
Asyifa bersama denganZidan dan juga yang lainnya, menatapi batu nisan yang terlihat masih baru itu dengan pandangan sedih dan tanpa sadar meneteskan air mata.
Mereka pun bergantian meletakkan setangkai mawar putih ke atas makam satu persatu, kemudian memanjatkan doa bagi arwah yang kini telah kembali pulang pada sang pencipta.
Setelah selesai, mereka pun segera berjalan kembali menuju ke mobil. Tapi ketika Asyifa baru saja akan naik, ia mendengar ada yang memanggil namanya.
Ketika menoleh ke belakang, terlihat sosok Rora dan Nana yang sedang berlari cepat ke arah Asyifa, sambil tak henti-hentinya meneriaki nama wanita itu.
"Kak Asyifa!" panggil kedua gadis kecil itu bersama-sama, dengan suara keras.
"Rora, Nana, kalian kenapa sampai datang kesini segala? Kak Asyifa kan sudah bilang, kalau nanti kakak akan datang ke panti untuk mengunjungi kalian juga"
"Tapi kita berdua sudah tidak sabar lagi untuk segera bertemu sama kak Asyifa. Kita mau memastikan dengan secepatnya, kalau kakak benaran baik-baik saja sekarang!"
"Iya, benar yang dikatakan oleh Nana. Apa kak Asyifa tahu seberapa cemas dan takutnya kami berdua, saat mendengar kabar kalau kak Asyifa terluka parah karna disiksa sama ibu panti? Kami bahkan tidak pernah bisa tidur nyenyak setiap malamnya, tapi setelah tahu kak Asyifa sudah baik-baik saja, kami baru bisa tidur nyenyak!"
"Betul! Kita juga tak pernag lupa berdoa untuk kesembuhan kak Asyifa, kan Rora? Padahal kami berdua yang paling malas kalau soal berdoa, tapi untuk kak Asyifa kita berusaha kuat supaya bisa rajin!"
Mendengar ocehan kedua bocah itu, Asyifa dan yang lainnya tidak tahan untuk tidak tertawa. Tapi di dalam hatinya, Asyifa bisa merasakan ketulusan Rora dan Nana kepada dirinya.
Asyifa mengusap puncak kepala keduanya dengan penuh kasih sayang, lalu membawa mereka masuk ke dalam pelukannya. Ingin membagi rasa haru yang kini telah menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Terima kasih Rora, terima kasih Nana. Kini kak Asyifa mengerti, kenapa kakak bisa cepat semubuh seperti ini. Ternyata semuanya berkat doa dari kalian berdua, terima kasih banyak yah"
"Sama-sama kak" Rora dan Nana membalas pelukan Asyifa dengan senang hati.
"Tapi tetap saja, kalian tidak boleh datang ke tempat pemakaman ini sendirian. Apalagi jarak panti kesini kan cukup jauh, bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada kalian berdua?!"
"Iya, maaf kak. Tapi yang penting kami berdua baik-baik saja kan, dan bisa ketemu sama kak Asyifa juga. Apa aku dan Nana juga boleh ikut kembali ke pantai, dengan menaiki mobil milik kak Asyifa?"
"Dua mobil itu, bukan mobil milik kakak. Jadi kalau kalian mau ikut naik juga, harus minta ijin langsung sama pemiliknya dan bukan ke kakak"
"Kalau boleh tahu dari kakak berlima, siapa yang pemilik kedua mobil itu?" tanya Rora.
Zidan dan Adam pun serempak mengangkat tangan mereka berdua. Rora yang melihat hal itu, segera menarik tangan kedua pria itu untuk mendekat ke arah Nana.
"Nana, ayo tunjukkan keahlianmu kepada kak Zidan dan juga kak Adam, supaya kita bisa diizinkan naik mobil!"
"Baiklah, serahkan saja padaku!"
Nana pun mulai memasang wajah seimut mungkin, kemudian menggoyang-goyangkan badannya ke kanan dan kiri sambil melipat kedua tangannya diatas dada.
__ADS_1
Disebelahnya, Rora juga turut melakukan hal yang sama. Angel dan Mira yang merasa gemas terhadap kedua bocah itu, segera mengeluarkan ponsel mereka dari dalam saku, dan mulai merekam.
