
"William masih belum juga menghubungi kamu, Fa?" tanya Angel kepada Asyifa yang sedang sibuk menonton tv.
"Belum" Jawab Asyifa singkat.
"Tapi ini sudah sebulan dari terakhir kalian ketemu, masa dia tidak menghubungi kamu sekali pun?" tanya Mira, yang baru saja keluar dari kamarnya karna ikut penasaran.
"Memang tidak"
"Terus bagaimana nasib hubungan kalian? Kalian masih pacaran kan?"
"Aduh Angel, aku tidak tahu dan malas mencari tahu juga. Kalau memang hubungan diantara kami harus berakhir seperti ini, yah sudah, mau bagaimana lagi?"
"Masa hubungan kalian berakhir begitu saja, tanpa ada penjelasan apa-apa dari William sebagai seorang pria? Bagaimana pun juga, dia harus menyudahi hubungan yang telah dia mulai dengan jelas!"
"Aku juga inginnya seperti itu Ra, tapi selama aku menunggu tidak ada satu pun kabar yang datang darinya! Lalu aku harus bagaimana?"
"Kenapa tidak kamu saja yang duluan menghubunginya?"
"Tidak boleh! Pokoknya kamu tidak boleh menghubunginya duluan seperti kata Angel! Aku tidak setuju sama sekali!"
"Loh, kenapa Ra?"
"Angel, William itu tidak mempercayai cerita Asyifa tentang keluarganya, makanya pria itu tidak mau menghubungi Asyifa sama sekali! Dan sekarang, kamu menyuruh Asyifa untuk menghubungi pria itu duluan? Sama saja Asyifa mengakui dirinya berbohong seperti yang dituduhkan William!"
"Lalu, kamu mau hubungan percintaan sahabatmu menjadi tidak jelas arahnya seperti sekarang? Menghubungi duluan, bukan berarti mengakui kalau Asyifa berbohong seperti yang kamu katakan!"
"Sudah, sudah! Kenapa jadi kalian yang bertengkar sih? Yang punya masalah kan aku sama William"
"Yah makanya, diselesaikan!" ucap Mira dan Angel bersamaan sambil menatap Asyifa kesal.
"Galak amat sih! Yah sudah, aku hubungi William sekarang, dan mengajaknya bertemu untuk menyelesaikan masalah kami"
Asyifa meraih ponselnya lalu menekan tombol panggil pada nomor William. Tak butuh waktu lama, teleponnya segera dijawab. Namun bukan oleh William, melainkan suara seorang wanita yang terdengar.
"Halo, dengan siapa ini?"
"Halo juga. Maaf, tapi ini bukannya hp milik pria bernama William?"
"Iya betul, tapi ini dengan siapa yah? Soalnya disini tidak ada namanya"
"Ah begitu. Perkenalkan, nama saya Asyifa, boleh saya bicara dengan William?"
"Tentu saja boleh, tunggu sebentar yah"
Setelah menunggu beberapa saat, Asyifa kemudian kembali mendengar suara-suara diujung sana.
"Halo, apa kamu masih disana Asyifa?" kali ini suara milik William lah yang terdengar ditelinga Asyifa.
"Iya, aku masih disini"
__ADS_1
"Baguslah. Em, bagaimana kabarmu selama ini Asyifa? Maaf tidak menghubungimu lebih dulu, tapi aku sangat sibuk akhir-akhir ini"
"Tidak masalah, kabarku juga baik-baik saja. Oh iya, aku menelepon karna ingin mengajakmu untuk bertemu, ada hal yang harus aku bahas denganmu. Apa kamu ada waktu hari ini?"
"Hari ini? Aku minta maaf Asyifa, sepertinya aku tidak bisa. Ada acara penting yang harus aku hadiri sekarang, bagaimana kalau besok saja?"
"Baiklah, kita bertemu besok saja. Aku akan mengirimkan waktu dan alamat dimana kita bertemu nanti"
"Oke. Um, kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, bisakah aku menutup teleponnya? Karna aku harus pergi sekarang"
"Tentu saja. Maaf karna sudah menyita waktumu William"
Asyifa menatap layar ponselnya dengan tatapan sedih. Ingin sekali dirinya bertanya pada William, siapa wanita yang menjawab teleponnya tadi, namun pertanyaan itu sama sekali tidak bisa terucap dari mulutnya.
"Siapa wanita yang menjawab telepon diawal tadi? Kenapa ponsel William bisa ada padanya, apa itu kakak iparnya, Fa?" tanya Mira yang bersama Angel sedari tadi ikut mendengar pembicaraan Asyifa ditelepon.
"Aku juga tidak tahu siapa wanita itu, yang pasti itu bukan kakak ipar William. Suaranya tidak mirip sama sekali"
"Hah, baru sebulan tidak berhubungan denganmu, dia sudah asyik bersama dengan wanita lain? Dasar pria kurang ajar!"
"Apaan sih, Ra? Kan bisa saja itu salah satu sepupunya, atau anggota keluarganya yang lain. Jangan berpikiran yang aneh-aneh deh!"
"Semoga saja begitu! Pokoknya, kalau terbukti dia punya wanita lain, kamu harus putus duluan dengannya Asyifa!"
"Aku ngantuk, mau tidur. Aku ke kamarku dulu yah guys" ucap Asyifa sambil berlalu dari hadapan Angel dan juga Mira, tanpa menanggapi ucapan keduanya.
