The Ugly Wife

The Ugly Wife
Mandul


__ADS_3

Setelah beberapa jam berdebat dan mencoba untuk terus membuat sang pelayan mengaku atas perbuatannya yang sudah berbohong dan memberikan minuman beralkohol pada Raka, serta membuat Adam tak sadarkan diri, akhirnya usaha keempat orang tersebut bisa membuahkan hasil juga.


Raka, Adam, dan Zidan serta Kinara, akhirnya menerima pengakuan bahwa memang benar ada seorang wanita yang telah menyuruhnya untuk melakukan semua kejahatan itu.


Wanita itu adalah wanita yang memang sempat bertatapan dan berbincang dengan Kinara, yang mengaku sebagai teman ketiga pria itu dan juga mengaku bernama Vera.


Karna memang tidak mengenalnya secara baik, dan tidak memiliki foto dirinya, pelayan wanita tersebut menawarkan bantuan untuk melihatnya dari cctv bar.


"Ini dia, wanita yang sudah menyuruhku melakukan semua kejatan terhadap kedua teman pria anda" ucap sang pelayan kepada Zidan, setelah berhasil menemukan sosok yang dicarinya dalam layar monitor.


"Sebentar, bukannya ini adalah Elina? Kenapa dia bisa-bisanya bertindak jahat terhadap kita, dan merencanakan semua ini?!"


"Kamu benar Raka, itu adalah Elina. Aku rasa, dia mungkin saja menaruh dendam pada kita bertiga, karna kita mengagalkan rencananya untuk menculik Eden" jelas Zidan, terlihat mulai berspekulasi.


"Kita memang berniat untuk melakukannya, tapi pada akhirnya alasan dia mengembalikan Eden pada kita kan karna keadaan Eden yang sudah sekarat waktu itu. Kenapa sekarang dia malah menyalahkan kita?" protes Adam.


"Memang benar dia mengembalikan Eden karna berada di posisi terdesak. Tapi saat kita datang menjemput pria itu, kita juga sempat mengancamnya bahwa akan melaporkannya pada pihak berwajib. Mungkin itulah salah satu pemicu yang membuatnya dendam dan ingin berbuat jahat"


"Kalau ucapanmu adalah yang sebenarnya yang dirasakannya, berarti kejadian waktu itu yang terjadi pada Mira dan Angel, bisa jadi dia lah dalangnya" tebak Raka, setela mendengar penjelasan Zidan.


"Yah, bisa dibilang kemungkinan kalau itu adalah perbuatannya sangat besar. Mungkin awalnya dia ingin mengikuti Angel dan Mira, tapi karna dihalangi oleh kita berdua, maka rencananya berubah. Yaitu caranya dengan menyingkirkan kita bertiga terlebih dulu" jawab Adam yakin.


"Untung saja kamu datang tepat waktu Kinara, kalau tidak mungkin saja telah terjadi suatu hal buruk padaku, Adam dan juga Zidan"


"Ah, bukan apa-apa kok Raka. Aku juga waktu itu datang karna hanya kebetulan, justru pada Adam lah kita harus berterima kasih, karna dia yang sudah membuat story petunjuk di media sosialnya"


"Yah, itu juga karna tidak disengaja Kinara. Tapi kamu yang sudah mengambil keputusan untuk tidak membiarkan Elina membawa kami bertiga lah yang lebih pantas mendapat ucapan terima kasih. Kami bertiga sungguh berterima kasih padamu"


"Sama-sama Adam. Tapi kalau aku boleh tahu siapa Elina ini, dan apa yang sudah kalian lakukan padanya sehingga dia menaruh rasa dendam? Lalu siapa juga pria yang bernama Eden itu, hari ini sudah ada sebanyak dua kali aku mendengar namanya"


"Cerita yang panjang. Yang intinya adalah Eden itu merupakan pria yatim piatu yang kami selamatkan. Sedang wanita bernama Elina itu juga adalah seorang yatim piatu, tapi bedanya dia memiliki niat jahat pada Eden karna mempunyai dendam terhadap ibu Eden. Karna kami membantu Eden ketika dirinya diculik oleh Elina serta mengancam melapor kepada polisi, Elina pun menaruh dendam pada kami semua" jawab Zidan menjelaskan secara singkat siapa itu Eden dan Elina.


"Yatim piatu? Kenapa kalian bisa sampai mengenal mereka berdua?" tanya Kinara menjadi semakin penasaran.


