
Zidan memandangi kedua karyawan yang sedang duduk di depannya dengan tatapan heran sekaligus penasaran.
Aura yang terpancar dari kedua orang itu, tidak jauh beda dengan yang ditunjukkan oleh diri sahabat mereka seharian ini.
"Ada apa bapak memanggil kami berdua untuk makan siang bersama? Tidak mungkin tanpa alasan, pasti ada sesuatu yang ingin bapak bicarakan" tanya Angel yang adalah salah satu karyawan itu.
"Memang ada yang ingin aku tanyakan. Coba beritahu saya, apa yang sedang terjadi kepada kalian bertiga hari ini?"
"Kami berdua baik-baik saja kok pak" jawab Mira cepat.
"Benarkah? Lalu, kenapa aura kalian berdua suram seperti itu? Keadaan Asyifa juga tidak jauh beda dengan kalian berdua"
"Kami berdua sungguh baik-baik saja kok pak. Bapak tidak perlu khawatir, sama sekali tidak ada masalah"
"Kenapa dari tadi kamu terus mengatakan kami berdua, Mira? Sedangkan yang saya tanyakan adalah keadaan kalian bertiga, termasuk Asyifa. Apa kalian sedang bertengkar dengan Asyifa?"
"Ini adalah masalah pribadi kami bertiga dan tidak menyangkut dengan pekerjaan. Jadi saya rasa, kami bebas menolak untuk mengatakannya kepada bapak" jawab Angel mulai kesal ditanyai oleh Zidan.
"Angel, kok kamu bicaranya ketus begitu? Itu bos kita loh, mau kamu dipecat?" bisik Mira ketakutan.
"Tidak masalah jika bapak ingin memecat saya, karna itu adalah hak bapak"
Ucapan Angel barusan membuat Mira merasa baru saja tersambar petir. Bagaimana bisa sahabatnya yang kalem dan lemah lembut itu, dalam semalam bisa berubah menjadi ganas? Bahkan sang bos galak juga dilawan olehnya.
"Angel, cepat minta maaf sama pak Zidan, sebelum kamu dipecat benaran sama si bos!" pinta Mira kembali berbisik.
" Baiklah. Tidak masalah jika kamu tidak ingin mengatakannya pada saya sebagai bosmu. Kalau begitu, bagaimana kalau saya bertanya sebagai tetanggamu?"
"Maksud bapak?"
"Panggil saya Zidan saja. Sekarang saya akan berbicara santai sebagai tetangga kalian. Apa yang terjadi kepada kalian bertiga? Apakah aku boleh mengetahuinya?"
"Hah, dasar menyebalkan!" gerutu Angel kesal sambil memengangi lehernya.
"Baiklah jika itu maumu. Seperti kata Mira tadi, kami berdua baik-baik saja, tapi tidak dengan Asyifa. Apa kamu puas sekarang, Zidan?" lanjutnya.
Zidan yang mendengar ucapan Angel pun tersenyum puas, karna bisa mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
Lain hal dengan Mira, ia hanya bisa duduk diam, seolah tak ingin ikut campur karna takut dipecat oleh bosnya itu.
__ADS_1
"Memangnya apa yang terjadi dengan Asyifa? Seharian ini dia terlihat tidak bersemangat, dan wajahnya seperti orang yang kekurangan waktu tidur"
"Kalau untuk alasannya, aku tidak bisa menjawabnya. Sebaiknya kamu tanyakan langsung kepada Asyifa, yang pasti semua ini berkaitan dengan pria berengsek itu!"
"Pria berengsek? Pria berengsek mana maksudmu?"
"Kamu pasti tahu. Siapa lagi pria yang biasanya ada disekitar Asyifa selain kamu dan dia?"
"Maksudmu William? Memangnya, apa yang dilakukannya terhadap Asyifa?"
"Saya tidak bisa mengatakannya. Saya harus kembali bekerja sekarang, karna jam istirahat sudah selesai. Permisi" ucap Angel sambil berlalu dari duduknya.
"Ah, saya juga pamit permisi dulu pak" ucap Mira buru-buru mengikuti Angel.
****
William menatap wajah gadis didepannya dengan wajah sedih dan penuh rindu.
Pagi tadi, ia mengirimkan pesan kepada Asyifa untuk mengajaknya bertemu saat gadis itu selesai bekerja.
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan? Aku tidak punya banyak waktu, karna banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan" ucap Asyifa membuka pembicaraan diantara keduanya tanpa basa-basi.
