The Ugly Wife

The Ugly Wife
Keputusan Rizal


__ADS_3

Memang dasarnya memiliki jiwa psikopat, setelah semenit yang lalu melakukan hal keji kepada mertua dan juga iparnya, Zenith bahkan dengan tenangnya bisa turun ke lantai satu, dan mulai menikmati sarapan yang telah disiapkan pelayan untuknya.


William yang melihat sosok Zenith sedang duduk makan dengan ekspresi wajah yang biasa-biasa saja pun menjadi aneh. William pikir setelah semalam mempermalukan sang istri, serta ditambah dengan Ratih dan juga Kana yang ikut mengejeknya, Zenith akan turun dengan wajah penuh air mata, namun yang terjadi malah sebaliknya.


"Ada apa? Kenapa kamu melihatku seperti itu, Will? Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Zenith enteng.


"Tidak ada" jawab William cepat.


"Baiklah"


"Ternyata kalian bertiga sudah ada di meja makan, kenapa tidak mengajak daddy juga?" tanya Rizal yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.


"Hai daddy. Apa mau Zenith bantu ambilkan sarapannya, karna sepertinya mommy belum mau turun sarapan"


"Boleh, kalau kamu tidak keberatan. Oh iya, memangnya mommy kalian sedang berada dilantai dua yah sekarang?"


"Iya daddy. Mommy dan kak Kana sedang berada dilantai dua, dan lebih tepatnya dalam kamar Zenith" jawab Zenith, memberikan sarapan pada mertuanya.


"Di kamarmu? Untuk apa mommy dan Kana berada di kamarmu, apa kalian bertengkar lagi barusan?"


"Entahlah kak Haykal. Tapi dari yang bisa aku simpulkan, sepertinya mereka sengaja datang untuk meminjam kamar mandiku"


"Kamar mandi? Untuk apa, bukannya Kana dan mommy sudah mandi dan terlihat rapi sejak pagi tadi? Apa kamu tidak salah bicara, jangan aneh-aneh Zenith!"


"Aduh, mana mungkin aku berbohong. Kalau kak Haykal tidak percaya, coba saja suruh pelayan untuk naik ke atas dan mengeceknya langsung"


Entah mengapa firasat ketiga pria itu menjadi cemas tiba-tiba, apalagi perasaaan William. Seolah firasat itu mengatakan pada mereka bahwa kedua wanita yang mereka cari itu kini sedang dalam bahaya.


William pun dengan cepat memberikan kode kepada pelayannya untuk segera mengecek keadaan Ratih dan juga Kana dilantai dua. Setelah beberapa saat kepergian pelayan itu, semuanya masih terasa tenang dan damai.


Namun selanjutnya yang terjadi, membuat semua orang yang berada dibawah kecuali Zenith, menjadi terkejut. Bagaimana tidak, suara teriakan yang berasal dari sang pelayan terdengar begitu keras hingga memenuhi seluruh penjuru rumah.


"Ada apa sampai dia berteriak sekeras itu?" tanya Rizal kepada William.


"Entahlah daddy. Zenith, sebenarnya apa yang terjadi dilantai atas? Apa kamu telah dengan sengaja melakukan sesuatu perbuatan jahat pada mommy dan juga Kana?"


"Kenapa kamu tidak melihatnya saja sendiri? Mulutku cape jika harus menceritakannya dari awal kepada kalian semua"


Mendengar jawaban Zenith yang seolah membenarkan adanya sebuah kejadian yang telah menimpa kedua wanita itu, membuat ketiga pria itu menjadi panik.


Dengan cepat mereka bangkit berdiri dan langsung berlomba untuk menaiki tangga secara terburu-buru. Ketika sampai disana, pemandangan yang mereka dapati adalah Ratih dan Kana yang kini sedang terbungkus selimut tebal.


Wajah kedua wanita itu tak lagi terlihat cerah seperti pagi tadi, tapi sudah berubah menjadi sepucat mayat. Keduanya pun tampak lemas dan kesulitan untuk bernafas, atau pun untuk berbicara.


"Apa yang terjadi? Kenapa penampilan kalian menjadi seperti orang yang penyakitan?"


"Mommy jawab pertanyaan daddy, apa yang sudah terjadi kepada kalian berdua? Apa ada orang yang dengan sengaja melakukan ini semua pada kalian?"


"Sudahlah Will, sepertinya mommy dan Kana tidak memiliki tenaga lagi untuk menjawab pertanyaanmu dan pertanyaan daddy"


"Lalu bagaimana kita bisa tahu apa yang sudah terjadi kepada mereka kak?"

__ADS_1


"Aku rasa ini semua adalah ulah istri barumu itu, karna dialah orang terakhir yang keluar dari ruangan ini. Kalau pun ternyata bukan dia pelakunya, setidaknya dia pasti tahu siapa orang itu"


"Sebenarnya saat kamu tiba, apa yang sedang terjadi kepada istri dan menantu saya?" tanya Rizal pada si pelayan.


