The Ugly Wife

The Ugly Wife
Kejadian sebelum pergi


__ADS_3

Keesokan harinya, Zidan terlihat benar-benar akan menepati apa yang telah dijanjikannya pada Asyifa.


Setelah semalam menyuruh Raka dan Adam untuk mengumpulkan orang-orang sebagai tim yang akan pergi bersamanya untuk mencari Kemal di lokasi pesawat terjatuh, pria itu pun mulai sibuk dengan persiapan lainnya.


Hingga pagi-pagi sekali, Zidan telah terlihat rapi dan siap untuk berangkat. Ketika sedang sibuk memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam tasnya, tiba-tiba bunyi bel terdengar dan membuat pria itu harus menghentikan aktifitasnya.


"Hai, maaf mengganggu. Kamu terlihat sudah rapi, apa kamu akan segera berangkat?" sapa Asyifa canggung, ketika Zidan membukakan pintu apertemennya.


"Iya, sebentar lagi Raka dan adam serta yang lainnya akan datang menjemputku"


"Ah, begitu. Aku kesini hanya untuk memberi bekal sarapan yang ku buat sendiri untukmu, mohon diterima"


Asyifa menyodorkan sebuah tas kecil yang di bawanya kepada Zidan. Pria itu pun senang hati menerima pemberian Asyifa, dan dengan penasaran memeriksa isinya.


Ternyata di dalamnya berisikan sebuah tempat bekal dengan ukuran sedang yang berwarna biru langit, botol air minum dengan warna senada, dan juga ada sebotol kecil vitamin penambah stamina.


"Terima kasih untuk bekalnya, Asyifa. Padahal kamu tidak perlu repot-repot seperti ini"


"Mana mungkin aku tidak melakukan apa-apa untukmu, kamu kan sudah berbaik hati ingin pergi mencari ayahku. Setidaknya aku juga harus menunjukkan rasa terima kasih dengan membuatkanmu bekal, yang tidak seberapa ini" jawab Asyifa sedih.


"Aku melakukan ini semua atas kemauanku sendiri Asyifa, jadi kamu tidak usah merasa berhutang budi seperti itu"


"Terima kasih Zidan. Dan aku juga ingin minta maaf atas perlakuanku padamu yang kasar semalam, aku sangat merasa bersalah"


"Tidak apa-apa. Malahan sangat wajar kalau kamu bertingkah seperti itu, karna kamu baru saja mendapatkan sebuah kabar buruk tentang sosok ayah yang sangat berharga bagi dirimu"


"Jadi, kamu sudah memaafkanku?"


"Aku tidak marah padamu Asyifa, jadi untuk apa aku memaafkanmu? Aku merasa tidak ada masalah sama sekali diantara kita, jadi kamu tidak perlu meminta maaf segala. Oke?"


"Oke. Kalau begitu, apa ada sesuatu yang bisa aku bantu kerjakan untukmu?" tanya Asyifa sambil mengintip ke dalam apertemen.


"Kalau tidak keberatan, apa kamu bersedia membantuku memasukkan pakaian ke dalan tas? Aku sangat payah dalam melakukan ha yang satu itu"


"Tentu saja aku bersedia"


"Kalau begitu, ayo ikut aku masuk ke dalam kamarku" ajaj Zidan sambil menarik tangan Asyifa ke arah kamarnya.


Ketika sudah berada di dalam kamar Zidan, Asyifa memandang sekelilingnya dengan tatapan takjub. Bagaimana tidak, kamar Zidan terlihat sangat rapi tanpa ada satu pun sudut yang terlihat berantakan.


Padahal ini baru jan 7 pagi, tapi kamar pria itu sudah serapi ini, tentu saja membuat kaget Asyifa. Sedang kamar wanita itu sendiri di pagi hari, terlihat seperti kebalikan dari kamar Zidan.


Apalagi saat Zidan membuka lemari pakaian dan memperlihatkan isinya kepada Asyifa, membuat Asyifa semakin merasa telah gagal menjadi seorang wanita.


"Ada apa Asyifa? Apakah ada sesuatu yang salah dari lemari pakaianku, atau terlalu berantakan yah isinya?" tanya Zidan bingung, melihat Asyifa terus diam.


"Kalau lemarimu disebut berantakan, lalu lemariku sendiri yang isinya seperti kapal pecah, disebut apa?" tanya Asyifa spontan, tanpa sadar.


"Hah? Maksudmu?"


