
Raka dan Adam berjalan memasuki ruang tamu apertemen Zidan, sambil menenteng sebuah tas kecil yang di dalamnya terdapat sebuah map mengenai identitas Elisa dan juga keluarganya.
Ketika sampai dalam ruang tamu, disana sudah menunggu Zidan dan Asyifa, beserta Angel dan juga Mira, yang penasaran dengan hasil yang dibawa oleh kedua pria itu.
"Bagaimana? Apa kalian berdua berhasil mendapatkan informasi tentang anak kecil yang bernama Elisa dan juga keluarganya?" tanya Zidan tak sabaran.
"Tentu saja aku dan Adam mendapatkannya. Tapi kalau aku tidak salah, apakah gadis kecil yang kamu suruh cari identitas jelasnya ini, adalah gadis yang sama dengan yang telah menjadi korban terakhir ibunya Eden?"
"Iya, itu adalah gadis yang sama"
"Wah! Kenapa kamu menyuruhku dan Adam mencari identitas lengkap seorang gadis yang sudah meninggal, beserta dengan identitas seluruh keluarganya?"
"Itu karna, identitaa penculik Eden saat ini, bisa jadi adalah keluarga gadis itu" jawab Asyifa tenang.
"Apa? Jadi, motif penculikan Eden oleh sang perawat gadungan itu, adalah karna alasan dendam atas kematian keluarganya? Lalu, apakah perawat itu adalah ibu dari gadis yang menjadi korban pembunuhan?" tanya Adam, penasaran.
"Motifnya memang sudah bisa dipastikan kalau itu adalah untuk balas dendam. Tapi untuk hubungan keduanya, bukan ibu dan anak, melainkan kakak dan adik"
"Astaga, benar-benar diluar dugaan. Tapi kenapa dia meninggalkan adiknya di panti asuhan? Harusnya kan dia bisa merawatnya dan memberikannya tempat tinggal bersama" protes Mira kesal.
"Entahlah. Itu juga yang membuatku sedikit bingung dengan keputusan yang diambil olehnya. Tapi mungkin, dia bisa saja memiliki alasannya sendiri mengapa harus seperti itu"
"Benar kata Asyifa. Dan mungkin, aku dan juga Raka bisa menerangkan kepada kalian mengenai hal tersebut"
"Tapi tunggu dulu. Ada satu hal lagi yang membuatku penasaran. Kenapa kalian tidak meminta bantuan dari pihak berwajib saja untuk menemukan kakak gadis itu? Bukannya akan lebih mudah yah?"
"Itu karna aku lah yang memang sedari awal tidak ingin melibatkan pihak berwajib dalam kasus ini, Angel"
"Loh, kenapa Fa? Bukannya kamu sudah meminta bantuan mereka sejak pertama kali mengetahui Eden diculik?"
"Aku memang meminta bantuan mereka waktu itu, tapi sekarang semuanya menjadi sedikit berbeda keadaannya"
"Berbeda? Apanya yang berbeda, Fa?" tanya Mira, ikut penasaran seperti Angel.
"Aku merasa akan sangat bersalah kalau sampai melibatka pihak berwajib untuk bisa menangkap kakak Elisa. Seperti yang kita tahu, kalau dia sudah kehilangan sosok adik yang berharga baginya. Lalu jika kita malah ingin memenjarakannya, karna dia berniat mencari keadilan dengan caranya sendiri, bukannya itu akan semakin membuat hatinya hancur?" jelas Asyifa, dengan ekspresi sedih.
"Oke, yang dikatakan olehmu ada benarnya kalau dia memang sudah kehilangan adiknya, tapi bukan berarti dia bisa melakukan hal yang sama kepada Eden untuk membalaskan dendamnya. Lagipula Eden tidak bersalah, tapi ibunya lah yang bersalah!"
"Aku tahu Mira. Tapi tetap saja, apa kamu tidak merasa bersalah memasukkan seorang kakak yang baru saja kehilangan adiknya ke balik jeruji penjara? Kita kan bisa mendatangi dirinya, dan membujuknya untuk tidak lagi melakukan perbuatan jahat, hanya demi untuk balas dendam. Apa tidak bisa menyelesaikan masalah ini dengan cara baik-baik saja?"
"Bagus sekali! Semuanya, dan setiap ada suatu kejadian mau itu kejadian besar atau kecil, kamu selalu ingin menyelesaikannya dengan baik-baik. Apa kamu bahkan sempat berpikir, bagaimana keadaan Eden sekarang dari pda memikirkan perasaan penculik itu?" mara Mira, tak setuju dengan apa yang Asyifa katakan.
