
Setelah perkenalan Asyifa dan Lilian, kedua wanita itu menjadi semakin akrab dari hari ke hari. Keduanya juga kerap kali bertemu untuk sekedar makan atau berbelanja bersama.
Lilian juga mengajak Asyifa untuk pergi merawat diri ke salon atau pun tempat kecantikan lainnya. Dan tentu saja Asyifa tidak mungkin lupa mengajak Angel dan Mira untuk turut serta.
Seperti hari ini, keempatnya sedang berada di sebuah salon untuk perawatan rambut. Lilian, Angel dan juga Mira sedang asyik menikmati sentuhan tangan para staf salon diatas kepala mereka.
Namun tidak begitu dengan Asyifa. Wanita itu tampak berusaha menjauh dari ketiganya seperti ada yang ditakutinya.
"Asyifa? Apa yang kamu lakukan disitu, nak? Ayo cepat ke sini"
"Tidak bunda. Asyifa untuk kali ini, tidak usah perawatan rambut dulu"
"Loh, kenapa sayang? Bunda pikir kamu yang paling bersemangat tadi saat diajak ke salon untuk perawatan. Kenapa sekarang kamu berubah pikiran?"
"Asyifa hanya tiba-tiba saja merasa kurang enak badan, bunda" jawab Asyifa yang wajahnya nampak pucat.
"Kamu sakit? Kalau begitu kita akhiri saja perawatannya dan temani kamu pulang yah?" ucap Lilian sambil bangkit berdiri.
Mira dan Angel turut menatap Asyifa dengan tatapan cemas. Keduanya pun menyuruh staf untuk berhenti sejenak.
"Tidak usah bunda. Bunda dan Angel serta Mira lanjutkan saja perawatannya, Asyifa bisa menunggu di kursi yang ada diteras salon"
"Kenapa tunggunya diluar, Fa? Di dalam saja, biar kita juga bisa sambil mengawasimu. Takutnya terjadi sesuatu padamu, iyakan bunda?"
"Betul kata Angel, sayang. Duduknya di dalam saja, biar nanti bunda suruh orang untuk membelikanmu cemilan supaya bisa kamu makan sambil menunggu kami"
"Asyifa diluar saja bun, sekalian mau cari udara segar juga" jawab Asyifa dengan suara tercekat, seolah menahan sesuatu.
Lilian yang khawatir dan takut jika kondisi Asyifa lebih buruk dari yang ia duga, pun menghampiri wanita itu sambil mengulurkan tanggannya ingin menyentuh kening Asyifa perlahan.
Tapi Asyifa yang ternyata merasa mual saat mencium bau obat yang dipakai para staf salon untuk perawatan mereka, segera berlari menuju arah toilet karna tidak tahan lagi ingin mengeluarkan isi perutnya.
Melihat tingkah aneh Asyifa, ketiganya pun segera bergegas menyusul Asyifa dengan panik. Setiba di depan toilet, mereka mendengar suara Asyifa yang sedang muntah dari balik salah satu bilik toilet yang ada.
"Asyifa, kamu baik-baik saja kan?" tanya Mira panik sambil mengedor pintu, seolah ingin merubuhkannya saat itu juga.
"Aku baik-baik saja, Ra. Cuman sedikit mual, tapi setelah muntah sudah lebih baik rasanya" jawab Asyifa dengan suara melemah.
"Angel, tolong bawakan sebotol air mineral untuk Asyifa, sayang"
"Baik bunda"
Setelah Angel kembali dari mengambil air mineral untuk Asyifa, wanita itu juga baru saja keluar dari toilet. Tapi saat akan dibantu oleh Mira, ia kembali mual dan masuk kembali ke dalam toilet untuk muntah lagi.
"Astaga, ada apa sebenarnya denganmu Asyifa? Kenapa kamu muntah lagi?"
"Aku tidak bisa tahan mencium bau obat yang ada di kepalamu, Ra. Tiap kali menciumnya, rasanya aku ingin segera memuntahkan semua isi perutku"
Mira menyentuh obat yang ada di kepalanya dan menciumnya. Memang baunya sangat kuat dan menusuk hidung, tapi Mira merasa biasa saja dan tidak mual seperti yang dialami Asyifa.
