The Ugly Wife

The Ugly Wife
Menemukan Kemal


__ADS_3

Zidan yang masih berada ditengah hutan seorang diri, menatap langit malam yang dipernuhi bintang dengan perasaan frustrasi.


Sesekali dirinya melirik ke layar ponsel yang menyala terang disampingnya, berharap akan ada sinyal jaringan yang muncul disana, namun hasilnya nifil.


Pria itu pun menjadi semakin gelisah. Bukan karna takut, melainkan dirinya cemas akan membuat Asyifa menanti dengan khawatir karna tidak ada kabar darinya untuk hari ini.


Setiap harinya di waktu yang sama, Zidan selalu menyempatkan diri untuk menelpon Asyifa dan mengabarkan pada wanita itu, apa saja yang telah dirinya dan timnya capai dalam pencarian Kemal.


"Arrggghhhh! Sekarang aku harus bagaimana, apa aku benar-benar harus bermalam disini? Kalau memang harus bermalam, setidaknya berikan ponselku sinyal!" gerutu Zidan keras.


Tiba-tiba dari arah samping, terdengar bunyi ranting yang patah, serta derap langkah seseorang yang sedang datang menuju ke arah Zidan.


Dengan cepat Zidan bereaksi dan mulai memasang pertahanan diri, dengan meraih sebuah tongkat kayu yang dibawanya dari tenda sebagai penopangnya saat berjalan di dataran yang menanjak.


Saat sosok itu semakin mendekat, Zidan pun mengangkat tinggi-tinggi tongkat yang di pengangnya. Tapi betapa terkejut dirinya saat mendapati bahwa yang datang adalah sosok yang menjadi tujuannya datang ke tempat ini.


Sosok yang sudah lebih dari seminggu ini terus dicarinya dengan susah payah, sosok yang ditangisi oleh wanita yang sangat Zidan cintai.


Yah, itu adalah sosok Kemal, berjalan dengan langkah terseok-seok menuju ke arah Zidan. Meskipun wajah Kemal terlihat kumal, namun Zidan masih bisa mengenalinya dengan baik.


Tubuhnya terlihat ringkih dan tak bertenaga, karna kekurangan makanan, dan hanya bisa memakan apa yang telah disediakan alam untuknya.


"O_om Kemal?" panggil Zidan ragu, masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"Zidan? Ah, ternyata cahaya yang kami lihat barusan, berasal dari senter yang kau bawa. Syukurlah, aku pikir ada seseorang yang telah tersesat sendirian di hutan ini" ucap Kemal sambil tersenyum senang.


Zidan yang melihat senyum di wajah Kemal, serta suaranya yang dipaksakan supaya bisa terdengar baik-baik saja, seketika menjadi sedih.


Bagaimana bisa pria yang ada dihadapannya saat ini masih bisa tersenyum seperti itu, setelah mengalami kecelakaan pesawat, dan harus terkurung selama berhari-hari di dalam hutan belantara tanpa makanan dan juga minuman.


Sedangkan Zidan yang baru beberapa jam saja tersesat disana, sudah mengeluh dan marah tak jelas.


"Zidan memang tersesat om. Zidan bisa ada disini, karna sedang mencari keberadaan om Kemal"


"Maafkan om karna sudah membuatmu harus kesusahan seperti ini Zidan. Kamu pasti melakukan semua ini karna dipaksa oleh Asyifa kan?"


"Sekali pun Asyifa tidak memintaku untuk mencari om, aku akan tetap melakukannya. Karna aku ingin mematahkan isi dari surat yang tulis untukku"


"Ah, surat itu. Berarti sekarang kamu sudah berhasil mematahkan isi surat tersebut, karna kamu sudah berhasil menemukan om dalam keadaan masih hidup"


"Benar sekali. Tapi sayangnya, aku tidak bisa membantu om keluar dari hutan ini sekarang, karna petaku hilang, makanya aku tersesat seorang diri seperti ini"


"Hahahaha, seorang pencari kehilang peta, sungguh cerita yang lucu. Tapi tidak masalah, kita bisa keluar besok pagi dari sini ketika cahaya matahari muncul. Untuk saat ini, kita kembali saja ke tempat dimana korban lain berada"


"Ko_korban lain? Maksud om, masih ada lagi korban yang selamat selain om?" tanya Zidan terkejut.


"Iya, masih ada. Awalnya memang cuman ada om dan seorang anak perempuan, tapi kami pun mulai menemukan korban lain yang juga masih selamat secara bertahap. Hingga kami sekarang berjumlah 5 orang yang hidup, dan 10 orang yang sudah menjadi mayat"


"Sepuluh orang? Sebanyak itu korban hilang yang telah meninggal akibat kecelakaan pesawat?"