"Kakak Zidan, kakak Adam, apa bisa berikan ijin kepada Nana dan juga Rora untuk bisa naik ke atas mobil, milik kakak Zidan dan juga kakak Adam?"
Zidan dan Adam yang sebenarnya juga ikut gemas dengan tingkah kedua bocah itu tapi berpura-pura agar tetap terlihat cool, pun mengangguk-anggukan kepala mereka cepat.
"Yeeei! Terima kasih kak Zidan, terima kasih kak Adam!" ucap Rora dan Nana, sambil memberikan pelukan singkat kepada kedua pria itu.
"Hahahaha, kalian berdua benar-benar penuh dengan akal yah, supaya bisa mendapatkan apa yang kalian inginkan"
"Tentu saja! Nah, karna sekarang kami sudah diperbolehkan naik mobil juga, apa kita bisa langsung kembali ke panti?" tanya Rora, terlihat tak sabar lagi.
"Tapi, apa kak Asyifa sudah selesai dengan ziarah kuburan anak-anak panti yang menjadi korban ibu panti?"
"Iya Nana, kakak Asyifa dan juga teman kakak yang lainnya sudah selesai ziarah kubur anak panti, jadi kita sudah bisa kembali ke panti sekarag. Tapi sebelum itu, kalian kan belum berkenalan dengan dua teman kak Asyifa selain kak Zidan, kak Adam, dan juga kak Raka. Apa kalian tidak ingin berkenalan dulu?"
"Ah iya benar juga! Kakak berdua pastilah kak Angel dan juga kak Mira, bukan? Selama kak Asyifa disini, kak Asyifa sering sekali cerita tentang kakak berdua" sapa Nana Ramah.
"Benarkah? Dan kalian berdua, pasti adalah anak-anak yang membantu Asyifa selamat dari cengkeraman ibu panti bukan?" balas Mira, mengikuti gaya bicara Nana.
"Iya benar, itu adalah kami! Aku dan Nana sangat senang saat tahu kak Asyifa berhasil selamat, yah walaupun sekarang kami juga sedang merasa sedih"
"Sedih kenapa?" tanya Angel penasaran.
"Dikirim? Apa maksudnya itu? Lalu siapa yang akan mengirim kalian seenaknya ke panti yang ada di kota? Kalian kan juga punya panti kalian sendiri!" protes Raka
"Kami memang memiliki panti kami sendiri, tapi yang bertanggung jawab terhadap kami selama ini kan ibu panti. Tapi sekarang ibu pantinya sudah masuk penjara, lalu siapa yang akan menggantikannya untuk mengurus kami semua?"
Mendengar pertanyaan Nana, Asyifa dan yang lainnya pun tersadar bahwa ada satu hal lagi yang telah mereka lupakan, yaitu nasib anak panti ke depannya.
Tentu saja warga desa tidak bisa membiarkan mereka yang masig anak-anak tinggal dan mengurus diri mereka sendiri di dalam panti itu. Jadi jalan satu-satunya adalah, mengirim mereka secara acak ke panti-panti besar yang ada di kota.
Sekalipun mereka tidak ingin berpisah karna sudah hidup bersama-sama dalam waktu yang lama, tapi apa yang bisa mereka lakukan selain menyetujui semua rencana itu?
Anak panti yang tidak memiliki orang tua dan juga satu pun keluarga, sudah diberikan makan dan tempat untuk tinggal saja, mereka sudah merasa sangat bersyukur. Bagaimana bisa mereka meminta lebih dari pada itu?
"Aku" tiba-tiba Zidan bersuara, dan membuat semua yang ada disana menoleh dengan tatapan terkejut ke arahnya.
"Aku? Maksudnya apa?" tanya Asyifa bingung, karna Zidan tak lagi melanjutkan ucapannya.
"Yah, aku! Tadikan Nana bertanya siapa yang akan bertanggung jawab terhadap mereka setelah ibu panti dipenjara, yah aku menjawab aku lah yang akn bertanggung jawab"
__ADS_1
"Ka_kak Zidan serius?" tanya Nana dan Rora dengan penuh harap.