"Itu karna Asyifa pernah bekerja menjadi sukarelawan di sebuah panti asuhan yang berada di desa terpencil. Eden adalah anak dari pemilik panti tersebut, sedangkan Elina adalah mantan penghuni panti. Setelah ada sebuah insiden yang terjadi disana, kami pun jadi mengenal mereka"


"Jadi semua ini awalnya karna Asyifa yah? Apa karna itu juga Asyifa merasa dirinya memiliki tanggungjawab terhadap pria yang bernama Eden, sehingga terpaksa mengambil keputusan berpisah darimu demi untuk fokus mengurusinya?"


"Apa?! Berpisah? Apa maksud dari ucapan Kinara barusan Zidan, kamu dan Asyifa apa benar kalian berdua telah berpisah?" tanya Raka sangat terkejut.


Sedang Adam yang meski juga terlihat ikut terkejut, tapi karna sedari awal pria itu sudah bisa menebak ada sesuatu yang terjadi pada Zidan dan Asyifa, ia akhirnya menjadi sedikit banyak bisa mengontrol perasaan kaget tersebut.


Zidan yang melihat Kinara dengan entengnya bisa mengatakan masalah pribadinya di depan Raka dan Adam, merasa sedikit kesal. Namun karna dirinya sadar tak akan bisa selamanya menyembunyikan masalah itu, ia pun memilih untuk menjelaskannya.


Adam dan Raka yang mendengar penjelasan dari sang sahabat yang baru saja putus cinta, merasa sedikit prihatin. Apalagi mereka juga tahu sebesar apa usaha yang sudah Zidan lakukan untuk bisa membuat Asyifa menjadi tunangannya.


"Apa tidak ada kemungkinan biar sedikit saja untuk kalian berdua bisa kembali bersama lagi?" tanya Raka hati-hati.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi yang pasti, aku masih sangat mencintai dan juga sangat menyayangi Asyifa, dia masih menempati posisi di hatiku. Hanya saja kalau untuk aku kembali mengejar cintanya seperti dulu, aku rasanya tidak bisa"


"Kenapa? Atau jangan-jangan, kamu sudah menyerah begitu saja terhadap perasaanmu ke Asyifa? Lalu bagaimana dengan semua usaha yang selama ini sudah kamu lakukan untuk bisa membuatnya menjadi milikmu?"7

__ADS_1


"Aku tidak bilang sudah menyerah padanya Raka. Aku hanya tidak bisa lagi mengejarnya untuk sekarang atau dalam waktu dekat, karna sepertinya luka yang aku dapat dari keputusannya terlalu besar. Itulah mengapa aku perlu beristirahat sejenak, hanya itu saja"


"Astaga, syukurlah kalau bukan karna kamu sudah menyerah terhadapnya. Karna biar bagaimana pun, aku merasa Asyifa adalah sosok wanita satu-satunya yang tepat untuk menjadi pendamping hidupmu selamanya. Bukan begitu Adam?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu siapa wanita yang memang pantas untukmu, karna tidak bisa melihat masa depan akan seperti apa nantinya. Yang pasti, apa pun keputusan yang bisa membuatmu bahagia, aku akan selalu mendukungnya" jawab Adam yakin.


Kinara yang mendengar percakapan ketiga pria itu sedari tadi, hanya bisa menutup rapat mulutnya dan terdiam membisu. Karna hati Kinara, rasa-rasanya seperti tergores sebuah pisau tajam saat Zidan mengatakan bahwa Asyifa masih menempati posisi dihatinya.


Tapi sebisa mungkin untuk tidak membuat suasana menjadi aneh dan canggung, Kinara berusaha untuk mengontrol ekspresi di wajahnya yang mulai terlihat sedih dan akan meneteskan air mata.


Meski Raka dan Zidan tak menyadari sesuatu yang terjadi pada Kinata, tapi Adam yang berdir tepat disamping wanita itu dan terus memperhatikannya, menyadarinya dengan sangat jelas.


"Kuatkan dirimu Kinara. Jangan sampai membuat Raka dan Zidan melihat ekspresi sedih di wajahmu, karna itu hanya akan membuat hubunganmu dengan keduanya menjadi buruk kembali" tegur Adam, sembari berbisik pelan ke arah Kinara.


"Ah, iya" jawab Kinara terkejut.


*****


Selesai dengan semua urusan mereka di bar dan juga terhadap sang pelayan, keempat orang itu pun berjalan keluar. Tak lupa juga mereka memberikan peringatan pada pelayan tersebut, untuk tidak lagi melakukan hal yang serupa jika tidak ingin dilaporkan ke pihak yang berwajib.