"Tidak. Yang langsung meninggal karna kecelakaan pesawat hanya ada 5 orang, dua orangnya meninggal karna luka yang diderita tak diobati dengan baik, lalu 3 orangnya meninggal karna kurangnya asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh"


Deg. Jantung Zidan seolah berhenti berdetak mendengar penuturan Kemal. Perasaan bersalah karna tidak bisa menemukan para korban tersebut dengan cepat, menghampiri dinya.

__ADS_1


"Itu semua sudah menjadi takdir mereka, Zidan. Semuanya bukanlah kesalahanmu atau pun anggota tim pencari lainnya. Karna om tahu, kalian pasti sudah berusaha sebaik yang kalian bisa" hibur Kemal, seolah bisa membaca isi pikiran Zidan.


"Apa lokasi om dan korban lainnya berada selama ini, jauh dari tempat terjatuhnya pesawat? Apa lokasinya dekat dari tempat kita berada sekarang, om?"


"Iya, lokasinya tidak jauh dari sini. Lokasinya menurun sedikit lagi kesana, nanti kamu pasti akan menemukan sebuah gubuk kecil yang kami bangun dengan bahan seadanya"


Zidan melihat ke arah dimana tangan Kemal terarah, dan saat itu juga emosinya menjadi tak terkendali. Dengan buas, Zidan mulai memukul batang pohon besar yang berada disampingnya sekuat tenaga.


Kemal yang melihat hal itu, langsung menjadi terkejut dan cepat-cepat menghentikan aksi Zidan dengan tubuh lemahnya. Mengingat kondisi pria tersebut, Zidan pun terpaksa berhenti.


Sebagai gantinya, Zidan merosot jatuh ke tanah dan menangis penuh penyesalan. Ia merasa sangat bodoh, dengan tidak percaya pada instingnya sendiri.


"Hatiku selalu menuju ke tempat itu, hatiku selalu berkata setiap saat untuk mencari diluar dari lokasi yang telah ditentukan. Tapi kenapa aku tidak mengikutinya sedari awal? Jika saja aku mengikutinya, mungkin korba yang kini sudah menjadi mayat, masih bisa ku selamatkan!"


"Itu bukan salahmu, tapi salahku" bantah sebuah suara dari arah belakang tubuh Zidan dan Kemal.


"Pak Willy? Kenapa bapak bisa berada di tempat ini?" tanya Zidan terkejut.


"Aku datang untuk mencarimu, karna kedua sahabatmu sangat khawatir dengan keadaan dirimu"


"Aku baik-baik saja. Harusnya mereka tidak perlu mencemaskanku, karna aku baru beberapa jam berada disini, tidak seperti para korban"


"Jangan berbicara seperti itu, dan jangan menyalahkan dirimu sendiri atas semua yang telah terjadi. Kamu sudah melakukan yang terbaik yang bisa kamu lakukan, jika ada yang harus disalahkan, itu adalah aku. Karna aku lah yang tidak mendengar pendapatmu untuk mencari di luar lokasi. Maafkan aku Zidan, maafkan aku pak" ucap Willy meminta maaf kepada Zidan dan juga Kemal.


"Bukan salah kalian, memang takdir kami lah yang harus berjalan seperti ini. Yang penting sekarang kalian telah menemukan kami, dan bisa membawa kami keluar dari sini"


"Tentu pak. Aku akan memberikan sinyal kepada anggota tim lainnya supaya bisa segera menyusul ke tempat ini"


Willy pun menembakkan sinyal ke udara sebagai tanda dirinya meminta bantuan dari timnya. Keadaan yang gelap, membuat cahaya tersebut menjadi sangat terang diatas langit.


"Tentu, mari ikuti aku"


Zidan dan Willy pun langsung mengikuti langkah kaki Kemal yang berjalan sangat pelan, menuju ke gubuk tempat dimana yang lainnya berada.


Namun karna kasihan melihat Kemal yang kesulitan berjalan, Zidan pun memikirkan sebuah cara untuk bisa membantu pria itu.


"Om Kemal"


"Iya, ada apa Zidan?"


"Apa om akan merasa keberatan, kalau Zidan menawarkan diri untuk menggendong om Kemal di atas punggung Zidan?"


"Om pasti akan sangat berterima kasih atas bantuanmu itu, Zidan" jawab Kemal tulus.


Dengan sigap, Zidan pun menunduk di depan Kemal supaya punggugnya bisa dinaiki. Setelah Kemal berada diatas sana, ia pun menunjukkan arah dengan tangannya kepada Zidan dan Willy.


*****


Tak butuh waktu lama, perjuangan untuk mengeluarkan para korban selamat dan juga membawa jasad korban lainnya, akhirnya pun dimulai.


Perjuangan itu terasa sangat lama, karna semua anggota tim harus bekerja dengan keadaan yang tidak mendukung. Kurangnya pencahayaan, menjadi permasalahan utama mereka.