"Aku tidak pernah bilang kalau aku tidak memikirkan keadaan Eden. Aku memikirkan keadaan Edem juga Mira, tapi bisa saja kan Eden sekarang dalam keadaan baik-baik saja, mengingat wanita itu sempat berniat untuk mengbalikan Eden padaku. Jadi apa salahnya kalau kita melakukan cara yang baik pula untuk menemuinya?"
"Hah, terserah kamu saja lah! Semua yang disini pasti akan sentuju dengan keputusan yang diambil oleh Asyifa bukan? Jadi untuk apa lagi aku bicara panjang lebar!"
Mira yang merasa kesal karna pendapatnya tak didengarkan, memilih untuk keluar dari dalam apertemen Zidan, dan pergi ke dalam apertemennya.
Asyifa dan yang lainnya yang melihat Mira pergi dari sana, hanya bisa menghela nafas perlahan tanpa ingin mencengahnya sama sekali.
Karna memilih berbicara pada gadis itu disaat dirinya sedang marah, adalah suatu pilihan yang paling terburuk, karna hanya akan membuat perasaan Mira menjadi jauh lebih buruk lagi.
"Biarkan saja dia pergi. Sebaiknya kita semua lanjutkan saja dengan mendengar informasi yang telah didapatkan oleh Raka dan Adam mengenai gadis itu. Untuk urusan Mira, biar aku saja nanti yang akan mengurusnya" usul Angel yakin.
"Aku setuju dengan usulan Angel. Sekarang yang lebih penting adalah mengetahui secara pasti identitas dari penculik Eden tersebut, dan juga segera menyelamatka Eden" timpal Raka setuju.
"Baiklah kalau begitu. Silakan masing-masing dari kalian mengambil dokumen ini, dan mulai membacanya dengan teliti. Ini adalah hasil yang aku dan Raka kumpulkan mengenai identitas lengkap gadis itu, dan juga semua anggota keluarganya"
__ADS_1
Dengan cepat, Adam memberikan dokumen tersebut kepada Asyifa, Zidan, dan juga Angel supaya bisa segera dibaca.
Seketika itu juga, suasana dala ruang tamu apertemen Zidan pun menjadi sunyi tanpa ada suara seorang pun yang berbicara. Karna kini Asyifa, Zidan, dan juga Angel, sedang memfokuskan perhatian pada dokumen yang diberikan oleh Adam.
Setelah beberapa saat memberikan waktu pada ketiga orang itu untuk membaca, Raka kemudian bangkit berdiri dari duduknya untuk mulai menerangkan informasi tersebut.
"Seperti yang sudah kalian baca tadi, bahwa kedua orang tua Elisa, telah dipastkan sudah meninggal dunia. Itu berarti, perkataan Asyifa yang mengatakan bahwa wanita yang telah menculik Eden itu adalah kakak Elisa, adalah benar adanya. Karna memang mereka hanya lah dua bersaudara saja"
"Untuk alasan mengapa Elisa ditinggalkan di panti asuhan milik ibu Eden yang ada di desa, itu karna kakak Elisa yang namanya adalah Elina ini, juga pernah tinggal di panti asuhan yang sama dengan adiknya. Tapi karna harus menempuh pendidikan di bangku kuliah dan juga sambil bekerja, tentunya menitipkan Elisa di panti asuhan adalah pilihan terbaik yang bisa diambil oleh Elina" timpal Adam.
"Lalu kenapa dia tetap tidak menjemput Elisa tinggal bersama dengannya, meski sudah selesai kuliah dan juga memiliki perkerjaan yang tetap sebagai seorang perawat di rumah sakit terbesar di kota ini? Bukannya dengan kebaikan hidup yang dimilikinya itu, dia sudah sangat mudah merawat adiknya? Apalagi Elisa sudah cukup besar" tanya Zidan, terlihat penasaran.
"Untuk hal itu, aku dan Adam juga tidak tahu apa alasan Elina tetap tidak menjemput Elisa untuk bisa tinggal bersamanya"
"Aku rasa, aku mungkin tahu alasan Elina tidak melakukannya"
"Apa alasannya Adam?"
"Dari informasi tambahan yang aku dapatkan, ternyata Elina itu adalah kekasih dari seorang pria yang merupakan putra dari salah satu pemilik perusahaan yang cukup terkenal juga di bidangnya. Tapi, hubungan mereka malah ditentang oleh ibu pria itu, karna Elina yang merupakan seorang anak yatim piatu. Pasti kalian sendiri bisa menebak apa yang akan terjadi kan kalau sampai mereka melihat Elina juga memiliki seorang adik yang bisu seperti Elisa?"
"Maksudmu? Mereka akan lebih menentang hubungan itu, kalau tahu tentang kondisi Elisa? Bukannya itu sudah sangat keterlaluan yah?" tanya Angel syok.
