The Ugly Wife

The Ugly Wife
Menyesal


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak saat Zidan meminta bantuan dari Raka dan juga Adam untuk membantunya menyelidiki masalah terkait kecurigaannya terhadap sang ayah.


Hubungan Zidan dan Kinara pun menjadi semakin baik dan selalu saling menghubungi satu sama lain. Sebenarnya Zidan bukan dengan sengaja melakukan hal tersebut, tapi demi untuk mengawasi kehidupan kedua orang itu dalam jarak yang dekat, Zidan mau tak mau harus melakukannya.


Sebaliknya, hubungan Zidan dan Asyifa malah menjadi sangat jauh seolah tak akan ada lagi kesempatan untuk keduanya bisa kembali bersama menjalin sebuah hubungan.


Rasa sakit hati dan kesedihan di hati Zidan yang diakibatkan oleh keputusan sepihak dari Asyifa pun perlahan mulai terlupakan, dan terganti dengan perasaan mencemaskan sosok Kinara setiap saatnya.


"Kamu mau kemana lagi, bukannya kamu baru saja pulang dari perusahaan? Jangan bilang, kalau kamu berniat untuk pergi lagi ke tempat kerja Kinara?" tanya Raka yang heran melihat sahabatnya terlihat rapi padahal baru saja pulang dengan wajah lelah.


"Iya, aku memang mau pergi kesana. Hari ini Kinara punya jadwal pemotretan di sebuah studio dekat perusahaan, dan sekarang sudah waktunya pulang"


"Tapi kenapa harus kamu yang selalu datang saat menjemputnya setiap pulang kerja? Apa kamu tidak takut kalau nantinya akan terjadi salah paham saat om Marcel mengetahui semua yang kamu lakukan?"


"Aku bukannya menjemputnya setiap pulang kerja Raka, tapi hanya datang sesaat untuk melihat apa ada bekas luka baru di tubuhnya atau tidak. Itulah mengapa aku tidak perlu memikirkan ada kemungkinan disalahpahami oleh ayahku"


"Lalu, kenapa kamu berpenampilan heboh seperti itu? Kamu kan bisa langsung datang menghampirinya dengan pakaian kerjamu" tanya Raka lagi-lagi terlihat curiga.


"Astaga, ada apa sih denganmu hari ini? Aku sengaja pulang untuk mengganti pakaian karna memang masih mempunyai jadwal lain diluar setelah selesai mengunjungi Kinara"


"Benarkah?"


"Kalau kamu masih tidak percaya dan tetap berpikiran yang tidak-tidak, silakan lihat saja buktinya di dalam riwayat chatku dengan Asyifa mengenai acara tersebut"


Dengan santai, Zidan melemparkan ponsel miliknya ke arah Raka, yang langsung sigap ditangkap oleh pria itu. Layar ponsel tersebut sedang menampilkan riwayat chat Asyifa dan Asyifa yang masih merupakan sekrestarisnya


Dan benar saja, dalam riwayat chat keduanya memang membahas tentamg suatu acara pertemuan dengan klien yang akan dihadiri oleh mereka secara bersama-sama.


Tapi bukannya lega karna apa yang sedari tadi menjadi kecurigaannya telah terbukti tidak benar, Raka malah berubah menjadi sangat syok dibuatnya.


"Apa-apaan, apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu Zidan? Kamu sedang memiliki janji sebuah acara yang akan dihadiri olehmu dan juga Asyifa yang adalah mantan tunanganmu, tapi malah terlebih dulu mengunjungi Kinara yang adalah mantan kekasihmu sekaligus juga ibu tirimu, apa maksudnya itu? Apa kamu sebenarnya sedang merencanakan sesuatu?"


"Aku sama sekali tidak sedang merencanakan sesuatu seperti yang kamu pikirkan kok. Ini semua memang terjadi tanpa direncanakan, dan bisa juga dibilang kebetulan" jawab Zidan enteng, tak merasa aneh sama sekali.


"Mana ada kebetulan seperti itu, sebaiknya kamu jangan memberikan alasan yang sama sekali tidak masuk akal padaku! Kamu kan bisa membatalkan niatmu itu untuk menemui Kinara, dan langsung pergi saja ke tempat acara pertemuanmu dengan klien bersama dengan Asyifa"


"No, no, no. Menemui Kinara sebelum wanita itu pulang ke rumah sudah menjadi hal rutin yang aku lakukan selama seminggu ini, mana bisa dibatalkan begitu saja. Justru yang harus dibatalkan itu pertemuan dengan klien, karna acara tersebut yang masuk ditengah-tengah kebiasaan rutinku"


"Wah! Benar-benar luar biasa perhatian dan juga kekhawatiranmu itu terhadap Kinara, sampai bisa dengan santainya malah ingin membatalkan pertemuan dengan klien. Apa kamu tidak sedang terpikat lagi dengan sang wanita rubah sepertinya?"