"I_itu, saat saya masuk ke dalam kamar, ternyata tidak ada siapapun di dalam. Saat hendak keluar, saya mendengar suara-suara dari dalam kamar mandi, jadi saya pergi untuk memeriksa, ternyata nyonya dan non Kana sudah dalam keadaan terikat dibawah kran air yang terus mengeluarkan air"


"Apa? Berapa lama mereka dalam keadaan seperti itu? Dan siapa orang yang telah berani melakukan hal itu?"


"Seperti yang tuan bisa lihat kondisi nyonya dan non Kana terlihat sangat lemah, jadi saya pikir keduanya dalam keadaan seperti itu dalam waktu yang cukup lama. Kalau pelaku, saya juga tidak tahu tuan"


"Ini semua pasti ulah Zenith! Tidak ada orang gila lagi di dalam rumah ini selain wanita itu, jadi ini pastilah ulahnya!" seru William murka.


"Benar sekali, itu memang adalah hasil dari perbuatanku pada mereka. Kenapa, apa kalian mau marah padaku?" tanya Zenith sambil berjalan santai, masuk ke dalam kamarnya.


Melihat sosok wanita yang dibencinya itu, William pun langsung memburu ke arahnya dan berakhir dengan mencekik leher Zenith sekuat tenaga, menggunakan kedua tangannya.


Semua orang yang melihat hal itu terperanjat kaget, namun Zenith tetap tenang seperti tak terjadi apa-apa. Memang benar wanita itu terlihat mulai kesulitan untuk bernafas, tapi ia masih bisa tersenyum horor ke arah William.


Tiba-tiba dari balik badannya, sebuah pisau yang tampak berkilau muncul. Ternyata sudah sedari tadi Zenith menyembunyikan benda itu, Kini ia mengarahkannya ke dekat leher pria dihadapannya tanpa sedikit pun rasa takut.


"Ze_Zenith, a_apa yang kamu lakukan nak? Cepat turunkan pisau itu, daddy mohon"


Sambil melemparkan tatapan menghina ke arah Ratih dan juga Kana yang terlihat mulai merespon keadaan sekitar, Zenith kemudian semakin menekan pisau itu ke leher William hingga leher pria itu berdarah.


Bukannya segera melepaskan cekikannya dan menjauh dari sana, William malah semakin mengencangkan cekikannya. Keduanya pun seolah tak ada yang ingin menyerah, hingga salah satu dari mereka binasa.


"William, lepaskan tanganmu dari leher Zenith sekarang juga, kalau tidak salah satu dari kalian berdua bisa mati konyol!"


"Tidak, daddy tidak mau salah seorang dari kalian ada yang sampai terluka. Daddy mohon kalian berdua berhenti sekarang juga, Zenith turunkan pisaumu, dan William turunkan tanganmu!"


Bukannya mengindahkan permintaan Rizal, keduanya semakin menjadi gila dan semakin menguatkan perlawanan. Disaat Zenith sudah hampir kehabisan oksigen, disaat itu pun dimenarik pisaunya dan melukai William lalu tanpa membuang waktu menendang pria itu hingga terjatuh ke lantai.


Haykal yang melihat adiknya jatuh dengan luka yang mulai mengeluarkan banyak darah, dengan cepat meraih sebuah handuk dari lemari penyimpanan dan langsung menutupi luka tersebut.


"Apa kamu sudah gila?! Akan aku laporkan kamu karna sudah berani melukai tiga orang sekaligus!"


"Laporkan saja kalau bisa, karna aku hanya membalas perlakuan mereka kepadaku. Adik tersayangmu itu, sudah berani mengancamku semalam, jadi hari ini aku membalas semua itu lewat kedua wanita ini"


"Dasar wanita gila! Bukannya kamu memang pantas mendapatkan balasan dariku, karna sudah menghancurkan pernikahanku dengan Asyifa!"


"Kenapa cuma aku saja? Bukannya mommy dan kak Kana juga turut serta dalam semua itu, bahkan mereka lah yang mengajakku untuk ikut bergabung! Apa kamu tidak berpikir kalau itu tidaklah adil untukku?"


"Tapi tidak seharusnya kamu membalasnya dengan melakukan semua ini pada mommy dan juga Kana, Zenith"


"Mereka berdua lah yang datang dan duluan memprovokasiku dengan berbagai kata penghinaan, itulah sebabnya aku melakukan semua ini daddy"


"Tetap saja kamu salah, dan aku juga akan tetap melaporkanmu!"


Haykal pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku menggunakan satu tangannya yang masih bebas. Baru saja akan menekan tombol panggil, namun Rizal tiba-tiba menahan tangan putranya itu.