"Bagaimana ini, rambut bunda dan kalian berdua, kan sama-sama dipenuhi sama obat. Kita tidak bisa membantu Asyifa kalau begini, yang ada makin memperparah mualnya"
"Kalau begitu, biar Angel duluan saja yang pergi membilas rambutku bunda. Biar setelah itu aku yang akan membantu Asyifa keluar dari toilet"
"Ide bagus. Pergilah, bunda dan Mira akan berjaga menemani Asyifa disini"
Selesai membilas dan mengeringkan rambutnya, Angel pun membantu Asyifa kembali ke mobil untuk menunggu Lilian dan Mira.
Mereka berencana untuk pergi makan siang bersama, supaya Asyifa bisa mengisi kembali isi perutnya yang sudah terkuras habis.
"Angel, boleh tidak kita jangan pergi makan dulu? Kita ke tukang jual rujak langganan kita dulu yah, aku pengen makan rujak"
"Tidak bisa dong Asyifa, kamu kan baru saja muntah, masa sudah mau makan rujak. Nanti bisa sakit perut"
Meskipun dilarang oleh Angel, Asyifa tetap tidak bisa menghilangkan rasa ingin makan rujak yang selalu terbayang. Bahkan air liurnya hampir menetes saking inginnya.
Karna tidak ada satu pun yang berniat untuk mengikuti keinginannya, Asyifa akhirnya merajuk dan tidak ingin berbicara sedikit pun pada semua orang selama perjalanan ke tempat makan.
"Sudah dong Fa. Masa hanya karna tidak di kasih ijin makan rujak, kamu jadi ngambek dan tidak mau bicara pada kami?" bujuk Mira pada Asyifa, ketika mereka sudah sampai, dan sedang menunggu pesanan.
"Tidak biasanya kamu seperti ini, merajuk hanya karna hal sepele. Apa kamu lagi PMS yah, Fa?"
"Siapa yang PMS? Bulan lalu saja aku tidak datang bulan, bahkan sampai hari ini juga belum!" gerutu Asyifa kesal.
"Kok marah-marah seperti itu sih, Fa? Kan Angel cuman bertanya karna khawatir sama keadaan kamu"
__ADS_1
"Tadi kamu bilang belum datang bulan dari bulan lalu kan? Apa sebelumnya pernah ada kejadian, kamu terlambat datang bulan sampai selama itu?"
"Tidak pernah bunda, ini pertama kalinya sampai seperti ini, karna biasanya Asyifa selalu tepat waktu. Mungkin karna strees lambat datang bulan yang membuat perasaan Asyifa jadi berubah-ubah dan emosi jadi tidak stabil"
"Sepertinya bunda tahu kamu kenapa sayang. Semua yang kamu alami saat ini, bukan karna efek stress dari terlambat datang bulan"
"Lalu karna apa bunda?" tanya ketiga wanita muda itu pada Lilian.
Tapi saat Lilian baru saja akan menjawab pertanyaan ketiganya, dua orang pelayan datang membawakan makanan laut yang di pesan mereka.
Saat mencium aroma udang sebagai salah satu menu pesanan mereka, rasa mual di dalam diri Asyifa mulai muncul kembali. Namun kali ini jauh lebih parah dari yang sebelumnya.
"Jauhkan makanan itu dariku!" teriak Asyifa dengan suara lantang, membuat semua orang yang ada disana memandangnya terkejut.
Kedua pelayan yang mendengar perintah Asyifa, hanya bisa menuruti dengan mundur perlahan. Dengan gerakan anggun, Lilian bangkit dan meminta maaf pada semua orang.
"Makanan apa yang membuatmu mual? Biar bunda suruh mereka membawa kembali makanan itu pergi"
"Udangnya bunda"
"Maafkan anakku yang tanpa sadar berteriak dengan suara keras kepada kalian berdua, tapi aku pastikan itu tidak disengaja"
"Tidak apa-apa bu. Oh iya, apa udangnya mau dibawa pergi saja, bu?"
"Iya, tolong. Terima kasih atas pengertiannya, karna anakku sedang hamil jadi banyak sekali permintaannya secara tiba-tiba"
"HAMIL??"
*****
"Ini bunda alat tes kehamilannya, apa segini cukup untuk dipakai sama Asyifa? Atau perlu Mira belikan lagi, kebetulan apoteknya tidak jauh dari sini"
Angel dan Lilian memandang dengan tatapan ngeri melihat tumpukan alat tes kehamilan yang baru saja dibeli Mira. Jumlahnya mungkin ada sekitar belasan.
