The Ugly Wife

The Ugly Wife
Permintaan maaf


__ADS_3

Asyifa menatap merahnya tanah pemakaman tempat tubuh sang ayah kini akan berbaring untuk selamanya. Tak ada setetes pun air mata yang terlihat mengalir membasahi wajah wanita itu.


Namun ekpresinya dapat menunjukkan akan betapa hancur dirinya saat ini. Meskipun tatapan itu terarah ke tanah pemakaman, tapi tatapannya terlihat sangat kosong seolah tak lagi memiliki nyawa.


Sudah setengah jam berlalu setelah acara pelepasan jenazah Kemal dikebumikan di pemakamam umum, di kota tempat pria itu dilahirkan.


Namun sosok Asyifa tetap diam bersimpu disebelah makam ayahnya, tanpa ada niatan untuk beranjak dari sana. Meskipun hujan yang turun sejak tadi telah membuat sekujur tubuhnya basah kuyup, Asyifa tetap pada pendiriannya.


Orang-orang yang juga masih berada didekat tempat pemakaman sambil berteduh dari derasnya hujan, hanya bisa menatap sedih ke arah sosok Asyifa yang terlihat seolah baru saja kehilangan separuh jiwanya.


Hanya Zidan, Angel dan Mira yang senantiasa berdiri disamping Asyifa untuk menemani wanita itu, dan berusaha melindunginya dari air hujan yang terus-menerus jatuh ke bumi.


"Asyifa, ayo bangun. Sudah waktunya kita harus pulang ke rumahmu, untuk menyiapkan doa bersama" ajak Angel, dengan terpaksa.


Memang benar jika mereka harus pulang ke rumah keluarga Asyifa, guna menyiapkan segala persiapan yang akan dibutuhkan untuk acara doa bersama bagi arwah Kemal.


Tapi niat Angel bukan hanya itu saja, ia lebih ingin membawa Asyifa pulang karna takut sahabatnya itu akan jatub sakit karna terus berada dibawah hujan selama berjam-jam.


Bibir bahkan wajah Asyifa kini sudah berubah menjadi sangat pucat, matanya pun sudah semakin sayup yak bertenaga karna kurang tidur dan istirahat.


"Benar kata Angel, kita harus segera pulang untuk menyiapkan semuanya. Tidak mungkin malam pertama setelah kepergian ayahmu, tidak diadakan doa bersama" timpal Mira, karna melihat Asyifa tak juga bergeming dari tempatnya.


Tiba-tiba dari ujung jalan terlihat sebuah mobil berwarna hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi, dan berhenti tepat di depan gerbang pemakaman, yang tak jauh dari makam Kemal berada.


Setelah pintu dibuka, muncullah sosok Lilian dengan wajah cemasnya dan tanpa sepatu berlari ke arah makam. Bunda Zidan itu langsung berhambur memeluk tubuh Asyifa erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi.


"Maaf, maafkan bunda, Asyifa. Maaf karna bunda terlambat datang untuk menemanimu saat ayahmu pergi untuk selamanya. Dan maaf karna baru bisa datang sekarang untuk mengantar kepergiannya"


Meskipun telinganya mendengar jelas suara Lilian, namun tubuhnya enggan memberikan respon. Bahkan untuk membalas ucapan duka itu, lidahnya terasa kelu.


Namun saat suara tangisan pelan terdengar keluar dari mulut Lilian, setetes air mata Asyifa pun ikut jatuh membasahi pipinya. Dan menjadi semakin banyak, hingga suaranya pun kini bisa ikut keluar.


Seolah semua indera milik Asyifa hanya bisa terbangun dengan suara tangisan, dan ia hanya mengerti bahasa tangisan itu, namun tidak dengan yang lainnya.


"Bu_bunda, a_ayahku___ ayahku pergi untuk selamanya meninggalkanku seorang diri di dunia ini!" teriak Asyifa, sekuat tenaga menumpahkan semua kesedihannya pada Lilian.


"Kamu yang sabar yah, Asyifa. Bunda yakin tuhan pasti punya rencana untuk semua cobaan yang telah ia berikan padamu, nak"


"Kenapa hanya Asyifa saja yang diberikan cobaan bunda? Kenapa hanya Asyifa yang hidupnya selalu dipenuhi dengan kesedihan? Asyifa juga ingin bahagian, sama seperti yang lainnya, bunda"


"Karna Asyifa adalah wanita yang kuat, nak. Tuhan memberikan semua cobaan itu, karna tuhan percaya dan yakin Asyifa pasti bisa melewati semuanya"


"Asyifa tidak sekuat itu bunda! Bahkan saat ini rasanya Asyifa ingin mati saja, supaya bisa bersama-sama dengan ayah dan anak Asyifa! Asyifa tidak kuat bunda, Asyifa juga manusia yang rapuh!" teriak Asyifa, sambil memukul dadanya sendiri sekuat tenaga.


