
Asyifa yang baru beberapa saat lalu dibuat bahagia karna mendapat kabar bahwa sang ayah telah ditemukan, dan selamat dari kecelakaan pesawat yang menimpa dirinya, harus dibuat bersedih kembali.
Pasalnya selang sejam setelah Zidan menghubunginya untuk memberikan kabar baik, pria itu kembali menghubunginya lagi untuk memberikan sebuah kabar buruk tentang keadaan ayahnya yang terlihat mulai memburuk.
Kata dokter yang memeriksa Kemal, tubuh pria itu menolak untuk mengkonsumsi makanan, dan jika dipaksakan hanya akan membuatnya memuntahkan kembali apa yang baru saja dimakannya, secara berulang kali.
Mau tidak mau, Kemal harus segera dibawa ke rumaj sakit besar yang ada di kota saat itu juga, untuk mendapat perawatan yang lebih baik untuk kondisinya.
Tepat pukul 8 pagi, ponsel Asyifa tiba-tiba bergetar, membuat wanita yang semalam tidak bisa tidur itu langsung menyambar benda pipih itu.
"Halo Zidan, apa kalian sudah sampai di rumah sakit sekarang?" tanya Asyifa tanpa basa-basi lagi.
"Iya Asyifa, kami sudah sampai disini dari setengah jam yang lalu. Maaf karna aku baru bisa mengabarimu sekarang, hanya saja aku takut mengganggu tidurmu"
"Aku tidak tidur semalaman karna memikirkan keadaan ayahku Zidan, harusnya kamu langsung menghubungiku begitu kalian tiba" protes Asyifa cepat.
"Maaf, aku tidak tahu"
"Hah, sudahlah. Lalu bagaimana keadaan ayahku sekarang, apa dia sudah jauh lebih baik dari sebelumnya?"
"Terakhir aku lihat, kondisi om masih sama seperti sebelumnya. Tapi kamu tenang saja, sekarang om sedang diperiksa oleh dokter ahli dalam kamar inapnya. Sedang kami lain, untuk sementara disuruh menunggu diluar"
"Kalau begitu, aku akan segera menuju ke rumah sakit sekarang juga. Tolong kirimkan alamatnya ke ponselku"
"Baiklah. Tapi kamu hati-hati, dan datanglah bersama dengan Angel dan juga Mira"
"Aku mengerti"
Setelah panggilan berakhir, Asyifa pun segera bersiap-siap untuk pergi. Hanya mencuci muka dan menyisir rambut seala kadarnya, Asyifa lalu meraih tas selepang kecil dan berjalan keluar dari kamar.
"Asyifa, kamu mau pergi kemana dengan penampilan seperti itu? Apa kamu tidak pergi bekerja hari ini?" tanya Angel bingung melihat gaya berpakaian Asyifa yang santai.
"Aku mau ke rumah sakit, Ngel. Ayahku sudah dibawa oleh Zidan ke rumah sakit di kota ini, jadi aku ingin melihat kondisinya"
"Apa maksudmu? Bukannya semalam kata Zidan ayahmu selamat dan baik-baik saja kondisinya, kenapa sekarang tiba-tiba sudah ada di rumah sakit saja?"
"Aku juga bingung Ra, setelah kita semua masuk ke kamar masing-masing, Zidan sekali lagi menelponku. Katanya tubuh ayahku menolak makanan yang masuk, dan sejak itu kondisi kesehatannya semakin menurun"
"Lalu sekarang kamu ingin pergi kesana sendirian? Apa tidak berbahaya, karna kalau dilihat dari wajahmu, kamu kurang tidur semalam" tebak Angel tepat sasaran.
"Mau bagaimana lagi? Zidan menyuruhku mengajak kalian berdua, tapi kalian kan juga harus masuk kerja hari ini, aku tidak bisa seenaknya memaksa kalian ikut"
"Perkataanmu ada benarnya juga sih. Apalagi, hari ini aku ada rapat penting dengan anggota divisiku, jadi tidak bisa bolos masuk kerja"
"Kalau begitu Asyifa pergi dengan aku saja. Kebetulan, aku tidak punya kegiatan penting hari ini yang mengharuskanku supaya masuk kerja"
"Yang benar, Ra? Apa anggota divisimu akan baik-baik saja tanpa kehadiran pemimpin mereka?" tanya Asyifa tak enak hati.