"Ada apa daddy?"

__ADS_1


"Kamu tida perlu melaporkannya"


"Apa? Tapi, mommy dan Kana sampai harus bernasib seperti ini, semuanya karna wanita itu daddy. Apa daddy tega melihat mommy seperti ini, setidaknya beri dia hukuman yang sepadan" ucap Ratih mulai memprotes.


"Semua ini juga tidak akan terjadi kalau saja kalian berdua tidak memancing Zenith dengan segala ucapan kalian, jadi tidak perlu sampai melaporkannya"


"Tapi kan dia bisa saja membalasnya daddy, tidak perlu sampai memperlakukanku dan mommy sejahat ini" ucap Kana, juga ikut memprotes.


"Daddy tetap tidak akan melaporkan Zenith, karna semua yang dikatakan oleh Zenith ada benarnya. Jika kamu ingin berniat membalas dendam, seharusnya kamu tidak hanya melakukannya pada Zenith saja, William"


"Lalu, apa aku juga harus balas dendam pada mommyku sendiri? Yang benar saja daddy!"


"Kalau begitu, kamu juga tidak seharusnya membalas dendam pada Zenith karna bukan hanya dia sendiri yang terlibat"


"Terserah saja apa kata daddy. Tapi apa daddy tetap tidak akan melaporkannya atas semua yang telah dilakukannya hari ini?"


"Tidak. Tapi sebagai gantinya, daddy akan mengusirnya dari rumah ini supaya tidak ada lagi kejadian seperti ini"


"Me_mengusirku? Tapi aku kan sekarang istri William, mana bisa daddy mengusirku!" ucap Zenith terkejut.


Sebalikny, Willi menjadi sangat senang karna berpikir dirinya akan bisa terbebas dari Zenith sama halnya dengan yang lainnya, mereka juga terlihat puas dengan keputusan yang diambil oleh Rizal.


"Tentu saja daddy bisa melakukannya karna ini adalah rumah daddy, jadi semua orang yang tinggal di dalamnya harus mengikuti apa yanh daddy katakan!"


"Tidak bisa! Aku tidak akan mau pergi dari rumah ini, aku tidak mau kalau harus berpisah dari William daddy. Aku janji tidak akan pernah mengulangi semua yang telah aku lakukan hari ini, jadi tolong jangan usir aku dari rumah ini"


"Meskipun telah berjanji, daddy tetap akan mengusirmu. Untuk masalah William, dia sudah pasti akan ikut keluar dari rumah ini bersama denganmu"


"Apa? Kenapa William juga harus ikut keluar, bukannya ini adalah kesalahan Zenith sendiri, kenapa putraku harus ikut menanggung akibatnya?"


"Haykal faham kenapa daddy bilang William juga akan keluar bersama dengan Zenith, karna Zenith adalah istri William jadi sudah seharusnya mereka hidup bersama"


"Tidak! Aku tidak akan mau tinggal berdua dengannya daddy"


"Kalau tidak mau, lalu apa kata orang nanti jika tahu kalian tidak tinggal bersama? Semua orang pasti akan mencap dirimu jelek, karna sudah menikahi Zenith tapi tidak sudi untuk tinggal bersama dengannya!"


"Kalau begitu, William tinggal menceraikannya saja. Lagipula masalah mommy dan juga Kana sudah terselesaikan dengan baik"


Zenith yang mendengar William berniat untuk menceraikannya, langsung berubah menjadi pucat seketika. Apalagi sudah tidak ada hal yang bisa dijadikannya sebagai senjata untuk membuat pria itu mau tetap bersama dengannya.


Meskipun sudah memutar otaknya untuk mencari bantahan atas niat William, namun tak ada satu pun yang ia dapatkan. Akhirnya Zenith hanya bisa terdiam membisu sambil menunggu jawaban dari Rizal.


"Apa kamu pikir pernikahan adalah sesuatu yang dapat kamu awali dan akhiri dengan segampang itu? Pernikahan bukanlah suatu permainan William, dan daddy tidak akan setuju jika kamu menceraikan Zenith. Karna daddy berharap pernikahan kamu kali ini bisa berjalan hingga usia yang lama"


"Tapi William tidak bahagia dengan semua ini daddy, aku bahkan tidak mencintainya!"


"Kalau begitu belajarlah untuk mencintainya, setidaknya cobalah untuk melakukan hal itu supaya pernikahan ini bisa terus berjalan"


"Tidak, William tidak mau!"


"Kalau begitu kamu tinggal pilih, belajar untuk mencintai istrimu, atau kamu harus keluar dari perusahaan dan hidup dengan uangmu sendiri!" putus Rizal, kemudian meraih tangan Ratih dan menuntunnya keluar dari kamar.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2