
Mira melirik jam ditangannya yang menunjukkan pukul 3 sore saat ia tiba di rumah sakit tempat Asyifa dirawat.
Perasaan tak tenang ia rasakan selama perjalanan menuju rumah sakit, dan menjadi lebih tidak tenang lagi saat melihat keadaan dua orang di hadapannya.
"Angel, gimana keadaan Asyifa?" tanya Mira sambil menyentuh bahu sahabatnya perlahan.
Angel yang sedari awal hanya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Mira sedih.
"Asyifa belum sadarkan diri juga Ra. Sedari tadi tubuhnya terus bergerak-gerak dan mulutnya terus berbicara sendiri, seolah dia sedang bermimpi dalam tidurnya" jawab Angel dan seketika tangisnya pecah.
Mira segera memeluk tubuh sahabatnya yang bergetar hebat karena tangisnya. Diliriknya Zidan yang berada tak jauh dari sana, berdiri tepat di depan pintu ruangan Asyifa sedang dirawat.
Tiba-tiba dokter keluar dari dalam ruangan bersama seorang perawat. Dengan cepat ketiganya menghampiri, ingin mengetahui keadaan Asyifa.
"Bagaimana keadaan sekretaris saya? Apa sampai sekarang dia masih belum sadarkan diri juga? Sudah berapa jam berlalu, apa saja yang kalian lakukan!" teriak Zidan marah.
"Pak Zidan tenang, pak. Kita coba dengarkan penjelasan dokter dulu yah, silakan dok" ucap Mira cepat.
"Sekretaris bapak baru saja sadarkan diri. Bapak dan kedua karyawan bapak, sudah boleh menjenguk pasien"
"Yang benar dok? Syukurlah kalau begitu. Ra, pak Zidan, ayo kita masuk ke dalam"
"Tunggu sebentar Angel, masih ada yang mau aku tanyain sama dokter. Tapi teman saya tidak kenapa-kenapa kan dok? Mungkin kepalanya terluka karena benturan atau semacamnya?"
"Pasien tidak mengalami luka fisik sedikit pun. Tapi Menurut pemeriksaan dan pengamatan saya berdasarkan kondisi pasien, saya menemukan tanda-tanda vital yang menunjukkan ia terkena serangan panik akibat trauma yang dialaminya di masa lalu"
"Trauma? Trauma apa dok?" tanya Mira penasaran.
"Trauma terhadap ruangan gelap"
"Ruangan gelap? Bagaimana dokter bisa tau kalau sekretaris saya trauma terhadap ruangan gelap? Apakah pasien sendiri yang mengatakannya langsung pada dokter?"
"Saya menyimpulkannya berdasarkan pada cerita pak Zidan sendiri, yang menemukan pasien pingsan di dalam bilik toilet dalam keadaan ruangan itu gelap gulita tanpa bantuan pencahayaan apapun. Karna melihat ia baik-baik saja selama ini berada dalam lift ataupun bilik toilet, tentunya bukanlah trauma terhadap ruangan sempit"
"Tapi kenapa lama sekali dia tak sadarkan diri dok, bukankah serangan paniknya sudah berlalu sejak ia ditemukan pingsan?"
__ADS_1
"Benar sekali pak. Serangan paniknya memang sudah berlalu, tapi alam bawah sadarnya malah terjebak pada ingatan kejadian di masa lalunya yang membuatnya bermimpi dan tak sadarkan diri"
"Tapi kenapa Asyifa tidak pernah cerita ke kita berdua tentang traumanya, dok? Iyakan Ra?"
"Nah kalau untuk yang satu itu, mba sendiri yang harus bertanya langsung kepada pasiennya. Kalau tidak ada lagi yang bisa saya bantu, saya permisi dulu, karna masih banyak pasien yang harus saya periksa"
"Iya, silakan dok. Terima kasih"
"Sama-sama pak Zidan"
Sepeninggalan dokter, Angel dengan cepat mendorong pintu ruangan Asyifa di rawat dan masuk ke dalam diikuti Mira serta Zidan dibelakangnya.
Asyifa yang sudah sadarkan diri, sedang duduk dengan wajah yang terlihat pucat diatas tempat tidur. Senyuman tampak menghiasi wajahnya saat melihat kedatangan kedua sahabat dan juga bosnya.
"Hai guys, dan juga pak Zidan" ucap Asyifa pelan nyaris tak terdengar.
"Kenapa bangun? Tiduran aja dulu Fa, kalau masih lemas. Jangan dipaksain!"
"Aku udah baikan kok Ra, tidak usah khawatir. Oh iya, terima kasih atas bantuannya yah guys dan juga buat pak Zidan"
"Saya tidak memaksakan diri kok pak, saya benar-benar sudah baikan"
"Kalau memang tidak mau tiduran, setidaknya sandaran aja ke tempat tidurnya yah Fa" ucap Angel sambil membantu Asyifa menyandarkan tubuhnya ke belakang.
