
Isi surat Aliya:
"Hai Asyifa. Maaf kalau aku telah dengan lancang mengirimmu surat, setelah semua luka yang aku lakukan padamu. Sebenarnya aku malu untuk menuliskan semua ini, tapi aku rasa kamu juga punya hak untuk tahu akan cerita sebenarnya dan siapa saja dalang dibalik semua ini. Yang pertama aku ingin memperkenalkan diriku dengan baik padamu, seperti yang kamu tahu namaku adalah Aliya, mantan sekaligus cinta pertama William. Tapi yang tidak kamu ketahui ialah, bahwa aku sudah memiliki suami dan seorang putra. Sampai sini kamu pasti merasa heran padaku karna berpacaran dengan William disaat aku sudah berkeluarga, tapi percayalah itu semua bukan inginku. Aku melakukan semuanya dengan terpaksa demi melindungi keluarga kecilku, mungkin terdengar egois karna tanpa sengaja aku telah mengorbankan keluargamu demi keluargaku. Seandainya aku bisa melihat masa depan dan tahu kalau semua ini bisa membuatmu kehilangan calon bayimu, aku pasti tidak akan melakukannya Asyifa, aku benar-benar menyesal dan ingin minta maaf secara tulus padamu. Ingin rasanya aku berlutut mencium kakimu, tapi waktu yang aku miliki untuk bisa keluar dari neraka ini membuatku tidak bisa melakukannya. Asyifa, mungkin yang aku katakan setelah ini akan terdengar seperti sebuah alasan, namun benar adanya jika kehadiranku sebagai orang ketiga di dalam pernikahanmu adalah rencana dari ibu William, kak Kana, dan juga Zenith. Mereka bertiga juga lah yang menjadi dalang dari hancurnya masa mudaku yang berharga, hingga aku harus pergi dari kota kelahiranku dan tinggal berpindah-pindah sambil terus bersembunyi. Aku minta maaf karna tidak mengatakan semua ini sedari awal, yang bisa ku berikan padamu sekarang hanyalah nasehat untuk tidak kembali lagi pada William dimasa depan, apa pun yang terjadi. Kamu tidak akan pernah bisa hidup bahagia jika sedari awal pertemuan, keluarga William sudah menolak dirimu, dan kamu berhak untuk bahagia Asyifa. Carilah pria lain yang keluarga dan dirinya mencintaimu, maka kamu akan menemukan bahagia. Sekali lagi maaf untuk semuanya Asyifa, aku pamit"
Penuh penyesalan, Aliya.
"GILA! Keluarag William benar-benar sudah gila, bagaimana bisa seorang ibu menyusun rencana sekejam itu untuk merusak rumah tangga anaknya sendiri!" seru Mira marah.
"Aku memang tahu kalau sampai kamu sudah menikah dengan William, mereka masih tidak bisa menyukai dirimu, Fa. Tapi aku tidak menduga kalau perasaan tak suka mereka sebesar itu hingga dengan tega melakukan semua itu padamu" timpal Angel.
Asyifa yang tidak bisa berkata-kata karna saking tak percayanya, hanya bisa terdiam sambil pandangannya menerawang lurus ke depan. Ia bingung harus bereaksi seperti apa setelah mengetahui semuanya.
Apa Asyifa harus merasa bahagia atau sedih, ia tak tahu. Merasa bahagia karna itu berarti William dan dirinya bisa kembali seperti dulu lagi setelah kepergian Aliya, atau sedih karna keluarga suaminya lah dalang dari semua malapetaka yang menimpa hidupnya.
"Asyifa? Apa kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, Ngel"
"Apa kamu tidak merasa marah setelah membaca isi surat yang ditulis oleh Aliya?"
"Dibandingkan perasaan marah, aku lebih merasa bingung, Ngel"
"Bingung? Kenapa kamu harus bingung?"
"Entahlah. Setelah membaca surat yang ditulis oleh Aliya, aku tiba-tiba saja merasa bingung, apakah aku harus tetap melanjutkan rencanaku untuk bercerai dengan William atau tidak"
"Apa?! Kamu pasti sudah gila kalau kamu tidak jadi bercerai dengan pria seperti William itu, Asyifa! Dia sudah berselingkuh darimu, apa kamu lupa?" cerca Mira emosi.