Raka dan Adam pun mengambil mobil Zidan dari halaman parkiran bar sebelum berjalan lebih jauh lagi. Sedang Kinara bersiap untuk menaiki mobilnya sendiri, tapi tiba-tiba saja Zidan menghentikan niat wanita itu.


"Ada apa Zidan?" tanya Kinara bingung.


"Apa kamu yakin bisa mengendarai mobil sendirian untuk pulang ke rumah, apa tidak ingin memanggil layanan sopir pengganti saja? Soalnya raut wajahmu tampak sangat pucat sekarang, pasti semalam kamu tidak tidur nyenyak karna sibuk mengurus kami bertiga bukan?"


"Ah, apa benar wajahku tampak seperti itu? Padahal semalam aku tidur baik-baik saja seperti jam tidurku yang biasanya"


Memang benar tebakan Zidan bahwa Kinara tak cukup tidur semalam, karna sibuk untuk merawat ketiganya yang tidak sadarkan diri sama sekali.


Meski sudah dibantu oleh dua orang petugas keamanan yang berjaga setiap saat di depan gedung apartemen Zidan, untuk membawa ketiga pria itu, tapi setelahnya Kinara sendiri lah yang harus mengurusnya.


Mulai dari membuka sepatu dan kaos kaki ketiga pria itu, membuka kancing bagian atas dari kemeja mereka, dan juga mengelap wajah dan kaki mereka dengan air dingin.


Mungkin itu terdengar seperti pekerjaan yang sangat mudah, tapi karna Kinara juga cukup banyak mengkonsumsi alkohol malam itu, jadi lumanyan menyusahkan baginya untuk mengerjakan semua itu.


"Hei, ada apa kalian berdua masih berdiri diam disitu? Apa kalian tidak ingin segera pulang ke rumah masing-masing?" tanya Raka kebingungan, melihat sosok Zidan dan Kinara yang berdiri diam.


"Tidak ada apa-apa kok. Aku hanya melihat ekspresi wajah Kinara sedikit pucat, jadi ingin menawarkannya untuk memanggil saja sopir pengganti. Karna sepertinya akan berbahaya kalau dia yang mengendarai mobil sendirian"


"Wah, benar juga katamu. Setelah aku lihat dengan lebih teliti, memang wajah Kinara terlihat sangat pucat. Apa tidak sebaiknya kamu saja yang mengantarnya pulang?" usul Raka dengan spontan.


"Aku? Kenapa harus aku?"


"Yah karna kamu kan yang memiliki hubungan lebih dekat dengan Kinara sekarang. Lagipula semalam dia sudah berbaik hati menolong kita bertiga, anggap saja sebagai balas budi darimu untuknya"


"Yang dikatakan Raka ada benarnya Zidan, kamu kan hanya akan mengantarnya sampai di rumah dan tidak lebih. Kalau memanggil sopir pengganti, pasti akan memakan waktu yang cukup lama" timpal Adam menyetujui saran dari Raka.


"Ah, aku tidak apa-apa kok guys. Kalian tidak perlu memaksa Zidan untuk mengantarku seperti itu, aku yakin bisa mengendarai mobil sendiri pulang ke rumah"


Zidan yang disatu sisi hatinya tak ingin pergi mengantarkan Kinara, tapi di sisi lainnya telah dipaksa oleh kedua sahabatnya dan juga alasan balas budi karna Kinara telah bersedia menolong mereka bertiga, menjadi bimbang seketika.

__ADS_1


Tapi sekali lagi melihat keadaan wajah Kinara yang sangat tak memungkinakan untuk bisa pulang seorang diri, hati Zidan pun berangsur luluh seketika.


"Baiklah. Biar aku yang akan mengantarmu pulang ke rumah seperti kata Adam dan juga Raka barusan. Apa di rumah ada ayahku?"


"Entahlah. Tapi sepertinya tidak ada, karna ayahmu beberapa hari ini memiliki jadwal lain di luar negeri. Dia pasti tidaka akan mungkin pulang secepat itu kan"


"Memangnya kenapa kalau ada om Marcel? Apa kamu takut nantinya om Marcel akan salah paham jika melihatmu mengatar pulang Kinara?" tanya Raka jahil.


"Mungkin bisa dibilang begitu. Tapi aku rasa alasan yang paling utama adalah karna aku sebenarnya malas untuk bertemu dengannya, karna pasti akan disuruh yang aneh-aneh"


"Yang aneh-aneh? Memangnya apa yang sudah ayahmu katakan, apa itu sesuatu yang membuatmu tersinggung atau malah tentang hal yang berkaitan dengan bundamu?"


