kinara yang ikut mendengar semua pembicaraan Zidan dan Marcel, tampak mengencangkan pegangannya pada nampan yang dibawa.
Wajahnya yang putih bersih itu tampak memerah menahan amarah. seketika perasaan benci menyelinap masuk ke dalam hatinya.
"Asyifa, ternyata kamulah penghalang antara diriku dan Zidan. Meskipun sudah menikah, kamu masih saja menggoda pria milik orang lain!"
*****
keesokan harinya, Zidan terbangun dari tidurnya saat merasakan adanya kehadiran orang lain selain dirinya dalam kamar.
"Apa yang sedang kamu lakukan di dalam kamarku?" tanya Zidan marah saat melihat Kinara lah yang ada disana.
"Kamu sudah bangun? Aku hanya ingin membersihkan kamarmu saja. Karna aku pikir, pasti tidak nyaman bukan tidur dikamar yang sudah lama tidak dibersihkan?"
"Tapi kenapa masuk tanpa seijinku? Apa kamu tidak tahu, sampai mana kamu bisa melewati batas tempat pribadi seseorang?"
"Aku minta maaf Zidan, tapi sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku bahkan sudah mengetuk berulang kali, dan karena takut terjadi sesuatu padamu, aku dengan terpaksa masuk ke dalam begitu saja"
"Lalu kenapa tidak langsung keluar saat tahu aku baik-baik saja? Kamu pasti sengaja, supaya lebih lama berada dalam kamarku!"
"Aku tidak langsung keluar karena merasa sayang saja tidak sekalian membersihkan, padahal sudah sampai masuk ke dalam. Aku tidak punya niatan lain seperti yang kamu tuduhkan barusan, Zidan" jelas Kinara dengan wajah sedih.
Melihat wajah sedih Kinara, membuat Zidan merasa sedikit bersalah. Bagaimana pun juga, wanita itu sudah membantu Zidan saat dirinya terjatuh pingsan.
"Ma_maafkan aku Kinara. Aku tidak bermaksud untuk menuduhmu seperti itu. Aku hanya tidak suka kamarku dimasuki oleh orang lain tanpa persetujuan dariku"
"Tidak apa-apa Zidan, aku bisa mengerti tentang kebiasaanmu itu. Apa kamu tidak lapar, ini sudah waktunya sarapan. Mau aku bikinan sesuatu untuk dimakan?"
"Tidak perlu, aku bisa sarapan di perusahaan. Kamu silakan membersihkan ke kamar lain, karna aku ingin bersiap pergi kerja"
"Aku rasa kamu tidak akan bisa pergi kerja deh, Zidan. Soalnya kunci mobil dan pakaian kerja milikmu, sudah disembunyikan entah dimana oleh ayahmu"
"Apa? Kenapa ayah melakukan hal itu? Aku ada rapat penting hari ini, Kinara!"
"Kalau untuk itu, ayahmu sudah menghubungi klien yang akan rapat bersamamu hari ini, untuk melakukan rapat melalui video call saja" jawab Kinara sambil mengambil sebuah baju dari dalam lemari milik Zidan, dan menyerahkannya pada pria itu.
"Apa ini? Astaga, ini kan baju kerjaku, kenapa bisa jadi bolong belakangnya seperti ini?"
"Kata ayahmu, kamu masih bisa memakainya saat rapat online nanti. Tapi untuk dipakai pergi kerja tidak akan mungkin, karna dia sudah memodifikasinya"
Mendengar penjelasan Kinara, tiba-tiba kepala Zidan menjadi sakit kembali karna saking kesalnya dengan sang ayah. Dengan emosi ia beranjak turun dari tempat tidur, namun sayang ia masih belum bisa berjalan seorang diri karena pusing.
Dengan sigap Kinara segera memegangi tubuh Zidan supaya tidak jatuh. Zidan yang ingin menepis tangan wanita itu, segera mengurungkan niatnya saat mengingat tidak ada lagi yang bisa ia mintai tolong.
"Kamu mau pergi kemana? Cobalah untuk beristirahat saja di tempat tidur, kamu itu masih belum sembuh Zidan!"
"Aku ingin mandi. Masa aku mengikuti rapat dengan muka bantal baru bangun tidur, seperti ini?"
"Baiklah, aku mengerti. kalau begitu biarkan aku membantumu"
Saat sampai di dalam kamar mandi, Kinara membantu Zidan masuk ke dalam bath tub. Ia juga ikut masuk ke dalam sana, untuk membantu Zidan membuka baju pria itu.
Entah apa yang dipikirkan oleh Zidan sehingga membiarkan Kinara melakukan semua itu. Ia seperti terlena akan kecantikan Kinara yang masih tetap sama seperti saat pertama mereka bertemu.
Kinara pun melihat kesempatan yang datang, tidak menyia-nyiakannya begitu saja. Dengan sengaja ia menyibakkan daster yang dipakainya, hingga memperlihatkan sebagian paha indahnya. Dan dengan gerakan-gerakan menggoda, ia mulai menyentuh dada bidang Zidan yang terbuka lebar dihadapannya.
"Kinara, apa yang kamu lakukan?" tanya Zidan dengan suara lemah.
"Tenanglah dan nikmati saja Zidan. Aku janji, akan membuatmu merasa puas" jawab Kinara sambil memajukan bibirnya ke arah wajah Zidan.
Zidan yang melihat itu, segera menutup matanya seolah ingin segera menyambut bibir Kinara pada tubuhnya. Namun tiba-tiba bayangan Asyifa muncul di pikirannya, dan membuatnya sadar akan apa yang sedang mereka lakukan sekarang.
Dengan sekuat tenaga Zidan menolak tubuh Kinara menjauh darinya, hingga membuat punggung wanita itu membentur ujung bath tub dan merigis kesakitan.
"Apa yang kamu lakukan Zidan? Kenapa mendorongku seperti itu?"
"Apa kamu tidak sadar, kalau yang kita lakukan sekarang ini salah? Astaga, aku pasti sudah gila! Aku tidak bisa melakukannya denganmu Kinara!"
"Lalu dengan siapa kamu akan melakukannya, apa dengan Asyifa? Kamu tidak lupa kan kalau sekarang Asyifa sudah memiliki suami? Dia sudah tidak bisa kamu miliki Zidan!"
"Lalu kenapa aku harus melakukannya denganmu? Kamu juga sudah memiliki suami Kinara, dan lagi suamimu itu adalah ayahku!"
"Aku bisa meninggalkan ayahmu jika kamu mau Zidan. Aku juga menyesal sudah menikah dengannya, yang tidak aku cintai sama sekali. Aku mencintaimu Zidan, ayo kita hidup bersama selamanya" bujuk Kinara sambil meraih tangan Zidan.
__ADS_1
"Kamu sudah gila Kinara!" marah Zidan melepaskan tangan Kinara dari tubuhnya, dan berusaha sekuat tenaga keluar dari sana.
Bersambung...