The Ugly Wife

The Ugly Wife
Rencana Untuk Kembali


__ADS_3

Asyifa melirik pria tampan disampingnya yang sedang fokus menyetir, dengan tatapan kesal setegah mati.


"Bapak suka yah sama saya?" pertanyaan itu terucap begitu saja dari bibir Asyifa.


Mendengar pertanyaan Asyifa yang sangat tiba-tiba itu, membuat Zidan kehilangan fokusnya. Mobil yang dikemudikannya, oleng sesaat hingga hampir menabrak pembatas jalan.


"Awas pak!" teriak Asyifa histeris.


Zidan dengan sigap segera menginjak rem mendadak, dan membuat keduanya terlempar ke depan.


"Astaga pak Zidan! Bapak mau nyari mati yah? Saya belum mau mati pak!"


Asyifa segera menutup mulut dengan kedua tangannya, saat menyadari apa yang baru saja ia lakukan. "Ma, maaf pak, saya tidak bermaksud untuk meneriaki bapak barusan. Sumpah!"


Bukannya menanggapi ucapan Asyifa, Zidan malah menatap gadis di sampingnya itu dengan tatapan cemas "Kamu baik-baik saja kan?"


"Iya pak, saya baik-baik saja. Untungnya tadi saya tidak lupa memakai sabuk pengaman, kalau bapak baik-baik sa..."


Ucapan Asyifa berhenti seketika, saat melihat darah mengalir dari atas dahi bosnya itu.


"Seperti yang kamu liat, saya tidak baik-baik saja" ucap Zidan santai. Ia menyeka darah yang mengalir semakin banyak di dahinya, menggunakan ujung lengan bajunya.


"Bapak kok santai sekali, jangan di lap seperti itu dong pak! Di mobil bapak ada kotak P3K tidak, supaya saya bantu obati lukanya"


"Tidak ada. Sudah tidak usah cemas seperti itu, ini hanya luka kecil biasa"


"Luka kecil bagaimana pak? Itu dahi bapak kayakny robek deh, liat aja darahnya banyak banget!"


"Teman-temanmu akan menunggu lama, kalau harus mengobati luka saya dulu"


"Teman-teman saya? Maksud bapak, Mira dan Angel? Kita mau bertemu dengan mereka yah pak?" tanya Asyifa bingung.


"Iya" jawab Zidan singkat, kembali menjalankan mobilnya.


Seketika Asyifa mecubit tangannya dengan kesal, dan mulai meruntukki kebodohannya sendiri dalam hati.


"Dasar Asyifa bego, bisa-bisanya ngatain pak Zidan menyukai dirimu hanya karena dia memaksa untuk makan bersama! Bego banget, arrrgggh!"


"Apa kepalamu sempat terbentur saat terjatuh pingsan di dalam bilik toilet, Asyifa?"


"Hah? Kenapa tiba-tiba pak?"


"Habisnya dari tadi kamu bertingkah aneh. Pertama, kamu bertanya apakah saya menyukai kamu? Dan sekarang, kamu mencubit-cubit tanganmu sendiri sampai kemerahan"


Asyifa yang mendengar penjelasan Zidan, seketika sukses dibuat melongo "Maksud bapak saya gila, begitu?"


"Yah kalau memang kamu mau mengartikannya begitu, maka anggaplah seperti itu. Mungkin saja dalam kepalamu terjadi sesuatu akibat benturan saat kamu pingsan waktu itu, yang membuatmu bertingkah aneh seperti sekarang"


Asyifa menatap wajah bosnya yang tanpa rasa bersalah sedikitpun mengatai dirinya gila barusan, dengan tatapan dongkol.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja pak, sangat sehat sekali!" ucap Asyifa penuh penekanan, kembali menggunakan bahasa aku-kamunya sebagai protes terhadap Zidan.


"Baguslah kalau kamu baik-baik saja. Sekarang jangan bertingkah aneh lagi, karna saya ingin fokus"


****


"Pak Zidan, Asyifa!" panggil Mira sambil melambaikan tangannya.