"Jangan, jangan bicara seperti itu sayang. Bunda tidak ingin Asyifa seperti itu, Asyifa harus kuat nak. Kita lewati semua cobaan ini bersama-sama, semua yang ada disini pasti tidak akan membiarkan Asyifa sendirian"


"Atau jangan-jangan, diriku adalah pembawa sial? Itulah kenapa setiap orang yang dekat denganku, hidupnya akan selalu berakhir dengan tragis!" ucap Asyifa mulai melantur.


Tatapannya menjadi tak tentu arah, dan juga ekpresinya seperti orang yang kesurupan. Asyifa seolah telah menjadi gila, karna jiwa dalam dirinya ikut terguncang.


Lilian yang berusaha untuk kembali memeluk tubuh Asyifa pun ikut jatuh ke samping, karna gerakan Asyifa yang mulai tak karuan. Sambil menarik rambutnya dengan kedua tangan, Asyifa kemudian berjongkok dengan eskpresi seolah sedang berpikir keras.


"Ibu kandungku mendapat sial setelah hamil diriku, dan kemudian meninggal. Bayi yang ku kandung juga mendapat sial, karna berada dalam rahimku. Lalu sekarang ayahku yang meningga, karna dia telah menjadi ayahku. Kini semua teka-teki kenapa hidupku penuh dengan penderitaan sudah terpecahkan seutuhnya, dan ternyata akulah penyebab dari semua itu!"


"Tidak Asyifa, bukan kamu penyebabnya nak. Kamu adalah sebuah anugerah dari tuhan, anugerah pembawa kebahagiaan bagi semua orang yang berada disekitarmu"


"Seorang anak yang lahir dari hubungan terlarang dan terlahir dari sebuah hubungan yang tidak sah, bukanlah sebuah anugerah bunda. Bahkan banyak wanita yang hamil diluar nikah ingin melenyapkan bayi yang ada di dalam rahim mereka, karna menganggap itu adalah beban dan hanya akan membawa sial dalam kehidupannya. Aku yakin saat ibu kandungku mengetahui dirinya hamil, dia juga sangat ingin melenyapkanku"


"Itu tidak benar" sahut sebuah suara yang dari arah belakang, yang terdengar sangat familiar di telinga Asyifa.

__ADS_1


Wanita itu segera berbalik untik melihat suara milik siapa itu. Dan benar saja dugaannya, itu adalah suara milik Laras, wanita yang selama ini sudah menyiksa dirinya.


Wanita yang sedari kecil selalu ia panggil dengan sebutan ibu, wanita yang harusnya kini berada di dalam penjara. Namun entah bagaimana bisa sampai di pemakaman sang suaminya.


Saat melihat sosok dua orang wanita berseragam yang terlihat senantiasa berdiri disamping Laras, Asyifa mulai mengerti. Ternyata wanita itu masih dalam penahanan, dan datang kesana dengan pengawasan yang ketat.


"Tante Laras? Kenapa tante bisa ada disini? Siapa yang mengizinkan kalian untuk membawanya ke tempat ini?" tanya Zidan terlihat marah.


"Maaf, tapi kami membawa tahanan atas permintaan tahanan sendiri. Karna pak Kemal adalah suaminya, maka kami mau tidak mau harus menyetujuinya"


"Tapi disini juga ada korban yang sudah disiksa olehnya, harusnya kalian bisa berpikir bagaimana perasaan korban kalau sampai bertemu dengannya!"


"Maafkan kami"


"Cepat, bawa di pergi dari sini sekarang juga! Atau aki sendiri yang akan menyeretnya pergi dengan kedua tanganku!"


Kedua wanita berseragam itu baru hendak menyeret Laras pergi, namun dengan cepat Laras membuka mulutnya untuk menyela.


"Saudara kembarku Sarah, bukanlah wanita yang akan tega membunuh orang, apalagi itu adalah calon anaknya sendiri. Berbeda dariku, dia adalah wanita yang penuh dengan kasih sayang dan kelembutan. Aku masih ingat betapa bahagia dirinya setelah keluar dari persembunyian dan bertemu denganmu, ia bahkan menawarkan diri untuk menjagamu selama seharian penuh. Dan karna itulah yang membuatku semakin benci padanya, hingga tega mengakhiri hidupnya dengan kedua tanganku sendiri"


Semua yang mendengar cerita Laras, hanya bisa terdiam membeku dengan perasaan terkejut. Bahkan meskipun sudah mengetahui fakta itu, Asyifa tetap merinding saat kembali mendengarnya lagi.