"Jaga mulutmu Raka, sebelum aku sendiri yang akan membuatmu menyesal. Kamu tak mempunyai hak sama sekali untuk berkata merendahkannya seperti itu, karna dia tidak mempunyai salah sedikit pun padamu. Orang yang dilukai dan dibuat menderita olehnya adalah aku, dan bukannya kamu" ucap Zidan, terlihat tak senang.


Baru saja Raka akan membuka mulutnya kembali untuk memberikan jawaban atas apa yang baru saja dikatakan Zidan padanya, tapi harus terhenti ketika pintu apertemen mulai terbuka perlahan.


Disana muncul sosok Adam yang baru saja datang bersama dengan beberapa tas belanja di kedua tangannya, dan juga bersama Kinara yang berjalan disampingnya.


Awalnya kedua orang tersebut menampilkan senyuman serta menyapa Raka dan Zidan dengan hangat, tapi saat mereka mendapat balasan yang tak sehangat diberikan, sadar lah keduanya bahwa ada sesuatu yang salah.


Merasakan suasana diantara Zidan dan Raka yang tak damai, membuat Kinara dan Adam hanya bisa saling melempar tatapan dengan kebingungan yang terlihat jelas.


"Hei, hei, hei! Apa yang sudah terjadi disini, kenapa suasana di dalam ruang tamu malah seperti ini sih, apa kalian berdua baru saja bertengkar satu sama lain?" tanya Adam pada akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Sebaiknya kamu tanyakan langsung pada sahabatmu itu, karna kalau dugaanku benar, sepertinya otak miliknya sedang bermasalah!"

__ADS_1


"Hah, dasar kekanak-kanakan! Apa tidak bisa kamu langsung mengatakan pikiran jelekmu yang ada di dalam otakmu, kebetulan ada juga Kinara disini" timpal Zidan, ikut-ikutan merasa kesal seperti Raka.


"Ada apa denganku, apa kalian berdua baru saja bertengkar dikarenakan olehku? Astaga, ada apa sih sebenarnya? Aku jadinya merasa tidak enak" ucap Kinara tersenyum kecut.


Karna entah mengapa, hati wanita itu berkata bahwa apa pun alasannya mereka bertengkar, tapi jika itu adalah tentangnya, maka pastilah bukan sesuatu yang baik.


Kinara juga sangat tahu setidak suka apa Raka terhadap dirinya. Meskipun beberapa hari ini Raka terlihat berprilaku dan berkata baik padanya, tapi semuanya hanya sebatas karna Kinara telah membantu mereka bertiga.


Dan jika dirasa kebaikan itu sudah cukup berlalu, maka prilaku dan cara bicara Raka pun akan kembali seperti semula. Seperti pada awal pria itu tak menyukai sosok Kinara.


"Baiklah, karna kamu sendiri yang bertanya dan ditambah dengan Zidan memaksa, maka akan aku katakan secara langsung. Apa benar om Marcel melakukan kekerasan rumah tangga terhadapmu?" tanya Raka tanpa ada basa-basi sama sekali.


"A_apa?"


"Kenapa kamu malah menjawab pertanyaan yang aku berikan dengan pertanyaan, teliga milikmu itu kan sama sekali tidak bermasalah dalam mendengar ucapan orang lain. Kenapa sekarang tiba-tiba bermasalah?"


"Raka!" tegur Adam.


"Apa? Memangnya ada yang salah yah dari semua yang aku katakan barusan, Kinara juga pastinya sudah mendengar jelas apa yang aku katakan, kenapa masih sok bertanya ulang? Dia kan tidak memiliki riwayat sakit telinga sama sekali"


"Aku memang tidak memiliki masalah pada telingaku, dan aku memang mendengar jelas pertanyaan yang kamu katakan. Aku hanya saja tanpa sengaja meresponnya begitu karna merasa sedikit terkejut. Biar bagaimana pun juga, yang kamu tanyakan itu kan adalah daerah privasiku yang tidak boleh dimasukki oleh orang luar sepertimu" jawab Kinara tegas ketika sudah kembali menguasai dirinya.


"Aku juga bertanya bukan tanpa alasan kok. Aku bertanya karna Zidan lah yang dengan sengaja sudah mengatakannya padaku dan juga pada Adam, kalau kamu mendapatkan kekerasan rumah tangga dari om Marcel. Apa aku melakukan sesuatu yang salah?"


"Tentu saja salah. Sekali pun kamu bertanya karna mendengar hal itu dari Zidan, tapi untuk menanyakannya langsung pada pihak terkait itu sama sekali tidak sopan!"


