
Jam menunjukkan pukul 8 malam ketika semua karyawan berkumpul bersama di dalam aula hotel, yang telah di pesan khusus oleh Zidan untuk kegiatan malam kedua liburan mereka.
Semuanya orang tampak duduk bersantai di lantai aula yang telah dialasi dengan karpet berbulu tebal yang sangat lembut. Asyifa sengaja membiarkan semua orang untuk duduk bersama di bawah, supaya mereka merasa lebih nyaman.
Asyifa juga sudah menyiapkan beberapa pertunjukan dan permainan menyenangkan untuk menghibur para rekannya. Ia pun mengundang seorang pembawa acara pria untuk memandu acara malam ini.
"Apa semuanya sudah berkumpul?" tanya Zidan memasuki aula bersama seorang pria, yang dikenal Asyifa sebagai sang pembawa acara.
"Sudah pak. Aku sudah memastikan, bahwa semuanya telah hadir di dalam aula"
"Baguslah, kalau begitu kita bisa langsung memulai acaranya. Pembawa acara kita juga sudah ada di sini, kamu sudah berkenalan dengannya kan?"
"Halo, Asyifa. Kita bertemu lagi"
"Halo juga pak, senang bertemu dengan anda. Mohon bantuannya untuk acara malam ini, semoga semuanya berjalan lancar" balas Asyifa sopan.
"Tentu saja. Kalau begitu, apa saya sudah bisa memulai acaranya?"
"Tentu saja, silakan dimulai. Asyifa dan saya akan mengecek para pembawa pertunjukan untuk menyuruh mereka bersiap-siap"
Setelah melihat pembawa acara menaiki panggung, Asyifa dan Zidan pun segera menuju ruangan lain yang terhubung dengan aula.
"Hai Cyntia. Bagaimana persiapan di sini, apa semuanya berjalan lancar?" sapa Asyifa pada Cyntia yang bertugas mengawasi ruang tunggu para pengisi acara.
"Hai juga Asyifa, pak Zidan. Semuanya sudah siap untuk tampil, tinggal menunggu giliran di panggil saja"
"Syukurlah kalau begitu. Acaranya juga sudah di mulai, kamu bisa bergabung bersama dengan yang lain di aula. Biar aku yang akan berjaga di sini"
"Apa tidak masalah, bukannya kamu juga ingin menonton acaranya? Lagi pula, dari pada seorang diri, lebih baik ada seorang lagi yang ikut membantumu bukan?"
"Tenang saja Cyntia, aku dan Mira akan membantu Asyifa. Jadi kamu tidak usah khawatir" ucap Angel yang tiba-tiba ikut masuk ke dalam ruang tunggu bersama dengan Mira.
"Kalian berdua tidak ikut bergabung untuk menonton acara?"
"Tidak berminat. Kami lebih memilih untuk membantumu di sini saja. Apakah boleh pak Zidan?"
"Tentu saja boleh. Kebetulan kami sangat kekurangan tenaga kerja, jadi mohon bantuan kalian berdua" jawab Zidan tak keberatan sama sekali.
Mendengar hal itu, wajah Cyntia langsung bersinar karena gembira. "Kalau begitu, aku permisi keluar untuk bergabung dengan yang lain. Kalian bertiga semangat yah"
"Selamat besenag-senang" ucap Angel dan Mira bersamaan sebelum gadis itu hilang di balik pintu.
"Baiklah. Aku mohon perhatiannya sebentar untuk kalian semua yang ada dalam ruangan ini. Sebentar lagi, pembawa acara akan memanggil kalian satu persatu untuk ke atas panggung, jadi aku harap tidak ada yang keluar meninggalkan ruang tunggu ini tanpa memberi tahu ketiga karyawanku. Apa kalian mengerti?"
"Baik pak" jawab semua orang serempak.
Sambil menunggu, keempatnya melewati waktu dengan asyik berbincang tentang segala hal. Perhatian mereka teralih saat Kinara memasuki ruangan bersama dengan sang suami.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Zidan mulai malas meladeni kedua orang itu.
"Ayah dan juga Kinara, ingin ikut menonton acara yang di siapkan oleh Asyifa. Apa tidak boleh?"
"Tentu saja boleh. Tapi acaranya diadakan di aula hotel yang ada di balik pintu itu, bukan di dalam ruangan ini, ayah"
"Ya ampun, ayah juga tahu Zidan. Ayah masuk ke sini karna Kinara bilang ada seorang artis yang dia sukai turut tampil malam ini, dan dia ingin meminta tandatangan artis tersebut. Bukan begitu, sayang?"