"Ti_tidak usah Mira. Ini bahkan sudah lebih dari cukup, sayang"
"Bunda, lain kali sebaiknya untuk hal yang semacam ini biar Angel saja yang pergi. Aku takut dia mungkin akan memborong satu apotek pulang ke apertemen kami"
Dengan cepat Lilian menganggukkan kepala tanda setuju. Mira yang tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, hanya bisa terseyum kaku.
"Bunda, Asyifa sudah minum airnya dan aku sekarang merasa ingin kencing!"
"Se_sebanyak ini bun?" tanya Asyifa tak kalah terkejutnya dengan Angel dan Lilian.
"Tentu saja tidak. Kamu boleh memakai tiga saja supaya lebih yakin dengan hasilnya, atau kalau kamu pakai satu juga tidak masalah"
"Harap maklum, Fa. Mira saking semangatnya akan memiliki seorang keponakan, jadi dia tanpa sadar memborong apotek"
"Ah begitu. Yah sudah, aku langsung tes saja yah? Doakan aku, semoga hasilnya sama seperti yang dikatakan oleh bunda"
"Amin"
Ketiganya dengan gerakan gelisah dan tidak sabaran mulai mondar-mandir di depan pintu, menunggu Asyifa.
"Arrrrrghhhhhhh, aku hamil!" teriak Asyifa histeris dari dalam kamar mandi.
"Hore! Bunda dan Angel dengar itu kan? Asyifa hamil! Akan ada malaikat kecil yang akan datang diantara kita semua!"
"Kita berdua akan jadi tante, Ra!"
"Bunda juga akan jadi nenek!"
Dan begitulah, kehebohan itu terus berulang selama tiga kali Asyifa melakukan tes. Seolah tidak merasa lelah sedikit pun, ketiganya mulai mengambil foto bersama Asyifa dan alat tes kehamilan dengan berbagai gaya.
"Aku tidak menyangka akan secepat ini memiliki seorang anak dalam rahimku. Aku rasanya ingin menangis saja"
"Kamu pantas memilikinya Asyifa. Dan aku yakin, William juga pasti akan sama bahagia seperti kami saat tahu kabar baik ini"
"Aku tidak sabar untuk memberitahukan hal ini padanya, Angel. Bagaimana ini, aku rasanya ingin cepat-cepat bertemu dengan William!"
"Hahaha, bunda bisa mengerti bagaimana perasaanmu saat ini, karna bunda juga pernah mengalaminya. Tapi, apa kamu tidak ingin menyusun kejutan untuk suamimu itu?"
"Kejutan? Kedengarannya menyenangkan. Tapi Asyifa belum pernah melakukan kejutan seorang diri, bun"
"Tidak usah berpikir yang rumit-rumit, cukup yang simpel saja. Bungkus saja salah satu alat tes kehamilan itu pada sebuah bingkisan dan berikan pada William. Selesai!"
__ADS_1
"Yang Mira katakan benar. Lakukan saja dengan cara sederhana seperti itu, tapi pasti akan menjadi sangat berkesan untuknya"
"Terima kasih saran dan bantuannya semua. Aku akan kembali pulang ke rumahku sekarang juga untuk menyiapkan semuanya. Doakan aku semoga berhasil!" pamit Asyifa segera bersiap untuk pergi.
"Biar aku saja yang mengantarmu"
"Tidak, terima kasih. Aku sedang ingin pergi seorang diri menggunakan taksi online"
"Jangan lupa siapkan suamimu makan malam romantis dan juga enak!"
"Tentu saja bunda!"
"Jangan lupa berhubungan intim, supaya kalian menjadi semakin tak terpisahkan!"
"Dasar kamu mesum, Mira!
*****
William berdiri dengan gerakan gelisah saat melihat lampu di depan teras rumahnya belum menyala. Itu juga berarti menjadi tanda bahwa istrinya belum pulang.
Awalnya William tidak terlalu khawatir dan langsung mencoba menelpon ponsel Asyifa. Namun meskipun sudah di telpon berulang kali, tak ada satu pun yang dijawab oleh wanita itu.
William segera mencari nomor Angel dan menghubunginya, karna sepengetahuannya Asyifa hari ini mempunyai janji bertemu dengan dua sahabatnya.