"Malahan mereka akan merasa lebih bahagia saat aku tidak ada, dibandingkan saat aku ada. Jadi kamu tidak usah memikirkan hal itu, dan fokus pada kesehatan ayahmu"
"Terima kasih Mira"
"Sama-sama. Ayo kita berangkat sekarang, sebelum jalana semakin macet"
"Aku akan mengantar kalian berdua terlebih dulu ke rumah sakit, sebelum pergi bekerja" tawar Angel dengan sukarela.
"Terima kasih Angel. Kalian berdua adalah sahabat terbaik yang selalu bisa ku andalkan"
"Sama-sama, Asyifa"
Ketiga wanita itu pun bergegas keluar dari apertemen dan segera menuju ke rumah sakit menggunakan mobil Angel. Tak butuh waktu lama, mobil Angel pun telah sampai di depan gedung rumah sakit, tempat dimana ayah Asyifa berada.
__ADS_1
Setelah berpamitan pada Angel, Asyifa dan Mira melangkah masuk ke dalam rumah sakit dan menuju kamar rawat inap Kemal.
"Zidan, dimana ayah? Apakah dokter sudah selesai memeriksa kondisinya?"
"Ah, ternyata kalian sudah sampai. Sepertinya sebentar lagi dokter akan selesai, bersabar lah sedikit"
"Baiklah. Semoga saja tidak ada hal buruk yang menimpa ayahku, supaya dia bisa cepat kembali sehat"
"Amin" jawab Zidan dan Mira.
"Tapi Zidan, kenapa cuma ada kamu sendiri disini yang menunggui om Kemal? Apa yang lainnya tidak ikut datang bersamamu untuk mengantar Kemal kesini?" tanya Mira merasa heran.
"Sebenarnya ada Raka dan juga Adan yang datang dan menunggu bersamaku tadi, hanya saja ku suruh pulang dulu ke rumah supaya bisa beristirahat. Lalu ada juga pak Willy, pemimpin tim yang bertugas untuk mencari para korban kecelakaan pesawat, tapi beliay langsung kembali pulang ke lokasi karna masih banyak yang harus ia lakukan disana"
Mendengar penjelasan Zidan, membuat Mira dan Asyifa mengangguk-anggukkan kepala mereka sebagai tanda mengerti. Setelah itu, ketiganya terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tak berapa lama, dokter yang bertugas untuk memeriksa keadaan Kemal, berjalan keluar dari dalam kamar pria itu. Asyifa yang sudah tak sabaran, bergegas menghampiri dokter tersebut.
"Halo dok. Perkenalkan saya Asyifa, yang merupakan anak dari pasien yang baru saja dokter periksa. Bagaimana keadaan ayah saya dok? Dia baik-baik saja kan?"
Mendengar pertanyaan Asyifa, dokter itu tak langsung menjawabnya, ia malahan menatap ke arah Zidan untuk meminta persetujuan dari pria itu.
Seolah sebelum kedatangan Asyifa dan Mira, dokter dan juga Zidan telah melakukan suatu kesepakatan. Dan benar saja, dokter baru mau bicara setelah mendapat sebuah sinyal dari Zidan.
"Sebelumnya saya minta maaf karna harus mengatakan hal ini, tapi kondisi kesehatan pak Kemal sedang tidak baik-baik saja"
"Apa maksud dokter? Apa yang sudah terjadi dengan ayah saya?"
"Pak Kemal mengidap kondisi yang langka, yaitu akalasia. Akalasia dapat menyebabkan kerusakan saraf dalam saluran makanan yaitu pada tenggorokan, dimana ia mencegah kerongkongan untuk mendorong makanan ke dalam perut. Kondisi ini disebabkan oleh respons sistem kekebalan tubuh yang tidak normal. Dan yang lebih parah lagi, pak Kemal ternyata sudah mengidap akalasia dalam waktu yang cukup lama"
"Lalu, apakah ayah saya bisa disembukan dan bisa sehat kembali dok?"
"Meskipun akalasia tidak bisa disembuhkan, namun gejalanya itu bisa dikontrol dengan pengobatan rutin. Tapi dalam kasus ayah anda, kemungkinan yang didapat sangat kecil sekali, kalau beliau dapat bertahan dalam waktu yang lama"
"Asyifa, tenanglah dulu. Biarkan dokter untuk menjelakan semuanya hingga selesai"
"Apalagi yang mau dijelaskan Zidan? Apa kamu tidak bisa dengar ucapan dokter tadi, ayahku tidak bisa hidup dalam waktu yang lama!"