"Iya benar. Apa aku diperbolehkan untuk bertemu dan meminta tandatangan sebentar saja, Zidan?" tanya Kinara dengan wajah di buat memelas ke arah Zidan.
"Terserah. Tapi jangan sampai membuat orang itu tidak nyaman!"
"Terima kasih Zidan. Sayang, tunggu aku yah" ucap Kinara, lalu berjalan menuju seorang gadis kecil yang sedang duduk sambil membaca sebuah komik.
Setelah Kinara menyapa gadis itu, keduanya mulai terlihat asyik berbincang. Mereka juga tidak lupa berfoto bersama beberapa kali di ponsel Kinara. Barulah gadis kecil itu menandatangani album yang telah dibawa Kinara dalam tasnya.
"Lihat dia, dia selalu saja menyukai anak kecil. Bahkan artis yang disukainya pun adalah seorang anak kecil" ucap Marcel sambil memandangi sosok Kinara dengan tatapan penuh cinta.
"Perkataan ayah benar juga. Tapi selain menyukai anak kecil, dia juga sangat menyukai pria yang sudah memiliki istri dan berumur serta mempunyai banyak harta. Bukan begitu ayah?" ucap Zidan sengaja memancing kemarahan Marcel.
Baru saja Marcel ingin membalas ucapan Zidan, ketika melihat sosok Kinara yang tampak berjalan kembali ke arahnya. Ia pun mengurungkan niatnya, tak ingin membuat suasana hati wanita yang dicintainya itu menjadi kacau.
__ADS_1
"Apa kamu sudah selesai, sayang?"
"Sudah. Kamu ingin menonton acaranya kan, kalau begitu ayo kita kembali ke aula"
Zidan yang melihat kepergian dua orang itu, langsung bernafas lega. Karna bagi Zidan, berada dalam ruangan yang sama dengan Kinara dan juga Ayahnya, adalah yang terburuk. Itu membuatnya tidak bisa leluasa untuk bernafas.
"Pak Zidan, kenapa bapak kelihatan benci sekali dengan ayah dan juga ibu tiri pak Zidan sendiri?" tanya Mira dengan beraninya.
"Apa kamu akan tetap menyukai ayahmu, saat ia memilih untuk menikahi wanita lain dan menceraikan ibumu? Dan lagi, wanita yang dinikahinya itu adalah wanita yang seumuran dengan dirimu!" tanya Zidan, tanpa mengatakan tentang hubungan sebenarnya yang pernah terjadi diantara dirinya dan juga Kinara.
"Tentu saja aku akan membenci sekali dengan mereka berdua. Masa begitu saja, pak Zidan tidak bisa menduganya!"
"Kalau begitu, kenapa kamu bertanya padaku tentang alasanku membenci ayah dan juga ibu tiriku!" ucap Zidan kesal.
"Benar juga yah. Maafkan aku pak Zidan" ucap Mira tersenyum malu.
Sedang Asyifa dan Angel yang melihat tingkah ceroboh sahabatnya itu, hanya bisa menghela nafas prihatin.
*****
William mengedarkan pandangannya ke segala arah penjuru aula untuk mencari dimana sosok Asyifa berada. Dari informasi yang ia dapat, acara perusahaan Zidan untuk malam ini akan di adakan dalam aula hotel. Itulah mengapa ia langsung datang mencari Asyifa di sini sekarang.
"William, sedang apa kamu di sini?" tanya Angel yang tidak sengaja melihat kehadiran pria itu.
"Aku sedang mencari Asyifa, makanya aku datang ke sini" jawab William dengan suara sedikit lebih keras. Ia takut Angel tidak bisa mendengar suaranya, karena tertutup suara musik yang mulai di putar.
"Asyifa sedang sibuk mengawasi jalannya acara sekarang. Apa ada hal penting yang harus kamu sampaikan pada Asyifa?"
"Bukan hal yang penting. Aku hanya tidak mengenal siapa pun di hotel ini, jadi aku berniat menemui Asyifa karna bosan di dalam kamar terus"
"Kalau kamu bosan, bergabung saja dengan yang lain untuk menonton acaranya. Aku yang akan menjelaskannya pada yang lain, jadi kamu santai saja" tawar Angel, merasa sedikit kasihan pada William.