"Halo, Angel. Maaf menganggu waktumu dengan menelpon malam-malam seperti ini"
"Tidak masalah. Tapi ada perlu apa yah, Will?" tanya Angel dari seberang sana.
"Aku ingin bertanya, apakah sekarang Asyifa sedang berada di apertemen kalian? Soalnya aku baru sampai di rumah, tapi semua lampu tampak belum ada yang menyala satu pun"
"Asyifa? Dia tidak ada disini, Will. Bukannya dia sudah pulang dari sore yah?"
"Dia sudah pulang dari sore? Astaga, lalu dimana dia sekarang? Apa dia tidak berkata sesuatu pada kamu dan juga Mira, misalkan dia ingin mampir ke suatu tempat sebelum pulang ke rumah?"
"Seingatku tidak. Dia berkata ingin cepat pulang dan menyiapkan makan malam untuk kalian. Hanya itu saja, tidak ada yang lain"
"Ah, baiklah kalau begitu. Tapi jika kamu mendapatkan kabar tentang dimana Asyifa sekarang, tolong hubungi aku yah?"
"Pasti akan aku hubungi"
Setelah selesai berbicara dengan Angel di telpon, William mencoba untuk membuka pintu rumahnya. Dan betapa terkejut dirinya saat mendapati pintu yang seharusnya masih dalam keadaan terkunci, malah dengan mudahnya terbuka begitu saja.
Dengan perlahan, William mulai melangkah masuk ke dalam rumah besar yang nampak gelap tanpa ada satu pun lampu yang menyala.
"Asyifa? Apa kamu ada di dalam, sayang? Aku mohon tolong jawab aku, kalau kamu ada di dalam, Asyifa!" teriak William, membuat suaranya menggema diseluruh sudut rumah.
Setelah beberapa kali memanggil nama Asyifa, tanpa satu pun dijawab, tiba-tiba satu persatu lampu mulai menyala secara berurutan. Membuat William sangat terkejut.
"KEJUTAN!" teriak Asyifa dari lantai dua sambil kemudian berlari turun menuju ke arah sang suami.
"Asyifa! Kamu sengaja melakukan semua ini? Kenapa sampai berani membiarkan pintu utama tidak terkunci, bagaimana kalau yang masuk tadi bukan aku tapi orang lain dengan tujuan jahat?"
"Aku kan sedang memberikan kejutan padamu, jadi harus seperti itu supaya lebih terlihat nyata. Lagian aku sudah meminta bantuan pak satpam untuk mengawasi rumah kita sampai kamu pulang, jadi tenang saja sayang"
"Lain kali aku tidak ingin ada kejadian seperti ini, sekali pun itu dilakukan untuk memberi kejutan padaku!"
Mendapat omelan dari William yang tampak benar-benar marah, membuat perasaan Asyifa seketika menjadi sedih. Ia kemudian hanya bisa menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan berlari kembali ke dalam kamar dan menguncinya.
"Asyifa, aku belum selesai bicara!" teriak William.
Dengan kesal, pria itu melempar tas kerjanya begitu saja ke atas sofa yang ada di ruang tamu, kemudian berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air.
Namun saat memasuki dapur, William dibuat terkejut dengan penampakan dihadapannya. Meja makan yang ada dalam dapur, sudah di sulap menjadi tempat makan malam romantis dengan berbagai macam makanan terhidang diatasnya serta di dampingi oleh dua buah lilin putih yang masih menyala.
Tak hanya itu saja, ditengah semua itu ada sebuah bingkisan kecil yang membuat William penasaran.
Ia kemudian maju mengambil bingkisan itu untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Ternyata sebuah alat tes kehamilan dengan dua garis, yang berarti pemilik benda itu sekarang sedang hamil.
"Milik siapa ini? Apa mungkin Asyifa?" tanya William masih kelihatan bingung.
Namun semua pertanyaannya menjadi jelas saat ia melihat tulisan di dinding, yang membuatnya segera berlari menuju ke lantai dua tempat dimana Asyifa berada.
"Asyifa, sayang apa maksudnya semua tulisan di dapur? Apa semua itu benar, kamu tidak sedang bercanda dengaku kan?"
"Pikir saja sendiri!"
__ADS_1
Mendengar jawaban ketus dari sang istri, membuat William sadar kalau dirinya sudah melakukan kesalahan terbesar selama ia hidup. Yaitu membuat marah seorang wanita yang sedang hamil muda.
Bersambung...