"Kakak selalu serius dengan setiap hal yang kakak ucapkan. Kalau kalian berdua tidak percaya, boleh langsung tanyakan pada kak Asyifa kalian"
"A_aku juga sama seperti terkejutnya seperti kalian berdua, tapi yah, selama kak Asyifa mengenal kak Zidan, dia tidak pernah bicara tanpa bisa memegang ucapan tersebut. Jadi kak Asyifa rasa, kak Zidan serius"
Tanpa berkata apa-apa lagi, Rora dan Nana segera berhambur memeluk Zidan erat. Zidan yang mendapat pelukan tiba-tiba untuk kedua kalinya, menjadi terkejut.
Terlebih lagi, Rora dan Nana sekarang sedang memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. Zidan yang tidak punya pengalaman dengan anak kecil, hanya bisa mengikuti instingnya untuk membalas pelukan itu dengan cara membelai rambut Rora dan Nana selembut mungkin.
"Su_sudah, jangan menangis lagi. Seharusnya kaliam senang dan tertawa bahagia, karna sekarang sudah ada orang yang bersedia bertanggung jawab atas kalian, dan kalian juga tidak perlu berpisah"
"Justru itu! Kami sangat berterima kasih pada kak Zidan, sampai menangis seperti ini. Iya kan Rora?"
"I_iya. Aku bahkan seperti melihat seorang malaikat yang dikirimkan oleh tuhan, ketika kak Zidan bilang ingin menggantikan ibu panti kami. Rasanya seperti mimpi!"
"Tapi ada satu hal lagi yang harus kalian tahu dan turuti, jika kalian ingin kakak menjadi penanggung jawab kalian"
"Apa itu kak?"
"Kalian berdua, dan juga semua anak panti lainnya, harus mau pindah dari panti kalian yang ada di desa ini, dan tinggal di panti baru yang akan kakak siapkan untik kalian di kota. Apa kalian bersedia?"
"Kami pindah ke kota, tapi akan tetap tinggal bersama? Lalu, kota yang akan kami tempati adalah kota yang sama dengan kota yang kak Asyifa tinggali? Benar begitu kan kak?"
"Iya Nana. Jadi bagaimana, apa kalian berdua dan teman kalian yang lainnya akan setuju?"
"Tentu saja setuju! Impian kami semua kan sama, yaitu jika kami sudah besar nanti, kami akan pergi dari desa ini dan bersama-sama mencari pekerjaan yang bagus di kota!"
"Aku awalnya tidak ingin pergi ke kota seperti Nana dan juga yang lainnya. Tapi melihat kak Asyifa bisa memiliki pacar yang sempurna seperti kak Zidan, aku rasanya juga ingin ke kota dan bertemu pria seperti kak Zidan saat sudah besar nanti"
Zidan dan Asyifa yang mendengar jawaban polos Rora, seketika wajahnya menjadi merah seperti tomat masak karna menahan malu disebut sebagai sepasang kekasih.
Sedang Adam, Raka, Angel dan Mira, mulai asyik mengejek keduanya dengan bercie-cie riuh.
"O_oke, karna semua masalah sudah selesai dan mendapat solusinya, bagaimana kalau kita menuju ke panti saja sekarang? Kasian anak panti lainnya pasti sudah menunggu kita sedari tadi" ajak Asyifa sengaja menghindar, sambil menarik tangan Rora dan Nana masuk ke dalam mobik Zidan.
Mau tidak mau, yang lainnya pun juga harus mengikuti apa yang dilakukan oleh Asyifa dan masuk ke dalam mobil masing-masing.
Mereka pun melanjutkan perjalanan ke panti untuk memberikan kabar gembira dari Zidan, dan saat mendengar kabar itu, semua anak panti pun bersorak kesenangan.
Sebuah kebahagiaan yang sangat sederhana menurut Zidan. Anak-anak panti itu merasa sangat bahagia, hanya karna mereka tetap bisa tinggal bersama dengan anak lainnya yang tidak memiliki hubungan darah satu sama lain, tapi sudah dekat seperti keluarga.
__ADS_1
Kini tunjuan Zidan beryambah menjadi satu lagi, yaitu selain menjaga senyuman supaya bisa tetap berada di wajah Asyifa dan sang bunda, ia juga harus menjaga senyuman di wajah para anak panti yang resmi menjadi tanggung jawabnya.
Bersambung...