Namun demi bisa mengeluarkan semuanya dari hutan malam itu juga dan membawa mereka pulang kembali ke dalam pelukan anggota keluarganya, semua orang berjuang tanpa patah semangat.

__ADS_1


Setelah beberapa jam, akhirnya semua perjuangan itu terbayar lunas, dengan melihat betapa semangatnya para korban menikmati makanan yang disediakan untuk mereka.


Bahkan mereka meniknatinya dengan wajah penuh bercucuran air mata. Hanya Kemal yang terlihat sibuk memperhatikan mereka, memastikan bahwa semuanya mendapatkan apa yang mereka butuhkan.


"Om, om juga harus memakan makanan yang telah disediakan untuk om" tegur Adam.


"Om merasa terharu melihat orang-orang yang beberapa waktu lalu telah kehilangan harapan mereka, kini telah kembali memiliki harapan tersebut. Itulah mengapa om tidak bisa makan sama sekali"


"Adam juga merasakan perasaan yang sama dengan yang om rasakan. Dan akan lebih sempurna lagi, kalau om mulai memakan makanan om sendiri. Atau, om ingin adam bantu suapkan?"


"Hahaha, apa kamu pikir om anak kecil, jadi tidak bisa makan sendiri?" tanya Kemal tertawa riang.


"Kalau begitu, om harus mulai memakannya sekarang. Aku akan duduk dan mengawasi om dari sini"


"Baiklah, om akan makan sekarang"


Kemal pun mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sesendok demi sesedok. Adam yang melihatnya, tersenyum senang.


Zidan, Raka serta Willy yang ikut mengawasi Kemal dari jauh pun ikut senang. Awalnya Zidan mengira ada yang salah dengan pria tersebut, entah mengapa ia seperti takut untuk memakan makanan yang ada.


Namun tiba-tiba tubuh Kemal memberikan reaksi yang aneh. Pria itu tiba-tiba saja memuntahkan semua makana yang baru saja ia masukan ke dalam mulutnya.


"Om Kemal!" teriak Zida panik dan segera menghampiri pria itu.


"Apa yang terjadi, Dam?"


"Aku juga tidak tahu, Raka. Tiba-tiba saja om Kemal memuntahkan makanannya"


"Om? Om baik-baik saja kan? Apa yang om rasakan sekarang?" tanya Zidan bertubi.


"Om baik-baik saja. Kalian semua tidak perlu khawatir seperti itu, om memuntahkan makanannya mungkin karna sudah beberapa hari tidak memakannya"


"Kita harus tetap memeriksa keadaan bapak, suapaya bisa mengetahui lebih jelas apa yang terjadi. Aku akan memanggil seorang dokter dan membawanya kesini"


"Aku akan sangat berterima kasih atas hal tersebut, pak Willy"


Willy pun pergi menuju tenda yang berada sangat ujung daru tenda-tenda lainnya. Karna disanalah tenda yang menjadi tempat khusus balai pengobatan, tentu saja semua dokter ada disana.


Untungnya korban lain sudah diperiksa terlebih dulu sebelum mereka disuruh makan, jadi sekarang pastilah para dokter sedang bebas bertugas dan bisa segera menangani Kemal.


Disisi lain, Kemal yang berusaha untuk kembali memasukan makanan ke dalam mulutnya, hanya berakhir dengan muntah lagi. Tapi kali ini muntahnya menjadi semakin parah, hingga wajahnya berubah menjadi sepucat mayat.


Kemal yang tidak ingim mengakui bahwa keadaannya saat ini tidak baik-baik saja, supaya tidak membuat ketiga pemuda yang ada disampingnya cemas, kembali ingin memasukkan makanan lagi ke mulutnya.


Namun dengan cepat, niatnya dihentikan oleh Zidan. Pria itu segera merampas sendok di tangan Kemal, dan menjauhkan makanan tersebut dari hadapannya.


"Aku rasa keadaan om tidak baik-baik saja sekarang. Makannya cukuo sampai disini dulu, biarkan dokter untuk memeriksa kondisi kesehatan om terlebih dulu"


"Astaga, om baik-baik saja Zidan. Kembalikan makanan om, supaya om bisa mulai mengisi perut karna sekarang om sangat lapar sekali"


"Om tidak bisa memakannya. Sedari tadi, baru sesendok saja yang masuk, om langsung memuntahkannya lagi. Raka pikir, apa yang dikatakan Zidan barusan ada benarnya. Biar dokter memeriksa keadaan om dulu"


Kemal yang bersikeras kakau dirinya tidak apa-apa, pun bangkit berdiri untuk mengambil kembali makananya yang ada ditangan Zidan. Namun tiba-tiba kepalanya menjadi sangat pusing.

__ADS_1


Dengan perlahan kemal mulai kehilangan keseimbangannya, dan ia pun terjatuh ke tanah dengan mata tertutu rapat, membuat Zidan dan kedua sahabatnya beteriak kaget.


Bersambung...


__ADS_2