"Benarkah? Terima kasih banyak Angel. Aku akan duduk di barisan paling belakang, agar tidak mengganggu yang lain"
William pun segera bergabung dengan duduk di lantai bagian belakang seorang diri. Ia kemudian mulai fokus menikmati acara yang ada. Zidan yang baru saja keluar dari dalam ruang tunggu, keheranan karna melihat ada William juga di acara perusahaannya.
"Apa yang dilakukan pria jelek itu di acara perusahaanku?"
Zidan kemudian mengangkat tangannya dan menunjuk ke barisan paling belakang yang terisi oleh satu orang saja.
"William?" ucap Asyifa dan Mira bersamaan.
Asyifa segera mengambil ponsel dari dalam saku bajunya dan menghubungi nomor William.
"Apa yang sedang kamu lakukan di situ?" tanya Asyifa tanpa basa-basi saat teleponnya sudah terhubung.
William yang mendengar pertanyaan Asyifa bukannya menjawab, ia malah mengedarkan pandangannya untuk mencari Asyifa. Dan saat tatapannya bertemu dengan Asyifa, ia langsung melambaikan tangan sambil tersenyum senang.
"Astaga, si bodoh itu. Apa otaknya sudah tergeser dari tempatnya, karna dipukuli oleh kakaknya?" tanya Mira tak bisa berkata-kata melihat tingkah William yang tanpa beban malah mendatangi mereka.
"Hai Asyifa, Mira dan juga Zidan. Aku datang untuk ikut menonton acara perusahaan kalian"
"Siapa yang mengatakan padamu, kalau acara ini terbuka untuk umum? Cepat keluar dari sini sekarang juga!"
"Kenapa kamu pelit sekali, aku kan hanya ingin ikut menonton saja. Lagi pula, aku duduk di barisan paling belakang seorang diri dan tidak mengganggu yang lainnya"
"Aku mengadakan acara ini untuk para karyawanku, bukan untuk orang asing seperti dirimu! Apa kamu mengerti? Sekarang, cepat pergi dari sini!" pinta Zidan sambil menarik tubuh William secara paksa.
William yang tidak ingin pergi begitu saja, mencoba untuk menghindar dari serangan Zidan. Tanpa diduga, kedua pria itu akhirnya malah berguling-guling di bawah lantai.
Melihat kerusuhan itu, Asyifa dan juga Mira mencoba untuk memisahkan keduanya. Acara pun menjadi sedikit terganggu, karna fokus semua orang kini beralih ke arah mereka.
Semuanya mulai berbisik dengan penasaran ingin mencari tahu. Keadaan acara yang semula tenang, menjadi tidak terkendali karna beberapa orang mulai bangkit dari duduknya supaya bisa melihat lebih jelas apa yang sedang terjadi.
"Wah, nampaknya ada yang sudah tidak sabaran untuk mulai bermain permainan berpasangan, hingga membuat permainan mereka sendiri di belakang sana" ucap sang pembawa acara mencoba mengambil alih acara kembali.
"Bagaimana kalau kita memanggil keempat orang tersebut, untuk menjadi peserta pertama kita?" lanjut pembawa acara yang langsung disetujui para penonton.
"Tidak, dia bukan bagian dari acara ini!" protes Zidan yang sudah berhasil dipisahkan dari William.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu takut kalah jika melawan aku? Dasar penakut!" ejek William.
"Siapa yang takut? Baiklah, aku akan melawan kamu asalkan dengan satu syarat. Siapa yang menang, harus menjadi pembantu yang menang selama sehari penuh!"
"Setuju!" terima William tanpa pikir panjang, sambil berjalan menuju panggung diikuti oleh Zidan.
"Ayo Asyifa!" ajak Mira meraih tangan Asyifa, membuat gadis itu menatapnya heran.
"Ayo kemana?"
"Kamu tidak dengar kata pembawa acara barusan? Kita bereempat, itu artinya termasuk aku dan juga kamu, harus menjadi peserta pertama"
"Lalu siapa yang akan menggantikan aku mengawasi jalannya acara?"
"Tenang saja, aku yang akan menggantikan kamu, Asyifa" ucap Angel yang entah sejak kapan sudah berada di sana, sambil tersenyum manis seolah tak bersalah sama sekali telah mengizinkan William menonton acara mereka.
Dengan terpaksa, Asyifa menuruti saja untuk di ajak naik ke atas panggung oleh Mira. Setelah menuliskan nama masing-masing di secarik kertas, pembawa acara pun mengundi untuk menentukan siapa yang berpasangan dengan siapa.