"Ah tidak, Zidan. Maksudku barusan, isi dari lemarimu terlihat sangat rapi. Aku bahkan tidak percaya kalau kamu tidak mahir dalam hal memasukkan baju ke dalam tas"


"Entahlah, aku juga bingung dengan hal itu. Mungkin karna ruang yang dimiliki tas lebih kecil, dibandingkan dengan ruang yang ada dalam lemari"


"Hahaha, bisa jadi seperti itu. Kalau begitu, kamu silakan tunjukkan pakaian mana saja yang ingin kamu bawa, biar aku langsung memasukkannya ke dalam tas"


Zidan pun mengambil beberapa lembar baju dan juga celana yang memang telah sengaja dipisahkannya untuk dibawa pergi, dan memberikannya kepada Asyifa.


Dengan cepat, dan seolah sudah sering melakukan hal itu, Asyifa pun menganturnya sedemikian rupa supaya bisa muat semuanya di dalam tas.


"Ini, sudah selesai"


"Terima kasih Asyifa"


Baru saja Zidan akan mengambil tasnya dari tangan Asyifa, ketika tanpa terduga posisi tas itu berubah karna tubuh Asyifa yang tiba-tiba oleng dan akan segera terjatuh kesamping.


"Asyifa!"


Dengan cepat Zidan menangkap tubuh Asyifa dengan sebelah tangannya. Tapi karna tidak siap, Zidan malah ikut oleh bersama dengan Asyifa, dan keduanya pun jatuh bersama ke atas kasur.


Karna untungnya disebelah mereka memang terdapat tempat tidur Zidan. Keduanya pun tertawa lepas, karna merasa lucu.


"Apa-apaan kamu panik dan heboh sendiri, padahal tepat disebelah aku adanya kasur bukan lantai kasar"


"Itu kan karna refleks, Fa. Tiba-tiba saja kamu oleng dan mau jatuh, jadi wajar saja kalau aku langsung berniat untuk menangkapmu" jawab Zidan, membela diri.


"Iyakan saja"

__ADS_1


"Tapi kenapa kamu bisa seperti itu, apa kamu merasa pusing di kepalamu? Atau jangan bilang kalau kamu belum makan pagi lagi"


"Iya, aku merasa sedikit pusing tadi saat mengangkat wajahku. Dan untuk masalah sarapan, aku tidak sempat karna buru-buru ingin mengatarkan bekal untukmu"


"Kebiasaanmu itu sepertinya tidak bisa hilang lagi yah, Asyifa? Kenapa kamu seceroboh ini sih?" gerutu Zidan, sambil mencubit hidung Asyifa gemas.


"Awww, sakit Zidan! Lepaskan tanganmu dari hidungku, lagian aku melakukannya kan tanpa disengaja, jadi bukan salahku"


Namun Zidan tetap bertahan dan terus saja mecubit hidung Asyifa, hingga wanita itu terpaksa harus berontak untuk melepaskan diri darinya.


Zidan yang tidak ingin Asyifa kabur, dengan cepat memeluk pinggang Asyifa dan juga menariknya untuk semakin dekat ke arahnya. Hal itu pun membuat jarak diantara mereka menjadi tidak ada sama sekali.


Tatapan keduanya pun saling bertemu dan membuat suasan diantaranya menjadi sunyi tanpa seorang pun berniat mengeluarkan suara.


Saat Zidan mulai memajukkan wajahnya, Asyifa secara naluriah langsung menutu kedua matanya dan siap untuk menyambut apa yang akan dilakukan Zidan padanya.


Tinggal sedikit lagi bibir keduanya akan saling bertemu, ketika tiba-tiba pintu kamar Zidan dibuka begitu saja oleh Raka tanpa permisi, membuat Asyifa dan Zidan seketika menjadi terkejut.


"Astaga, maafkan aku!" teriak Raka kaget, dan langsung menutup pintu kembali.


"Ada apa? Kenapa kamu keluar lagi?" tanya Adam penasaran.


"Sudah jangan kepo, sebaiknya kita berdua menunggu Zidan di ruang tamu saja, ayo cepat. Emm Zidan, Asyifa, kalian berdua silakan melanjutkan kegiatan kalian yang sempat tertunda tadi!"


"Dasar Raka sialan!" umpat Zidan kesal.


"Hahahaha, lagian kenapa kamu pakai acara mau menciumku segala? Jadinya kan malah terciduk oleh sahabatmu"


"Jangan mengejekku, kamu sendiri juga malah menutup mata dan siap menerima ciuman dariku"


"Ka_kapan aku seperti itu? Jangan asal bicara kamu yah!" protes Asyifa gugup, sambil bangkit berdiri.


"Oh, jadi ceritanya kamu mau menyangkali semuanya? Baiklah, kalau begitu kita lihat, apa kamu akan menolak yang satu ini?"


"A_apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Asyifa panik, saat Zidan memajukkan wajah lagi ke arahnya.


Cup..


Ternyata Zidan hanya berniat memberikan sebuah kecupan ringan diatas dahi Asyifa.


