The Ugly Wife

The Ugly Wife
Tentang Zidan


__ADS_3

Zidan baru saja tiba di sebuah restoran mewah yang menjadi tempatnya berkumpul bersama para sahabatnya.


"Hai, bro! Baru sampai?" tanya Adam yang terlihat baru sampai juga seperti halnya Zidan.


Di samping Adam berdiri seorang gadis cantik berwajah imut dengan rambut panjang berwarna pirang yang terlihat cocok dengan gaun yang ia kenakan malam ini.


"Hai kak Zidan, long time no see you"


"Hai Adam, hai juga Stevia. Kalian baru sampai juga? Kalau begitu ayo bareng aja masuknya"


"Maaf yah kak, karna aku ikut tempat janjian kalian harus berubah ke tempat ini. Habisnya aku tidak pernah ke bar atau pub bahkan untuk meminum minuman keras saja aku tidak pernah kak"


"It's ok Via. Disini katanya juga menyediakan berbagai macam jenis alkohol jadi kami bisa minum disini saja"


Stevia yang dipanggil oleh Zidan menggunakan panggilan akrabnya sejak kecil, tersenyum senang hingga pipinya yang putih bersih itu, bersemu merah.


"Loh, bukannya waktu kuliah di London kamu sering...! "


Plak...


Stevia refleks segera memukul dahi kakak laki-lakinya itu, saat ia melihat sang kakak akan membongkar kebiasaan buruknya selama berada di luar negeri.


"Auwww.. Apaan sih, Via?!"


"Itu, tadi ada nyamuk hinggap di dahi kak Adam, jadi Via pukul"


"Emang iya, Dan?"


"Tidak tahu. Aku tidak sempat memperhatikan, mungkin saja benar kata Via" jawab Zidan dengan ekspresi menahan tawa.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" seorang pelayan menghampiri ketiganya.


"Ah, kami sudah reservasi atas nama Stevia mbak, tolong dicek"


"Baik, tunggu sebentar yah kak. Pemesanan online atas nama Stevia untuk empat orang di privat room, apa betul kak?"


"Iya betul mbak"


"Baik, mari ikut saya ke ruangannya"


"Tapi, Raka belum datang"


"Tidak apa-apa, kita tunggu saja di dalam ruangan. Paling sebentar lagi juga datang, Dan" ucap Adam sambil merangkul pundak Zidan untuk mengikuti langkah pelayan dan juga Stevia yang berada di depan mereka.


"Ini ruangannya kak, silakan masuk. Daftar menunya sudah tersedia di meja, silakan hubungi melalui telepon yang berada di ujung ruangan untuk menyebutkan makanan dan minuman yang ingin di pesan"


"Terima kasih yah mbak" jawab Adam sambil tersenyum manis bersamaan dengan Stevia.


"Iya sama-sama kak"

__ADS_1


"Modus amat sih kak, sampai pelayan juga dilirik, dasar jones!" Ucap Stevia melirik kesal ke arah kakaknya itu.


"Sesama jomblo, tidak usah saling menghina satu sama lain, yah!"


"Aku jomblo terhormat yang tidak lirik sana sini, jadi jangan pernah samakan jombloku dengan jomblonya kak Adam!


"Sudah, sudah! Kalian berdua ini, dari kecil sampai sekarang tidak pernah akur yah, selalu saja seperti tom and jerry" ucap Zidan heran melihat tingkah kedua kakak beradik di depannya.


Mendengar perkataan Zidan, kedua kakak beradik itu hanya bisa cengengesan.


"Oh, itu Raka! Ka, disini!"


Adam melambaikan tangannya pada sosok pria tampan yang kelihatan sedang bingung mencari sesuatu.


Pria itu membalas lambaian Adam dan segera bergabung bersama mereka.


"Kayaknya aku yang paling akhir deh datangnya, maaf yah guys. Tadi ada sedikit masalah sama cewek cantik"


"Memang benar Raka sang playboy yah, setiap kesempatan pasti selalu cewek yang diutamakan!"


"Bukan gitu Dam, tadi ada cewek marah-marah karna mobil temannya tidak sengaja ku tabrak sedikit bagian belakangnya"


"Kok bisa, pasti kakak bawa mobilnya sambil main ponsel kan? Kebiasaan Kak Raka tuh, tau banget aku!" ucap Stevia kesal kemudian masuk ke dalam ruangan meninggalkan ketiga pria itu di luar.


"Tapi kayanya dia karyawan di perusahaan kamu deh, Zidan. Soalnya aku liat tanda pengenalnya ada nama perusahaanmu, cuman aku tidak sempat melihat namanya!"


Ketiganya masuk dan memesan makanan serta minuman yang diinginkan kemudian menghabiskan waktu dengan bercerita tentang masa lalu.


"Oh iya, ini kado dari Kak Zidan buat kamu Via, semoga suka yah"


Stevia menerima sebuah tas besar bertuliskan merek tas terkenal yang sangat ia sukai "Wow, makasih kak Zidan, ini merek tas kesukaan aku banget!"