"Ah, makasih Ngel"
"Iya sama-sama, Fa"
"Sekarang, saya ingin bertanya sama kamu Asyifa! Kenapa sampai bisa kamu pingsan di lantai dalam bilik toilet dalam keadaan seluruh tubuhmu basah kuyup?" tanya Zidan penuh selidik.
"Jangan coba-coba menutupi apapun dari kami, Asyifa. Ceritakan semuanya secara jujur! Karna aku, pak Zidan dan juga Angel, sudah tau garis besarnya dan hanya ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi langsung dari mulutmu"
"Kalau kalian berdua dan pak Zidan sudah tau, berarti tidak ada gunanya lagi aku beralasan untuk tidak menceritakan yang sebenarnya" ucap Asyifa tersenyum kecut.
"Kita tau kok, kalau Safira, Lia dan juga Karin lah yang sudah melakukan semua ini sama kamu. Benar kan?"
__ADS_1
"Iya benar Ra, mereka bertiga lah pelakunya. Lia dan juga Karin bertugas untuk menahan pintu toilet tempat aku berada dengan tubuh mereka, dan Safira lah yang bertugas menyiramkan air toilet yang bau ke atas tubuhku. Tapi sebelum melakukan semua itu, mereka sengaja mematikan lampu toilet untuk membuatku panik".
"Kenapa kamu tidak teriak minta tolong saja pada saat itu? Pastinya akan ada yang mendengarkan dan menolong kamu, apalagi masih jam istirahat, tentu banyak karyawan yang lewat di depan sana!"
"Bagaimana aku bisa teriak minta tolong Ngel, sedangkan untuk bernafas dan berdiri tegap saja aku sangat kesulitan! Karin tau apa yang menjadi kelemahanku, mereka bertiga memanfaatkan hal itu untuk membalaskan dendam Safira kepadaku"
"Kelemahanmu? Maksudnya trauma yang kamu dapatkan di masa lalu? Kenapa bisa Karin mengetahui hal itu, sedangkan aku dan juga Angel tidak pernah tau sama sekali!"
Mira menatap Asyifa dengan tatapan marah dan juga kecewa. Sedangkan Angel hanya bisa mengelus punggung Mira perlahan, mencoba meredakan amarahnya. Zidan yang duduk di sofa dalam ruangan, hanya diam memperhatikan interaksi ketiga gadis itu.
"Aku punya alasan tersendiri kenapa tidak menceritakan traumaku kepada kalian berdua"
"Katakan! Katakan apa alasanmu sampai tidak bisa menceritakan hal tersebut pada kami berdua! Apa kamu tidak menganggap kami berdua adalah sahabatmu, Asyifa?"
"Jangan pernah bicara seperti itu Mira! Aku selalu menganggap kalian sahabatku, bahkan lebih dari itu! Bagiku kalian adalah keluargaku satu-satunya yang menerimaku apa adanya!" ucap Asyifa terisak.
"Lalu apa alasannya, Fa? Bukan kah, aku dan juga Mira punya hak untuk tau?"
"Aku mungkin tidak pernah menceritakannya secara langsung, tapi aku yakin kalian sadar betul bahwa hidupku sangat jauh berbeda dari kehidupan kalian berdua. Sepanjang hidupku sudah ribuan masalah yang aku alami, entah itu tentang penghinaan, penolakan, bahkan penghianatan!"
Asyifa berhenti sejenak, berusaha kuat mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan ceritanya.
"Aku pernah dengan percaya dirinya menceritakan traumaku pada mantan sahabatku sewaktu SMA, namun yang ku dapatkan malah kesakitan. Hanya karna sebuah kesalahan pahaman saja, dia membenci dan menjadikan traumaku sebagai alat sempurna untuk menyiksa dan memperparah keadaan mentalku. Apa kalian pikir dengan pengalaman hidup seperti itu, bisa membuatku dengan gampang menceritakannya pada kalian berdua?"
"Asyifa" panggil Angel tercekat saat mendengar cerita sahabatnya itu.
"Aku bersyukur banget punya kalian sebagai sahabat. Baru kalian orang pertama yang terlihat tulus saat menanyakan keadaanku, bahkan sampai menawarkan bantuan atas masalah yang ku hadapi. Aku hanya tidak menceritakan traumaku bukan karena takut kalian akan memanfaatkannya sama seperti mantan sahabatku, tapi karena aku tidak ingin kehilangan kalian berdua sebagai sahabat".
"Dasar bodoh!" ucap Mira sambil memeluk tubuh Asyifa dengan perasaan sayang, diikuti Angel.
"Maafkan aku Mira, maafkan aku Angel" ucap Asyifa membalas pelukan kedua sahabatnya itu.
Tangisnya semakin kencang, membuat Mira dan Angel mau tak mau ikut meneteskan air mata juga.
Sedangkan Zidan hanya bisa tersenyum senang melihat hubungan ketiga gadis itu yang sudah membaik.
__ADS_1
Bersambung...