"Bukan Kinara. Kamu kan juga tahu apa yang akan ayah bahas kalau bertemu denganku, yaitu mewarisi perusahaannya yang terkenal seantero negeri ini. Tak hanya itu, dia juga menyuruhku cepat menikah dan memiliki seorang cucu untuknya. Bagaimana aku tidak kesal, coba?!"


"Tapi bukannya menjadi seorang pewaris dari perusahaan ayahmu memang sudah menjadi kewajibanmu sejak lahir, lagipula siapa lagi yang bisa melakukannya kalau bukan kamu?"


"Kan masih ada kamu Kinara. Ayah menikahi wanita muda, cantik dan berbadan bagus seperti dirimu, kenapa dia tidak meminta alih waris darimu saja?!"


Mendengar perkataan spontan yang berasal dari dalam mulut Zidan, sontak saja wajah Kinara berubah menjadi merah padam dan diam seribu kata.


Meskipun apa yang dikatakan oleh Zidan adalah sesuatu yang sah-sah saja untuk dibicarakan, tapi entah mengapa perasaan Kinara menjadi sangat terluka.


Melihat ekspresi Kinara yang berubah, Zidan menyadari bahwa dirinya baru saja sudah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dikatakan olehnya sebagai orang luar dalam hubungan rumah tangga Kinara dan sang ayahnya, Marcel.


Karna biar bagaimana pun, alasan Kinara tak memiliki seorang anak bersama Marcel, hanya boleh diketahui oleh mereka berdua sebagai sepasang suami istri, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Zidan.


"Zidan! Apa yang sudah kamu katakan barusan, apa kamu sudah gila?! Bisa-bisanya kamu berkata seketus itu pada Kinara yang sudah menyelamatkanmu semalam!" protes Raka, ikut menyadari perubahan wajah wanita tersebut.


"Ah, aku tidak sengaja mengatakannya tadi. Aku benar-benar tidak ada maksud sama sekali untuk menyinggung perasaanmu atau pun menceramahimu tentang mempunyai seorang anak bersama ayahku. Maafkan aku Kinara, aku benar-benar menyesal" ucap Zidan merasa sangat bersalah.


"Tidak apa-apa Zidan. Aku juga mengerti kenapa baru berkata seperti itu, karna bukan hanya kamu yang berpikiran begitu tentang pernikahanku dengan ayahmu. Sebenarnya aku sangat ingin memiliki seorang anak seperti yang kamu katakan, tapi apa daya jika aku sudah ditakdirkan oleh tuhan untuk tidak bisa memiliki hal tersebut selamanya"


"Apa? Apa maksud ucapanmu barusan Kinara, pasti bukan sesuatu yang sedang aku pikir dalam otakku bukan?"


"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan sekarang dalam otakmu Zidan, tapi jika itu adalah tebakan bahwa aku mandul, maka tebakanmu itu sangat tepat"


Hening! Raka, Adam dan juga Zidan setelah mendengar ucapan Kinara yang mengatakan dengan yakin bahwa dirinya mandul, segera menutup mulut ketiganya rapat-rapat.


Kinara yang melihat adanya tatapan iba dari sorot mata ketiga pria dihadapannya, hanya bisa terseyum hambar untuk mengatakan dirinya baik-baik saja.


"Kenapa kaliam berekspresi seperti itu? Tidak usah mengasihanku, karna sedari awal aku memang tahu akan ada karma yang datang menghampiriku setelah melakukan hal yang jahat pada Zidan. Dan yah, ini lah karma yang harus ku terima atas keserakahanku" ucap Kinara, masih tetap berusaha terseyum.


"Maaf Kinara. Aku benar-benar minta maaf, dan benar-benar menyesal karna tadi sudah membicarakan hal tersebut tanpa tahu bahwa ada alasan besar kenapa kalian hingga kini tidak memiliki anak. Maafkan aku Kinara"


"Sudahlah Zidan, kamu tidak perlu meminta maaf berulang kali begitu. Aku baik-baik saja kok, dan aku juga sudah bisa menerimanya dengan ikhlas. Sebaiknya kita segera pulang sekarang, karna aku juga ingin cepat-cepat beristirahat di rumah"


Setelah berkata seperti itu, Kinara pun berjalan ke arah sebaliknya, dan menduduki dirinya diatas kursi penumpang yang tepat berada di samping kursi kemudi.


Meskipun masih ada rasa tak enak hati serta canggung karna sudah berbuat kesalah yang cukup fatal pada wanita itu, Zidan mau tak mau pun harus mengikuti jejak Kinara untuk masuk ke dalam mobil.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2