"Aku tidak lupa, Mira. Tapi kamu juga sudah membacanya sendiri kan, kalau semua itu adalah rencana yang dibuat oleh ibu William bersama dengan kak Kana dan juga Zenith. Itu berarti William tidak bersalah"
"Aku rasa kamu benar-benar kehilangan akal sehatmu, Asyifa. Dengar, sekali pun itu adalah rencana mereka, tapi jika saja William tidak tergoda sama sekali dengan kehadiran Aliya, semua ini tidak akan mungkin bisa terjadi!"
"Yang dikatakan Mira, benar Asyifa. Semua tidak akan terjadi kalau William bisa menjaga kesetiaan dan janji suci yang telah kalian ucapkan saat menikah"
"Jadi maksud kalian, aku harus tetap bercerai dari William? Apa itu tidak keterlaluan, karna dia juga adalah korban disini" tanya Asyifa dengan pandangan memohon.
"Jawaban kami masih sama, kamu harus tetap bercerai dari William. Seperti kata Aliya, kamu tidak akan bisa bahagia jika hidup bersama keluarga itu, Fa. Jadi aku mohon, jangan keras kepala" pinta Angel dengan lembut.
Mendengar keputusan dari kedua sahabatnya membuat Asyifa hanya bisa terdiam, tanpa berani menjawab. Wanita itu menjadi semakin gelisah, seolah masih ada yang ingin dia katakan lagi.
"Katakanlah, apa yang sekarang mengganggu dirimu. Sebisa mungkin aku dan Mira akan mendengarkannya dan membantumu, tapi selain keinginanmu yang barusan"
"Apa, apa aku boleh pergi menemui William di rumah sakit?"
"Untuk apa? Bukannya kamu sendiri yang bilang tidak mau menjenguknya karna kalian akan bercerai sebentar lagi, kenapa sekarang kamu berubah pikiran?" tanya Mira sinis.
"Aku hanya ingin menyampaikan semua yang aku tahu saat ini pada dirinya, Mira. Meskipun begitu, William juga mempunyai hak yang sama seperti diriku, karna ini menyangkut hidupnya juga"
Mira baru saja ingin memprotes apa yang menjadi keinginan Asyifa itu, namun Angel malah menyetujuinya dengan senang hati. Seolah itu adalah hal yang baik, yang sudah seharusnya dilakukan oleh Asyifa.
"Tentu saja boleh"
"Serius, Ngel? Aku benaran boleh pergi ke rumah sakit dan bertemu dengan William?"
"Tidak boleh! Kamu apa-apaan sih, Angel? Kok kamu bisa-bisanya, membiarkan Asyifa kembali bertemu dengan keluarga William yang semuanya seperti iblis, bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya?"
"Aku bukan anak kecil, Mira! Aku juga pasti bisa melindungi diriku sendiri, kamu tidak perlu cemas berlebihan seperti itu"
__ADS_1
"Kenapa jadi kalian yang bertengkar, sih? Lebih baik begini saja, kamu boleh pergi asal ada aku dan juga Mira yang akan menemani dirimu, bagaimana?"
"Tapi Angel____"
"Aku juga ikut" ucap Zidan yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan Asyifa, dan tanpa basa-basi langsung memotong ucapan wanita itu seenaknya.
Angel dan Mira yanh melihat kehadiran Zidan tersenyum senang. Sedang Asyifa yang melihat kekompakan niat ketiganya, hanya bisa memandangi wajah bosnya itu dengan tatapan kesal.
"Bagus! Aku mau menjenguk calon mantan suamiku dengan membawa dua orang sahabat wanita, dan juga bos di tempatku bekerja. Apa tidak sebaiknya kita ajak semua karyawan di perusahaan ini, supaya lebih ramai lagi?"
"Apa boleh? Kalau memang boleh dan jika itu keinginanmu, akan aku umumkan sekarang juga pada semuanya untuk ikut bersama kita" jawab Zidan santai, tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Pak Zidan!"
"Mungkin saja William akan langsung bangkit dari komanya, setelah mensapat kunjungan sebanyak itu"
"Terserah kalian saja lah! Aku pusing, mau cari makan!" ucap Asyifa kesal, lalu berjalan keluar dari ruangannya.
Angel, Mira dan Zida langsung menatap kaget ke arah punggung Asyifa yang sedetik kemudian telah hilang dibalik pintu. Setahu mereka, sejak mengalami keguguran dan mengetahui perselingkuhan William dengan Aliya, Asyifa menjadi kehilangan nafsu makannya.