"Mungkin kedengarannya keterlaluan, tapi memang seperti itulah prinsip orang-orang kaya zaman sekarang, yang memanda semua hal dari keuntungannya saja"
"Tapi tetap saja, melarang Elina membawa adiknya yang yatim piatu dan juga memiliki keterbatasan fisik untuk tinggal bersamanya, adalah suatu tindakan yang sangat tidak manusiawi!"
"Aku juga tahu hal itu, Zidan. Tapi ada satu hal yanh harus kalian tahu, bahwa keluarga pacar Elina, tidak pernah melarangnya untuk bisa membawa Elisa tinggal bersama dengannya, melainkan itu adalah keputusan yang Elina buat sendiri. Bahkan keluarga pacarnya sama sekali tidak tahu tentang keberadaan Elisa"
Terdiam, semua orang yang ada di ruangan itu sontak terdiam mendengar penjelasan Adam yang mengejutkan tentang apa yang sudah dilakukan oleh Elina.
Tapi Asyifa, terdiam karna merasakan kasian pada Elisa dan juga Elina secara bersamaan. Karna pastinya, Elina memilih melakukan hal itu dengan terpaksa.
"Bisa dibilang begitu. Lalu, apa saran kalian supaya kita bisa bertemu langsung dengan Elina, untuk bisa memintanya melepaskan Eden?" tanya Zidan.
Mendengar pertanyaan Zidan, Raka pun mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya dan segera diberikan kepada Zidan untuk dilihat.
Ternyata isi kertas itu, adalah tentang jadwal tentang jam berapa dan pada hari apa saja Elina bertugas di rumah sakit.
"Itu adalah jadwal jam dan juga haru Elina akan masuk kerja sebagai seorang perawat di rumah sakit. Kita bisa memilih salah satu dari waktu itu, untuk bisa bertemu dengannya" jelas Raka.
"Bukannya ini adalah besok yah? Dia akan masuk kerja di rumah sakit besok pada pukul 8 pagi, dan pulang pada pukul 6 sore"
"Benar sekali apa yang Asyifa katakan. Kalau mau, kita bisa langsung menemuinya besok, saat jam kerjanya selesai. Bagaimana?"
"Aku setuju. Kalau begitu, kita bertemu di depan rumah sakit sebelum jam 6 sore!" putus Zidan pasti, yang langsung disetujui oleh semuanya.
*****
Seperti rencana yang telah mereka sepakati bersama kemarin, rombongan itu sudah berkumpul di depan parkiran rumah sakit sebelum jam 6 sore.
Setelah Raka masuk ke dalam rumah sakit untuk mengecek kehadiran Elina disana, mereka pun segera menyusun rencana untuk bisa bertemu gadis itu tanpa dihindari.
"Aku rasa, kita harus membagi tim menjadi beberapa orang, dan menunggu di titik bagian rumah sakit yang berbeda. Karna Elina pasti sudah mengetahui siapa identitas kita dan juga hubungan kita dengan Eden. Apalagi, sebelumnya dia pernah memasang pelacak di mobilku, Raka dan juga Zidan"
"Benar juga yang dikatakan oleh Adam. Tapi sepertinya, dia belum mengenal sosok Angel dan juga Mira deh" timpal Raka.
Yah benar, Mira yang sebelumnya tidak setuju dengan rencana Asyifa untuk menemui Elina secara baik-baik, pada akhirnya harus setuju dan juga ikut dalam rencana itu karna adanya rayuan serta bujukan dari Angel dan juga Asyifa tentunya.
__ADS_1
"Dari mana kamu yakin kalau aku dan Angel tidak diketahui identitasnya oleh wanita itu? Kan bisa saja, dia sebenarnya malah sudah mengetahui identitas kami yang adalah sahabat dari Asyifa"
"Memangnya, mobil Angel dipasangi alat pelacak seperti yang dipasangi di mobilku, Adam dan juga Zidan?"
"Entahlah, aku tidak pernah mengeceknya secara saksama. Tapi sepertinya mobilku tidak dipasangi alat pelacak deh" jawab Angel berusaha terlihat yakin.
"Baiklah, anggap saja kalau mobil Angel memang tidak dipasangi alat pelacak seperti mobil kita bertiga. Maka yang harus berjaga dibagian depan rumah sakit, adalah Angel dan juga Mira" usul Zidan.
"Aku setuju, karna mungkin akan lebih mudah mengepungnya. Tapi jika ternyata dia malah mengenali kalian, maka harus secepatnya mengabarkan pada kami yang berjaga di titik lainnya"
"Aku setuju dengan usulan Raka dan juga Zidan" jawab Angel cepat.