Asyifa membalas lambaian tangan Mira sambil berjalan dibelakang Zidan, menuju meja yang telah ditempati duluan oleh kedua sahabatnya.


"Maaf terlambat, tadi ada insiden kecil" ucap Zidan sambil duduk di kursi depan Angel.


"Tidak apa-apa kok pak, Asyifa tadi juga sudah mengabarkan kepada kami. Tapi luka bapak, bukannya harus diobati dulu yah?"


"Itu juga yang sempat aku katakan tadi, tapi pak Zidan malah menolak. Di mobil kamu ada kotak P3K kan, Ngel? Aku minta dong!"


Asyifa memilih duduk di satu-satunya kursi yang tersisa disana. Bersebelahan dengan sang bos dan berhadapan langsung dengan Mira.


"Iya ada. Ini sudah aku ambilkan, untuk berjaga-jaga pas tadi kamu bilang pak Zidan terluka dan tidak mau diobatin"


Asyifa segera menerima uluran kotak P3K yang diberikan oleh Angel dengan senang hati "Makasih, Ngel"


"Kalian sudah pesan makan?" tanya Zidan mencoba mengalihkan topik.


"Udah, barusan tadi pak. Bapak mau pesan apa? Biar saya saja yang pesankan"


Zidan baru saja akan berdiri dari duduknya, saat tangan Asyifa menahan tangannya untuk tetap berada di kursinya.


"Pak Zidan, silakan beritahu Mira apa yang ingin bapak pesan untuk makan siang, biar dia saja yang memesankannya untuk bapak. Tugas bapak hanyalah berdiam diri disini dengan tenang, karna saya harus segera mengobati luka bapak!" ucap Asyifa penuh penekanan.


Ingin rasanya Asyifa mencubit bosnya itu sekuat tenaga, karna saking gemasnya melihat tingkah Zidan yang terlihat tidak mau diobati sama sekali.


"Baiklah, saya ingin makan nasi padang dan minum es teh. Terima kasih" ucap Zidan memilih untuk mengalah.


"Baiklah pak, kalau kamu Fa? ingin makan apa? Biar ku pesankan sekalian"


"Samakan saja dengan pesanan pak Zidan, Ra" jawab Asyifa sambil mulai membersihkan luka Zidan menggunakan alkohol dengan sangat perlahan.


Setelah beberapa menit berkutat dengan obat merah dan perban untuk mengobati luka Zidan, akhirnya Asyifa selesai juga.


Asyifa tersenyum melihat hasil karyanya yang terlihat sangat rapi di dahi sang bos "Selesai! Bagaimana pak, tidak terasa sakit sama sekali kan? Saya mengobatinya dengan sangat perlahan dan penuh rasa hati-hati"


"Terima kasih" ucap Zidan singkat


Ketiga gadis yang mendengar hal itu, hanya bisa menghela nafas pasrah. Zidan, bos mereka benar-benar adalah manusia kulkas yang tidak bisa mengeluarkan ekspresi lain selain marah dan bersikap cuek.


"Sama-sama pak Zidan. Jadi, apa alasan bapak mengajak saya dan kedua sahabat saya untuk berkumpul disini?"


"Saya rasa, mulai besok kamu sudah harus kembali bekerja di perusahaan"

__ADS_1


"Dengan senang hati pak. Itu juga yang saya harapkan, karna rasanya membosankan sekali berada di apartemen sendirian selama berjam-jam!"


"Tapi ingat, kamu harus menjalankan rencana untuk bagianmu. Karna saya dan kedua sahabatmu, sudah melakukan bagian kami masing-masing"


"Benar Fa! Mulai dari aku, aku sudah menyebarkan gosip melalui si Adel sang ratu gosip, bahwa kamu di bully oleh Safira dan gengnya sampai mengalami syok berat dan terpaksa harus mengambil cuti!"


"Sadis banget gosipnya, Ra. Mereka pasti jadi bahan gosip seisi perusahaan, dong?"