"Begitu yah, jadi apa kamu lebih suka kalau aku menceritakan hal tersebuy ke orang lain atau menemui kenalanmu untuk bertanya terkait privasimu? Bukannya tindakan yang aku ambil saat ini sudah yang paling benar yah, menanyakannya langsung pada pemilik privasi tersebut" jawab Raka tak mau kalah.


Mendengar jawaban Raka yang seperti itu, Kinara sama sekali tak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa mengusap permukaan wajah mulusnya dengan ekspresi kesal.


"Kinara, dari pada kamu berada kamu terus berada disini dan meladeni setiap ucapan yang keluar dari mukut Raka, sebaiknya kamu ikut pergi saja denganku!" ajak Zidan.


*****


Asyifa yang awalnya sedang asyik bercanda ria dengan lautan manusia yang kebanyakan dari mereka adalah klien dari perusahaan Zidan, seketika malah berubah raur wajahnya menjadi sangat terkejut.


Seolah sedang melihat sebuah penampakan hantu di depannya, Asyifa sama sekali tidak bisa mengalihkan tatapan matanya dari dua sosok yang kini tengah menjadi pusat dari seluruh perhatian.


Mereka adalah Zidan dan juga Kinara. Terlihat begitu serasi bak sepasang kekasih yang sempurna, karna ketampanan dari sang pria dan juga kecantikan dari wanitanya.


Asyifa bahkan tak pernah menyangka kalau mantan tunangannya itu akan datang ke acara penting tersebut dengan menggandeng Kinara sebagai pasanngannya.


"Wah, apa-apaan itu? Bukannya itu adalah Kinara sang model terkenal, kenapa dia bisa berada disamping pak Zidan? Aku pikir pak Zidan bertunangan dengan Asyifa, kenapa dia malah ditemani Kinara?" bisik seorang wanita yang terdengar oleh Asyifa.


"Jangan salah paham dulu. Apa kamu tidak tahu, kalau Kinara itu adalah ibu tiri dari pak Zidan? Jadi aku rasa wajar saja kalau dirinya yang mendampingi pak Zidan, dan bukannya Asyifa. Asyifa sepertinya sibuk dengan hal lainnya, dia kan masih menjabat sebagai sekretaris pak Zidan" jawab suara lain.


"Apanya yang wajar, kalian itu ternyata tidak tahu apa-apa yah tentang hubungan mereka berdua! Meskipun Kinara itu ibu tiri pak Zidan, tapi pada kenyataannya dia juga mantan pacar pak Zidan" jawab suara lainnya lagi.


"Hah? Yang benar saja kamu! Dari mana kamu bisa mendapatkan informasi tersebut, bukannya itu hanya karanganmu sendiri?"


"Mana mungkin karanganku. Aku hanya beruntung saja mendengarkannya langsung dari mulut pak Zidan tanpa sengaja, saat pak Zidam sedang bertengkar dengan Kinara di sebuah mall. Disana juga ada Asyifa dan ibu dari pak Zidan kok"


Deg! Jantung Asyifa untuk sedetik berhenti berdetak, karna ternyata saat itu ada salah seorang yang mengenali dirinya, Zidan, dan juga Kinara yang ikut menyaksikan serta ikut mendengarkan pertengkaran mereka.

__ADS_1


Dengan panik, Asyifa segera berbalik untuk mencari siapa pemilik dari suara-suara yang baru saja di dengarnya itu. Tapi saat berbalik, Asyifa tak lagi mendengarkan suara-suara tersebut.


Karna sepertinya mereka langsung terdiam dan menutup mulut seketika, saat melihat gerakan Asyifa yang seperti akan berbalik ke arah belakang.


"Ck! Kenapa mereka langsung terdiam saat aku berbalik sih? Kalau saja mereka masih terus berbicara, aku kan pasti bisa tahu siapa saja mereka dan juga membujuknya untuk tidak menyebarkan apa yang mereka ketahui. Apa setelah ini gosip tersebut akan tersebar ke seluruh perusahaan dan juga ke telinga para klien Zidan?!" batin Asyifa cemas.


Tapi pikiran cemas yang sedang memenuhi otak Asyifa itu perlahan mulai menghilang saat melihat tawa dan keasyikan Zidan dan Kinara yang mulai bersosialisai dengan para klien yang hadir.


Tanpa ragu sedikit pun, tangan milik Kinara setia berada dalam gandengan Zidan seolaj tak ingin terpisahkan. Jujur saja, melihat hal tersebut, membuat hati Asyifa seperti teriris sebilah pisau tajam.


Dengan perasaan sedih dan juga penyesalan yang teramat sangat, Asyifa memandangi wajah Zidan dari tempatnya berdiri. Berharap pria itu akan berbalik dan membalas tatapan miliknya dengan sebuah senyuman.