Sebenarnya asyifa enggan untuk datang, karena ia sudah mengetahui siapa sosok wanita semalam dari cerita Mira dan juga Angel pagi tadi.
Namun karena mengingat tempat yang ditinggalinya sekarang adalah apartemen yang dibelikan oleh William untuknya, maka mau tidak mau ia harus menyetujuinya, karna ia ingin mengembalikan semua itu.
"Aku minta maaf Asyifa. Kamu pasti sudah mendengar dari Mira dan Angel tentang siapa wanita semalam"
"Aku sudah tahu. Kamu tidak perlu minta maaf, karna itu adalah hakmu untuk memilih siapa yang pantas menjadi pasanganmu"
"Kamu pasti sekarang sangat marah dan kecewa padaku. Tapi percayalah Asyifa, semua ini bukan atas kemauanku!"
"Aku memang marah dan juga kecewa, tapi sekarang sudah tidak lagi. Karna setelah aku pikir-pikir, aku tidak berhak marah atau kecewa pada orang yang tidak ingin bersama denganku. Bukankah itu sangat memalukan?"
"Jangan berkata seperti itu Asyifa. Aku sungguh mencintaimu selama ini, dan selalu ingin bersamamu! Aku bertunangan dengan Zenith juga bukan karena mauku, tapi karena itu semua keinginan mommy"
"Ah, begitu? Yah, apa pun itu alasannya, semoga kalian bisa hidup bersama dengan bahagia"
"Asyifa, aku mohon jangan seperti ini. Aku merasa sangat bersalah padamu" mohon William sambil mencoba menyentuh tangan Asyifa, namun dengan cepat ditepis oleh gadis itu.
__ADS_1
"Sudah cukup membicarakan tentang hubungan kita. Aku setuju datang, karna ingin mengatakan padamu, bahwa aku dan kedua sahabatku akan segera pindah dari apartemen milikmu"
"Apartemen itu milikmu Asyifa. Apa kamu lupa, aku membelikannya untukmu"
"Tapi aku tidak mau menerimanya, setelah kamu sudah menjadi tunangan wanita lain! Oleh karena itu, silakan ambil kembali. Terima kasih, karna sudah mengizinkan kami tinggal disana selama ini"
"Tapi Asyifa,... Zenith? Sedang apa dia di tempat ini?" ucapan William kepada Asyifa terhenti seketika, karna ia melihat sosok Zenith yang memasuki cafe tempat dirinya dan Asyifa bertemu.
"Maaf Asyifa, tapi tolong tunggu sebentar. Aku segera kembali"
William segera bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Zenith dengan tatapan marah. Namun bukan merasa takut melihat tatapan William, ia malah tersenyum lebar dan memeluk pria itu mesra.
William mendorong cepat tubuh Zenith menjauh darinya, takut Asyifa melihat semua itu. "Apa-apaan kamu! Kenapa memeluk orang sembarangan?"
"Kenapa? Aku kan tunanganmu Will, jadi aku berhak memeluk atau menciumu sesuka hatiku" ucap Zenith dengan suara keras, supaya bisa didengar oleh Asyifa.
"Jaga ucapanmu Zenith, aku tidak pernah ingin disentuh olehmu, jadi jangan pernah melakukan hal itu lagi! Mengerti?"
"Astaga, siapa gadis itu sayang? Apa kamu sedang bertemu dengan temanmu, kenapa tidak mengajakku?" tanya Zenith berpura-pura tak mengenali Asyifa.
Melihat Zenith yang akan menghampiri Asyifa, William berencana untuk membawa gadis itu pergi dari sana, namun terlambat.
"Halo, apa kamu teman William? Perkenalkan, aku Zenith, tunangannya William"
Asyifa menatap tangan yang terulur padanya dengan setengah hati, namun ia memilih untuk membalasnya.
"Asyifa"
"Namamu Asyifa? Sepertinya aku pernah mendengar namamu. Astaga sayang, bukankah itu nama mantanmu yang sering dibicarakan oleh momy?" tanya Zenith pada William dengan ekspresi terkejut.
"Iya aku adalah mantan pacar tunanganmu. Oh iya William, ada yang belum aku katakan padamu. Hari ini kita resmi putus!"
"Jangan seperti itu Asyifa, aku mohon. Dengarkan dulu semua penjelasanku sampai selesai"
"Maaf, tapi aku rasa tidak ada lagi yang harus dijelaskan. Aku permisi duluan, semoga kalian berdua berbahagia selalu"
Asyifa meraih tasnya dan berjalan pergi, meninggalkan William dan juga Zenith tanpa menoleh sekali pun.
Bersambung...
__ADS_1