"Biarkan saja, itu belum seberapa dengan apa yang telah mereka lakukan padamu! Menjadikan keadaan mental seseorang sebagai alat untuk balas dendam, mereka seharusnya di masukkan ke dalam penjara!"


Asyifa yang mendengar ucapan Zidan barusan, langsung bergidik ngeri dan dengan cepat segera mengalihkan pembicaraan.


"Ah, terus kamu gimana, Ngel? Ceritakan juga bagianmu dong, aku penasaran"


"Kalau aku, aku selalu mengawasi ketiganya setiap ada kesempatan. Kamu tau, Safira terlihat hampir gila karna semuanya berlalu begitu saja seperti tidak terjadi apa-apa padamu. Padahal kami berdua dan seisi perusahaan tau bagaimana ceritanya dan bisa saja menceritakannya kepada pak Zidan, tapi kenapa mereka belum saja mendapat panggilan? Kedua sahabatnya juga tidak kalah ikut ketakutannya, sampai menjadi sangat sensitif dan saling menyalahkan satu sama lain!"


"Parah sekali, padahal mereka yang melakukan semua itu bersama-sama, tapi kemudian malah saling menyalahkan. Terus, bagaimana dengan bagian pak Zidan?"


"Saya sudah memanggil mereka menghadap dan menanyakan kebenaran gosip yang beredar tentang mereka, seolah saya tidak mengetahui kebenarannya sama sekali"


"Terus, apa jawaban dan tanggapan mereka pak? Mereka tidak curiga sama sekali kan?" tanya Angel terlihat bersemangat.


"Tentu saja jawaban mereka adalah, semua itu tidak benar dan hanya sekadar gosip belaka. Mereka juga tidak terlihat curiga sama sekali. Dan saya juga mengatakan pada mereka, bahwa akan bertanya pada Asyifa tentang hal itu saat Asyifa sudah kembali bekerja lagi"


"Hahaha.... Tau rasa mereka! Pasti sekarang mereka lagi panik banget. Dan juga, mereka sibuk mencari cara untuk membuat kamu tidak menceritakan yang sebenarnya pada pak Zidan, Fa!" ucap Mira puas.


"Pantasan saja, dari kemarin ada puluhan telepon dan sms dari mereka bertiga ke hpku. Aku segaja tidak mengangkatnya karna malas meladeni mereka"


"Seriusan, Fa? Pasti mereka mau memohon dan membujukmu untuk memaafkan mereka, jangan pernah diangkat Fa!"


"Tenang saja Ngel, aku tidak akan mengangkatnya. Mereka harus melakukan semua itu saat berhadapan langsung denganku! Aku akan membuat mereka menyesal"


"Semoga semuanya berjalan lancar sesuai yang kamu katakan pada kami bertiga. Saya sangat menantikan saat mereka terlihat benar-benar menyesal Asyifa! Jika tidak, maka saat itu juga mobil polisi akan terparkir di depan perusahaan saya untuk menjemput ketiganya!"


"Baik pak, saya mengerti"


Dalam hatinya, Asyifa berdoa agar besok semua rencana yang ia susun untuk menyelamatkan ketiga gadis yang sudah berbuat jahat padanya dapat berjalan lancar.


Bukannya Asyifa tidak marah diperlakukan seperti itu, ia juga sangat marah dan terluka, tapi ia tidak ingin menghancurkan hidup orang lain.


Jika ia memasukkan ketiga gadis itu ke dalam penjara atau membiarkan Zidan untuk memecat mereka, bukankah ia akan terlihat sama saja seperti Safira dan gengnya?


Yang memupuk dendam dengan senang hati dan membalas kejahatan dengan kejahatan? Ia tidak ingin menjadi seperti itu!


Dan demi meredakan amarah Zidan dan juga kedua sahabatnya, Asyifa terpaksa menyusun rencana untuk mempermalukan Safira dan gegnya.


"Maafkan aku hati nurani, aku terpaksa harus melakukan semua ini" ucap Asyifa sedih dalam hatinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2