"Awalnya ku pikir Sarah dan Kemal sudah tak lagi saling mencintai, dan saudariku itu sudah menerima hubungan kamu berdua, sehingga ia bisa sesayang itu padamu. Tapi suatu hari, aku mendengar pujian yang keluar dari mulut Kemal bahwa betapa pintar anaknya, tapi bukan namaku yang disebut sebagai ibumu, melainkan nama Sarah. Dan hari itu juga, aku melakukan ted DNA antara dirimu dan juga diriku, tapi hasil yang keluar membuat hatiku menjadi hancur berkeping-keping. Anak yang ku kira adalah anakku, ternyata bukanlah anak kandungku"


"A_apa karna alasan itulah ibu membunuh ibu kandungku? Karna merasa sudah dibohongi olehnya dan juga ayah?" tanya Asyifa dengan berani.


"Iya. Aku membunuhnya karna aku gelap mata dan sedang dipenuhi oleh kemarahan yang tak terbendung. Tapi setelah itu, tak pernah sehari pun aku menyesali semua yang sudah aku lakukan padanya"


"Kenapa ibu menceritakan semua ini padaku sekarang? Apa ibu sengaja ingin membuatku merasa semakin hancur?"


"Tidak, bukan itu tujuanku. Justru sebaliknya, aku mengatakan ini karna merasa sangat bersalah padamu. Kamu tahu apa yang dikatakan ibumu ketika aku dengan sekuat tenaga berusaha untuk melenyapkannya? Dia memohon padaku untuk tetap mencintai dan menganggapmu adalah anak kandungku, seperti yang sudah aku lakukan sejak dulu. Dia bahkan terus mengulang permohonan itu hingga ajal menjemputnya. Dia mencintaimu Asyifa, sangat"


Asyifa tak tahu harus merasa bahagia atau sedih, saat mendengar semua cerita yang keluar dari mulut Laras. Ia memang merasa bahagia, karna ternyata ibu kandungnya sangat mencintai dirinya.


Namun tak bisa dipungkiri ada perasaan sedih juga dalam hatinya, karna tak bisa mengingat dan kembali merasakan sebanyak apa kasih sayang itu diberikan untuknya.


"Ibu minta maaf Asyifa" ucap Laras dengan suara tercekat. Yang sukses membuat semua yang ada disana terkejut, bahkan Asyifa pun ikut terkejut.


"A_apa?"


"Aku datang kesini selain untuk melepas kepergian suamiku, juga untuk meminta maaf padamu. Mungkin aku tidak layak dipanggil ibu olehmu, dan aku juga sadar bahwa kata maaf dariku tidak akan bisa mengobati semua luka yang telah ku torehkan dalam hatimu. Tapi aku tetap ingin meminta maaf padamu, maafkan ibu Asyifa"


"Jika kamu datang untuk melepas kepergian ayahku, maka silakan melakukannya sesuai dengan yang kamu inginkan. Untuk hal selain itu, aku tidak ingin mendengatnya"


Entah mengapa saat mendengar permintaan maag Laras, hati Asyifa bukannya dipenuhi oleh perasaan hangat, melainkan hati itu terasa sangat dingin. Seolah telah terjadi badai salju di dalam sana.


Asyifa pun bangkit berdiri, dan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Laras, wanita itu berjalan melewatinya begitu saja. Tapi belum sampai tiga langkah, tubuhnya ambruk ke tanah.


"ASYIFA!"


*****


Acara doa bersama yang diadakan untuk mendoakan keselamatan arwah Kemal, baru saja selesai ketika Asyifa terbangun dari pingsan.


Angel yang berjaga di dalam kamar tempat Asyifa berbaring dengan cepat menghampiri sahabatnya itu, dan membantunya duduk. Tak lupa Angel juga menyodorkan segelas air untuk diminum Asyifa.


Setelah menghabiskan air tersebut dengan sekali teguk, Asyifa mengedarkan pandangan ke arah seluruh penjuru kamar, seolah tengah mencari sesuatu.


"Ada apa, Asyifa?"

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa. Oh iya, apa acara doa bersama sudah selesai?"


"Sudah, baru saja selesainya. Apa kamu juga ingin ikut mengantar para tamu pulang? Ada korban yang selamat bersama ayahmu, yang juga datang kesini bersama keluarga mereka. Tadi mereka terus menanyakan dirimu, kalau dilihat sepertinya mereka berniat bertemu"


"Aku cape, aku disini saja. Kalau masih saja bertanya tentangku, bilang saja aku masih belum sadarkan diri karna pingsan"


"Tapi Asyifa, tadi aku lihat mereka juga membawa bingkisan, yang sepertinya ingin diberikan padamu. Apa tidak bisa kamu keluar dan menemui mereka sebentar saja?"