"Baiklah. Untuk pasangan pertama kita, ada nama William dan juga Asyifa! Lalu untuk pasangan kedua kita, ada nama Zidan dan juga Mira!" baca pembawa acara yang disambut sorak-sorai oleh para penonton.
William yang mendengar hal itu seketika menjadi berbunga hatinya, sedang Zidan hanya bisa menunjukkan wajah masam.
Asyifa juga sama seperti William, ia merasa beruntung, karna bisa berada sesaat dalam pelukan yang sudah lama tidak dirasakannya. Hanya Mira saja yang tampaknya tidak peduli dengan siapa ia akan berpasangan.
"Permainannya sangat sederhana, namun juga menguras tenaga bagi para pria. Yaitu, kalian harus menggendong pasangan kalian untuk tetap berdiri dalam lingkaran yang telah disediakan, dengan berbagai macam gaya yang akan saya perintahkan. Apa kalian siap?"
"Siap!"
"Kalau begitu, silakan mengambil posisi kalian masing-masing dan dengarkan instruksi dari saya"
Keempatnya kemudian mengambil posisi dengan patuh. William menggendong Asyifa, serta Zidan menggendong Mira, keduanya berdiri tegap dalam lingkaran.
"Gaya yang pertama, yaitu menggendong dengan posisi jongkok selama 5 menit. Dimulai dari sekarang!"
Dengan cepat kedua pria itu merubah posisi mereka menjadi jongkok. Keduanya nampak bertekad untuk menang, dan berhasil melewati babak pertama dengan mudah.
"Gaya kedua, yaitu menggendong dengan posisi jongkok diatas satu kaki selama 5 menit. Dimulai dari sekarang!"
Seperti babak pertama, babak kedua pun bisa dilalui oleh Zidan dan juga William. Namun bedanya, Zidan tidak merasa lelah sedikit pun, berbeda dengan William yang mulai terlihat kewalahan.
"Ternyata kedua peserta pria kita adalah lelaki yang tangguh, mereka bisa melewati dua babak dengan baik. Sekarang kita masuk ke gaya terakhir, yaitu menggendong dengan posisi berdiri diatas satu kaki, selama yang kalian bisa. Siapa yang bertahan paling akhir, akan menjadi pemenang kita malam ini!"
Mendengar itu, semua yang ada di sana mulai bersorak untuk memberikan semangat bagi William dan juga Zidan.
Zidan yang sudah menimbun rasa kesal sedari tadi kepada William, bertekad untuk tidak akan menyerah dan menjadi pemenang apa pun yang terjadi.
Sedang William yang hampir kehilangan seluruh kekuatannya, akhirnya hanya bisa menyerah setelah bertahan selama beberapa menit. Hal itu membuat Zidan tersenyum penuh kemenangan.
Semua orang pun bersorak sambil meneriaki nama Zidan, membuat pria itu menatap William dengan sombongnya.
"Dasar kekanakan!" ucap William kesal.
"Aku kalau jadi pak Zidan, pasti akan seperti itu. Lombanya cukup sulit bagi kalian, tapi karena pak Zidan rajin berolahraga, jadi wajar saja jika dia yang menang" ucap Asyifa membela bosnya itu.
"Iya maaf, karna aku tidak sekuat bosmu itu makanya kita kalah"
"Astaga William, aku hanya berkata sesuai dengan fakta. Bukannya sedang menyalahkan dirimu atas kekalahan kita, aku juga tidak mengharapkan untuk bisa menang"
Zidan masih saja terus tersenyum meskipun sudah turun dari atas panggung, membuat Angel yang melihat menjadi heran.
"Kenapa pak Zidan sesenang itu? Apa bapak baru pertama kali memenangkan sebuah permainan?"
"Apa kamu tahu Angel, besok aku akan punya pembantu pribadi yang akan melayaniku seharian tanpa dibayar sepeser pun!"
"Pembantu? Siapa pak?"
"Biar aku kenalan langsung padamu. Perkenalkan Angel, ini adalah William yang akan menjadi pembantuku mulai besok selama seharian penuh" ucap Zidan sambil merangkul pundak William.
Mira dan Asyifa tertawa lucu melihat ekspresi William yang kesal akan sikap Zidan yang kekanakan. Juga Angel yang dengan polosnya, malah langsung menyalami William dengan ekspresi bingung.
__ADS_1
Bersambung...