Sehari-harinya, ketiga orang itu harus secara bergantian berusaha membujuk Asyifa agar mau makan. Dan bukan hanya mereka, tapi juga bunda Zidan, namun tak pernah sekali pun Asyifa mempunyai keinginan untuk mau makan sendiri.
"Aku rasa, kita harus lebih sering-sering membuat Asyifa kesal supaya dia mau makan dengan sendirinya"
"Kamu benar, Ngel. Tapi karna kamu payah dalam hal itu, maka biar aku dan pak Zidan saja yang akan melakukannya. Bagaimana, apa pak Zidan setuju?"
"Tak masalah" jawab Zidan sambil tersenyum menahan tawa.
*****
"Asyifa! Astaga, akhirnya kamu datang juga sayang. Mommy sangat merindukanmu, kemana saja kamu selama ini?" sambut Ratih ketika melihat kedatangan Asyifa.
"Dasar wanita tua licik, pintar sekali dia bermain peran seperti itu" bisik Mira kesal
Kemudian Ratih berpura-pura memasang wajah terkejut sekaligus senang, dan dengan tak tahu malunya segera maju untuk memberikan pelukan pada Asyifa. Tak hanya sampai disitu, ia juga menangis dengan keras.
"Kenapa nasibmu sungguh malang, menantu tersayangku? Karna wanita tak tahu malu itu, kamu harus mengalami semua kejadian buruk dalam hidupmu"
"Apa wanita yang mommy maksudkan itu adalah Aliya?" tanya Asyifa berpura-pura tak tahu.
"Tentu saja! Kalau bukan dia dalang dari semua ini, siapa lagi? Di sudah membuat hubungan rumah tanggamu dengan William hancur, membuatmu kehilangan calon cucu mommy, dan sekarang membuat suamimu harus terbaring koma seperti itu!"
"Apa? Jadi yang membuat William sampai menjadi seperti ini, adalah Aliya? Bagaimana bisa, mommy?"
"Iya, semua ini terjadi karna William berusaha untuk mencari keberadaan wanita sial itu! Kalau saja dia tidak muncul sedari awal dalam kehidupan William lagi, pasti semua ini tidak akan terjadi. Mommy sangat takut akan kehilangan William, Asyifa"
Melihat air mata yang keluar membasahi pipi wanita paruh baya itu, membuat Asyifa mau tak mau akhirnya merasa iba juga padanya. Dengan lembut, Asyifa berusaha menghibur Ratih yang terus saja menangis.
"Mommy yang sabar yah. Asyifa yakin William pasti bisa melewati ini semua, dan berkumpul kembali bersama kita dalam keadaan sehat seperti sedia kala"
"Terima kasih, Asyifa. Selain itu, mommy juga ingin minta satu hal padamu"
"Apa itu mommy?" tanya Asyifa, yang entah mengapa menjadi sedikit waspada.
Tak hanya Asyifa, kedua sahabatnya dan juga Zidan pun ikut menjadi waspada, seolah takut Ratih akan meminta sesuatu hal yang tak wajar untuk bisa dituruti oleh Asyifa.
"Mommy mohon padamu, tolong jangan bercerai dengan William. Sekarang yang dia miliki hanyalah kamu, Asyifa"
__ADS_1
"Ta_tapi,....."
"Apa kamu tidak kasihan pada William? Dia baru saja mengalami kecelakaan, apa kamu mau setelah dia sadar, dia langsung tahu jika saat ini dia telah bercerai dengan istrinya? Bahkan mommy saja bisa membayangkan bagaimana hancurnya dia nanti"
"Asyifa rasa mommy keliru. Dibandingkan dengan sedih, William pasti akan bersorak gembira dan berterima kasih padaku. Karna yang dia cintai saat ini adalah Aliya bukan aku, mommy"
"Tidak, mommy tahu betul bagaimana sifat William. Dia hanya sekedar berbelok haluan, karena terlena akan kenangan masa lalu yang pernah dirinya lalui bersama dengan Aliya. Tapi mommy tahu pasti, kalau kamu lah yang menempati hatinya" jelas Ratih, sambil terus membujuk Asyifa.