Tanpa terduga, harapan Asgifa tersebut malah menjadi sebuah kenyataan. Zidan yang sedang asyik dengan dunianya, tiba-tiba saja berbalik dan bertemu pandang dengan Asyifa


Tapi tak ada seulas senyum yang diberikan pada Zidan, hanya sebuah wajah datar yang Zidan tunjukkan. Bahkan tak sampai lima menit berselang, Zidan malah membalikkan wajahnya begitu saja dari Asyifa.


"Hahaha. Tentu saja dia akan bersikap begitu padaku, apalagi mengingat seberapa besar keputusa sepihakku sudah melukai hatinya. Kamu yang memilih untuk mengakhiri, tapi kamu juga yang sedih saat melihatnya malah mengandeng wanita lain. Dasar menyedihkan kamu Asyifa!" gumam Asyifa pelan.


"Asyifa!" panggil Angel yang juga ikut datang menghadiri acara tersebut bersama Asyifa.


"Ah, iya Ngel. Kamu sudah kembali dari toilet ternyata, apa mau pergi mengambil minuman bersama denganku? Tiba-tiba saja, aku rasa seperti ingim sedikit minum minuman yang mengandung alkohol"


"Tapi Asyifa, aku rasa sekarang bukanlah saatnya untuk kamu memikirkan minuman beralkohol itu. Apa kamu tidak lihat kalau sekarang ini Zidan tengah__"


"Aku lihat! Aku sudah melihatnya dengan jelas saat pertama kali dua orang itu muncul di tengah acara ini, jadi tolong temani saja aku mengambil minuman dan jangan mengatakan apa pun" potong Asyifa cepat.


"Ternyata kamu juga sudah lihat yah. Maafkan aku yang tidak peka Asyifa, kalau begitu ayo pergi ambil minuman dengaku dan lupakan mereka berdua"


"Ayo!"


"Mau pergi kemana mereka berdua, apa mereka malah ingin pulang karna melihat ada kehadiranku dan juga Kinara? Argggh! Kenapa juga tadi aku pakai acara buang muka segala dari Asyifa, sekarang aku malah menyesal seperti orang bodoh!" batin Zidan, sambil ikut memperhatikan kepergian Asyifa dan Angel.


"Zidan? Hei, Zidan!" panggil Kinara tidak sabaran, karna melihat Zidan tak konsentrasi untuk berbicara dengan para klien yang saat ini sedang mengajaknya bicara.


"Ah, iya Kinara. Ada apa? Apa kamu ingin pergi ke toilet, atau membutuhkan sesuatu yang lain?"


"Bukan itu Zidan. Aku memanggilmu karna kamu terlihat seperti sedang memperhatikan ke arah lain, padahal para klien terhormatmu ini sedang mengajakmu berbicara mengenai masalah pekerjaan"


"Astaga, maafkan aku. Aku benar-benar tanpa sadar melihat ke arah lain selama beberapa saat, aku harap hal itu tidak membuat anda sekalian tidak berkecil hati apalagi sampai tersinggung" ucap Zidan meminta maaf.


"Ahahaha, tidak mungkin kami bertingkah berlebihan seperti itu pak Zidan. Tapi aku jadinya sedikit penasaran, apa sih yang pak Zidan lihat tadi? Padahal disebelah pak Zidan ada sosok secantik ibu Kinara" jawab salah satu klien dengan nada bercanda.


"Ya ampun, anda bisa saja memujinya. Aku tidak secantik itu kok, masih banyak wanita yang jauh lebih cantik dariku"


"Mana ada, bagiku ibu Kinara lah yang paling cantik dari semua wanita yang pernah aku temui selama ini. Sudah cantik, berbadan bagus sebagai seorang model, dan lagi anda sepertinya memiliki kepribadian yang terlihat menyenangkan. Anda bahkan telihat sangat serasi sekali dengan pak Zidan saat berjalan masuk ke dalam ruangan ini"


"Terima kasih atas pujiannya. Aku merasa sangat beruntung sekali bisa mendengar pujian seperti itu dari anda yang merupakan klien penting Zidan" jawab Kinara tersipu malu seperti orang yang sedang jatuh cinta.


"Sama-sama bu Kinara"


"Yah meskipun kami memang terlihat sangat serasi seperti kata anda, tapi pada nyatanya kami hanyalah memiliki hubungan sebagai anak dan ibu tiri, tidak lebih. Kinara sampai datang menemaniku ke acara ini juga bahkan tanpa sengaja, iyakam Kinara?" sela Zidan cepat, mempertegas hubungan diantaranya dan Kinara.


"Ah, iya benar" jawab Kinara dengan wajah merah padam menahan malu, karna sudah senang sendiri seperti orang bodoh.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2