"Kalau ini, kado dari kakak! Selamat ulang tahun yah Via, semoga makin dewasa dan semua yang baik-baik menghampiri kamu"


"Amin, makasih kak Adamku sayang. Ini kadonya benaran tiket liburan buat aku dan Leo?"


"Kok, Leo? Dia kan cowok, masa kamu mau pergi liburan berdua aja sama cowok!"


"Leo memang cowok Kak, tapi dia kan sahabatku satu-satunya sejak SMP! Kita sudah seperti saudara, jadi tidak masalah"


"Via, tidak ada persahabatan tulus diantara cowok dan cewek! Pasti akan ada salah satu yang goyah dan menyukai sahabatnya sendiri, mending kamu ajak teman cewekmu saja, oke?"


"Apaan sih Kak Adam, aku sama Leo itu bukan seperti yang kak Adam kira yah, kita itu murni hanya sahabatan aja! Lagian kakak juga tau kan, kalau aku tidak punya teman selain Leo!"


"Permisi, saya ingin mengantar kado untuk nona Stevia dari tuan Raka" ucap seorang pelayan pria sambil mendorong sebuah kotak besar masuk ke dalam ruangan.


Stevia yang tadinya merasa kesal wajahnya, seketika berubah menjadi binar bahagia.


"Wow, besar banget kak Raka! Apa isinya?"

__ADS_1


Dengan bantuan Zidan, Raka membuka kotak itu dan tampaklah sebuah boneka beruang raksasa yang sangat mengemaskan.


"Awwww, makasih kak Raka!" ucap Stevia sambil memeluk boneka itu.


Zidan yang melihat senyuman di wajah para sahabatannya, seketika merasa hatinya menghangat dan rasa sakit itu perlahan hilang begitu saja.


*****


Pukul 11 malam, Zidan baru saja sampai di rumahnya. Ia melangkah masuk ke bagunan megah yang hampir mirip istana itu, tanpa memperhatikan sekelilingnya.


Tiba-tiba, ia mendengar bunyi piano yang sedang dimainkan oleh seseorang dari arah samping ruang tamu, membuat Zidan mempercepat langkah kakinya untuk segera berlalu dari sana.


"Zidan, kamu baru pulang?" tanya seorang wanita cantik dari balik piano.


Wanita itu bangkit dari duduknya dan tampaklah ia yang hanya mengenakan gaun malam, berjalan dengan anggunnya menuju ke arah Zidan.


"Kamu dari mana saja, kenapa baru pulang larut malam? Kamu sudah makan?" tanyanya lagi karna Zidan tak meresponnya.


Zidan menoleh dan menatap wajah wanita disampingnya itu dengan tatapan marah serta kesal yang terlihat jelas.


"Jangan bicara padaku, kamu terlihat sangat menjijikan!"


"Zidan, jangan seperti itu. Aku sengaja menunggumu pulang di ruang tamu ini sedari tadi, karna khawatir padamu"


"Hentikan, Kinara! Aku sangat muak mendengar suaramu! Bahkan berhadapan sedetik saja denganmu, membuat aku ingin muntah saat ini juga!"


Seolah tak merasakan takut atau pun sakit hati, Kinara melangkah maju lebih dekat ke arah Zidan. Ia memeluk lengan pria itu, sambil membelainya lembut seolah sedang menggoda.


Dengan kasar Zidan melepaskan pelukan Kinara dari tubuhnya, hingga wanita itu jatuh terduduk di lantai.


"Jangan pernah menggodaku dengan tubuh murahanmu itu, Kinara! Jangankan merasa tergoda, aku bahkan merasa sangat jijik melihatnya!"


Setelah berkata seperti itu, Zidan berbalik menuju kamarnya dan membiarkan Kinara seorang diri disana.


Kinara yang menerima penolakan serta kata cacian dari Zidan, hanya bisa menangis dengan suara tertahan menahan sakit dihatinya.


"Argggghhhh... Dasar wanita gila! Bisa-bisanya dia melakukan hal murahan seperti itu, apa yang ia inginkan sebenarnya?!" teriak Zidan frustrasi.


Ia meninju samsak yang tergantung dalam kamarnya dengan brutal untuk melampiaskan kemarahannya.


Setelah beberapa saat, ia ambruk ke lantai dan menumpahkan tangisnya dengan suara teramat menyakitkan.


"Kenapa, kenapa tidak ada yang berjalan baik dalam hidupku? Kenapa kamu melakukan ini padaku dan bundaku, Kinara?"


Zidan meremas dadanya sekuat tenaga, ia masih merasakan debaran itu saat berhadapan dengan Kinara. Namun akal sehat serta status mereka berdua membuatnya tak ingin dan tak bisa menyentuh wanita itu lagi.


Karna sekarang, Kinara adalah milik pria lain seutuhnya. Pria yang membuat Zidan bisa hadir ke dunia ini, yaitu ayahnya sendiri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2