"Kenapa sahabatku harus mengasihani anak tante? Apa tante tidak bisa melihatnya, kalau yang menjadi korban disini adalah sahabatku dan bukannya anak tante!" ucap Angel terlihat tak bisa tahan lagi.
"Sekali pun kalian adalah sahabat menantuku, tapi kalian tetap saja tidak mempunyai hak untuk mencampuri urusan keluarga orang lain!"
"Siapa bilang kami tidak punya hak? Kami ini sudah seperti keluarga bagi Asyifa, jadi jelas kami juga punya hak!"
Melihat Mira yang sudah hampir meledak, dan Angel serta Zidan yang mulai memasang wajah tak suka pada Ratih, akhirnya Asyifa harus menarik ketiganya keluar dari dalam ruangan.
"Sebaiknya kalian bertiga menunggu saja di kursi ini yah? Aku tidak ingin ada keributan di dalam rumah sakit, setidakmya jangan di tempat umum juga"
Asyifa kemudian berlalu masuk kembali k dalam untuk menemui Ratih dan melanjutkan pembicaraan mereka.
Meskipun Asyifa sudah menolak berulang kali, namun Ratih tetap bersikeras agar wanita itu mau menuruti keinginannya. Tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka, dan muncullah sosok Rizal disana.
"Asyifa, dari mana saja kamu nak? Tinggal dimana sekarang kamu, apa kamu baik-baik saja selama ini?" tanya Rizal bertubi, dengan wajah yang tulus.
"Maaf karna tidak mengabari daddy selama ini, tapi aku baik-baik saja. Untuk sekarang Aku tinggal bersama dua orang sahabatku di apertemen milik bos Asyifa"
"Tidak perlu minta maaf Asyifa, daddy hanua khawatir saja kalau ada apa-apa. Tapi apa kamu bisa ikut daddy, sekarang? Ada hal penting yang harus daddy bicarakan berdua denganmu"
"Tentu saja boleh, daddy"
"Tapi, aku belum selesau bicara dengan Asyifa sayang. Apa kamu tidak bisa bicaranya lain kali saja?
"Tidak bisa. Dibandingkan dengan urusanmu, apa yang akan aku bicarakan dengan Asyifa adalah jauh lebih penting. Ayo, Asyifa" ajak Rizal sambil meraih tangan menantunya itu untuk segera pergi dari sana.
Ketiga orang yang sedang menunggu Asyifa di luar, pun langsung berdiri dan mengikuti kemana mereka pergi. Ternyata, Rizal membawa Asyifa ke arah sudut kantin yang terlihat sepi.
Disana sudah menunggu seorang pria yang mereka ketahui adalah Haykal. Baru saja Asyifa akan duduk dan menyapa Haykal, pria itu segera bangkit berdiri. Bersama-sama dengan ayahnya, keduanya pun hendak berlutut dihadapan Asyifa.
Asyifa yang cepat menyadari akan hal itu, menjadi sangat terkejut. Dan dengan cepat segera mencengah tindakan kedua ayah dan anak itu.
"Apa yang daddy dan kak Haykal lakukan? Kenapa seperti hendak berlutut pada Asyifa?" tanya Asyifa penasaran.
"Memang aku dan daddy ingin berlutut memohon maaf padamu, Asyifa"
"Tapi kenapa? Memangnya kak Haykal dan daddy, punya salah sebesar apa padaku?"
"Bukannya kamu juga sudah tahu? Aku tahu kalau Aliya sudah memberitahumu melalui surat yang dia suruh ku kirimkan ke tempat tinggalmu"
"Tapi itu semua kan bukan salah kak Haykal dan juga daddy, tidak seharusnya kalian minta maaf. Aku hanyalah seorang anak sekaligus adik, jika aku memang berhak menerima permintaan maaf, setidaknya hanya kata-kata saja bukannya sampai berlutut"
"Maaf Asyifa, maafkan daddy. Semuanya ini karna daddy sudah salah mendidik seorang putra, yang malah membuatmu akhirnya kehilangan seorang putra"
"A_Asyifa, Asyifa baik-baik saja daddy" jawab Asyifa berusaha menahan tangis.
Rizal yang mengerti akan keadaan Asyifa yang berpura-pura kuat, langsung memeluk menantunya itu dengan penuh sayang. Diperlakukan seperti itu, Asyifa pun menjadi tersentuh dan tak bisa menahan lagi untuk tidak menangis tersedu-sedu.
Bersambung....
__ADS_1