*****


Ketika Asyifa dan Zidan keluar dari kamar dan berjalan menuju ke ruang tamu, sudah ada banyak orang yang telah menunggu mereka sedari tadi.


Diantaranya ada Adam dan Raka, juga ada Angel dan Mira serta Lilian, lalu yang paling tak terduga kehadirannya adalah Kinara.


"Asyifa? Apa yang telah kamu lakukan di dalam kamar Zidan?!" tanyanya marah.


"Aku tahu, biar aku saja yang menjawabnya! Menurut apa yang aku lihat tadi, mereka berdua sedang asyik berada diatas kasir, dan Zidan terlihat ingin mencium Asyifa" jawab Raka, sengaja ingin membuat Kinara semakin kesal.


"Apa? Kenapa kamu bertingkah seperti itu pada Zidan Asyifa? Apalagi kamu itu kan seorang janda, seharusnya kamu bisa lebih memperhatikan lagi tingkah lakumu. Jangan merayu sembarang pria seperti itu!"


"Wah, mulutmu kayaknya biasa dicuci dengan air comberan yah, makanya sekotor itu. Heh nenek lampir, supaya kamu tahu yah, Zidan itu lah yang menyukai Asyifa dan mengejar cinta dari sahabatku!" ucap Mira emosi.


"Zidan menyukai Asyifa bahkan mengejarnya? Apa aku tidak salah dengar, selera Zidan tidak mungkin sejelek ini!"


"Sayangnya, yang kamu bilang jelek itu, malah sudah dua kali menerima pernyataan cinta dan juga diajak menikah oleh Zidan. Kalau tidak percaya, tanya saja langsung kepada orangnya"


"Itu semua bohong kan, Zidan?"


"Semua yang dikatakan oleh Mira dan juga Angel, benar kok. Aku memang sudah dua kali menyatakan cinta dan mengajak Asyifa menikah, tapi kata Asyifa dia masih belum siap. Makanya sampai saat ini, aku masih menunggu kapan dirinya siap"


Mendengar jawaban Zidan, wajag Kinara pun seketika berubah ekpresinya menjadi sangat marah. Wanita itu seolah tak terima jika Zidan bisa mencintai wanita lain, selain dirinya.


Padahal selama ini, harapannya untuk bisa kembali bersama dengan Zidan, tak pernah hilang dari dalam hatinya. Bahkan saat dirinya sedang bersama Marcel dan melawani pria itu, wajah yang ada dalam pikirannya hanya lah wajah Zidan seorang.


Namun ternyata, setelah semu cinta yang disimpannya selama ini untuk Zidan malah dibalas oleh pria itu dengan pembenaran bahwa dirinya mencintai Asyifa, membuat Kinara kehilangan akal sehatnya.


Tanpa berkata apa-apa, Kinara meraih pot bunga diatas meja yang berisikan air dan mengeluarkan bunganya, lalu menyiramkan air tersebut ke wajah Asyifa.


"Kinara! Apa yang kamu lakukan?" teriak Adam terkejut.


"Dia pantas mendapatkan itu. Kamu harusnya tahu diri Asyifa, seharusnya kamu tahu diri seberapa jelek dirimu dibandingkan diriku, hingga kamu berani mendekati Zidan!"


"Hentikan Kinara, apa kamu tidak sadar kalau kelakuanmu saat ini sangat memalukan? Ingatlah, kalau sekarang dirimu itu sudah menjadi milik pria lain!"


"Diam kamu adam! Aku memang istri Marcel, tapi Zidan masih tetap menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkan wanita mana pun memiliki dirinya"

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu, Kinara maju ke arah Asyifa dengan pot bunga kaca yang masih berada ditangannya. Saat Kinara mengangkat pot itu ke atas kepala Asyifa, semua berteriak tertahan.


Zidan secara sigap melindungi Asyifa dengan tubuhnya. Namun semenit berlalu, tidak ada tanda-tanda Kinara telah menyerang.


Saat Zidan dan Asyifa melihat ke belakang, ternyata Lilian tanpa terduga telah menahan tangan Kinara diudara dengan berani.


"Apa kamu pikir, aku akan berdiam diri saja dan membiarkanmu melukai anak-anakku? Jangan mimpi kamu!" ucap Lilian, kemudian menghempaskan tangan Zenith hingga membuat pot itu jatuh dan hancur berantakan


"Bunda? Yang anak bunda kan hanya Zidan, sedangkan yanh ingin Kinara lukai itu adalah Asyifa, bunda seharusnya diam saja"


"Siapa bilang anakku hanya Zidan? Sedari awal aku mengenal Asyifa, dia sudah aku anggap seperti anakku sendiri. Dan bukan hany Asyifa, tapi Angel dan Mira, lalu Raka dan juga Adam, adalah anakku semua! Jadi kalau kamu berani melakukan hal buruk pada mereka, kamu akan berhadapan denganku!" jelas Lilian panjang lebar.