"Kalau aku bilang tidak bisa, yah berarti tidak bisa Ngel. Kenapa kamu terus memaksaku sih, apa kamu ingin aku jatuh pingsan seperti tadi lagi?"


"Tidak, Fa. Maafkan aku karna tanpa sadar sudah memaksamu. Kalau begitu aku akan keluar dan memberitahu mereka, kamu bisa lanjut istirahat saja disini"


"Emm"


Dengan gerakan yang canggung, Angel pun berjalan keluar dari kamar meninggalkan Asyifa seorang diri disana. Pasalnya gadis itu tak menyangka kalau Asyifa akan bersikap seketus itu padanya.


Saat sampai diluar, Angel berpapasan dengan Raka dan juga Adam yang ternyata baru saja akan masuk ke dalam kamar untuk menemui Asyifa.


"Ada apa, kenapa kalian berdua berdiri diam seperti itu di depan kamar Asyifa?" tanya Angel bingung.


"Aku dan Raka tadi disuruh sama bunda Lilian untuk memanggil Asyifa, karna para korban yang selamay bersama om Kemal ingin bertemu dengannya. Tapi karna mendengar kamu sepertinya sedang berbicara serius dengan Asyifa, jadi kami menunda untuk masuk ke dalam"


"Aku juga sudah menyampaikan hal itu pada Asyifa tadi. Tapi katanya dia cape dan ingin beristirahat dalam kamar saja, jadi tidak bisa menemui mereka"


"Yah wajah saja sih dia bilang seperti itu. Aku juga jika berada di posisi Asyifa, pasti tidak akan memiliki kekuatan untuk bertemu orang yang datang mendoakan ayahku" jawab Raka, memaklumi sikap Asyifa.


"Emmm"


"Eh, kenapa ekspresi dan jawabanmu seperti itu? Apa ada sesuatu yang sudah terjadi di dalam antara kamu dan Asyifa? Kalian tidak bertengkar kan?" tanya Adam cemas.


"Tidak kok, hubungan kami berdua baik-baik saja. Sudahlah, ayo kita ke depan dan temui orang-orang itu"


Baru saja ketiga orang itu akan melangkahkan kaki menuju ke depan, namun terhenti akan sosok Mira yang tiba-tiba muncul sambil menenteng dua buah bingkisan besar dalam pelukannya.


"Tidak perlu, mereka baru saja pulang. Lebih baik kalian menolongku untuk membawa semua bingkisan yang masih ada di ruang tamu, masuk ke dalam kamar Asyifa"


"Bingkisan apa itu? Kenapa ada banyak sekali bingkisannya? Memangnya dari siapa saja?" tanya Raka penasaran, sambil mengintip ke arah ruang tamu.


Dan benar saja, masih ada beberapa kotak bingkisan besar dan kotak bingkisan kecil yang tergeletak di dekat pintu masuk.


"Kebanyakam dari para korban selamat dan juga keluarganya, ada juga dari keluarga korban yang jasadnya ditemukan oleh om Kemal. Yang lainnya lagi, dari beberapa orang kenalan om"


"Tapi untuk apa memberikan bingkisan? Ini kan acara doa untuk orang meninggal, bukan acara untuk orang yang berulang tahun"


"Itu adalah bentuk dari rasa terima kasih mereka pada ayah Asyifa, karna selama hidup ayah Asyifa telah melakukan banyak sekali kebaikan kepada mereka. Jadi bunda rasa tidak ada salahnya sama sekali" jawan Lilian, yang terlihat baru saja selesai dengan tugas mengantar para tamu.


"Ah begitu yah, bunda. Maaf, Raka tidak tahu makanya berkata seperti itu, bun"


"Tidak apa. Angel, tolong kamu dan Mira bantu membawakan semua bingkisannya ke dalam kamar Asyifa. Lalu Raka dan adam, kalian tolong bantu Zida membersihkan ruang tamu bekas acara. Bunda ingin menemui Asyifa dulu"


"Baik bunda" jawab keempatnya kompak.


Tapi saat Lilian memutar gagang pintu, pintu itu ternyata dikunci dari dalam oleh Asyifa dan tidak bisa dibuka.


"Asyifa, apa kamu tidur nak? Kalau kamu tidak tidur, tolong buka kan pintunya sayang, bunda ingin masuk"


Namun Asyifa yang sedang sibuk melakukan sesuatu di dalam kamar dan tak ingin dirinya diganggu, mengabaikan panggilan Lilian. Ia terus berfokus pada sebilah pisau yang kini berada di dalam genggamannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2