"Bagus. Angel dan Mira berjaga di depan sini, Raka dan Adam berjaga di gerbang belakang rumah sakit, sedang aku dan juga Asyifa, akan berjaga di gerbang depan"
Dengan begitu, rombongan itu pun segera dipecah menjadi tiga tim di masing-masing titik yang berbeda. Keenam orang itu juga terlihat siaga dengan memegang ponselnya sebagai alat komunikasi mereka.
Begitu waktu menunjukkan pukul 6 sore lewat beberapa menit, sosok Elina yang sedang berjalan keluar dari dalam rumah sakit sambil menenteng sebuah tas dipundaknya, pun terlihat oleh Angel dan juga Mira.
Keduanya segera mengabarkan hal tersebut, melalui sebuah pesan pendek kepada yang lainnya, dan kemudian berjalan menuju tempat gadis itu berada.
Namun langkah mereka kurang cepat dari seorang pria yang sudah lebih dulu datang menghampiri Elina. Pria yang berwajah cukup tampan itu, memberikan kecupan mesra pada dahi Elina.
Dari sana, sudah dapat dipastikan kalau pria itu, adalah pacar Elina yang kemarin Adam katakan. Apalagi dalam percakapan keduanya saling memanggil sayang pada satu sama lainnya.
"Sial! Sepertinya dia dijemput oleh pacarnya, Ngel. Sekarang, apa yang harus kita lakukan? Apa kita sebaiknya mundur saja dulu, dan datang lagi di hari lain?" usul Mira.
"Entahlah, aku juga bingung. Bagaimana kalau kita mengabari Zidan dan yang lainnya saja, biar mereka yang memutuskan langkah apa yang sebaiknya kita ambil"
"Benar juga. Kalau begitu, biar aku saja yang akan menghubungi mereka"
Ketika sudah menekan tombol panggil pada nomor Zidan dan sedang menunggu nada sambung, tatapan Elina tanpa sengaja terarah pada keduanya.
Seketika itu juga, wajahnya yang tadinya sedang terseyum manis pada sang pacar, langsung berubah panik dan tanpa menunggu lama lagi, segera menyuruh pacarnya pulang terlebih dulu tanpa dirinya.
"Ra? Sepertinya dia mengenali kita deh. Dia bahkan tidak bisa menyembunyikan ekspresi paniknya saat melihat kita, apa dong yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Angel bingung.
"Dia mengenali kita? Kalau begitu sudah terlalu terlambat untuk mundur sekarang, jadi sebaiknya kita kejar dia sekarang!" teriak Mira dan berlari cepat ke arah Elina.
Angel yang mendengar itu, pun langsung mengikuti apa yang dilakukan oleh Mira. Sedang Elina yang melihat kedatangan kedua gadis itu secara tiba-tiba, mau tidak mau harus melarikan diri dan meninggalkan sang pacar begitu saja.
Elina yang berada di dekat pintu masuk, memilih melarikan diri kembali ke dalam rumah sakit. Alhasil, suasana rumah sakit yang harus tenang dan damai untuk bisa menunjang kesembuhan pasien di dalamnya, malah berubah menjadi arena kejar-kejaran oleh ketiga gadis itu.
"Mira? Halo, Mira? Apa yang terjadi? Kenapa kamu menelponku, tapi tidak bicara sama sekali?" tanya Zidan dari ujung telepon, yang sempat dilupakan oleh Mira.
"Dia lari! Wanita itu mengenali aku dan juga Angel, dia melarikan diri dari kami berdua. Sekarang kami sedang mengejarnya di dalam rumah sakit!" jawab Mira, disela-sela larianya.
"Baiklah. Terus kejar dia, tapi jika tidak bisa menangkapnya, maka giring dia ke tempatku dan Asyifa, atau ke tempat Raka dan juga Adam berada"
"Serahkah pada kami" jawab Mira, kemudian memutuskan sambungan telepon.
Merasa sudah berlari keliling rumah sakit itu, Elina yang tidak memiliki tempat melarikan diri lagi, memutuskan untuk lari keluar lagi dari rumah sakit dan menuju gerbang depan.
Disana, Zidan dan juga Asyifa yang sudah menunggu sedari tadi, segera menghampiri gadis itu. Tapi Elina yang tak ingin bertemu, terpaksa melarikan diri lagi.
Kini yang mengejarnya bertambah dua orang, membuat Elina semakin kewalahan. Gerbang belakang pun menjadi pilihan terakhirnya sebagai tempat meloloskan diri.
Tapi sayang, disana telah menanti Raka dan juga Adam. Merasa sudah terkepung dan tidak bisa pergi kemana-mana lagi, Elina mau tak mau menjadi panik.
__ADS_1
"Hai Elina. Kamu pastinya sudah mengetahui siapa kami semua, dan apa maksud dari tujuan kami menemui dirimu bukan?" tanya Asyida to the point.
Bersambung...