"Arrrgghhh! Kenapa tidak Zidan, tidak Raka raka dan Adam, malah membela wanita jelek ini? Bahkan bunda juga membelanya, apa sih yang bagus darinya?!"


"Semua yang ada pada diri Asyifa, semuanya bagus. Terlebih lagi hatinya, tidak sekotor milikmu!"


"Tapi dia hanyalah seorang janda yang telah diselingkuhi oleh mantan suaminya, dia bahkan kehilangan anaknya, sekarang dia juga kehilangan ayahnya. Apa bunda tidak berpikir kalau dia adalah seorang pembawa sial? Jika disuruh bandingkan denganku, dia bahkan tidak ada setegahnya dariku!"


Plak...


Sebuah tamparan dari Asyifa, tanpa terduga mendarat di pipi mulus Kinara. Membuat semua yang disana menatap Asyifa terkejut.


Mereka tidak menyangka kakau Asyifa juga bisa melakukan kekerasan pada orang lain, mengingat sifat wanita itu yang selalu mengutamakan orang lain.


Bahkan jika ada yang berbuat salah padanya, ia akan tetap berbaik hati dan berlapang dada memaafkan orang itu, mau sebesar apa pun kesalahannya.


"Ternyata enak juga yah menjadi orang jahat, bisa langsung memberikan perhitungan pada orang yang cari masalah dengannya" ucap Asyifa, sambil menatap tangan yang baru saja dipakainya untuk menampar Kinara.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa seenaknya menamparku seperti itu?!"


"Lalu kamu, apa sudah puas seenaknya mengatai diriku sejak tadi dan bahkan ikut mengometari kehidupanku?"


"Ka_kamu!"


"Kenapa? Apa kamu pikir karna aku selalu terseyum ramah padamu, dan aku yang sedari tadi diam saja mendengar ucapanmu, tidak bisa membalasnya?"


"Jadi apa maumu sekarang?!" tanya Kinara, dengan tatapan menantang.


"Yang aku inginkan, adalah kamu menjauh sejauh mungkin dari hidup aku dan juga Zidan! Dan kehidupan semua orang yang ada ditempat ini!"


"Kalau aku tidak mau, memangnya kamu ingin melakukan apa padaku?"


"Kalau kamu tidak mau? Aku akan langsung melaporkanmu atas dasar ketidaknyamanan, dan aku pastikan kamu akan ditahan!"


"Jangan mimpi, itu semua tidak akan perna terjadi karna aku adalah istri dari pemilik perusahaan terbesar di negara ini!"


"Aku juga tahu, dan aku sadar kalau aku tidak akan bisa membuatmu ditahan. Tapi satu saja foto dirimu ditangkap oleh polisi, bukan kah sudah cukup untuk membuat reputasimu sebagai seorang model terkenal hancur?"


"Kamu! Jangan coba-coba kamu berani melakukan hal itu, atau tidak akan kubuat hidupmu semakin hancur!"


"Coba saja, aku tidak takut sama sekali. Karna ada banyak orang disampingku yang akan senantiasa mendukung diriku" balas Asyifa sambil terseyum mengejek.


Kinara yang merasa sudah kalah telak dan tidak bisa lagi membalas perkataan Asyifa, terpaksa harus meraih tasnya dan berlalu pergi dari sana.


"Astaga, kamu keren sekali Asyifa!"


"Bunda, jangan bilang seperti itu. Asyifa malah merasa bersalah sekali karna sudah memperlakukan Kinara seperti tadi"


"Kenapa? Dia kan memang pantas untuk mendapatkan perlakuan seperti itu darimu. Siapa suruh dia duluan" protes Mira.


"Kamu sudah melakukannya dengan sangat baik Asyifa, jadi tidak usah merasa bersalah seperti itu" ucap Zidan, sambil memberikan kecupan singkat di dahi Asyifa.


"Astaga mataku!"


"Apaan sih Raka, seperti kamu tidak pernah melihat orag ciuman saja"


"Oke sudah cukup, sekarang waktunya kita berangkat! Kasian yang lainnya menunggu dari tadi di mobil"


"Tapi Adam, aku masih belum berpamitan dengan baik kepada Asyifa dan juga kepada bunda. Pada Angel dan Mira juga belum"


"Tidak usah banyak alasan! Asyifa, bunda, kami pergi dulu. Mira, Angel, kami pergi dulu. Bye" pamit Adam cepat sambil menarik tubuh Zidan keluar dari apertemen.


"Bye semuanya" pamit Raka, kemudian ikut menyusul kedua sahabatnya.


Keempat wanita yang melihat tingkah mereka yang terlihat seperti anak-anak, hanya bisa tertawa lucu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2