"Iya, aku juga dengar Asyifa. Tapi dokter pasti punya alasan jelas kenapa mengatakan hal seperti itu kepadamu. Silakan lanjutkan apa yang ingin dokter sampaikan lagi, dok"
"Yang memperburuk kondisi pak Kemal bukan hanya akalasia saja, melainkan beliau juga mengalami dehidrasi parah dan beberapa luka ditubuhnya mengalami infeksi karna tidak diobati dengan baik"
"Luka? Ayah saya terluka, dok? Tapi Zidan tidak mengatakan apa-apa mengenai luka itu kepada saya, apa dokter salah melihat?"
"Maaf Asyifa, aku tidak sempat mengatakan padamu karna baru mengetahuinya juga saat om Kemal terjatub pingsan di tenda. Ayahmu ternyata sempat mendapat luka robekan yang cukup besar di punggungnya, saat terjadi kecelakaan pesawat"
Seketika itu juga tubuh Asyifa menjadi tak bertenaga, ia jatuh terduduk dibangku rumah sakit tanpa tahu harus berbicara apa lagi.
Mira yang ikut merasa sedih dan juga kasihan melihat kondisi sahabatnya itu, hanya bisa memeluk tubuh Asyifa yang mulai bergetar karna tangisnya pecah.
*****
Asyifa duduk disamping sosok Kemal yang terbaring dengan kedua mata terpejam rapat sambil tak henti-hentinya menangis. Asyifa tak menyangka kalau dirinya tak lama lagi akan kehilangan sosok sang ayah.
Oleh dokter, Kemal divonis hanya bisa hidup dalam beberapa bulan lagi, dan setelah itu Asyifa harus siap untuk menerima akhir dari semuanya.
"Maafkan Asyifa ayah. Karna kalau saja aku tidak menjauhkan diri dari ibu, dan kalau saja aku tidak mengatakan pada ayah, aku ingin menggunakan waktu dan semua uangku untuk kebahagiaan dan masa depanku sendiri mungkin saja ayah tidak akan mengalami semua ini"
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti itu, Asyifa. Mungkin saja ayahmu tidak mengatakan apa yang dialaminya, karna tidak ingin membuatmu khawatir" hibur Mira.
"Tetap saja itu salahku Ra. Ayahku adalah orang berhati lembut, yang akan mengerti apa pun kondisi orang yang dicintainya, meskipun itu malah membuat dirinya sendiri terluka. Aku yang tahu sifatnya itu, seharusnya tidak mengatakan hal yang membuat ayahku harus menarik jarak dirinya denganku"
__ADS_1
"Tapi selain itu, kata dokter ada kondisi lain juga yang membuat kondisi om Kemal jadi memburuk. Jadi bukan salahmu, Fa"
"Tetap salahku Mira, harusnya aku menahan ayahku supaya tidak pulang hari itu! Meski menyadari ada yang aneh dari raut wajahnya, aku malah tetap membiarkannya pergi sambil melambaikan tangan"
"Itu bukan salahmu, tapi semuanya adalah salahku Asyifa" ucap Zidan tiba-tiba.
Asyifa dan Mira yang mendengar pernyataan itu keluar dari mulut Zidan, menatap pria itu dengan tatapan heran dan juga penuh tanda tanya.
"Kenapa jadinya salahmu, Zidan? Aku tidak mengerti, kamu bahkan baru mengenal ayah Asyifa belum lama ini"
Bukannya menjawab pertanyaan Mira, Zidan malah mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.
Itu adalah kertas yang pernah diberikan oleh Kemal padanya, sebelum pria itu berangkat menaiki pesawat. Kertas yang membuat Zidan menyesali keputusannya, untuk tidak menahannya pergi.
Kertas itu pun diberikan Zidan kepada Asyifa, supaya bisa dibaca isinya bersama dengan Mira. Dan setelah membacanya, ekspresi kedua wanita itu menjadi terkejut.
"Untuk Zidan.
Maaf karna om menuliskan surat dan juga meminta hal yang berlebihan kepadamu, padahal belum lama kita saling mengenal. Tapi entah mengapa, om merasa bahwa kamu adalah pria yang tepat yang bisa menjaga Asyifa dengan baik.
Sebenarnya saat ini om tengah mengidap kondisi yang cukup parah dan tidak bisa tersembuhkan, namun kondisi itu tidak akan sampai membuat om meninggalkan dunia ini.