"Kok kamu pergi sih, Fa? Aku sama Angel kan masih mau bicara, kamu marah yah sama kita?"
"Yah maaf. Tapi kan mungkin saja itu terjadi, Ngel. Kita kan mana tahu"
****
Asyifa, Mira dan juga Angel, berjalan memasuki sebuah restoran yang cukup mewah.
Angel yang berasal dari keluarga lumayan kaya dari ketiganya, mentraktir Asyifa dan juga Mira dengan mengajak keduanya ke restoran itu untuk merayakan ulang tahun Mira.
"Besar banget restorannya! Kamu yakin kita mau merayakan ulang tahunku disini, Ngel? Apa tidak terlalu berlebihan, makanannya pasti mahal-mahal semua. Mending kita ke rumah makan di pinggir jalan saja yuk, lebih murah harganya" ajak Mira yang merasa terbebani dengan penampakan restoran yang mereka datangi.
"Tidak apa-apa kok, Ra. Kamu tidak perlu khawatir seperti itu! Karna malam ini, aku yang akan bayar semua makanannya!"
"Tapi kita yang jadi tidak enak sama kamu, iyakan Mira?"
"Iya, betul apa yang dikatakan sama Asyifa. Apalagi ini ulang tahunku, harusnya aku yang mentraktir kalian berdua"
"Aduh, kan sesekali, anggap saja ini sebagai kado ulang tahun dariku untukmu. Aku juga sudah pesan tempat buat kita, dan tidak bisa dibatalkan, kan kasihan uangnya!"
"Ya sudah kalau begitu, kami mengikut katamu saja"
"Nah, begitu dong! Ayo, kita masuk"
__ADS_1
Ketiganya pun duduk ditempat yang sudah disiapkan dalam sebuah ruangan khusus. Tidak lama kemudian, datang seorang pelayan mengantarkan sebuah kue ulang tahun yang cukup besar.
"Silakan, ini kue ulang tahun pesanannya. Selamat menikmati dan selamat ulang tahun untuk yang berulang tahun"
"Terima kasih mas" ucap Mira senang.
Asyifa dan Angel pun segera menyanyikan lagu ulang tahun untuk Mira dengan penuh semangat.
Saat ketiganya sedang asyik, tiba-tiba pintu ruangan tempat mereka berada dibuka oleh seorang wanita yang sedang merangkul lengan seorang pria dengan mesra.
"Astaga, sepertinya kami salah ruangan! Maaf yah semuanya" ucap wanita itu meminta maaf.
Wanita itu nampak sangat cantik sekali dalam balutan gaun panjang yang memiliki belahan disamping pahanya.
Pria disebelahnya juga nampak rapi dan tampan dalam balutan setelan lengkap. Pria itu nampak tidak memperhatikan keadaan sekitarnya, karna ia sedang sibuk dengan ponsel ditangannya.
Namun Asyifa dan juga kedua sahabatnya dapat mengenali pria itu dengan jelas.
"William?" panggil Asyifa tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya sekarang.
Mendengar namanya dipanggil, William kemudian mengangkat wajahnya. Ia kemudian menjadi sama terkejutnya dengan ketiga wanita dihadapannya.
"Asyifa, Mira, Angel? Kalian sedang apa disini? Ah, kalian sedang merayakan ulang tahun yah, siapa yang berulang tahun?" tanya William gugup, sambil mencoba mencari topik pembicaraan.
"Tidak usah basa-basi! Siapa wanita itu, kenapa dia terlihat mesra sekali denganmu? Dasar pria brengsek!" ucap Mira yang mulai terbakar amarah.
Asyifa masih berdiam diri ditempatnya tanpa tahu harus berbuat apa. Ia menatap wajah William dengan tatapan tidak percaya, kemudian berjalan meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata pun.
"Asyifa!" Panggil William. Ia ingin mengejar kekasihnya itu, namun tangannya ditahan oleh Zenith.
"Kamu mau kemana? Keluarga kita berdua dan para tamu undangan sedang menunggu. Jangan lupa kalau hari ini adalah hari tunangan kita, William!"
"Tunangan? Apa maksud ucapan wanita itu William? Kamu tidak sedang mempermainkan perasaan Asyifa kan?" tanya Mira tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Angel yang sedari tadi berdiam diri, tiba-tiba meraih kue ulang tahun Mira kemudian melemparnya ke arah William. Kue itu sukses mengenai wajah pria itu dan mengotori bagian atas pakaiannya.
"Apa yang kamu lakukan pada tunanganku? Apa kamu sudah gila?" teriak Zenith histeris melihat apa yang dilakukan Angel.
"Kamu pantas mendapatkannya William. Bahkan itu tidak ada artinya sama sekali, dibandingkan dengan apa yang sudah kamu lakukan pada sahabatku! Jangan pernah berani muncul lagi dihadapkan Asyifa, atau aku sendiri yang akan membunuhmu!"
"Apa kamu baru saja mengancam ingin membunuh tunanganku? Memangnya kamu gangster? Aku bisa saja melaporkanmu ke polisi!"
"Laporkan saja sana, kamu pikir aku takut? Apa perlu kamu juga ku bunuh sekalian?"
"Apa katamu? Dasar wanita gila!"
"Ayo kita pergi Mira!" Angel menarik tangan Mira untuk pergi dari sana.
Mira yang terkejut melihat sosok lain dari sahabatnya itu, hanya bisa mengikuti dengan diam.
__ADS_1
Bersambung...