Awalnya om ingin menyerah dan tak ingin memgobatinya, tapi setelah kejadian asyifa disiksa oleh saudari kembar ibunya terakhir kali, om sudah berjanji pada Asyifa dan bertekad untuk menjadi ayah yang baik.
Tekad itu menjadi semakin besar dari hari ke hari, dan om juga mempunyai keinginan untuk mengobati kondisi yang diderita saat ini, setelah pulang kembali ke kota om nanti.
Namun semuanya berubah dalam waktu semalam, dan semua itu hanya karna sebuah mimpi. kamu pasti akan menganggap om sangat konyol bukan? Tapi semua itu adalah yang sebenarnya.
Dalam mimpi itu, pesawat yang ditumpangi oleh om mengalami kecelakaan dan jatuh di tengah hutan belantara. Om selamat dari peristiwa itu, dan diselamatkan olehmu, tapi yang terjadi selanjutnya, om malah bertemu dengan ibu kandung Asyifa. Kemudian om terbangun, dan harus segera bersiap-siap ke bandara diantar olehmu dan juga Asyifa.
Kamu pasti mengerti kan arti dari kejadian terakhir di mimpi om? Yah, om rasa waktu om di dunia ini sudah tidak lama lagi Zidan.
Oleh karna itu, melalui surat ini, om ingin menitipkan Asyifa kepadamu. Om berharap kamu mau menjaga putri om yang malang itu seumur hidupnya, dan membuatnya bahagia tanpa perlu mencemaskan sesuatu.
Dengan begitu, om baru bisa tenang pergi dari dunia ini dan meninggalkannya. Om yakin kamu akan melakukannya, dan sebelum itu terjadi, om ingin mengucapkan terima kasih padamu.
Terima kasih Zidan.
Dari ayah wanita tercantik.
"A_ayahmu, ayahmu ternyata sudah lebih dulu mengetahui apa yang akan terjadi padanya, Asyifa" ucap Mira tak percaya.
"Saat ditemukan, meskipun om terlihat lemas dan kesulitan berjalan, namun dia tetap tersenyum. Aku pikir tidak ada yang perlu di khawatirkan, karna dokter sudah memeriksa dirinya, tapi ternyata om Kemal tidak pernah menjalani pemeriksaan di tenda bersama dengan korban lainnya"
"Tidak menjalani pemeriksaan? Kenapa hal itu bisa terjadi, apa tidak ada yang menyadari hal tersebut, bahkan dokternya sendiri?" tanya Mira kaget.
"Om Kemal menyakinkan dokter bahwa dia baik-baik saja, sehingga tidak perlu diperiksa. Selama berada di tenda, om Kemal malah terus memperhatikan kondisi korban yang lain, dibandingkan dengan kondisinya sendiri"
"Astaga, apa om sudah pasrah dan sangat siap untuk pergi dari dunia ini?"
"Dibandingkan siap, menurutku om Kemal sepertinya tidak ingin merubah apa pun yang memang sudah seharusnya terjadi di masa depan, meskipun masa depan itu sudah diperlihatkan padanya melalui mimpi"
Selain suara Zidan dan Mira yang terdengar, tak ada satu pun yang menjadi suara milik Asyifa. Wanita itu tampak diam membisu dan hanya bisa mengarahkan tatapannha pada wajah sang ayah.
Menyadari hal itu, keduanya pun menjadi ikut terdiam juga untuk membiarkan waktu pada Asgifa supaya bisa mencerna semua fakta yang baru saja diketahui wanita itu.
"Asyifa tidak mengerti ayah, kenapa ayah tidak merubahnya padalah sudah diberikan kesempatan mengetahuinya terlebih dulu? Apa ayah sangat ingin meninggalkan Asyifa dan dunia ini, untuk bisa bertemu dengan ibu kandungku, yang adalah cinta pertama ayah?"
"Asyifa" panggil Mira sedih, mendengar setiap ucapan yang keluat dari mulut Asyifa.
"Jika memang itu yang bisa membuat ayah bahagia, dan jika memang itu lah yang ayah inginkan, Asyifa akan mencoba iklas. Asyifa janji akan secepatnya menyiapkan diri untuk melepaskan ayah, jadi bisakah memberikan waktu padaku sedikit lagi?" lanjut Asyifa dengan suara tercekat.
__ADS_1
Bersambung...